
Happy Reading ....
Saat pagi menjelang, aku sempatkan mengunjungi ruangan KaBag produksi. Mempertanyakan bagaimana hasil produksi tadi malam, dan bagaimana nasib ponsel-ponsel yang masih berada di ruanganku.
"Benel loh! Hasil BS belkulang dlastis, dan ploduksi nambah banyak ini Dis!" seru Koh Lee, menjawab pertanyaanku.
"Emak loe emang hebat! Bisa kepikilan dia buat sita itu hape anak-anak," imbuhnya lagi. Tentu saja itu membuat aku sedikit besar kepala, karena ide itu sebenernya datang dari otakku demi mendapat semua bukti yang membuat Rahma tak berdaya menghadapi Anda.
"Iyalah Koh, siapa dulu anak buahnya?" kelakarku dengan rasa bangga.
Sebelum menjadi bagian dari tim quality, aku adalah anak buah Koh Lee. Jadi aku sudah biasa bercanda gurau dengan beliau, meski bahasanya kadang bikin geleng-geleng kepala. Tapi tidak mengurangi rasa hormatku padanya, karena dia juga selalu menghargai setiap usahaku. Saat aku memberinya ide-ide, beliau tak segan untuk menerapkan bila memang ide itu sesuai dengan pemikiran dan kebutuhan.
Di tempat kerja ini, aku belajar banyak, bukan hanya tentang mendewasakan diri, tapi juga tentang mencari solusi dan lain-lain. Bahkan aku juga bisa belajar banyak bahasa selain bahasa sunda yang jadi bahasa daerahku dan bahasa indonesia sebagai bahasa nasional. Aku juga bisa sedikit mengerti bahasa Jawa, karena KaBag tim quality adalah seseorang yang berasal dari Jawa, Solo tepatnya. Aku juga sedikit-sedikit kadang mengerti bahasa orang-orang keturunan China. Walaupun cuma sedikiiiiiiit sekali.
"Hapenya aku bawa ke sini ya Koh? nanti sekalian pulang, Koh Lee bisa kumpulin anak-anak sebelum pulang dan kasih pengumuman, biar mereka gak pada bawa hape ke ruang produksi." jelasku memberikan panjang lebar penjelasan.
"Boleh-boleh! tapi loe juga ikut ya? kan ini idenya Emak loe," Koh Lee memintaku mendampinginya menghadapi semua anak produksi.
"Iya! Bentar Aku ambil dulu semua hapenya," pamitku, meninggalkan ruangan itu.
Semua sudah berjajar rapi di hadapan kami, koh Lee memberi pengumuman, bahwa mulai hari ini tidak ada yang diperbolehkan membawa handphone ke dalam ruang produksi. Mereka bisa menaruh ponsel-ponsel mereka di locker ruang ganti.
Meski beberapa karyawan bersikeukeuh dengan alasan, bila ada hal penting atau darurat bagaimana? Aku dan Koh Lee secara kompak mengatakan. Masih ada nomor telepon perusahaan yang bisa di hubungi. Bahkan kami menyebutkan kembali nomor itu untuk mengingatkan mereka agar menyimpannya dan memberitahukan pada mereka, untuk menginfokannya juga pada keluarga masing-masing di rumah.
Pertemuan dadakan selesai, dan diakhiri dengan mengembalikan ponsel-ponsel yang semalam disita. Tapi pengembalian ponsel itu, aku serahkan sepenuhnya pada bagian produksi. Yang akhirnya Koh Lee serahkan pada kepala seksi yang bertugas.
Saat hendak pamit pada Kak Hany, Kak Hany memberitahuku untuk masuk pukul sebelas siang hari ini.
__ADS_1
"Hah! Jam sebelas? Yang bener aja Kak, aku ini aja belum pulang loh. masa suruh masuk lagi jam sebelas?" protesku pada Kak Hany.
"Ya nggak tau! orang tadi si Mbak yang telpon Kak Hany. Dia bilangnya gitu, katanya nelpon kamu gak diangkat-angkat," jelasnya.
Aku kemudian mengecek handphone dan ternyata benar, ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor KaBag-ku itu. Waktunya bila aku perkirakan adalah saat aku sedang pertemuan di ruang KaBag produksi.
"Kak Hany tau rumah aku 'kan?" tanyaku dengan frustrasi.
Kak Hany mengedikkan bahunya, tanda dia tidak bisa berbuat banyak untuk membantuku. Aku pun berdecak kesal karena perintah mendadak ini. Ini memang bukan kali pertama aku mendapat perintah dadakan dari KaBag-ku itu. Tapi entahlah! aku masih mengkhawatirkan Rahma. Yang artinya, aku tidak bisa menemani dia menghadapi si bajingan Anda. Walaupun semua senjata yang dia punya sudah aku hapus. Akan tetapi rasa khawatir itu tetap ada.
"Balik ya," pamitku dengan lemas pada semua.
"Iya! Hati-hati," pesan Kak Hany.
"Hmm ...." Aku angkat kedua jempol tanganku tinggi-tinggi, tanpa menoleh lagi.
Pulang ke rumah memerlukan waktu yang tidak sedikit, apalagi bila harus naik turun angkot. Akhirnya aku melangkah ke ruang produksi untuk mencari Alexa sahabatku.
"Kenapa emang? ya sana. Tapi di rumah gak ada siapa-siapa. Soalnya BoNyok lagi pada undangan ke Tangerang. Gapapa?" jelas Alexa.
"Gapapa lah! Gue di suruh masuk jam sebelas Lex. Bayangin aja! ini aja udah jam berapa? Mau tidur di mes males ah! tar gak bisa tidur yang ada."
"Ya udah, nih! Pake motor gue aja, kunci rumah ada di dalem jok, kalo mau pake baju gue, kunci lemari ada di laci yang atasnya make up. Tau 'kan?" Alexa memberiku kunci motor, dan memastikan aku tak kebingungan nanti di rumahnya. Karena selama ini, bila aku menginap di rumahnya. Pasti Bundanya Alexa yang selalu perhatian mempersiapkan semua kebutuhan kami.
"Pulang dulu ya! Ngantuk banget ni."
"Hati-hati loe!" kata Alexa kembali.
__ADS_1
Aku berjalan dengan langkah gontai, tapi saat mengingat Rahma, tiba-tiba saja mataku seketika terbelalak. Aku takut dia masih menungguku di depan. Dengan tergesa-gesa aku melangkah ke luar setengah berlari.
Setelah selesai mengambil tas dari locker, aku sengaja tak mengganti pakaian kerjaku. Kukenakan jaket levis yang selalu setia menemani hari-hariku saat aku bekerja pada shift malam.
Setelah keluar dari gerbang, kucari keberadaan Rahma. Benar saja, dia ternyata masih menunggu. Rahma bersender di pagar jembatan, dengan tangan dilipat ke dada.
"Ma ... sorry, lama ya nunggu?"
"Iya ih! Darimana aja si?"
"Gue gak balik, loe mau nemenin gue gak nginep di rumah Lexa?"
"Nginep? Bisa-bisa gue diamuk bokap!" ujar Rahma. "Emang napa si? Kok pake acara nginep segala?" imbuhnya bertanya padaku.
"Gue suruh masuk jam sebelas Ma," terangku.
"Ya ampuuuun ini udah jam berapa Zie? Udah cepetan, balik kalo mau ke rumah Lexa."
Aku menganggukkan kepala dengan wajah ditekuk, "Loe juga balik ya, udah sono berentiin angkotnya. Gue mo ambil motor Lexa dulu di parkiran."
"Ya udah, gue duluan ya?" pamitnya padaku.
Aku kemudian masuk kembali melalui pintu gerbang samping untuk mengambil kendaraan milik Lexa. Sebuah motor matic warna hitam mengkilap keluaran Yama**. Cukup mudah untuk menemukannya, tinggal pijit tombol yang ada di kunci, Maka akan terdengar suara bip bip dari motor yang aku cari. Dan aku hanya tinggal mencari arah suaranya saja.
Setelah itu, aku lajukan motor Lexa dengan kecepatan sedang. Letak rumah Lexa tidak terlalu jauh dari pabrik, Perumahan kavling dengan gaya bebas itu, berada satu jajar kiri dengan Pabrik.
Rumah Lexa juga tidak seberapa jauh dari jalan raya. Hanya beberap blok saja dari gerbang utama. Sesampainya di sana, Aku langsung masuk kamar Lexa dan membuka pakaian luarku, hingga hanya tersisa tanktop dan celana street yang kugunakan.
__ADS_1
Mencuci muka, kemudian mengambil gelas untuk minum susu coklat seperti kebiasaanku di rumah. Rumah Lexa sudah seperti rumah kedua bagiku, aku menganggap keluarganya adalah juga keluargaku. Jadi ... aku sudah tidak sungkan lagi bila berada di sini.
Ritual sebelum tidur sudah aku laksanakan, kini tinggal mengatur alarm, agar aku bisa bangun tepat waktu. Setelah itu, aku tarik selimut sampai menutupi semua bagian dari tubuhku, dan langsung terlelap karena lelahnya.