
Seminggu kemudian ....
Kami kini telah pindah ke tempat kerja yang baru, suasananya memang belum seratus persen kondusif, karena masih banyak sekali para pekerja bangunan yang hilir mudik menyelesaikan tugas mereka. Bahkan tak jarang salah satu dari mereka curi-curi pandang pada kami para karyawati di sana. Bahkan ada juga yang sampai menggoda dengan siulan dan kata-kata, yang kadang membuat kami ilfeel dan ketakutan.
Aku tidak pernah tersulut emosi seperti Rahma, ketika ada dari sebagian para pekerja konstruksi bangunan itu memulai dengan tingkah usilnya. Bagiku, selama mereka tidak bertindak diluar batas, dan tidak kurangajar dengan tindakan dan kata-kata mereka, itu tidak akan aku permasalahkan.
"Apa Loe! kerja! kerja aja. ngapain gangguin Gue!" sinis Rahma menanggapi salah satu pekerja bangunan itu. Yang membuat semua teman-teman pekerja bangunan itu, meledek temannya yang terkena semprot makian Rahma.
"Udah, Ma. ngapain ditanggepin sih? biarin aja," Aku berusaha menenangkan Rahma dari emosi yang menguasainya.
"Kebiasaan Zie! Gue paling sebel sama orang kaya gitu. tampang udah punya anak aja, berani-berani godain kita," terangnya. dengan bersungut-sungut.
"Udah, udah. yang waras ngalah," ucapku untuk mengakhiri perdebatan ini.
Aku dan Rahma kini berada di post time card, sambil menunggu waktu untuk masuk kembali setelah istirahat, kami mengobrol di meja tunggu satpam yang belum pernah ada satpam'nya ini sejak kami pindah.
Aku duduk di depan meja dengan menelungkupkan wajahku di atas meja itu, sambil mendengarkan lagu, dengan earphone yang menempel di sebelah telingaku. Sedangkan Rahma duduk di atas meja.
"Dengerin lagu apa sih?" tanya Rahma. Sambil meraih sebelah earphone yang menggantung, tergeletak di atas meja. Bokong Rahma kini sudah tak lagi di atas meja, karena Ia membalik tubuhnya hingga tertelungkup, dengan wajah menghadap padaku.
Sambil mendengarkan lagu dari earphone yang sama, tiba-tiba saja Rahma bertanya, "Loe pernah jalan ma si Ardi ya?" Belum pun pertanyaan itu aku jawab, dia sudah melontarkan kembali pertanyaan yang lain. "Loe jadian ma dia?"
Mataku langsung terbelalak mendengar pertanyaan yang tiba-tiba meluncur dari mulut Rahma. "Nggak! siapa yang jadian?" kilahku.
Aku langsung bangkit berdiri, yang membuat earphone di telinga Rahma tertarik. Lalu mengajak Rahma untuk masuk, meski masih tersisa lima menit waktu istirahat kami.
"Ck ... iya ayo!" jawab Rahma. Sambil menggandeng tanganku.
__ADS_1
Kami melangkah bersama memasuki tempat bekerja. Karena divisi kami berada di lantai bawah, kami melewati divisi lain, yang juga belum semua rampung dalam tahap pembangunan. Sesekali kami menjawab sapaan dari mereka yang kami kenal, atau bahkan hanya melempar senyum pada mereka yang kami lewati.
"Lift yuk!" ajak Rahma padaku, agar turun dengan menggunakan lift barang yang tersedia.
"Kita kan gak bawa barang ...," tolakku.
"Wait ya!" pinta Rahma, sambil celingukan seperti mencari sesuatu.
Dia kemudian menuju troly yang teronggok di samping lift. Kemudian mendorongnya dan memasukan troly itu ke dalam lift. Aku yang mengerti maksudnya, hanya menggeleng kecil kepalaku diiringi seutas senyum.
"Ma. ngomong-ngomong, kok Gue gak lihat si Aji, ya?" tanyaku saat kami berada di dalam lift.
Rahma belum menjawab pertanyaanku, karena lift telah berhenti, dan kami pun keluar dari ruangan berbentuk kotak itu.
"Si Aji kan gak ikut pindah ke sini Zie," jawabnya sambil membawa troly k sudut ruangan.
"Emang iya?" selidikku, tak percaya.
"Yang bener Loe? kok dia gak pamit?"
"Dia pamit waktu itu, Loe lagi di mana ya?" Rahma seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Oo ... Gue inget, waktu Loe telat terus minta di time card'in, tapi Gue kegep sama satpam Loe inget gak?"
"Iya inget, waktu Gue nelpon Loe kan?"
"Nah itu, habis istirahat Loe kan ngurus time card Loe ke Personalia, waktu itu dia pamit." Panjang lebar Rahma menceritakan.
__ADS_1
Entah rasa apa yang kini menyergap diriku, karena tiba-tiba saja Aku merasa tak bersemangat.
"kenapa Loe?" tanya Rahma.
"Nggak napa-napa,"
"Kok, kayak yang sedih?"
"Nggak kok, biasa aja!"
Rahma tidak berhenti sampai dipertanyaan itu. Dia terus saja memandang penuh tanya, Aku yang tak lagi mampu menyembunyikan perasaan tiba-tiba saja meneteskan air mata.
"Loe nangis?" tanya Rahma.
"Nggak, kok," Sambil mengusap air yang baru saja terjatuh dari manikku.
"Nggak dari mana? itu Loe nangis zie! Loe suka ma Aji?" Rahma terus saja bertanya.
"Nggak gitu ... cuma sedih aja, gak ada lagi yang ngeledekin Gue, manggil Gue China, dan ...."
"Oooh! China yang dia maksud itu Eloe?" tanya Rahma tiba-tiba.
"Maksud Loe?" Aku balik bertanya dengan pertanyaannya.
"Jadi waktu si Aji pamit itu, dia sempet bilang, salam ya buat si China. Gue gak tau kalo yang dia maksud itu Loe Zie, jadi gak Gue sampein, sorry ...." jelas Rahma.
"Iya kah?" tanyaku, yang dijawab anggukan oleh Rahma.
__ADS_1
Aku berlalu meninggalkan Rahma untuk membasuh muka yang hampir sembab itu. Menyegarkan kembali mata yang sempat mendung, dengan percikan air keran dari wastafel depan toilet di samping lift.
*****