
Happy Reading ....
Di rumah Alexa.
"Xa, ajak Gadis makan dulu," teriak bundanya Alexa dari luar kamar.
"Dengerkan loe? yuk ah," Alexa mengajakku untuk ke luar kamar.
"Iya ayok, Bunda loe itu ... kalo kita belum nongol pasti bakal terus-terusan nyuruh loe ngajak gue makan hihi ...." Aku tahu kebiasaan Bundanya Alexa. Karena tidak hanya satu atau dua kali aku bermain di sini.
"Ayo Dis, duduk. Kita makan bareng ya?" Bundanya Alexa mempersilakan aku untuk duduk. Sementara beliau masih sibuk menata masakan dan peralatan makan untuk kami.
"Ka Angga ke mana Bund? kok gak makan bareng?" tanyaku saat tak melihat sosok kakak laki-laki Alexa.
"Dia lagi di luar kota, biasalah ... ngurus kerjaan," jelas bunda padaku.
Aku hanya berkata 'O' karena, memang bukan hanya kali ini Angga tak terlihat di Rumah. Pekerjaanya di kementrian UMKM memang kerap kali mengharuskan laki-laki itu keluar kota ke seluruh penjuru Indonesia.
"Butuh bantuan gak Bun?" Aku berinisiatif untuk membantu Bundanya Alexa.
"Udah selesai kok! tinggal naruh ini aja," katanya.
"Ayo Dis, makan yang banyak! jangan kaya Lexa, udah di tempat makan aja masih Hp terus," sindir ayahnya Alexa.
"Iya lo Ayah, masa tadi aja HP aku disita sama dia. Giliran sekarang, dia main Hp terus di sini," selorohku.
"Ya udah, sekarang gantian. Kamu sita aja Hp'nya," Ayah memberi ide jahil padaku.
Alexa masih saja sibuk dengan gawainya. Sepertinya, dia tidak memerhatikan sindiran Ayahnya sendiri.
Dengan sigap aku comot Hp yang sedang di pegang Alexa. Sambil berkata "Hp teruuuusss, makan dulu!"
"Paan si? Rese loe!" sarkas Alexa padaku.
"Makan dulu ... tadi loe sita Hp gue, sekarang gantian!" ucapku sambil melotot padanya.
"Iya, iya." Alexa langsung membalik piring yang ada di hadapannya.
Kuletakkan Hp milik Alexa di meja, dan menyodorkan piring milikku pada Alexa yang sedang menyinduk nasi putih.
"Manja loe!" Alexa menoleh padaku yang sedang mengembangkan senyum di wajah.
__ADS_1
"Sekalian," ucapku.
"Nih! makan yang banyak," Alexa menyinduk nasi dengan penuh, dan menuangkannya di piringku.
"Kira-kira dong Lex, loe pikir gue kuli bangunan?" Aku terbelalak melihat nasi yang bertumpuk penuh di atas piring.
Alexa hanya tertawa, kemudian kembali duduk di kursinya. Setelah memenuhi piring miliknya dengan ragam lauk pauk yang tersedia.
"Kalian ini ya, ya ampuuun Bunda ampe pusing lihatnya tau gak?" celoteh bunda yang melihat tingkah kami yang seperti itu.
"Maaf ya Bund, he ...." Aku tersenyum pada Bunda.
"Udah cepet makan, jangan lupa baca doa!" nasehat bunda pada kami.
Aku lihat, Ayah hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah kami. Dia tidak berkomentar apa pun.
Setelah selesai makan, aku sempatkan membantu bundanya Alexa untuk mencuci piring. Sedangkan Alexa sendiri, dia sudah lebib dulu masuk ke kamar.
"Udah Dis, biar Bunda aja."
"Gapapa Bund, aku udah biasa kok."
"O iya Dis, adikmu sudah lulus sekolah?"
"Kamu bener-bener hebat! Bunda bangga sama kamu. Kamu tidak hanya memikirkan diri dan kebahagiaan kamu sendiri, tapi ... kamu memikirkan orang-orang yang kamu sayangi."
"Dia laki-laki Bund, bakal calon kepala rumah tangga. Jadi, dia harus punya pendidikan yang tinggi. Agar bisa cari kerjaan yang baik, yang bagus, dengan masa depan yang cerah." Aku menjeda sebentar omonganku.
"Aku gak mau nasibnya sama seperti aku, cuma bisa lulus tingkat pertama dan jadi buruh pabrik," lanjutku.
"Bunda beneran bangga sama kamu Dis."
"O iya Bund, kenapa sih Alexa gak mau kuliah?" selidikku.
"Kamu tau Alexa kan Dis, dia itu keras. Dan semaunya sendiri," keluh bunda.
"Enggak ah Bund! Selama ini dia baik banget kok, malah kadang dia lebih suka ngalah kalo lagi ada masalah ma temen-temen."
"Itu sekarang Dis, setelah kenal kamu. Dulu dia paling susah diatur, ayah aja sampe nyerah."
"Masa sih Bund?" Aku masih belum percaya, bahwa Alexa yang aku kenal ternyata punya perangai jauh dari yang kukenal.
__ADS_1
Bundanya Alexa menghela napas agak kasar, mungkin beliau lelah menjelaskan. Tapi aku, malah tidak mudah percaya padanya.
"Kalau kamu ada waktu, coba kamu ngobrol sama Lexa. Siapa tau dia mau dengerin omongan kamu Dis," Bundanya Alexa menggenggam kedua tanganku dengan wajah penuh harap.
"Nanti Gadis coba ya Bund, semoga dia mau nerusin pendidikannya. Aku kalau punya kesempatan juga pengen banget sebenernya Bund, tapi ya sayang ... rasanya takdir tidak berpihak."
"Kenapa kamu gak kejar paket aja Dis?"
"Temen-temen juga banyak yang nyaranin gitu Bund. Tapi, aku kemaren kan masih konsentrasi nabung buat biaya kuliahnya Barakh, jadi belum mikirin buat aku sendiri."
"Sekarang kan udah masuk kuliah, udah tahun ke dua pula, emang Barakh gak bisa sambil kerja?"
"Aku yang gak bolehin Bund, dia juga bilangnya pengen kuliah sambil kerja. Tapi, aku kasian sama dia. Jadi biar aku aja yang cari duit buat biaya kuliahnya."
"Bunda denger kamu itu lembur terus ya kalau kerja?"
"Iya Bund."
"Nyari duit mulu buat apa sih Dis? Biaya kuliah adekmu itu kayaknya ketutup dech sama gaji pokok kamu."
"Lagi ngumpulin buat beli motor Bund, cape juga naik angkot terus. Berangkat harus pagi mulu."
"Loh, kenapa gak kredit aja? kan biayanya lebih sedikit."
"Aku gak mau nyusahin Abah sama Umi, umur kan gak ada yang tau." Aku menjeda kalimatku sambil berjalan menuju kursi meja makan.
Setelah duduk saling berhadapan dengan Bundanya Alexa, aku melanjutkan kata-kataku.
"Lagi pula, kalau aku kredit, aku gak sanggup Bund. Belum biaya perbulannya, ditambah lagi biaya kuliah Barakh."
Bundanya Alexa, tersenyum padaku. Kemudian menyentuh tanganku yang ada di pangkuan.
"Bunda senang, Alexa bisa kenal kamu. Semoga dia bisa belajar dari sifat bijaksanamu," Ada sedikit bulir-bulir bening yang berkaca di manik Bundanya Alexa.
"Ibund ... jangan kayak gitu, aku yang beruntung bisa kenal Alexa dan semua keluarga Ibund. Keluarga ini sudah seperti keluargaku, rumah ini sudah jadi rumah ke dua bagiku," Tak terasa bulir bening menyembul di sudut netra. Apa lagi saat kami akhirnya berpelukan, ada hangat yang menjalar di relung sanubari terdalamku.
💞💞💞💞
Duh! malam ini melow dikit gapapa ya?
Makasih banget buat yang masih nunggu up.
__ADS_1
I Love U all 😘❤