
Happy Reading ....
"Teh, ayok! aku udah selesai. Laper," Melati masuk ke ruanganku. "Tunda dulu ya, udah laper," imbuhnya merengek, mengajakku untuk segera istirahat.
"Iya ayok, ini udah selesai kok."
Kami berdua pun akhirnya keluar dari ruangan, bermaksud untuk segera menuju kantin dan beristirahat di tempat biasa.
Setelah sampai di pos time card, di sana aku bertemu dengan Alexa yang hendak istirahat juga. "Tumben loe jam segini udah keluar? biasanya juga ntar-ntar mulu kalau istirahat," sapa Alexa mencibirku.
"Bawel!" sarkasku pada Alexa.
"Eh tapi beneran loh, loe kan biasanya kerja, kerja, kerja, kerja, kerja." Alexa mendendangkan lagu kartun yang biasa dinyanyikan semut dalam cerita-cerita dongeng.
Aku langsung memanyunkan bibir ke arah wajah Alexa.
"Teh Alex," sapa Melati.
"Teh Alex? Berasa kek cowok gue!" Alexa mulai menggoda Melati.
"Gapapa deh ya ... kan teteh gayanya emang kayak cowok," Dengan polosnya Melati berkata demikian.
"Gila ... hati gue remuk dibilang kek cowok," Alexa berpura-pura sedih dan memelukku dengan erat.
"Eh teteh, maaf ... bukan gitu maksud aku," Melati sepertinya jadi tidak enak hati.
"Jan didenger, si kunyuk emang kek gini. Lebay!" Aku tertawa dengan tingkah mereka berdua.
"Kunyuk-kunyuk, gue cium juga loe!" Alexa meraih wajahku dan mendekatkan bibirnya yang sudah memonyong.
Aku malah tak bereaksi dengan penolakan, karena aku tahu, dia tak mungkin melakukannya.
Ketika kami bercanda seperti itu, tiba-tiba saja handphone milikku berdering.
'Panggilan video dari Aji' Ya ... Aji menghubungiku dengan video call.
"Siapa?" tanya Alexa.
"Aji!"
"Aji siapa?" Alexa meminta informasi lebih dariku.
"Loe gak kenal."
"Udah angkat dulu, kenalin ya," Alexa memperlihatkan cengiran, sambil menaik turunkan alisnya.
Aku menolak panggilan video dari Aji. Tapi, kemudian langsung mengetik pesan.
[Nanti ya, lagi jalan mau ke kantin.] Send!! pesan pun terkirim, dan tak lama bertanda ceklis dua berwarna biru.
[Oke!] balas Aji di pesan itu.
Setelah sampai di kantin dan kami sedang menunggu pesanan, panggilan video dari Aji kembali terlihat di layar handphone. Kali ini, aku usap tanda telepon berwarna hijau itu ke atas.
"Hai," Wajah Aji muncul di layar dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Hey!" jawabku dengan singkat. Tak lupa, kusunggingkan senyum pula.
"Kamu udah makan?"
"Baru juga pesan, ini lagi nunggu."
"Siapa sih?" Alexa tiba-tiba saja menggelayut manja dari belakangku.
"O iya Ji, kenalin. Ini Alexa sahabat gue," Aku langsung menyorotkan kamera handphone-ku pada wajah Alexa.
"Hai ...." Alexa melambaikan tangannya di hadapan layar handphone.
Baru saja Alexa saling menyapa dengan Aji, pesanan kami datang. Dan, itu membuat Alexa segera meninggalkanku menuju bangkunya begitu saja.
"Sorry ya, Ji. Lexa emang gitu. Mau makan soalnya, pesenan kita udah dateng," Aku meminta maaf pada Aji. Karena Lexa begitu saja pergi.
"Oh! iya gapapa, ya udah. Kamu makan dulu, makan yang banyak ya! jaga kesehatan, bye ...." Aji menyudahi panggilan videonya.
"Makan yang banyak teh, jaga kesehatan," Melati tiba-tiba saja menggodaku demikian.
"Apa si?" Aku menoleh dan membelalakan mata mendengar Melati berkata seperti itu.
"Itu barusan, makan yang banyak, jaga kesehatan 'kan pesannya? iya gak Lex?"
"Nah! giiitu kan enak! gak usah pake teh sisri, teh botol, teh kotak!" Alexa menoleh pada sambil menunjuk hidung Melati.
"Tapi gak pake nunjuk hidung juga," Melati menyingkirkan jari Alexa yang hampir mencolok wajahnya.
"Sorry ... hehe," Alexa melanjutkan makannya.
"Makan dulu! Hapeee teroooss," selorohnya.
"Cuma bales chat doang Lexaaaa," protesku.
"Makan!" Alexa memasukan handphone milikku ke dalam saku bajunya. Yang membuat aku menggeleng kecil kepalaku disertai decakan.
Giliran aku sedang makan, mereka berdua gantian bermain Hp.
"Hp terooooosss!" sarkasku.
"Gue udah selesai weee!" ucap Alexa. yang berbarengan dengan Melati yang berkata "Aku udah selesai."
"Sejak kapan kalian jadi soul mate? kompak bener!" ledekku pada keduanya.
"Eh BTW, minuman gue mana Lex?" Aku yang baru menyadari tidak ada jatah gelas minuman di mejaku.
"Wah! parah si Nani, pasti lupa tuh dia! hahaha ... gue pesenin ya?" Alexa mengajukan diri untuk membantuku.
"Gak usah. Udah biar gue aja," ucapku, sambil bangkit dari duduk.
Saat hendak masuk ke area pemesanan, seseorang di depanku tiba-tiba berbalik dan melaju tak lihat-lihat. Spontan menabrak tubuhku, dan minuman yang dia bawa, tumpah begitu saja mengotori bajuku.
"Aah!" pekikku karena terkejut.
"Sorry!" ucap si laki-laki itu. Yang ternyata si anak baru yang sudah membuat aku kesal di dalam tadi.
__ADS_1
Aku yang mendongak dan mendapati siapa yang menabrakku, terpancing emosi. Ada perasaan yang ingin meledak saat itu juga.
Tanganku sudah terkepal menahan amarah, tapi laki-laki itu dengan santainya berlalu tanpa kata-kata lagi selain 'Sorry'.
"Loe punya mata gak sih!" Aku meneriakinya, sampai-sampai pengunjung kantin menoleh semua ke arahku.
Para karyawan yang berada di kantin, mulai berdesas desus. Mungkin mereka kaget dengan sikapku. Karena selama ini, aku belum pernah menunjukkan amarahku. Apa lagi berteriak seperti itu.
Dan, sialnya! laki-laki itu seakan tuli, dia berlalu tanpa menoleh sedikit pun. Aku yang sadar akan sikap, merasa malu karena sudah jadi tontonan orang-orang. Sedangkan yang bersangkutan tak menunjukkan penyesalan dan rasa bersalahnya sedikit pun.
Aku menghentakkan kakiku pada lantai, dengan perasaan yang campur aduk. Kesal, marah, dan malu karena jadi pusat perhatian.
Kembali pada meja makan, lalu menyeruput habis minuman Lexa dan Melati yang masih bertengger di atas meja. Dan, mereka hanya bisa terbengong melihat sikapku yang seperti itu.
"Napa loe? kesambet jin iprit?" Lexa bertanya penuh selidik.
"Itu kan minuman aku teh, kok diabisin?" rengek Melati.
"Aaaargh!" Aku dibuat frustrasi oleh pertanyaan mereka berdua. Karena otomatis mengingatkanku pada laki-laki sialan itu.
"Sabar ... sabar, tarik napas ... terus hembuskan," Melati yang berada di sebelahku mengusap punggungku dengan lembut.
Akan tetapi, itu belum bisa meredakan emosiku yang tertahan. Aku bangkit dan meninggalkan meja, dengan langkah lebar aku berjalan, untuk menuju mushala tempat biasa aku beristirahat.
"Makanan loe! Zie, woy Zie!" Aku mendengar Alexa berteriak, tapi itu tak menyurutkan langkah apa lagi menghentikanku.
Aku masuk ke toilet dekat mushala, lalu membasuh wajahku. Berharap air keran itu sedikit mendinginkan emosiku yang sedang membara.
Kupandang wajahku yang memantul di cermin depan washtafel itu, kusut! ya ... wajahku terlihat kusut. Dengan napas yang turun naik Kemudian, aku membasuk kembali wajahku. Secara perlahan dan lebih lembut.
kuatur napas, menghidu dan mengembusnya secara perlahan. Hingga hati ini terasa lebih tenang. Setelah itu, aku kembali ke luar dari toilet. Membuka sepatuku, dan menggantinya dengan sandal jepit. kemudian bersiap untuk mengambil wudu.
Aku masih melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, saat Melati dan Alexa datang menyusul ke mushala.
"Assalamualaikum warohmatullah, assalamualaikum warohmatullah," Aku mengakhiri shalatku dengan salam. Kemudian melanjutkannya dengan doa.
Setelah aku selesai melipat mukenaku. Alexa menyodorkan Hp yang sempat dia ambil saat di kantin.
"Aji nih nelponin mulu dari tadi," Alexa memberitahuku.
"Biarin aja lah! aku mood aku lagi kurang bagus," jawabku.
"Ya udah, loe sebenernya kenapa sih tadi?" Alexa bertanya, karena dia memang tidak tahu kejadian tabrakan aku dengan laki-laki sialan itu.
Mungkin dia hanya mendengar aku berteriak saja tadi, Sedangkan orang yang aku teriaki, tidak memedulikan aku sama sekali. Dan, hanya berlalu begitu saja.
"Loe lagi PMS?" tanya Lexa kembali.
Melati hanya menyimak kami, dia belum ikut bertanya dan mengeluarkan suara. Dan, sesekali dia memainkan gawainya.
"Iya kali gue lagi PMS! Udahlah, gak usah dibahas lagi. Kalo sempet nanti gue cerita," jelasku, tak ingin membahas kejadian menyebalkan setengah hari ini.
💞💞💞💞
Terima kasih untuk yang masih nunggu, maaf belum bisa up tiap hari. 🙏
__ADS_1
Thank you pokoknya 😘❤