
Seminggu telah berlalu, hari-hari Aku lalui seperti biasa. sampai akhirnya Rahma bertanya padaku, pasal kepindahan pabrik yang digadang-gadang dipercepat waktunya.
"Beneran minggu depan kita pindah?" tanya Rahma.
"Ya ... denger-denger sih gitu."
"Loe ikut pindah 'kan?"
"Ya ikut! kalo gak ikut mau kerja apaan Gue?"
"Iya juga ya? lulusan SMP kek kita ... udah untung banget bisa kerja di pabrik kek gini. Apalagi gaji kita juga lumayan, yang lulusan SMA aja banyak yang nganggur, gara-gara susah nyari kerja." Panjang lebar Rahma menyadari keberuntungannya.
Karena pabrik dalam masa pemindahan mesin-mesin bertahap, sudah banyak sekali tempat yang lapang saat ini. Di divisi penggorengan saja, tinggal tersisa satu penggorengan raksasa yang Aku pegang. Suasana sedikit membuat bulu kuduk merinding, karena banyak pekerja yang diperbantukan lebih dulu di pabrik baru, untuk menata letak mesin-mesin, terutama laki-laki.
Saat ini, di divisi penggorengan hanya tersisa Aku, Rahma, dan kepala seksi yang bertugas membantu sambil mengawasi kami. Minggu ini, kebetulan Aku dan Rahma sedang bekerja pada shift malam. Saat jam istirahat tiba, kami terpaksa harus bergantian. Kepala seksi kami menjadwalkan, Rahma untuk istirahat di jam pertama, Aku ke-dua, dan KaSie(kepala seksi) kami di jam ke-tiga.
Aku dan Rahma sudah selesai istirahat secara bergantian, kini tinggallah kami berdua di tempat kerja. Karena KaSie kami telah bersiap untuk istirahat menurut jadwal yang sudah dia buat.
"Kalian bareng-bareng aja terus, kalo mau ngelangsir ... matiin dulu kompornya. ngelangsir berdua aja, biar gak ada yang ditinggalin di sini." pesan pak Musa KaSie kami sebelum keluar untuk istirahat. Kami berdua menanggapi dengan acungan jempol dan seruan Oke!
__ADS_1
Lima belas menit pertama, kami melakukan semua sama-sama, ketika Aku menggoreng, Rahma membumbui, dan saat selesai menggoreng, Rahma yang masih sibuk membumbui Aku biarkan menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan Aku, membantu dia mengikat semua plastik ukuran besar yang berisi bahan setengah jadi itu, agar bisa dimuat ke troli untuk kami langsir.
Lima belas menit berikutnya, kepala bagian kami memerintahkan untuk mengganti produk. sehingga kami harus menyelesaikan dengan cepat semua pekerjaan kami.
"Loe langsir aja dulu yang udah dibumbuin, Ma. biar Gue yang lanjut ngebumbuin hasil gorengan," perintahku pada Rahma.
"Loe gapapa sendiri?"
"Gapapa, santai aja."
"Ya udah kalo gitu, Gue ke bawah ya?"
Karena langsiran cukup banyak, Rahma memutuskan menggunakan troly besar untuk mengangkut sekaligus, dan karena itu pula, Rahma akan berada lebih lama di divisi packing, untuk menyusun semua bahan setengah jadi yang dia bawa.
Aku masih sibuk dengan hasil penggorengan yang sedang kubumbui. Samar-samar, Aku mendengar suara sepatu pantofel yang Aku yakini milik kepala bagianku. Suara sepatu itu jelas terdengar, karena kondisi yang sunyi akibat off'nya mesin-mesin. Suaranya terdengar semakin mendekat, dan Aku sempatkan melirik sepatu pantofel yang kini berada tepat di belakangku.
Setelah selesai dengan aktifitas membumbui, Aku seketika menoleh untuk bertanya apa yang dibutuhkan, atau perintah apalagi yang dia bawa untuk kami. setelah tadi memerintahkan untuk mengganti produk.
"Ada ap__" Sambil berbalik, Aku hendak berucap.
__ADS_1
Tapi ... kata-kata itu terputus tak terselesaikan, karena saat Aku menoleh sempurna ke belakangku, Aku tidak mendapatkan siapa pun berada di tempat ini.
Aku yang memang bukan seorang penakut, tidak serta merta merinding dengan keadaan ini, lalu dengan lantang aku berbicara pada angin kosong di depanku.
"Siapa pun Loe? Gue gak takut! Gue lagi kerja, dan Gue gak pernah ganggu Loe! jadi stop gangguin Gue!"
Tiba-tiba saja, seperti ada semilir angin yang meniup tengkuk leherku, membuat bulu kuduk meremang, meski bukan rasa takut yang menyelimutiku. Dengan cepat Aku berbalik ke arah tiupan angin itu, dan lagi-lagi hanya angin kosong yang ada di sana.
"Pergi!! Gue gak pernah ganggu Loe ya! jan sampe Gue jadiin Loe jaminan buat bayar utang!!" Teriakku. Aku merasa geli dengan ucapanku barusan.
Bisa-bisanya Aku ingat candaan umi yang konyol saat menegangkan seperti ini.
"Kenapa Loe Zie? Utang apaan? Loe ngomong ama siapa sih?" Tiba-tiba saja suara Rahma terdengar.
Saat Aku menoleh, Rahma telah berdiri di belakangku.
"Eeh! Nggak ... Gue lagi latihan drama," Aku berbohong pada Rahma. Aku tahu dia adalah seorang penakut, jadi ... lebih baik Aku tidak menceritakan kejadian tadi padanya.
Kami pun menyelesaikan pekerjaan kami seperti biasa, hingga waktunya pulang. Aku pulang bareng dengan Rahma, rasanya ingin sekali menceritakan kejadian semalam. Akan tetapi, Aku harus menahannya hingga beberapa hari ke depan. Karena tinggal beberapa hari lagi kami bekerja di tempat ini. Jadi ... Aku putuskan untuk tidak menceritakannya sampai kami pindah.
__ADS_1