Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Memikirkan Yang Tak Terpikir


__ADS_3

Aku kini berada di kamarku, memandang langit-langit kamar yang berhiaskan gantungan burung-burung kertas, ya. Aku setiap hari melipat burung-burung kertas, lalu menggantungnya dengan bantuan helaian benang, entah mengapa Aku suka melakukan itu, setiap kali Aku merasa gundah, Aku akan melipat kertas, dan menjadikannya burung atau bunga.


Aku masih dalam posisi merebah tubuh yang lelah, sesekali memejam mata mengingat perjalananku tadi bersama Ardi. Kadang senyum seketika mengembang, mengingat tingkah konyolnya dan juga omongannya.


Kulepaskan napas sedikit berat saat Aku mulai duduk dari rebahanku. Lalu berjalan menuju cermin di dekat pintu. Aku pandangi sendiri wajah ini, wajah yang Ardi bilang, lebih menarik dari cewek yang Ardi tunjuk. Kulepas ikatan rambut, hingga tergerai. Kurapikan rambutku dengan sisiran jari, dan sesekali Aku tersenyum pada cermin di hadapanku.


"Huhft ... hari yang melelahkan, tapi sungguh menyenangkan," ucapku pada cermin yang memantulkan wajahku di sana. Tak lupa, ada senyum tergambar yang sangat terlihat jelas lewat pantulannya itu.


"Dis, dari mana?" Umi tiba-tiba saja masuk dan bertanya padaku. Membuat aku sedikit tersentak kaget, hingga tak langsung menjawab pertanyaan umi.


"Dari mana? malah bengong!" ulang umi dengan pertanyaannya.


"Eh ... kaget Mi, ketok pintu dulu napa kalo masuk," protesku.


"Kayak mau ketemu direktur aja ketok pintu!" celoteh umi sambil berjalan, lalu duduk di ranjangku.


Aku berbalik badan menghadap umi yang kini telah duduk di atas kasur. "Dari Bogor tadi, jalan sama temen," jelasku.


"Tumben! biasanya juga nonton tivi dari pagi sampe sore,"


"Ck ... Umi gimana sih, maen salah, gak maen di suruh maen mulu," protesku dengan apa yang umi sampaikan barusan.


"Lain kali, kalau mau ke mana-mana itu bilang dulu, mana Hp gak dibawa, kan Umi bingung," nasihat umi. Setelah umi mendengar jawaban 'oke' dari mulutku, umi keluar dan memerintahkanku untuk mandi selanjutnya makan.


Aku sampai lupa kalau hari ini Aku meninggalkan ponselku. cepat-cepat aku ambil ponsel yang Aku taruh di atas lemari berwarna coklat kayu itu. Dan ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab, dari telepon rumah milik Megha. Tapi mataku lebih tertarik saat melihat tanda 4 chat dari nomor Ardi.


"Ardi? ngirim apa ya dia?" gumamku. Dan untuk menjawab rasa penasaranku, Aku langsung membuka chat darinya, dengan mengabaikan yang lain.


Setelah Aku membuka apa yang Ardi kirim, Aku hanya bisa tersenyum dan tersipu malu sendiri. untung saja ini di kamar, kalau di luar ... bisa disangka orang gila Aku.


Aku membuka 4pesan yang semuanya berisi fotoku, saat berjalan dari taman kencana menuju taman ekspresi. ada foto saat aku berjalan, saat menggapai rotan-rotan, saat berbalik menoleh pada Ardi, dan sepertinya yang satu ini adalah saat Aku meminta Ardi mempercepat langkahnya, karena saat itu, Aku pikir dia sedang sibuk chat lewat Hp'nya.

__ADS_1


Aku langsung membalas chat Ardi ["Dih, sempet-sempetnya,"] ketikku.


Lalu Aku beralih pada panggilan tak terjawab Megha, dan langsung menekan tanda tombol untuk menelpon.


"Hallo assalamualaikum," sapaku, setelah telepon itu terjawab.


"Kumsalam, dari mana aja sih! ditelpon berkali-kali gak diangkat!" Jawaban Megha dari sebrang sana, membuatku menjauhkan Hp dari telinga.


"Pecah ni telinga Gue, kenapa sih?"


"*Gue tadinya mau ke rumah Loe sama Ani, malah gak bisa dihubungi, kan sebel jadinya. Dari mana aja Loe*?"


"Jalan, baru aja balik."


"Tumben, sama siapa?"


"Adalah, temen pokonya"


"Temen, astaga kepo banget! udah ah, Gue mau mandi assalamualaikum," Aku langsung menutup telpon tanpa menunggu jawaban dari Megha.


Kusambar Anduk yang tergantung di balik pintu, dan segera menuju kamar mandi untuk meluruhkan semua keringat dan rasa lelah yang menggelayuti. Guyuran air dingin membuat Aku merasa memiliki energi baru, setelah seharian berkeliling kota Bogor. Setelah itu, Aku mengikuti perintah umi, untuk makan setelah merapikan diri.


****


Malam ini, entah mengapa rasanya sulit sekali memejam mata, meski Aku terbiasa begadang hanya untuk mendengarkan musik ataupun main game, tapi kali ini rasanya begitu lain, Aku masih memikirkan perjalanan sehariku bersama Ardi. 'Ardi' Haaah entah mengapa kini Aku malah memikirkan dia. Aku lihat lagi chat-ku pada kontak Ardi, hanya emot senyum yang dia kirim untuk menanggapi chatku tadi sore. Lagi-lagi, Aku tersenyum entah karena apa? Aku sendiri belum mengerti.


Kupaksakan mata ini terpejam, dengan mematikan seluruh lampu kamar, baik itu lampu utama, maupun lampu tidur yang biasanya menemani malam-malamku. Akan tetapi, mata ini masih saja tidak mau terpejam, akhirnya, kuambil penutup mata, dan kugunakan. kupasang musik melalui earphone yang tersambung pada ponselku. Biasanya cara ini berhasil bila aku kesulitan untuk tidur, dan ternyata benar, entah jam berapa Aku terlelap, hingga akhirnya aku bangun saat terdengar beberapa kali ketukan di pintu.


"Dis! Bangun ... udah siang!" teriak umi dari balik pintu. Ya, Aku hafal itu suara umi, suara termerdu yang kukenal sepanjang hidupku.


Biar saja orang berkata lebay, tapi itulah Aku, Aku menyayangi umi lebih dari apa pun.

__ADS_1


Aku terperanjat dan langsung melompat dari kasur dengan mata yang masih tertutup, hingga tak sadar kalau aku ternyata menuju tembok, bukan pintu yang kuingin datangi.


Dengan sedikit menahan rasa nyeri, Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, setelah membuka penutup mata yang masih menempel di wajah area mataku.


Sambil meregangkan otot-ototku, Aku menghampiri pintu yang masih diketuk umi.


"Apa Mi?" tanyaku setelah membuka pintu.


"Kok apa? Emang hari ini libur? Kamu gak kerja?" rentetan pertanyaan umi lontarkan.


Mendengar kata kerja, Aku langsung bertanya tentang waktu saat ini, yang ternyata sudah hampir jam setengah tujuh.


"Astagfirullah!" pekikku, begitu mengetahui waktu saat ini.


Aku berlari ke arah meja kecil di samping ranjangku, duduk di atas kasur dan meraih ponsel yang kutaruh dekat jam wakker berbentuk sandal jepit itu.


"Dis! Bukannya mandi, malah duduk lagi?" tegur umi.


"Gakkan keburu, Mi. kalo mandi dulu."


"Jadi?" Pertanyaan umi kali ini Aku abaikan, dengan mengangkat telapak tanganku, agar umi mau sabar menunggu. Karena ponsel yang sekarang telah menempel di telingaku, sudah terdengar jawaban.


"Hallo, Ma. Gue telat nih kayaknya, tolong time card'in ya. please ...," pintaku pada Rahma, melalui ponsel itu.


"Iya! Loe dah di pabrik? oh oke, oke. Thanks ya, Ma." imbuhku menyelesaikan permintaan.


"Aku cuci muka aja, Mi," jawabku pada umi, setelah menutup panggilan di ponselku.


"Anak gadis kok jorok banget?" protes umi, sambil memukul pelan tanganku.


"Sekali-kali boleh, Mi. asal jan tiap hari," Aku menjawab protesnya umi, diiringi kekehan tawa sambil berlalu menuju kamar mandi, dengan setengah berlari.

__ADS_1


__ADS_2