
Happy Reading
Hari ini, ada beberapa karyawan baru yang masuk sebagai pekerja di perusahaan. Mereka akan bekerja sebagai operator-operator mesin. Aku masih bolak balik mengajari Melati dan juga membantu Ami melakukan kewajibanku sebagai quality.
Saat aku hendak menuju divisi penggorengan untuk mengambil sampel minyak, tak sengaja mataku melihat pemandangan yang sedikit aneh menurutku. Seorang karyawan baru, yang sedang melintas diberi godaan oleh karyawati-karyawati yang ia lewati. Dan, yang membuat aneh adalah reaksi dari karyawan baru itu. Aku melihatnya mengepalkan tangan, lalu menunjukkan kepalan itu pada wanita-wanita yang menggodanya dengan sorot mata yang tajam menghujam.
Baru kali ini aku lihat laki-laki seperti itu, biasanya ... bila ada laki-laki yang digoda wanita. Dia akan langsung over acting dan mengeluarkan sejuta pesona agar para wanita itu semakin tertarik padanya. Tapi laki-laki ini berbeda.
Dalam lamunanku sambil berjalan, aku tiba-tiba mengingat sesuatu. "Sepertinya ini laki-laki yang sama, yang tadi nabrak Lexa dech," gumamku dalam hati.
"Iya! itu orangnya kayaknya dech," Aku meyakini perasaanku.
Sesampainya di ruang bawah, yaitu divisi penggorengan. Aku langsung menyapa salah satu pekerja yang aku lihat di sana.
"Pakabar Nu?"
"Eeeh teh Gadis, ngapain di sini?" tanya heran Ninu padaku. Ya ... namanya Ninu. Dia adalah lawan shiftnya Rahma.
"Ya kerjalah Nu ... masa maen-maen?" jawabku. Lalu kemudian menuju spiner penggorengan untuk mengambil sampel minyak.
"Tukeran sama teh Hany?" tanyanya lagi.
"Iya, Kak Hany sekarang shift malem dulu. Soalnya gue disuruh ngajarin anak baru sama Bu Lia."
"Pantesan tu Nenek Lampir udah dua hari gak kelihatan," ucapnya begitu saja.
"Hust! Nenek Lampir? disantet baru tau rasa loe, hahahaha ...." kelakarku menanggapi celotehnya.
"Emang iya teh, dia mah Nenek Lampir! masa kerupuk bantat kita yang disalahin, ngobrol doang di sini ... kalo kelihatan sama tu orang, mulutnyaaaa kek apa tau," Ninu nyerocos meluapkan kekesalannya.
Aku hanya tersenyum dan sesekali tertawa mendengar ocehan Ninu.
"Udaaah! ngomel mulu, kek Emak-emak kurang belanja tau gak?" Aku mencoba santai menanggapi kekesalannya pada Kak Hany yang merupakan lawan shiftku.
"Jangan dibilangin ya?" ucapnya saat aku hendak meninggalkan ruangan itu.
"O iya teh, minta tolong boleh gak?" imbuhnya sebelum aku mencapai anak tangga.
"Apaan?" tanyaku.
"Tolong bawain lori ke atas, nanti taruh di pinggir lift aja, terus liftnya turunin lagi. Boleh?"
"Hmm ... yang mana lorinya? yang gede apa yang kecil yang mau dinaikin ke atas?"
__ADS_1
"Itu yang kecil tadi gue pinjem teh, punya packing. Makasih ya,"
Aku mengacungkan jempol pada Ninu dan kemudian meraih lori yang dia maksud. Setelah berada dalam lift, tiba-tiba seseorang ikut masuk dengan membawa lori kecil yang sama. Lift barang ini memang luas, sehingga dua lori kecil bisa muat di dalamnya.
Aku melirik sekilas pada pria si pembawa lori. Pandangan laki-laki itu tertunduk terus ke bawah, dengan tangan menelungkup pada pegangan lori. Sejenak aku perhatikan, ternyata ini orang yang sama, yang menyenggol Alexa di luar dan yang menunjukkan kepalan tangan pada wanita-wanita yang menggodanya. Iya! aku yakin ini adalah cowok yang sama.
Sesampainya di lantai atas, tak sengaja aku yang ingin keluar dengan lori yang kubawa, menabrak lorinya yang berjalan lurus.
"Sorry! gue mau ke kiri," ucapku.
Benar kata Alexa, cowok ini senga banget. Padahal aku sudah meminta maaf. Tapi, dia malah berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun.
"Pire sugan eta jelema?" ucapku dalam bahasa sunda. bila dalam bahasa indonesia itu artinya (Gagu kali tu orang?) Sambil terus mendorong lori ke tempat yang diintruksikan Ninu.
Saat aku telah selesai menaruh lori dan berbalik untuk melanjutkan langkah ke tujuanku. Tiba-tiba saja aku dikagetkan sosok laki-laki tadi, yang kini tengah berdiri menghadang.
"Ngomong apa loe barusan?" tanyanya dengan air muka yang sulit kuartikan.
"Ngomong apa? gak ngomong apa-apa kok!" kilahku.
Aku hendak melanjutkan langkah dengan mengambil jalan di sisi laki-laki tersebut. Akan tetapi, tiba-tiba saja tanganku dicekal olehnya.
"Gue denger ya, loe tadi ngomong apa! Dan gue gak gagu!"
Di dalam hati, aku terus merutuki laki-laki sialan itu. Bisa-bisanya ada cowok yang memperlakukan aku seperti tadi. Padahal sebelum ini, tidak pernah ada satu pun yang memperlakukanku dengan buruk seperti dia. Bahkan Kak Hany yang terkenal jutek dan killer, pun tak pernah memperlakukanku dengan buruk.
Sepanjang jalan, aku menekuk wajahku. Hingga mungkin, semua yang melihatku berpikir tidak seperti biasanya. Sesampainya di ruangan, Ami juga memperlihatkan wajah herannya padaku.
"Kenapa teh?" selidiknya.
"Kenapa emang?" Aku malah balik bertanya pada Ami.
"Itu! muka cemberut gitu,"
"Masa sih? keliatan ya?"
"Iya laaah, teteh kan biasanya riang terus. Udah gitu murah senyum, ini! dah kaya koran lecek mukanya."
"Lagi kesel," rengekku. "Itu ada anak baru belagu banget, gayanya senga! berani pegang-pegang tangan gue lagi," imbuhku menerangkan pada Ami.
"Cie ... pegang-pegangan tangan," Ami malah menggodaku. Membuat aku makin memanyunkan bibir.
"Dih! dasar ya ni anak, orang lagi bete malah di cie-cie ...," Aku menepuk jidatku oleh karena kelakuan Ami.
__ADS_1
"Jangan bete-bete, nanti takut BT beneran loh," selorohnya. Yang membuat aku mengerut dahi.
"Bener-bener Tinta!" Ami masih saja menggodaku sebelum dia menutup pintu meninggalkan ruangan. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala dengan semua godaannya.
Kuselesaikan pekerjaanku di bagian quality, sebelum beralih pada Melati yang sudah menungguku untuk melakukan percobaan.
"Mel, lagi ngapain?" Aku mendekati Melati yang sedang menimbang bahan-bahan untuk percobaan sepertinya.
"Lagi nyiapain buat percobaan! Biar pas teteh selesai di quality, kita bisa langsung mulai."
"O ... udah selesai sekarang?"
"Dikit lagi, bentar ya teh."
Sambil menunggu Melati selesai, aku melihat keadaan ruang produksi dari kaca ruangan Bu Lia. Jendela di ruang dalam Bu Lia, memang langsung menyuguhkan pemandangan para karyawan yang sedang sibuk bekerja.
Dan, tak sengaja aku melihat lagi wajah itu, wajah senga yang menyebalkan! Ya ... wajah anak baru yang entah siapa namanya aku pun tak tahu. Tiba-tiba mata kami bertemu pandang, yang membuatku langsung mengalihkan penglihatan.
"Udah Mel?" tanyaku pada Melati.
"Udah teh, ini terus digimanain?"
"Bawa sini semuanya," Aku berjongkok menghadap mesin mixer yang biasa aku gunakan untuk percobaan.
Lalu, menjelaskan step by step apa yang harus dilakukan oleh Melati. Dari menuangkan minyak, menambahkan sortening, hingga bumbu-bumbu yang sudah dia timbang, juga essen dan pewarna.
Aku hanya memberinya instruksi dan Melati melakukan semua dengan senang hati. Aku bisa melihatnya dari wajah dia yang berseri saat berhasil melakukan percobaan yang dia mulai secara mandiri.
"Ini udah jadi teh?" tanyanya dengan senyum mengembang.
"Udah! cobain aja," Aku mempersilakan Melati untuk mencicipi pasta buatannya.
"Iya teh, ini udah jadi pasta, enak!" Melati begitu antusias dengan hasil yang didapat.
"Tapi agak kasar ya teh? gak kaya pasta² biasa," komentarnya kembali.
"Itu kan baru sebentar, nanti kalau sudah agak lama juga pasti lembut. Nah! kalau udah lembut, pastanya langsung dipindah aja ke baskom ya! Nanti kamu langsung bersihin mixernya. Tapi untuk *****-pelornya jangan dicuci pakai air, cuci pake minyak aja sebelum mixer dibersihkan, oke!" panjang lebar aku instruksikan apa yang harus Melati lakukan.
"Oke! teh, sekarang teteh mau ke mana?"
"Aku mau nyicil laporan dulu, habis itu baru kita istirahat."
Melati tersenyum dan mengangkat jempolnya ke arahku. Setelah itu, sambil menunggu pasta yang dia buat selesai. Dia merapikan bekas-bekas pekerjaannya. Sedangkan aku, kembali ke ruangan untuk menyicil laporan. Sambil menunggu waktu istirahat tiba.
__ADS_1