Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Kecurigaanku Pada Rahma


__ADS_3

Sejak aku melihat Anda menjemput Rahma sepulang merayakan ulang tahunku saat itu, entah mengapa aku memiliki keingintahuan yang lebih pada hubungan mereka berdua.


Beberapa kali aku perhatikan, Anda memang sering kali aku dapati berada di divisi penggorengan.


Saat ini, aku sedang duduk menghadap alat-alat yang berada tepat di atas meja dengan menopang daguku, ada buret, pipet, gelas ukur, boto-botol, dan gelas-gelas lainnya yang terpajang rapi, berdampingan dengan bahan-bahan kimia yang biasa aku gunakan untuk bekerja.


Aku sedang menunggu hasil kadar air, dari sample yang sudah aku masukan ke dalam alat pengukur berbentuk kotak itu. Cahaya infra red akan tampak dari penutup samping yang terbuat dari kaca. dan hasilnya akan terlihat dari digit angka yang keluar dari layar monitor yang ada di depannya. Setelah angkanya keluar, aku bergegas meninggalkan ruangan. Menuju divisi penggorengan adalah tujuanku.


Saat melalui tempat-tempat produksi, sesekali menyapa atau menjawab sapaan sering aku lakukan ketika menuju divisi penggorengan yang berada di lantai basement.


Kali ini aku memilih melewati tangga bukan lift, dan saat hendak turun. Dari atas setelah belokan tangga, aku melihat Anda keluar dari kamar kecil yang berada persis di bawah tangga. Aku melongok sekejap untuk memastikan penglihatanku bila itu adalah benar-benar Anda. Ya aku yakin itu memang Anda.


Aku lanjutkan langkahku menuruni tangga, lalu bertanya saat aku sampai di ujung tangga tersebut. "Ngapain A?" Dengan tanda tanya besar dalam hatiku.


"Kalo dari Wese biasanya ngapain!" jawabnya dengan sedikit membelalakan mata, dan berkacak pinggang.


"Biasa aja donk, itu mata ampe mo keluar kayaknya," Aku iringi kata-kataku dengan sedikit tawa, agar tidak terkesan memberi tantangan.


Kemudian aku berlalu untuk mengambil sample minyak dari penggorengan, aku masukan sedikit minyak yang masih panas itu ke dalam gelas ukur yang aku bawa dari ruangan.


Aku berbincang sebentar dengan operator, berbasa-basi tentang semua orderan hari ini. Lalu saat aku berbalik hendak kembali ke ruanganku, aku melihat Rahma keluar dari kamar kecil.


"Orderan hari ini banyak nggak Ma?" sapaku.


"Lumayan," jawabnya sambil membenarkan pakaian sembari berjalan menuju penggorengan.


Saat berpapasan begitu dekat, ekor mataku menangkap sesuatu di leher Rahma. Aku mendekatinya dan langsung menyingkap rambutnya yang belum dia masukan ke dalam topi kerja.


"Leher loe kenapa Ma? sakit? itu merah loh!"

__ADS_1


Rahma langsung menepis tanganku dan berkata, "Apa sih? nggak kenapa-napa kok!" sinisnya padaku. Sambil berlalu meninggalkan aku yang masih terpaku.


Aku sejenak bergeming dengan sikapnya yang tak biasa itu. Tapi karena ini juga memang masih waktu bekerja, aku memilih untuk mengesampingkan perasaan kecewaku pada Rahma.


Berjalan dengan agak lesu karena sedikit mengingat sikap Rahma, membuat aku seperti abai pada segala hal. Karena tiba-tiba saja ...


Darrr!! seseorang mengagetkanku dengan menepuk bahu.


"ngelamun aja, nape?" tanya seseorang itu yang ternyata adalah Kimmi.


"Enggak ...." Aku menggeleng kecil kepalaku menjawab tanyanya.


"Dari mana?" imbuhku pada Kimmi.


"Istirahatlah ... tadi kan gue ngajak loe, tapi loe bilang nanggung makanya istirahat jam ke-dua,"


"O iya,"


Kimmi tertawa begitu keras sampai-sampai aku harus menutup mulutnya dengan tanganku.


"Berisik gila!" ujarku pada Kimmi dengan tangan yang masih menutup mulutnya.


Kimmi mengangguk kecil, tanda ia akan berhenti tertawa. Setelah aku melepas tanganku dari bibirnya ia kemudian berbisik sebelum kami berpisah menuju tempat kerja masing-masing.


"Jangan terlalu polos," bisiknya tepat di telingaku


Aku langsung menarik tangan Kimmi yang hendak berjalan menuju tempat kerjanya,


"Maksud loe apa?" tanyaku.

__ADS_1


Kimmi berdecak kesal,


"Loe tuh bener-bener ya! Lugu banget tau gak? umur doang dua puluh, pikiran loe masih kek anak SD, apa mungkin kalah sama anak SD pun." Kalimat panjang lebar keluar dari mulut Kimmi untukku.


Lalu Kimmi berbisik di telingaku, aku terperangah mendengar apa yang dia bisikkan.


"Itu?" lirihku mendengar apa yang Kimmi bisikkan


"Iya!" sarkasnya.


"Sama siapa? Kok bisa?" list pertanyaan sepertinya tiba-tiba berjejer di otakku.


"Nanti dech, gawe dulu, ntar gue dimarahin! loe enak gawe semau loe, gue ... target men," ucapnya, berlalu meninggalkanku.


"Nenek loe seenak gue! Ya sama-samalah, sama-sama punya tanggung jawab." teriakku padanya.


Kimmi tak lagi menggubris omonganku, ia berlalu begitu saja, dan sialnya isyarat tangannya seolah mengusirku dari hadapan dia, damn batinku mengumpat.


Aku lanjutkan langkahku menuju ruangan, dan kemudian segera mempersiapkan alat-alat dan bahan-bahan untuk mengecek sample minyak yang tadi aku bawa.


Jas Lab, sarung tangan, dan masker. Menjadi pakaian yang wajib aku gunakan saat melakukan tugas.


Setelah menimbang minyak pada gelas ukur, aku lanjut meneteskan beberapa bahan kimia yang sudah aku tahu takarannya dengan menggunakan pipet. Setelah itu, baru aku tes dengan meneteskan sedikit demi sedikit cairan kimia lain yang sudah aku ukur di atas buret. Hingga warna sample minyak tersebut berubah menjadi merah muda. Setelah warnanya berubah, aku mulai menghitung hasil dari pengecekanku dengan rumus-rumus yang sudah bertengger di otakku tanpa melihat catatan.


Aku masukan semua hasil tes pada secarik kertas yang sudah berformat. Dengan mengisikan beberapa angka ke dalamnya dan juga beberapa ceklist di kolom-kolom kotak yang ada.


Pukul 12.55 siang, saat aku melihat jam dinding di ruangan. Segera aku tanggalkan jas labku, membuka sarung tangan dan membersihkan diri. Tak lupa jam tangan dan handphone juga aku ambil dari dalam laci meja kerjaku. Aku bersiap keluar untuk ISOMA (istirahat shalat dan makan siang).


Ini adalah salah satu kebiasaan burukku, menunda istirahat hanya untuk menyelesaikan semua tugas yang padahal bisa ditunda.

__ADS_1


Aku langsung menuju kantin dan memesan makanan juga minuman. Setelah itu, menunggu pesanan diantarkan dengan duduk sambil menonton televisi yang tersedia di sana. Sesekali juga membuka handphone untuk sekedar mengecek sosial media, atau pun sekedar menscroll layar saat melihat-lihat market place online.


Aku jarang berlama-lama untuk makan. Begitu makanan terhidang, berdoa menjadi kebiasaanku sebelum menyantap makan siang itu. Setelah selesai, bergegas ke Mushola untuk shalat zuhur, dan tidur siang sebentar di mushola sebelum waktu masuk tiba.


__ADS_2