Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Malam Yang Menegangkan


__ADS_3

Suara denting sendok yang bertemu piring, mengiringi obrolan makan malamku dengan keluarga Alexa.


"O iya Dis, Mas Angga bawa oleh-oleh. Nanti bunda anter ke kamar Lexa ya," Bunda memberitahuku.


Malam ini, Angga memang sudah pulang dari dinas luar kotanya. Bukan kali ini saja Bundanya Alexa membagi oleh-oleh yang dibawa Angga padaku. Bahkan Alexa sering dititipi oleh-oleh itu saat aku tak bisa main atau berkunjung ke rumah ini.


"Gak usah repot-repot Bund, tadi kan aku udah makan juga sambil nonton Tv. Ya kan Lex?" Alexa mengangguk mengiyakan pernyataanku.


"Buat di rumah sayang, buat umi, abah, sama adik kamu juga."


"Ibund ngusir aku nih ceritanya?"


"Loooh, ya enggak gitu."


"Aku kan masih mau nginep di sini Bund," rengekku.


Ayah Alexa sampai tersedak saat aku merengek. Entah karena apa aku juga tidak tahu. Padahal aku rasa, tidak ada rengekanku yang aneh-aneh.


"Pelan-pelan donk Ayah, makannya." Bunda menyodorkan gelas minum milik ayah, sambil kemudian mengusap-usap punggung ayah.


"Lagian loe sih! Loe tu bukan anaknya Bunda, tapi manjanya minta ampun," ketus Angga. Padaku.


Angga memang jarang bersikap baik padaku, padahal semua teman-temannya justru bergaul baik denganku dan Alexa. Kadang aku juga dibuat sebal oleh Angga, apalagi saat kamar Alexa belum ada kamar mandinya. Kakak Alexa itu tidak pernah sekali pun mau mengalah. Saat kita kebetulan berpapasan untuk sama-sama ke kamar mandi.


"Angga!" sentak bunda. Dan ayah bersamaan


"Belain aja! terus!" Angga melepas kasar sendok dalam genggamannya, lalu bangkit meninggalkan meja makan.


"Angga!!" Sekali lagi, bunda meneriaki Kakak laki-laki Alexa tersebut. Tapi, Angga mengabaikan teriakan bunda. Dan, ia berlalu begitu saja menuju kamarnya.


"Bund, udah," Aku menahan Bunda yang hendak menyusul Angga.


"Yah, udah Yah. Ayah lanjut makan aja. Aku gak apa-apa kok, please ...." aku tangkupkan kedua tanganku di depan dada.


Aku tidak ingin ada keributan di rumah ini, apalagi bila terjadi gara-gara aku.


"Maafin putra Bunda ya Dis," Bunda menggenggam tanganku dan terus saja mengucapkan maaf untuk anak laki-lakinya itu.

__ADS_1


"Gapapa Bund, aku yang salah. Harusnya aku emang lebih tahu diri," Bunda memelukku setelah aku berkata demikian.


"Enggak sayang, kamu enggak salah. Mungkin dia ada masalah di kantornya, jadi kebawa emosi sampai rumah. Maafin Angga ya sayang," panjang lebar, Bunda mencoba menjelaskan dengan terkaan-terkaan dalam benaknya.


Ketika aku dan bunda sedang saling menguatkan, dan meminta maaf. Tiba-tiba saja aku mendengar suara gaduh dari arah kamar Angga. 'Alexa' Alexa sudah tak lagi berada di kursi meja makan bersama kami.


"Bund! Lexa!" ucapku pada bunda. "Bunda, Ayah. Tunggu di sini aja ya, biar aku aja yang ke sana," Aku langsung berlari menuju kamar Angga. Dan benar saja tebakanku.


Angga dan Lexa sedang beradu mulut karena kejadian barusan.


Aku menarik lengan Alexa dan menyeretnya keluar.


"Udah! kalo loe masih permasalahin hal sepele barusan, gue balik sekarang juga."


"Tapi itu bukan masalah sepele Zie! Dia gak ngehargain loe sebagai temen gue, dan gue gak bisa terima."


"Loe mau gue balik sekarang?"


"Aaaaacrgh! bukan gitu!" Alexa mengacak-acak rambut dan wajahnya.


"Maafin Abang gue ...." Alexa memelukku, dan langsung menggandeng tubuhku menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Alexa menepuk jidatnya yang lebar.


"Ngapain gue bawa loe ke kamar ya? kan kita lagi makan," ucap polosnya.


Aku tertawa dengan lepas dengan kekonyolan yang Alexa perlihatkan.


"Udah gak laper sih! Tapi ayok, gue juga mau bantuin Ibund," Aku mengajak Alexa untuk kembali ke dapur.


"Gue juga udah gak laper! Gara-gara tu manusia purba." Alexa menarik tanganku yang hendak ke luar kamar.


"Udah biarin aja! Lagian ... Bunda juga gak mungkin nyuruh loe ngerjain kerjaan dapur setelah masalah tadi." ujar Alexa kembali,


"Iya ... sih! Tapi, gue gak enak sama Ibund," sesalku.


"Udah jan dipikirin, tu manusia purba emang ngeselin! Tiap kali ada di rumah, pasti aja bikin masalah," Alexa bersungut meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


"Lex, gak boleh gitu," Aku mengingatkan Alexa, agar tidak keterlaluan pada kakaknya.


"Gue sebenernya heran Zie! Kok bisaaa, ya. Nyokap ngelahirin tu manusia purba." Aku tertawa mendengar Alexa berkeluh kesah.


"Jan tawa loe! Coba deh! loe bayangin ya, nyokap gue tinggi, putih, cantik, mancung, rambutnya lurus. Terus, bokap gue. Tinggi juga, ngga putih-putih banget sih, kalo kulit. Tapi, mancung. Rambutnya juga ikal tapi enggak kriting! Laaah lahir tu manusia purba modelan gak jelas macam si Angga," cerocos Alexa.


"Terus, apa hubungannya sama fisik BoNyok loe? hahaha," Aku tak bisa menahan tawa dengan semua ocehan Alexa.


"Loe perhatiin dech tu si manusia purba, tingginya aja di bawah standar, rambutnya juga bikin gue geli, mirip benang kusut! kriting gak jelas, idungnya ... udah kek terong demek!"


Aku kali ini benar-benar lepas kendali dengan tawaku, mendengar pendeskripsian Alexa tentang kakaknya sendiri. Tawaku seketika meledak tak tertahankan.


"Astagfirullahal adziiim, kalian ngapain? Kamu juga Dis! kenapa ketawa sampe kayak gitu," Bundanya Alexa tiba-tiba saja masuk dan sukses menghentikan tawa kami berdua.


"Alexa ngabodor Bund, kan bikin geli." Aku menyahut masih dengan iringan tawa, akan tetapi sudah tak lagi meledak seperti tadi.


"Ini, kamu benahi dulu ya." Bunda menyodorkanku sebuah paper bag cukup besar, bermotif batik warna coklat.


Aku menghidu napas panjang lalu mengembusnya. Teringat kembali kejadian di meja makan yang hampir saja terlupakan oleh canda tawaku bersama Alexa tadi.


Bundanya Alexa, sepertinya mengerti apa yang aku rasakan. Beliau mengelus lembut punggungku dan tersenyum. "Sudah, ya! Maafin Angga."


Aku menarik bibirku hingga terbentuk lengkung senyum di sana, aku tidak ingin memperlihatkan kesedihan pada Bunda. Apa lagi, semua terjadi gara-gara anak laki-laki satu-satunya kesayangan bunda.


Dengan berat hati, aku menerima paper bag yang bunda sodorkan. Kemudian menaruhnya di pojokan di sisi lemari.


"Udah, Bund. Makasih ya, nanti ... aku sampein ke Umi," Bundanya Alexa mengangguk dan tersenyum. Lalu keluar dari kamar Lexa.


Aku dan Alexa melanjutkan canda tawa kami di atas kasur. Sesaat kemudian ....


Tok tok tok ....


Kami berdua saling pandang, pasalnya bila bunda yang hendak masuk kamar Alexa. Biasanya bunda langsung masuk seperti barusan. Lalu, siapa yang mengetuk pintu?


Aku memberi isyarat pada Alexa untuk tetap di tempat. Karena aku yang akan membukakan pintu, dan melihat siapa gerangan yang mengetuk pintu kamar Alexa saat ini.


💞💞💞💞

__ADS_1


Yeaay udah 1k, sampai sini dulu ya. See you next episode. Love U all ❤❤❤


__ADS_2