Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Memastikan keadaan.


__ADS_3

Happy Reading ....


"Kok gitu?" ucap Megha.


"Laaah terus gimana? Emang gitu kan ...?"


"Iya sih, tapi ...."


"Udah ah, gue tidur duluan ya, besok gue harus gawe." Aku langsung merebah tubuh dan menutup dengan selimut hingga menutup seluruh bagian tubuhku.


"Dis, jan dulu tidur," rengek Megha menarik selimut yang sedang kupakai.


"Gue ngantuk Gha," Aku tarik kembali selimut yang sudah tersingkap, hingga menutup kepalaku.


"Ya udah, gue ikut tidur!" Megha masuk menelusupkan badannya ke dalam selimut yang sedang kupakai, dan memelukku dari belakang.


Karena kami sudah terbiasa tidur dengan posisi seperti itu, Aku membiarkan Megha memelukku, hingga kami berdua terlelap dalam satu selimut.


*****


Aku merasakan tubuhku diguncang, hingga Aku terbangun walau mata masih terasa begitu lengket menempel, seperti sulit terbuka.


Perlahan kumulai membuka mata, dan yang terlihat pertama kali adalah Umi, yang sedang berusaha membangunkan Megha yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Udah siang Dis, katanya kamu hari ini mau kerja," ucap Umi yang melihat aku sudah terduduk dengan mata terbuka.


"Jam berapa Mi?" tanyaku dengan tangan mengucek mata.


"Setengah enam," jawab Umi sambil masih berusaha membangunkan Megha yang masih saja terlelap.


Mendengar kata setengah enam, membuat aku beringsut dan langsung berlari menuju kamar mandi.


"Hati-hati, jangan lari-larian Dis, takut kepeleset!" teriak Umi yang melihat tingkah sembronoku.


"Dis cepetan, Gue telat nih!" teriak Megha saat Aku masih berada di dalam kamar mandi.


"Salah ndiri tidur kek kebo!" ucapku dengan kalimat yang mungkin sedikit sulit dimengerti karena sambil menggosok gigi.


Waktu yang sudah mepet membuat Aku tak bisa berlama-lama di kamar mandi. Setelah selesai dengan mandi expresku, Aku keluar dengan handuk yang melingkar dari dada hingga paha.

__ADS_1


Megha yang melihat Aku menggunakan handuk miliknya spontan merengek sambil hendak menarik handuk yang kugunakan.


"Punya gue ...!" rengeknya dengan intonasi tinggi.


Aku pertahankan handuk yang sedang kupakai membalut tubuh polosku, dengan sedikit menahan tarikan Megha.


"Lepasin astaga, gue lupa tadi gak bawa anduk!" Sambil masih menahan tarikan handuk dari tangan Megha.


Setelah tangannya terlepas dari handuk yang kupakai, Aku dorong tubuhnya untuk masuk kamar mandi sambil berkata.


"Nanti gue kasih yang baru!"


Setelah Megha masuk ke kamar mandi dengan paksaanku, Aku langsung berlari menuju kamar untuk berganti pakaian.


Satu persatu Aku pilah baju Megha mana yang akan kugunakan, setelah kudapat pakaian yang akan kupakai, Aku segera mengenakannya dan kemudian kembali ke kamar mandi untuk memberikan handuk baru pada Megha, yang ternyata belum selesai dengan ritual mandinya.


"Dis sarapan dulu, tapi Umi gak bikin apa-apa, roti aja gak papa kan...?" Umi mengajakku untuk sarapan terlebih dulu sebelum Aku berangkat bekerja.


"Telat Mi, gakkan keburu!" tolakku.


"Umi udah nyuruh si Rohman buat nganterin kamu ke tempat kerja, jadi sambil nunggu dia jemput, kamu bisa sarapan dulu," ucap Umi memaksaku untuk tetap mengisi perut walau dengan setangkup roti.


Umi tahu apa kesukaanku, Dia sengaja menyiapkan setangkup roti dengan selai coklat, dan segelas susu putih di meja makan untuk kusantap. Mau tak mau, Aku sempatkan menyantap apa yang Umi sudah siapkan. Dan saat tinggal beberapa gigitan lagi, jemputan yang umi pesan sudah datang, lalu Aku seruput susu yang sudah umi siapkan hingga tandas, dan membawa roti yang belum habis kumakan, untuk kuhabiskan di perjalanan.


"Telat loe!" ucapku pada Megha, melihat jam yang melingkar di tangan.


"Biarin ah! Masih ngantuk gue, salam ya!" katanya.


Aku merengut heran dengan kata salam yang dia ucapkan, lalu bertanya.


"Ke siapa?"


"Ardi!" jawab singkatnya.


"Malless gue, php loe!" ucapku yang tidak ingin memberi harapan palsu pada sahabatku.


"Eeeh amanah loh, sampein! Kalo gak dosa loe," ucapnya dengan seringai senyum nakal.


Aku yang merasa waktu semakin siang, bergegas menemui umi untuk berpamitan dan meninggalkan Megha tanpa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


Untung umi berinisiatif meminta bantuan Rohman untuk mengantarku, karena bila tidak, mungkin Aku akan terlambat untuk datang ke tempat kerja. Karena jarak dari rumah Megha ke jalan raya memang lumayan jauh, dan tidak ada angkutan umum apa pun untuk menuju ke sana, selain berjalan kaki atau menggunakan kendaraaan sendiri.


Sebenarnya Aku pun masih merasakan kantuk yang sangat, tapi ... selain karena tidak ingin ribet mengurus time card yang akan disita Personalia bila tak masuk kerja, Aku pun ingin memastikan keadaan Ardi saat ini.


Pekerjaan Aku lalui seperti hari-hari biasanya, saat bertemu Ardi pun, Dia terlihat baik-baik saja, bahkan Aku sempatkan untuk menyampaikan salam yang dititipkan Megha, yang hanya dibalas senyum kecut darinya.


"Wajib loh Di. hukumnya jawab salam," godaku, pada Ardi.


"Wa alaikum salam," ucapnya kemudian.


"O iya Dis, hari minggu jalan yuk," imbuhnya setelah menjawab salam itu.


"Jalan...?" Aku masih tak mengerti dengan maksud ucapannya.


"Iya temenin gue, tadinya kalo gue diterima semalem, gue pengen ngajak Megha keliling Bogor. Tapi karna nggak, gue ngajak loe aja ya!" jelasnya.


"Diiih, gue dianggap ban serep roman-romannya."


"Ellaaah temenin doank, masa gak mau sih?" Paksanya.


"Loe yakin ngajak gue keliling Bogor? Bogor loooh, luas man!" godaku lagi.


"Keliling kota Bogor maksudnya."


"Nah, kalo kota Bogor masih masuk akal Di, kalo Bogor, sehari itu gakkan cukup buat ngelilingin Bogor." tegasku.


"Ribbet ngomong sama loe, harus jelas mulu."


"Ya iya lah harus jelas, gue gak suka yang abu-abu."


"Iya-iya, serah deh!" Ardi nampak enggan berdebat.


"Di, loe tau Bogor kan? ibarat ceplok telor, kota Bogor itu cuma kuningnya doang, nah Bogornya sendiri jauh kemana-mana." jelasku.


"Iya-iya, segala ceplok telor dibawa-bawa, mentang-mentang mau istirahat." ucapnya yang berlalu meninggalkan Aku begitu saja.


Aku terkekeh dengan kekonyolanku sendiri saat Ardi meninggalkanku.


Hari ini Aku merasa lebih lega, ternyata Ardi baik-baik saja, bahkan canda tawa masih menemani saat dia bersama teman-teman yang lainnya. Kekhawatiran Aku ternyata berlebihan, lagipula ... Ardi kan memang orang yang punya percaya diri yang tinggi, Dia pasti bisa mengatasi rasa dengan percaya dirinya.

__ADS_1


"Syukurlah ...." gumamku dalam hati diiring sunggingan senyum melengkung di bibir tipis ini.


Aku melanjutkan aktifitasku di tempat kerja seperti biasa, hingga selesai dan waktunya pulang tiba. dan Aku bersyukur masih ada senyum di bibir Ardi, meski mungkin hatinya masih kecewa.


__ADS_2