
Happy Reading
Saat ini pukul tujuh malam, waktunya karyawan shift pagi untuk pulang. Sedangkan aku, Mbak Sri memerintahkan aku untuk pulang pukul sepuluh malam. Karena menurut beliau, khawatir Risa belum bisa dilepas sendiri begitu saja.
Pertimbangan karena Risa juga adalah anak baru, membuat Mbak Sri menukar jam kerja untuk kami, jadi ... selain bisa mengajari Melati. Aku juga bisa menemani Ami melakukan pekerjaan seperti biasa. Mulai besok, aku masuk shift pagi, dan Kak Hany masuk shift malam menemani Risa. Itu menjadi keputusan Mbak Sri sebelum dia pulang pukul lima sore tadi.
"Zie! Kunci motor?" Alexa memasuki ruanganku.
Aku kemudian segera mengambil kunci yang diminta oleh Alexa, dari dalam laci meja kerjaku.
Setelah Alexa menerima kunci itu dari tanganku, dia kemudian bertanya,
"Loe balik jam berapa?"
"Gue balik jam sepuluh."
"Mau gue jemput?"
"Nggak usah! gue balik ke rumah kok, makasih ya. Atas tumpangannya."
"Ya ellaaah! kek ke siapa aja," ujar Alexa. "Kalau gitu gue duluan ya?" imbuhnya, untuk pamit padaku.
"Oke! Hati-hati ya," ucapku.
"Loe yang hati-hati, pulang malem, sendirian pula!" Aku tersenyum dengan perhatian Alexa padaku. Dalam hati, aku sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik macam Alexa.
Sebelum memulai pekerjaanku, aku memberitahu Risa mana saja mesin-mesin yang harus diperhatikan lebih. Dan, aku juga memberitahunya. Bahwa hanya sampai pukul sepuluh malam aku menemani Risa. Jadi, dia harus mulai belajar untuk mengambil keputusan tanpa aku.
Meski dia bersikeukeuh mengatakan belum tentu bisa, aku meyakinkan dia. Bahwa aku akan selalu bisa dihubungi 24 jam, bila dia benar-benar memerlukan aku untuk mengambil keputusan.
Saat hendak mulai mengecek, Alexa datang kembali ke ruang produksi. Dia menyerahkan kunci motornya untuk kubawa. Dengan alasan dia Khawatir bila membiarkanku menaiki angkot selarut itu. Alexa berkata, bahwa dia akan meminjam motor Kimmi untuk dia bawa pulang.
Aku pun menerimanya, dan mengantar Alexa hingga lorong antara ruang produksi dan packing. Aku sangat bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang baik seperti mereka.
__ADS_1
Alexa, Kimmi, Rahma, Jenny, dan Nirmala. Adalah sahabat terdekatku saat ini. Meski Jenny kini sudah tak lagi bekerja, tapi kami masih menjalin persahabatan dengan baik, walaupun hanya bersua lewat chat dan telephone. Nanti akan ada saatnya aku mengisahkan satu-persatu tentang mereka.
Malam ini, jam di dinding ruangan sudah menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Aku tengah menunggu waktu pulang yang tinggal beberapa menit lagi.
"Sa, teteh balik ya. Udah ngerti kan yang mana aja tadi yang bermasalah?" Aku berencana menemui Kimmi dulu sebelum pulang. Oleh karena itu, segera pamit pada Risa.
"Iya, teh. Tapi, nanti kalau aku telpon teteh angkat ya!" pintanya sedikit memelas.
"Iya, pasti teteh angkat, kalau teteh denger!" Aku sedikit menggodanya.
"Teh Zie! teteh mah gitu kaaan," rengeknya, mendengar godaanku.
"Iya, iya bawel! Nanti aku angkat," Aku langsung ke luar dari ruangan, meninggalkan Risa dengan sampel-sampel di meja.
Risa sempat juga memberiku wanti-wanti, agar aku berhati-hati dan tidak mengebut saat membawa motor. Aku menanggapinya dengan senyum penuh kebahagiaan.
Risa sudah kuberitahu, bahwa malam besok dia akan ditemani oleh Kak Hany. Tapi aku tidak khawatir, karena aku tahu dan mengenal Risa. Dia adalah orang yang memiliki sifat tegas, dan bisa aku andalkan. Bila dibandingkan dengan Kak Hany, dia mungkin punya sifat jutek yang sama. meskipun masih sering manja bila denganku. Tapi, aku yakin dia bisa berkolaborasi dengan baik bersama Kak Hany.
Kini, aku menemui Kimmi dan Nirmala untuk pamit. Setelah saling bersalaman dengan gaya dan kebiasaan kami, aku segera meninggalkan ruang produksi. Sesampainya di pos time card, ternyata waktu menunjukkan masih kurang dua menit. Yang akhirnya memaksaku untuk menunggu dua menit terakhir itu.
Tak terasa waktu malah telah sampai pukul sepuluh malam lebih. Aku langsung menempelkan ID card-ku dan melenggang meninggalkan pos.
Aku sengaja tidak berganti pakaian. Hanya menyematkan jaket pada tubuhku dan kemudian menggendong tas bawaanku. Rupanya, tidak hanya motor yang Alexa siapkan. Tapi, di atas motor juga sudah ada helm yang entah milik siapa. Karena saat tadi aku membawa motor ini, aku tidak membawa helm dari rumah Alexa.
Segera aku hidupkan motor, dan meninggalkan parkiran. Dengan klakson yang aku bunyikan, tanda aku pamit undur diri pada satpam penjaga gerbang, yang sudah sigap membukakan gerbang dengan remot yang ada di mejanya.
Jalanan sudah cukup sepi, rimbunnya pepohonan besar di sepanjang pinggir jalan raya, seakan menambah suasana terasa gelap dan sunyi.
Aku memacu motor yang kukendarai dengan kecepatan yang cukup lumayan. Hingga tak terasa, aku sudah berada di jalanan kota.
Rasa lapar di perutku memaksa untuk berhenti. Bubur ayam langganan menjadi pilihan, untuk menuntaskan dan memenuhi hasrat para cacing yang sudah mulai mendemo untuk diberi jatah makan.
"Sendirian Neng?" tanya penjual bubur yang sepertinya sudah hapal dengan wajahku.
__ADS_1
"Iya mang," Aku tersenyum memberi jawaban.
"Temen-temennya ke mana? kok gak pada ikut?" tanyanya lagi, sambil menyodorkan sambal di wadah berbentuk bulat itu.
"Saya pulang sendiri Mang, tadi ada lembur dadakan," jelasku.
"Ooo ...," si kang bubur cuma menanggapi dengan 'o' yang membulat bibir dengan sedikit panjang.
Aku lanjut dengan santapan semangkuk bubur ayam kesukaanku itu, sambil mendengarkan lagu dengan headset yang menutup telinga. Kini, segelas teh hangat telah tandas masuk ke ruang tubuhku, membersihkan tenggorokan yang mungkin sempat kotor dilalui bubur ayam yang baru saja kunikmati.
Aku bangkit dan menyodorkan selembar uang pada kang bubur, sebelum meninggalkan kedai yang hanya terbuat dari tenda itu.
Kupacu motor yang kunaiki dengan kecepatan 40km/jam ya! 40km/jam. Itulah angka yang terlihat di speeddometer motor Alexa, yang tengah kubawa.
Tidak sampai lima belas menit, aku sudah berada di depan rumahku. Kuketuk pintu dengan perlahan, agar tak mengganggu tetangga di kanan dan kiriku. Tapi, karena setelah beberapa saat tak ada sahutan, akhirnya aku menelpon ke nomor umi. Dan, tak berselang lama, umi menerima panggilan teleponku dengan suara khas orang yang baru bangun tidur.
Setelah itu, umi membukakan pintu dan bertanya padaku. "Dari mana? jam segini baru pulang, Umi kira kamu mau nginep lagi di rumah Lexa."
"Kan gak bawa baju kerja Mi, jadi harus pulang," ucapku sambil menuntun motor milik Alexa setelah mengecup punggung tangan umi.
"Kamu kan bisa telpon, minta kirim pakaian pake grab atau Umi bisa titip ke temenmu yang kerja besok."
"Gak enak Mi, ngerepotin orang."
"Tapi Umi khawatir kalau kamu pulang selarut ini!"
"Aman Mi, tenang aja. Udah ya Mi, aku istirahat dulu. Cape banget," Umi, menghela napas. Dan menggeleng kecil kepalanya. Sedangkan aku, hanya bisa menggoda umi dengan mencubit gemas pipinya, agar rasa khawatirnya sedikit hilang.
Kemudian memasuki kamar untuk segera beristirahat. Mungkin juga segera memasuki mimpi indah yang akan menemaniku, ya ... kuharap, malam ini aku tidak bermimpi yang buruk-buruk.
"Selamat malam," ucapku sambil menutup seluruh tubuh hingga kepalaku, setelah merapal doa sebelum tidur.
💞💞💞💞
__ADS_1
Masih terima kasih yang banyak dariku, untuk semua yang sudi mampir dan memberi like komen juga vote'nya
Thank you 😘❤