
Happy Reading ....
"Mi, aku boleh nginep gak di rumah Lexa?" Aku bertanya pada umi yang sedang asik menonton televisi.
"Sekarang? enggak ... enggak! ini tu udah malem Dis, emang ada apa sih? sampe harus nginep-nginep segala?" Umi langsung heboh dengan permintaan izinku.
"Ya enggak sekarang Mi, besok!" terangku, menjelaskan kesalahpahaman yang umi kira.
"Umi kira sekarang, emang kenapa pake acara nginep-nginep segala?" tanya umi kembali.
"Pengen nginep aja Mi, aku bosen tidur sendirian mulu," rengekku pada Umi.
Sejak Kak Masitah menikah, aku memang kerap tidur sendiri. Kecuali ada teman-teman yang menginap di rumah. Dulu, saat masih tidur bersama Kak Masitah. Apa pun yang aku rasa, aku pikir, dan aku gundahi, pasti aku bagi dengan Kakak wanitaku satu-satunya itu. Tapi sekarang, dalam kondisi seperti ini. Sepertinya aku butuh teman curhat, seperti Lexa atau yang lain.
"Kalau di rumah Lexa enggak apa-apa, rumah dia kan dekat dengan tempat kerjamu. Udah gitu, sama bundanya Lexa juga Umi sudah kenal. Jadi kamu boleh nginep di sana." Tanpa kuduga, umi begitu mudah memberi izin padaku.
"Serius Mi?" Wajah bahagiaku tidak bisa kusembunyikan. Pasalnya dari kecil, hingga dewasa seperti ini. Bila aku meminta izin untuk menginap di mana pun, pasti jawabannya 'Tidak' kecuali seperti kemarin. Dengan alasan urgen dan demi kebaikanku juga.
"Mau ke mana Dis?" tanya umi saat melihat aku hendak masuk kamar.
"Kamar lah! mau ke mana lagi?"
"Tumben! masih sore udah mau ngamar aja," ledek umi padaku.
Aku mengerucutkan bibirku menghadap umi. Kemudian berlalu tanpa kata meninggalkan umi di ruang televisi.
Sebenarnya, di dalam kamarku juga ada televisi. Tapi, aku lebih sering menonton bersama di ruang keluarga. Hanya saja, bila masing-masing tidak mau diganggu, baru aku nonton sendiri di dalam kamar. Seperti bila ada acara tinju, maka aku harus mengalah pada Abah yang nota bene penggemar olah raga keras itu. Atau bila ada acara sepak bola maka, umi yang akan menyingkir dari kami.
Abah, aku dan adik laki-lakiku adalah penggemar acara sepak bola. Kami akan kompak nonton bersama, walaupun jagoan kami berbeda-beda. Maklum, abah dulu memang pelatih olah raga. Jadi hampir semua olah raga abah sukai.
Di dalam kamar, aku menerawang pada burung-burung kertas yang masih setia tergantung menghias langit kamarku. Tiba-tiba, aku teringat surat dari Aji. "Jam berapa ya sekarang di Vietnam?" gumamku.
Aku mulai mengetik pesan di aplikasi berwarna hijau dengan lambang 'W' itu.
[Hai Ji, Assalamualaikum ini gue, Gadis.]
Di aplikasi itu, kemudian tak lama terlihat tanda Aji sedang online. Dan, tanda centang dua biru pun segera terlihat pada pesan yang kukirim. Akan tetapi, Aji tidak terlihat mengetik apa pun.
Sebuah panggilan video dari nama Aji kini terlihat memenuhi layar handphone, sejenak aku tertegun. Antara menerima atau membiarkannya, jantungku tiba-tiba saja berdetak tak karuan.
Kuambil napas agak panjang, lalu menghembusnya perlahan. Ku geser tanda telepon warna hijau ke atas di layar itu. Setelah sebelumnya merapikan rambutku yang kurasa sedikit berantakan.
Terpampang wajah Aji memenuhi layar *handphone-Ku,
"Hai Cina*," sapanya.
"Hallo," Aku sedikit salah tingkah saat melihatnya di layar handphone-ku.
__ADS_1
Kami sama-sama tertegun sesaat. Sepertinya, Aji juga merasakan kecanggungan yang aku rasa. Beberapa kali kami bertanya kabar dengan bersamaan, dan itu terjadi lebih dari satu kali. Hingga akhirnya, Aji bertanya tentang jawaban di surat yang ia kirimkan.
Aku ragu, untuk berkata 'Iya' meski aku ingin sekali mengatakannya. Akhirnya, aku hanya bisa berkata "Loe yakin dengan perasaan loe?"
"Aku yakin Cina, seratus persen aku yakin!"
"Tapi jarak kita?"
"Kalau kamu yakin juga, dan mau menunggu. Aku pasti kembali ke tanah air. Jarak ini, yang akan membuat kita semakin dekat oleh rasa rindu."
"Ji ... sebenarnya, gue sempat sedih saat tahu loe pergi dan gak pamit. Tapi gue sadar, gue bukan siapa-siapa, dan tidak punya hak untuk sedih atau kecewa."
"Apa itu tandanya kamu juga punya perasaan yang sama?"
"Entahlah Ji, perasaan itu sudah lama gue kubur."
"Kalau perasaan itu pernah ada, berarti mungkin bisa kamu coba tumbuhkan lagi Cina!"
"Entahlah Ji, perasaan itu sudah bertahun lalu gue singkirkan, karena gue takut untuk berharap pada hal yang tidak pasti."
"Sekarang perasaan itu sudah pasti Cina, aku mencintai kamu."
"O iya di sana jam berapa sekarang, Ji?" Aku mencoba mengalihkan pembahasan, karena tidak ingin terdesak untuk memberi jawaban.
"Waktu di sini tidak berbeda dengan waktu di Indonesia," jawabnya.
"Iya,"
"Udah dulu ya, Ji. Besok kan kita harus kerja, takut kesiangan," Aku ingin segera mengakhiri panggilan video ini, untuk menghindari pertanyaan Aji.
"Oke! selamat malam Cina, nanti kita sambung lagi ya," pintanya sebelum mengakhiri panggilan.
"Oke! bye Ji, selamat malam juga." Aku tekan tanda telepon berwarna merah itu, untuk mengakhiri panggilan.
Kuembus napas panjang dengan perlahan tapi penuh tekanan, lalu kembali berbaring di atas kasur. Pikiranku entah melayang ke mana? aku sendiri tidak tahu.
Aku coba abaikan ingatanku dari panggilan video dengan Aji barusan. Kemudian menyibukkan diri dengan menyiapkan pakaian yang akan aku bawa untuk menginap di rumah Lexa besok.
Setelah selesai, aku mencoba untuk memejam mata. Meski bayangan dari permintaan Aji, terus saja berputar di memori kepalaku.
Seperti biasa, aku akan memadamkan semua lampu dan memasang headset di telinga, untuk mendengarkan lagu pengantar tidur di handphone-ku Dan, itu selalu berhasil meski kini butuh waktu agak lama.
...*****...
Pagi ini, aku sudah siap untuk berangkat bekerja. Bila biasanya aku membawa tas ransel kecil, saat ini aku membawa tas selempang olah raga yang muat banyak barang. Karena aku berniat menginap di rumah Alexa. Dan, karena izin juga sudah kukantongi.
Sesampainya di pabrik, kulihat banyak sekali wajah-wajah asing yang sedang duduk di bangku dekat pos satpam. Aku mengira, mereka adalah calon karyawan baru. Bila dilihat dari pakaian yang mereka gunakan. Kemeja putih dan celana bahan warna hitam.
__ADS_1
Aku melewati mereka tanpa sepatah kata pun. Bahkan, hanya seutas senyum kusunggingkan pada yang tak sengaja tiba-tiba bertatap mata.
Setelah menaruh tas dan jaket di locker, aku berjalan menuju tempat kerja dengan santai.
tiba-tiba,
"Sendiri loe?" Alexa merangkul bahuku dari belakang.
Aku menoleh, dan saat mendapati itu adalah Alexa aku langsung menjawabnya.
"Berdua, kok."
"Sama siapa?" tanya Alexa yang kemudian mencari sosok yang aku sebut, dengan wajah sedikit cemas.
"Sama loe lah! hahaha ...." Aku tertawa melihat ekspresinya.
"Monyong! gue kira beneran sama siapa gitu ... loe kan anak dukun, maenannya mahluk mistis," Alexa memperagakan gaya peramal dengan bola kristal.
"Pe'a loe!" Aku memukul keras bahu Alexa. dan kami bercanda sepanjang perjalanan kami menuju pos,
Aku selalu nyaman bila sedang bersama Alexa. Usia yang hanya terpaut satu tahun antara kami, membuat kami tidak punya batas dalam bercanda. Ya ... sedekat itulah kami berdua.
Saat kami sedang berjalan sambil bercanda, tiba-tiba saja bahu Alexa tersenggol oleh seseorang. Laki-laki itu, tanpa merasa bersalah terus melaju langkahnya. Bahkan menengok untuk sekedar melihat kondisi Alexa pun tidak, dengan angkuhnya dia berjalan mendahului kami.
"Siapa si?" tanya Alexa padaku, sambil memegangi bahunya.
Aku mengedikkan bahu, tanda tak tahu siapa orang itu. Akan tetapi, dari pakaiannya aku yakin itu adalah calon karyawan baru.
"Gila! ya tu orang, belum tau siapa gue?" Alexa bersungut sambil menggulung lengan pakaiannya.
Aku malah dibuat tertawa oleh tingkah Alexa, dan segera kurapikan lengan pakaian Alexa yang sudah memperliharkan bagian atas tangannya yang putih mulus dan sedikit menonjolkan otot, dengan berkata.
"Mau jadi jagoan?"
"Loe lihat dong Zie, senga banget tuh orang!" sarkasnya.
"Udah, sabar. O iya, gue nginep ya di rumah loe."
"Serius?" tanyanya padaku dengan wajah berbinar.
"Iya, jeleeek. Gue udah bawa pakaian dan udah dapet izin juga dari nyokap."
Alexa memelukku dan berjingkrak, sepertinya dia senang mendengar kabar aku akan menginap di rumahnya. Aku mendorong tubuhnya untuk menjauh, tapi Alexa malah sengaja terus memelukku.
💞💞💞💞
Terima kasih untuk dukungannya 😊❤❤❤ love you all 😘
__ADS_1