
Ardi memberi isyarat agar bus berhenti dengan mengetuk dinding atas bus menggunakan jarinya, dan mengajakku berdiri untuk bersiap segera turun.
"Kita mau ke mana lagi?" tanyaku.
"Tuh!" Tunjuk Ardi pada jalan di seberang sana.
"Itu bukannya arah ke Taman Kencana ya?"
"Pinter," sahutnya.
Saat lampu merah menyala, kami mulai menyeberangi jalan membelah lintas, menapaki satu persatu garis hitam putih yang tergambar di atas jalan. "Kita mau ngapain ke TaKen (Taman Kencana) Di?"
"Ini tu dah siang, Loe pasti laper kan? kita nyari makan dulu," jelasnya.
Setelah sampai di Taman Kencana, Ardi bertanya apa yang ingin Aku makan untuk mengisi perut yang seharusnya sudah keroncongan di jam makan siang yang hampir terlewat. Karena jujur, dari sejak pagi hingga saat ini memang belum ada makanan berat yang aku masukan ke dalam tubuhku lewat mulut dan rekan-rekannya ini.
"Ketoprak yuk! udah lama nih gak makan ketoprak," ajakku pada Ardi. Menunjuk gerobak ketoprak yang bersebelahan dengan gerobak bakso dan pempek.
Kami berdua kemudian duduk di depan gerobak ketoprak yang tadi Aku tunjuk. Ardi memesankan Aku seporsi ketoprak dengan level pedas yang sedang, setelah bertanya sebelumnya padaku. "Kok cuma seporsi?" tanyaku.
"Gue mo pesen bakso."
"Ooh ...."
Setelah kedua jenis makanan ini terhidang di hadapan kami, kami pun mulai menyantapnya. Sesekali saling menawari dan diselingi canda tawa pula di sela-sela makan siang yang sederhana ini.
Piring ketoprak dan mangkok bakso, kini telah bersih karena isinya hampir semua sudah masuk ke organ pencernaan. Segelas teh hangat jadi penutup, yang berhasil membuat keringat kami keluar.
"Abis ini kita pulang? atau ... masih ada tempat lain yang mau didatangi?" tanyaku.
"kita istirahat dulu di Sempur ya."
"Istirahat lagi sih, barusan emang kita ngapain?"
"Barusan kan kita makan, istirahatnya di taman ekspresi aja, di sana lebih adem" ujar Ardi.
__ADS_1
"Yaudah ayo!"
"Yakin udah mau jalan? makanan Loe aja belum turun semua itu," Ardi meyakinkan ajakanku.
"Yakinlah, ayo!"
Aku tahu daerah ini, meski tidak sering, tapi Aku tahu harus melangkah ke mana untuk mencapai taman ekspresi yang Ardi maksud.
Berjalan di depan Ardi dengan begitu semangat, sampai-sampai Ardi tertinggal agak jauh. Suasana jalan yang tidak terlalu ramai, dan pemandangan pinggir kota yang seperti di pinggir hutan, adalah keindahan tersendiri bagiku. menikmati pemandangan rotan-rotan yang terjuntai dan menghirup udara yang terasa sangat menyejukkan dada, membuat Aku sejenak lupa sedang berjalan bersama.
Aku menoleh ke belakang, dan melihat Ardi sedang sibuk dengan handphone-nya.
"Di! Ayolah, sibuk HP mulu niih," rengekku.
"Iya, iya." balasnya dengan senyum yang menghias wajah tirusnya itu.
"Mentang-mentang baru dibenerin tu HP, pasti banyak chat ya? dari cewek Loe?" tanyaku setelah Ardi berhasil mensejajari langkahku.
"Bukan, Loe kan tau Gue baru ditolak, mana ada cewek?" jawabnya sedikit memelas, atau pura-pura memelas, entahlah.
"Mana ada? Biasa aja kali. Gue udah biasa, santai aja," jawabnya dengan hiasan sedikit senyum.
Tak terasa, kami sudah sampai di taman yang kami tuju, ya! taman ekspresi. yang terletak di daerah Sempur, persis di bawah jalan Jalak Harupat, di depannya terbentang padang rumput hijau yang tertata rapi. dengan trek lari di sekelilingnya. malam minggu dan hari minggu adalah waktu yang cukup ramai dikunjungi oleh warga Bogor, segala macam jajanan dari tradisional sampai modern, terjaja di tempat ini. berjejer rapi menempati posnya masing-masing. Kadang untuk parkir motor saja sudah tidak muat saking banyaknya pengunjung.
Sedangkan mobil-mobil, akan lebih memilih parkir di area agak dalam hingga perumahan, karena di sana juga terdapat cafe-cafe kecil yang bisa dijadikan tempat sekadar untuk nongkrong dan ngopi-ngopi.
Kembali lagi pada kami, Aku dan Ardi yang tengah melepas penat dengan duduk manis di deretan tangga yang tersedia di sana. berpayung rimbunnya pohon besar yang melindungi kami dari terik matahari, meski sudah siang begini, taman biasanya masih menyisakan sekelompok muda-mudi, yang sengaja mengeksplor kemampuan mereka, ada yang menari, ada yang bermain volly, ada juga yang bernyanyi, membaca puisi dan lain sebagainya.
Di seberang lapangan hijau ini, juga ada tempat untuk bermain basket, panjat dinding, dan arena bermain skateboard dan semuanya disediakan pemerintah kota Bogor secara gratis, tanpa dipungut biaya sepeser pun. kita hanya perlu mengeluarkan kocek untuk menikmati jajanan yang ingin kita nikmati, entah itu makanan ataupun minuman.
"Enak ya, Di. sejuk, tenang," Aku berkata di sela keheningan kami. Sambil menghirup dalam-dalam udara yang menyegarkan.
"Iya, makanya Gue ajak istirahat di sini."
"Eh, iya Di. Loe beneran gak papa kan ditolak Megha?"
__ADS_1
"Lebih tepatnya Gue nyerah, setelah Gue liat dia sama cowoknya."
"Sama aja kali?" ujarku.
"Ya bedalah, kalo ditolak itu, Gue nyatain perasaan Gue, terus dia tolak. Kalo ini kan, Gue udah liat dia nerima cowok laen, sebelum dia tau perasaan Gue." Panjang lebar Ardi menjabarkan.
"Hmmm ...." Aku mengempas napas pelan namun tegas.
Tiba-tiba, Ardi mengambil ikat rambut yang sedang kupakai, hingga rambut coklat maduku, tergerai.
"Loe itu cantik Dis, sesekali rambutnya dibuka, biarkan mereka menghirup udara bebas, seperti kita saat ini. kasian 'kan diiket mulu," Tiba-tiba saja Ardi berkata demikian, setelah mencomot tanpa izin ikat rambut yang sedang Aku gunakan.
"Cantik dari Hongkong? gak liat apa badan Gue segede gaban? udah pipi kayak bakpau, di mana letak cantiknya...?" Sambil berusaha mengambil kembali ikat rambut itu, Aku menepis kata-kata Ardi.
"Loe gak pernah ngaca kali ya? kulit putih, wajah oriental, mata sipit, kalo diurus dengan benar, dipadu padan dengan pakaian yang feminim, pasti orang-orang pangling liat Loe!"
"Ck ... paan sih? udah sini balikin," Aku berdecak mendengar omongan Ardi yang seolah sebuah fitnah bagiku.
"Loe liat cewek itu," Ardi menunjuk salah satu pengunjung wanita di sana.
Wanita itu berbadan lebih besar sepertinya dari diriku, tapi terlihat menarik, dengan pakaian yang terlihat cewek banget. Rambut yang dikreasikan dengan pita dan jepitan, serta rok levis overall sedengkul warna biru muda, yang dipadu padan dengan kaos putih polos.
"Dia terlihat menarik kan?" tanyaku setelah memerhatikan cewek yang Ardi tunjuk.
"Loe lebih cantik dari dia!" jawabnya.
"Ngaco! udah aaah!! males Gue bahas penampilan," ketusku dengan sedikit tawa, yang entah itu tawa bahagia, atau sedih? Aku sendiri juga tidak paham.
"Pulang yuk!" ajakku pada Ardi.
"Ayok!" Ardi langsung bangkit dari duduknya, dan kami pun meninggalkan taman itu.
Kami menaiki kembali angkot, lalu sesampainya di Jembatan Merah, Ardi memintaku menemaninya mampir ke tempat temannya yang ada di sana. Kami memasuki gang sebelah toko terang, dan ternyata banyak sekali penjual ikan hias juga akuarium di sana.
kenapa Aku tidak pernah ngeuh kalau ada tempat seperti ini, ya. batinku. Aah Aku tahu, pasti karena Aku tidak pernah masuk-masuk hingga gang-gang kecil ini.
__ADS_1
Setelah Ardi selesai dengan urusannya, kami melanjutkan kembali perjalanan pulang, Aku yang turun lebih dulu, meminta Ardi untuk melanjutkan perjalanannya, tanpa harus mengantarku pulang, Aku berdalih bahwa Aku begitu lelah, dan akan melanjutkan dengan menaiki ojek pangkalan. Ardi menuruti permintaanku, dan kami berpisah di gang itu.