
Happy reading ....
Selain bekerja, Ardi juga masih aktif bersama teman-teman kuliahnya untuk nge'band dan kadang, seusai rekaman dia memberikan cd rekamannya untuk aku review, meminta saran dan juga penilaian.
Suatu hari Aku pernah memperkenalkan Ardi pada sepupuku Megha, Megha masih SMA saat ini, sama seperti seharusnya Aku. Dan setiap hari Ardi selalu mempertanyakan kabar Megha padaku,
"Ngapain sih loe nanyain Megha mulu?"
"Kayanya gue suka ma dia," ucapnya tanpa malu-malu.
"Bokin loe mo di kemanain?" selorohku meninggalkannya, untuk melanjutkan pekerjaanku.
Ardi mengejar aku, dan berkata.
"Gue udah gak punya pacar, baru putus juga minggu kemaren!"
"Iya terserah!!" ucapku yang malas berdebat dengannya.
"Serius Zie, kayanya gue suka ma dia."
"Dianya kagak gimana?"
"Yaah loe kok gitu, dukung kek, comblangin comblangin, ya! Please," rengeknya yang terus saja mengekor saat Aku melakukan pekerjaanku.
"Gawe loe sono! makan gaji buta loe ngikutin gue mulu."
"Tapi janji dulu comblangin gue, ya!"
"Iya ntar gue bantu." Aku majukan bibirku mencebik rengekannya.
Aku sengaja memberikan nomor telepon Megha kepada Ardi agar Dia bisa melakukan pendekatan sendiri. Dan sepertinya setiap hari mereka semakin akrab meski hanya bersua lewat suara di telepon. Jadi mempermudah janjiku pada Ardi untuk mencomblangi mereka.
*****
Sebulan berlalu, dan saat ini, Aku membawa undangan untuk Ardi dan juga sahabatku yang lain yang mengenal Megha, karena tiga hari lagi, Megha berulang tahun yang ke 17.
Sahabat-sahabatku merasa senang mendapat undangan sweet seventeen dari Megha, apalagi Ardi, jangan ditanya bagaimana bahagianya dia. Dia merencanakan akan menembak Megha di acara ulang tahunnya itu. Yaaa walaupun Aku tidak yakin Ardi bakal diterima, tapi Aku tetap memberinya dukungan dan semangat, meskipun begitu, Aku tetap mewanti-wantinya agar tidak kecewa bila Dia ternyata nanti ditolak.
*****
Hari yang ditunggu Ardi akhirnya tiba, malam ini Megha berulang tahun, hari selasa malam rabu, pas pada tanggal dan bulan kelahirannya kami siap berpesta.
Aku memang sengaja pulang ke rumah Megha untuk menginap di sana, guna membantu persiapan acara.
Rumah telah didekorasi dengan indah, pahatan-pahatan es yang membentuk angka tujuh belas dan aneka bentuk lain, berjejer rapi di tempatnya. Ada yg berbentuk tempat buah yang memang diisi berbagai macam buah-buahan, ada yang berbentuk angsa, dan ada juga yang berbentuk hati. Semuanya menjadi hiasan malam ini, bersanding dengan deretan lampu dan bunga-bunga.
__ADS_1
Musik pun tak tertinggal menemani pesta kami malam ini, bahkan ada sesi dansa menemani Megha. Lampu disko yang terpasang, ikut meramaikan suasana dengan kerlap-kerlipnya.
Aku dan teman-temanku, lebih memilih terpisah dari teman-teman dan sahabat Megha, dan kami membentuk kelompok sendiri di sana. Walaupun ada beberapa sahabat Megha yang juga mengenalku, tapi Aku lebih memilih untuk menemani teman dan sahabatku dari tempatku bekerja.
Saat asyik mengobrol dan bercanda sambil menikmati hidangan, tiba-tiba riuh terdengar suara dari arah Megha berada. Ternyata ada seorang teman sekolahnya sedang menyatakan cinta pada Megha dengan membawa sebuket bunga dan cincin dalam kotak sebagai hadiah ulang tahunnya.
Aku langsung menoleh pada Ardi yang pasti sedang harap-harap cemas mendengar jawaban dari Megha untuk teman sekolahnya itu. Benar saja, Aku melihat Ardi memilih berpura-pura mengabaikan peristiwa itu dengan wajah yang sangat bisa kuartikan, 'cemas' itulah warna wajah yang saat ini kulihat dari raut mukanya.
Saat ini sangat riuh suara-suara di dalam menyerukan kata 'terima' berulang kali dari para tamu undangan yang tak lain adalah teman-teman sekolah Megha.
Aku ikut menyaksikan saat Megha kemudian menerima buket bunga dan kado dari tangan Harry, dan melakukan hug di depan teman-temannya itu, yang artinya kini mereka resmi berpacaran. Diiringi tepuk tangan yang begitu meriah dari semua tamu undangan.
Yang menarik perhatianku bukan lagi pasangan yang kini resmi berpacaran, tapi expresi kekecewaan yang begitu terlihat dari seorang Ardi, meski Ia berusaha menyembunyikannya dengan melempar canda dan tawa pada teman-teman yang lain, tapi Aku tahu hatinya pasti tengah menahan rasa kecewa yang dalam.
Malam semakin larut, tapi pesta belum usai. Ardi dan teman-temanku memutuskan untuk pulang lebih awal meninggalkan pesta yang sepertinya sudah tidak menarik lagi baginya.
"Loe pulang lewat mana Di?" tanyaku pada Ardi.
"Lewat sana lah!" Ardi menunjuk jalan menuju jalan raya.
"Ngangkot?"
"Iya, tadi gue dianterin temen waktu ke sini, jadi ... pulang ya ngangkot."
"Iya Di, bareng Andre aja, jadi kan ada temen." ucapku.
"Males amat gue jalan, udah gitu sama aja gue nganterin dia, nah gue masih harus jalan lagi masuk ke perumahan." timpal Ardi.
"Ya udah, loe bareng anak-anak deh, hati-hati ya," ucapku yang menyadari perkataan Ardi yang ada benarnya.
Sebelum Ardi benar-benar pamit pulang, Ia sempatkan berbisik di telingaku.
"Kado dari gue kalo bisa loe ambil ya, jangan sampe Megha buka." bisiknya.
"Biarin aja napa?" kilahku, mencoba menolak.
"Please Zie, gue malu, itu pernyataan perasaan gue isinya."
"Ya udah liat ntar deh."
Mendengar ketidakpastian jawabanku, Ardi menangkupkan kedua tangannya di dada. "Please ...." ucapnya memohon.
"Iya ntar kalo keburu gue umpetin."
"Thanks ya," ucap Ardi sebelum benar-benar melangkah pergi. Yang aku jawab dengan anggukan diiringi senyum tipis.
__ADS_1
Setelah kepergian teman-teman, Aku memutuskan untuk masuk kamar Megha, yang selalu menjadi kamarku juga saat Aku menginap di sini.
Tapi saat hendak menuju kamar, Aku berpapasan dengan Megha.
"Mau kemana Dis?"
"Kamar! tidur duluan ya," sahutku.
"Jangan dulu dong, kan belum selesai."
"Gue besok gawe cuy," ucapku masih terus berusaha menolak.
"Terserah deh!" Megha bersungut kesal dengan alasanku.
Dari dulu, Aku memang kerap mengalah padanya, Megha termasuk gadis yang biasa dimanja oleh Ayah dan Umi nya, jadi Aku pun terbiasa mengalah untuk kebahagiaannya. Sebab itu dia tidak terbiasa dengan penolakan.
Saat Aku hendak melanjutkan langkah, Aku melihat Ayah dan Umi yang masih terjaga di ruang sebelah.
"Ayah, Umi, belum pada tidur?"
"Masih banyak tamu Dis, masa kita tidur," jawab Ayah.
Aku pun akhirnya berhenti melangkahkan kaki ke kamar, dan memilih untuk menemani keduanya. Disela-sela perbincangan kami, Umi yang memang mengenal Ardi dan tahu kedekatannya dengan Megha mempertanyakan dia dan teman-temanku yang lain yang telah berpamitan untuk pulang lebih awal.
"Besok kerja Mi, takut kesiangan kali, jadi pada balik duluan." jawabku.
"Oh iya, Gadis juga besok kerja kan? Ya udah tidur sana, takut besok kesiangan." tukas Umi yang menyadari kewajibanku sebagai seorang pekerja.
"Ga apa-apa Mi, Aku belum ngantuk kok, Aku nemenin dulu Umi aja ma Ayah di sini. Lagian kayanya bentar lagi juga udahan kan? Udah pada pulang juga sebagian tamunya." jelasku.
Akhirnya Aku benar-benar menemani Umi dan Ayah hingga acara selesai. Tak tega rasanya bila harus masuk kamar lebih dulu, sementara mereka masih terjaga. Lagi pula, Aku yakin ... dengan musik yang masih mengalun lumayan keras itu, aku akan kesulitan untuk memejamkan mata.
Setelah para tamu semuanya pulang, Aku bergandengan dengan Megha memasuki kamar, untuk beristirahat.
Megha yang kemudian meminta Aku ikut membuka kado-kado saat telah di dalam kamar, memberiku kesempatan untuk bisa menemukan kado dari Ardi, dan bila beruntung mungkin bisa menyembunyikannya sesuai permintaan Ardi.
Satu persatu kado dibuka, dan saat Aku melihat kotak kecil persegi panjang berwarna navy, dengan pemanis pita berwarna hijau muda, Aku langsung meraihnya dan hendak menyembunyikannya ke belakang tubuhku. Tapi sayang, aksiku terlihat oleh Megha, yang kemudian meminta kotak itu untuk dia buka.
"Dis! Ini dari Ardi?" tanyanya saat telah melihat isi dari kotak itu, yang ternyata sekuntum mawar putih berpita dengan sepucuk surat pernyataan perasaannya.
"He'em," gumamku menjawab tanyanya.
"Yaaah Dis, gimana dong? Pantes tadi dia langsung pulang, kasian ...." ucapnya dengan wajah memelas terlihat sedikit merasakan penyesalan.
"Gak apa-apa, perasaan kan gak bisa dipaksa, lebih kasian lagi kalo loe nerima dia karna kasian!" tukasku.
__ADS_1