Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Sarapan Kesiangan


__ADS_3

Happy Reading ....


Aku berjabat tangan dengan Polisi yang bertugas saat itu, disusul kemudian Gusti yang melakukan hal serupa.


Aku memutuskan mencabut laporan yang sudah dibuat oleh polisi. Dengan ajuan perjanjian, bahwa Andi tidak boleh menggangguku lagi dan mendekatiku lagi. Setelah kami semua menandatangani surat perjanjian bermaterai itu, semua aku anggap selesai.


"Mbak Gadis mau langsung pulang? Biar saya antar ya ...." Gusti menawarkan diri untuk memberikan tumpangan padaku.


"Gapapa, gue bisa order ojol kok." Aku melangkah pasti untuk meninggalkan kantor polisi ini.


"O iya! Satu lagi, gak usah panggil Mbak! gue baru 20 tahun. Panggil aja nama gue, loe juga kelihatannya masih muda. Gapapa kan kalau gue panggil loe-gue?" Aku berbalik menghadap ke arah Gusti yang ada di belakangku.


"Oke! Tapi, boleh 'kan kalau gue anter loe balik?"


"Gak perlu, gue bisa balik sendiri."


"Tapi gue maksa! Gue masih khawatir sama keselamatan loe, apa lagi lelaki tadi sudah langsung diperbolehkan pulang."


"Emang loe bisa apa kalau dia beneran jegat gue lagi? Sekali tonjok aja semalam loe K'O," Aku tertawa mencibirnya.


"Jangan ngeledek, karena kejadian semalam. Gue udah langsung hubungi temen gue yang suka melatih taekwondo."


Aku merengut heran, apa maksudnya? Dan apa pentingnya juga dia harus berbicara seperti itu padaku. Ah! Sudahlah, aku pikir ... tidak penting juga untuk dipikir.


"Please, gue anter ya?" pintanya lagi padaku.


"Oke! Tapi ...."


"Tapi apa?" Gusti bertanya meyakinkan kata-kataku yang terputus.


"Enggak deh! Gak ada tapi."


Gusti memberiku jalan untuk mengikuti langkahnya. Dan, kami pun beriringan menuju parkiran.


Di sepanjang perjalanan, kami lebih banyak saling diam. Meski bejubel tanya yang ingin kulontar, tapi aku masih ragu untuk mengungkapkan.


"O iya! Hutang gue berapa untuk bayar biaya Rumah Sakit?" Aku mencoba memecah sunyi di antara kami.


"Gak usah dipikirkan, itu tanggung jawab gue sebagai driver loe."


"Gak bisa gitu, gue gak mau berhutang budi. Apalagi dengan orang yang gak gue kenal."


"Gue bilang, kan itu tanggung jawab gue. Jadi ... loe gak berhutang apa-apa."


"Tetep aja gue ngerasa berhutang."


"Atau ... gimana kalau loe traktir gue sarapan? Setelah itu, gue anggap semuanya lunas. Gimana?" Gusti mencoba bernegosiasi.

__ADS_1


Setelah aku pikir, ada untungnya juga bila aku saat ini tidak langsung pulang ke rumah. Pasalnya, bila umi atau orang rumah tahu aku tidak bekerja, apalagi semalam tidak pulang, akan banyak sekali pertanyaan dari mereka. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir.


"Deal!" antusiasku, sambil menjulurkan tangan. Yang langsung disambut oleh Gusti.


"Mau ke mana kita?"


"Terserah loe, ke mana aja gue jabanin. Selama terjangkau di kantong guuuue, he," tantangku. diiringi cengiran kecil.


"Itu di depan sepertinya ada angkringan, ke situ aja gak apa-apa?"


"Oke!"


Gusti kemudian membelokkan mobilnya menuju parkiran angkringan yang kami lihat. Perlahan, kotak besi harga selangit itu menepi dengan aman di area istirahatnya.


"Wait!" ucap Gusti, saat melihatku hendak membuka pintu mobil.


Aku seperti terhipnotis dengan kata 'Wait' yang kudengar. Tubuhku dibuat membeku, hingga benar-benar tak bergerak.


Pintu mobil mulai terbuka, dan Gusti mempersilakan aku untuk turun. Saat berjalan dari parkiran menuju angkringan, aku seakan melihat sosok yang tak asing di mataku.


"Rama!" Aku memberanikan diri memanggilnya, yang juga menuju tempat yang sama denganku sepertinya.


Laki-laki itu, mengacungkan telunjuk di depan wajahnya. Sepertinya, ia tengah mengingat-ingat siapa aku. Maklum, aku memang bukan siswi populer dulu di sekolah. Tapi aku rasa, Rama pasti mengenalku. Karena aku dan dia pernah satu kelas di kelas satu dan dua.


"Aaah! Gadis kan?" Rama berbinar mengingat namaku. Dan, bertanya untuk memastikan


"Iya! Inget loe ma gue?"


"Ck! Inget, laah. Masa enggak," sahutnya.


"Kirain ... mau sarapan juga?" tanyaku. Karena ini memang belum masuk waktu untuk makan siang. Meski tidak pas juga untuk waktu sarapan.


"Masuk dulu dech, masuk dulu yuk! Kita cerita-cerita di dalam aja," katanya. sambil mengajakku melanjutkan langkah.


"Bro! yok masuk dulu." Tak lupa, Rama pun mengajak Gusti yang bersebelahan denganku.


kami akhirnya mengambil meja lesehan yang terbentang panjang di angkringan itu. Tapi, Rama sempat berjalan menuju penjaga makanan di sana. Yang aku lihat, dia begitu dihormati. Meski tidak terlihat ditakuti.


Rama kembali ke meja kami, dan menawarkan untuk memesan menu apa saja yang ada di sana. Rama juga dengan lancarnya, menyebutkan menu-menu andalan yang ada di sana. Dan juga merekomendasikan makanan paling laris di angkringan yang katanya baru berdiri selama kurang dari satu tahun ini.


"Gapah banget ... loe kerja di sini?" ceplosku.


Rama tertawa terbahak oleh pertanyaanku. Kemudian dia mulai menceritakan bahwa, angkringan ini, adalah bisnisnya yang dia rilis dari nol.


Setelah kami memesan, dia mulai menceritakan. Bahwa angkringan ini, adalah bisnis yang baru saja dia mulai. Dia menceritakan bagaimana perjuangannya membangun bisnis kuliner ini.


Sambil menunggu pesanan, Rama panjang lebar menceritakan. Bagaimana jatuh bangun dia memulai usahanya. Dari memakai modal hasil tabungan, dikhianati partner bisnis, hingga akhirnya bisa bangkit lagi. Dan, menjadi lebih maju saat ini.

__ADS_1


"Di sini itu, biasanya. Rame pas jam makan siang, pulang kantor, sama malam hari. Kalau malam, kita ada live music dari mulai setelah maghrib. Dan, tutup sekitar jam sebelas malam," jelasnya.


"Hebat!" Aku memuji kegigihannya yang aku dengar dari cerita itu.


"Wiiih makanan datang tuh," celetuk Gusti.


Aku menoleh pada arah pandangan Gusti. Memang benar, seorang pegawai angkringan tengah berjalan menuju meja kami, dengan membawa nampan berisi pesanan sepertinya.


Sesampainya pegawai itu di meja kami, Rama dengan sigap membantu karyawannya. Menurunkan satu persatu hidangan, dan menatanya di atas meja.


"Selamat menikmati ya, gue tinggal dulu ke belakang."


"Makan bareng kita aja," tawarku. Sebelum Rama benar-benar pergi.


"Gue udah sarapan. Lagi pula, gue mesti briefing anak-anak dulu. Seperti biasa ...." tolaknya.


"Oke Bro! Selamat menikmati," imbuhnya pada Gusti. Sebelum benar-benar meninggalkan kami.


"Siapa sih? Akrab banget?" gumam Gusti, yang masih bisa kudengar.


Aku mendelik heran, menolehkan kepalaku pada wajah Gusti, yang terlihat fokus pada makanannya. Ia tidak sedikit pun menoleh padaku atau lainnya. Hanya pada makanannya saja mata itu tertuju.


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Enggak! Ini makanannya kurang enak," ceplosnya.


"Masa sih? Katanya best seller loh ini." Aku mencubit sedikit ayam goreng serundeng rekomendasi dari Rama, yang sedang dimakan Gusti.


"Enak! Kok," kataku lagi, setelah mencicipi ayam goreng itu.


"Enaklah! Makanan mantan pacar," ketusnya.


"Mantan pacar?" Aku dibuat terheran oleh prasangka Gusti. "Dia itu temen gue! Gue itu belum pernah pacaran, masa punya mantan," jelasku kembali.


Aku sedikit bingung dengan sikap Gusti yang berubah murung, wajahnya seperti ditekuk. Bahkan lebih mirip duit kertas lecek menurutku. Hahaha, tapi dia terlihat begitu lucu dengan wajah seperti itu.


Aku tidak ingin ambil pusing dengan sikapnya. Dan, lebih memilih untuk melanjutkan menikmati santapan di hadapanku.


💞💞💞💞


Kenapa Gusti jadi GaZe?


ah! Entahlah, kita biarkan saja mereka menikmati santapannya ya reader sayangku ....


Maaf belum bisa up tiap hari. Pekerjaan numpuk, banyak naskah yang perlu sentuhan mata untuk dibaca. 🙏


Salam sayang selalu untuk kalian ❤❣

__ADS_1


__ADS_2