Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Masih Bimbang Dengan Rasa Yang Ada


__ADS_3

Happy Reading


"Udah sana, istirahat. Mimpi indah ya sayang," Bundanya Alexa melepas pelukan, dan mempersilakan aku untuk segera masuk kamar dan beristirahat.


Aku tersenyum dan kembali memeluk Bunda.


"Malam Bund, aku masuk dulu ya," pamitku.


Bunda mengangguk dan memberikan senyum manisnya untukku.


"Ngapain aja si loe! lama banget," seloroh Alexa, saat melihatku masuk ke dalam kamarnya.


"Cuci piring dulu kan," jawabku, sambil kemudian merebahkan diri di samping Alexa yang sedang duduk di atas kasur.


"Kok lama?" herannya. Alexa menatapku penuh selidik.


"Ngobrol dikit tadi sama Ibund."


"Ngobrol apaan?"


"Kepo!" Aku langsung membenahi posisi untuk segera tidur dan menarik selimut menutupi hampir semua tubuhku.


Malam ini tadinya aku berniat untuk curhat tentang Aji. Tapi, entah mengapa? rasanya sudah tak menarik lagi bagiku untuk membahasnya.


Alexa yang merasa heran dengan sikapku, kemudian ikut masuk ke dalam selimut yang sedang kupakai.


"Loe gak mau cerita apa-apa?" selidiknya, dengan posisi yang begitu int1m.


"Udah gak mood, udah tidur aja. Kapan-kapan gue cerita."


"Tuh! kan, jangan bikin penasaran dech," Alexa begitu penasaran padaku.


Ya ... memang wajar sih Alexa penasaran. Karena aku sempat bicara saat di perjalanan pulang. Kalau ada sesuatu yang ingin aku ceritakan.


Alexa terus saja mengguncang tubuhku, memintaku bercerita. Seperti anak kecil yang merengek minta dibacakan dongeng oleh orang tuanya.


"Iya! iya, gue cerita," Akhirnya aku menyerah.


Malam ini aku ceritakan semua tentang Aji. Sejak aku mengenalnya hingga saat ini. Yang membuat aku bingung harus menjawab apa untuk semua permintaan Aji.


"Loe kan JoNes! Terima aja napa?" Alexa menyarankan aku untuk menerimanya.

__ADS_1


"JoNes mata loe soak! Emang loe nggak?" Aku balik meledeknya.


"Hahaha ... udah! Sesama JoNes dilarang saling mendahului."


"Tapi gue bingung, masa baru aja pacaran langsung LDRan?"


"Zie! Cinta itu masalah rasa, kalau loe emang suka, sayang, cinta sama dia. Ya gak masalah mau dekat atau pun jauh jaraknya, justru mungkin jarak itu yang akan merajut rindu kalian jadi lebih indah nantinya," Tiba-tiba saja Alexa jadi sok dewasa dan bijaksana.


"Loe kesambet ya?" Aku malah bingung dengan semua ucapan Alexa. Dan langsung meraba keningnya dengan punggung tanganku.


"Temen Pe'a! orang ngasih masukan dibilang kesambet," Alexa menoyor kepalaku, menjauh dari wajahnya.


Kami berdua kemudian tertawa, merasa lucu dengan semua tingkah, yang masing-masing kami perlihatkan. Akhirnya kami sepakat menyudahi pembicaraan kami, dan bergegas untuk tidur.


Sebelum tidur dan memejamkan mata, aku berkata pada Alexa.


"Perasaan gue sekarang, sudah tak lagi sama seperti dulu Lex. Sepertinya sekarang ini udah B aja."


"Ya terserah loe Zie, cuma loe yang tahu jawabannya." jawab Alexa, yang sudah hendak tidur dengan memunggungiku.


"O iya! Ini cuma saran aja, jangan gara-gara ingin melepas status jomlo. Terus, loe sembarangan menaruh rasa." imbuhnya kembali.


Aku mendekat pada tubuh Alexa, dan memeluk dia dari belakang. Menyingkirkan guling yang sempat jadi pembatas antara kami berdua.


"Dih! Najis ... masa iya gue suka sama loe! emang gue lesbong apa?" Aku menoyor kepala Alexa.


"Bilang aja, loe udah gak punya rasa soalnya loe suka sama gue kan?" Alexa masih saja terus menggodaku.


"Pe'a!" Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Tapi tidak sedikit pun aku mengubah posisi tidurku yang memeluknya dari belakang. Hingga akhirnya kami berdua benar-benar tertidur dan masuk pada mimpi masing-masing.


...*****...


Hari ini, Bu Lia masih belum pulang dari perjalanan luar negerinya. Dan, aku masih bertugas mendampingi Melati sambil membantu Ami mengecek kualitas produk.


Beberapa kali juga aku berpapasan dengan laki-laki yang menyebalkan itu. Namun, aku tetap berusaha untuk mengabaikan dan melupakan kejadian-kejadian yang tidak mengenakan dengannya.


Aji makin sering menghubungiku, dari chat selamat pagi hingga panggilan video, tak luput menghiasi layar kaca dari handphone yang kumiliki.


karena hari ini, aku cuti untuk shalat. Jadi aku memilih menghabiskan waktu istirahatku di gazebo taman, sambil memberi makan ikan-ikan koi milik big boss. Melati yang juga masih cuti dari shalat, mengikuti aku ke mana pun pergi. Seperti saat ini, kami berdua sedang asik memberi makan ikan-ikan koi dari gazebo yang berada di atas kolam.


"Teh! Teteh sekarang udah jadian sama Aji aji itu?" tanya Melati tiba-tiba.

__ADS_1


"Enggak kok, aku masih belum bisa nentuin perasaan aku. Soalnya perasaan aku ke Aji sekarang ini, ya B aja."


"Ya kalo gitu mending ditolak teh, jangan suka ngasih harapan palsu sama cowok. Kalau istilah orang sunda 'Lalaki mah panjang lengkah', teteh ngerti kan artinya?"


"Iya ngerti, tapi aku juga bingung cara untuk nolaknya Mel."


"Pasti alasannya gak mau nyakitin ya?"


"Heu'eum!" Aku mengangguk mengiyakan alasan yang ditebak Melati.


"Gak boleh gitu teh, jadi wanita harus tegas! Iya ya iya, enggak ya enggak. Jangan iya yang enggak-enggak."


Aku memicingkan mata mendengar celoteh Melati. Lalu berujar "Sok tua!" diiringi kekehan geli.


"Aku kan emang lebih tua dari teteh."


"Iya deeeech yang tuaaa," kucubit kedua pipinya yang menggemaskan.


Kulit Melati yang putih, membuat pipi yang baru saja kulepas dari cubitan, meninggalkan jejak merona di wajah Melati.


"Teeeeh," Melati menatapku. "Aku bukan anak kecil," imbuhnya.


"Hahaha ... maaf, habis kamu gemesin."


Aku menelisik tanda waktu, di pergelangan tanganku. Rupanya, waktu istirahat hampir habis. Kemudian, aku mengajak Melati untuk segera bersiap.


"Masuk yuk!" ajakku.


"Kan masih lama teh," Melati melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kita kan naik lewat tangga, jadi sebelum masuk bisa istirahat dulu di post time card," jelasku.


"O, iya juga ya. Kita kan lumayan jauh dari atas," Melati menyadari mengapa aku mengajaknya lebih awal untuk menyudahi kesenangan kami memberi makan ikan.


Sambil berjalan, Melati masih saja berceloteh dengan banyak pertanyaan untukku. Bahkan hingga sampai ruangan pun, dia masih belum berhenti untuk bertanya.


"Udaaaah, kerja lagi sono. Kerjain resep yang tadi ya, aku mau bantu Ami dulu satu putaran," ujarku pada Melati, sesampainya kami di ruang Bu Lia.


💞💞💞💞


Hai hai reader kesayangan, sorry ... baru bisa up. ada keluarga yang butuh dibahagiakan, ada tubuh yang butuh diistirahatkan, dan ada kerjaan juga yang butuh diselesaikan.

__ADS_1


Doakan projek baru aku selesai cepat dengan hasil yang memuaskan ya ... love you 😘


Terima kasih yang baaaaaanyak banyak banyak, untuk kalian yang masih nunggu. 😉❤


__ADS_2