Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Sehari Bersama Ardi


__ADS_3

Setelah hari itu, hari-hari berikutnya aku lewati seperti biasa, hari ini kebetulan hari sabtu. Biasanya kami bekerja setengah hari, tapi karena orderan dari marketing sedang lumayan banyak, kami diperintahkan untuk lembur hingga sore.


Saat sedang istirahat, Ardi menghampiriku yang sedang makan siang. biasanya aku makan dan kumpul bersama barisan para cowok dekat tukang bakso, tapi hari ini, Aku makan satu meja dengan salah satu kepala bagian di sana, yang sering Aku panggil Mbak Liz.


"Mbak," sapa Ardi pada Mbak Liz, sambil menganggukan kepalanya. Yang membuat aku mendongak juga saat mendengar sapaan itu.


"Kenapa Di?" respon Mbak Liz padanya.


"Anu ... mau bilang sesuatu ke Gadis sebentar boleh?"


"ooh ... silakan, anggap aja Mbak patung," canda Mbak Liz menanggapi permintaan Ardi.


"Apaan Di?" tanyaku langsung, setelah mendengar percakapan mereka.


"Besok jadi ya,"


"Iya," singkatku.


"Gue ke rumah?"


"Gak usah, nanti pulang kerja dech aku kasih tau," Aku mulai risih dengan celoteh dan pandangan teman-teman juga pekerja lain.


"Oke!" singkatnya, sambil mengacungkan satu jempol.


"Makasih ya Mbak," imbuhnya, pada Mbak Liz sebelum meninggalkan meja tempat makan kami.


"Hmmm," gumam Mbak Liz, tanpa menghentikan aksi makannya.


Dari percakapan sejenak barusan, ternyata mengundang banyak celoteh dan ledekan, di antara teman-temanku.


Ada yang terus mengeluarkan ledekannya dengan cie ... cie ... atau pun deheman yang dibuat-buat. Sedangkan Aku enggan menanggapi, karena memang tidak ada apa-apa antara Aku dan Ardi. jadi ... Aku cuex saja.


Jalan depan pabrik masih penuh dengan karyawan-karyawan yang menunggu angkot, juga jemputan mereka. Dan Ardi sudah menunggu dengan bersandar di pagar pabrik itu.


Saat aku mendekatinya, tak ayal anak-anak lain yang melihat, langsung meledek dengan celoteh mereka.

__ADS_1


"Apaan siih? kek belum pernah lihat gue ngobrol ma cowok aja, temen gue kan emang cowok semua, mamen!" teriakku pada semua teman-teman yang mengeluarkan ledekan dan celoteh mereka, sambil menghentak kepalan tangan pada dada kiriku.


Dan saat itu kebetulan Aris juga lewat di depan kami, "Jagain Adek gue ya!" pesannya, sambil menepuk pundak Ardi.


"Apaan siii? orang cuma ngobrol doank," Aku mengerling mata pada Aris yang masih berdiri di depan kami. Dan Aris hanya mengeluarkan senyum, yang kata cewek-cewek lain, bisa bikin mereka meleleh. Tapi tidak untuk Aku, buatku senyumnya seperti seringai iblis berbalut malaikat, karena Aku tahu bagaimana kelakuannya, atas dasar semua cerita Aris sendiri.


Aku julurkan lidah pada Aris yang mulai berlalu, persis seperti Adik pada Kakaknya. yang juga disambut dengan kedipan mata yang membuat aku pura-pura bergidik.


"Besok Gue jemput ke rumah Loe ya?" Tanpa menunggu Aku selesai dengan candaan Aris, Ardi langsung berkata.


"Gak usah, Loe tunggu di depan perumahan aja, nanti Gue yang nyamperin Loe. Jam sepuluh kan?" tanyaku memastikan.


"Iya, ya udah. Besok Gue tunggu depan apotik ya." Ardi mengiyakan, lalu kami pun akhiŕnya pulang ke tujuan masing-masing.


Aku ke rumahku, dan dia ke base camp'nya. tempat mereka biasa latihan band dan kumpul-kumpul. Apalagi ini adalah malam minggu.


Rahma yang sedari tadi menunggu angkot, ternyata belum beranjak di pinggir jalan bawah pohon beringin itu.


"Belum pulang?" tanyaku.


"Ya udah, pulang bareng ya?" Ucapanku hanya dibalas senyum dan anggukan olehnya. Aku bisa memaklumi, mungkin Rahma lelah, karena Aku pun merasakan betapa berat pekerjaan hari ini.


Tak selang berapa lama, angkot yang hendak menuju Bogor kota putar balik di depan kami, sehingga kami bisa leluasa untuk mendapatkan tempat duduk dengan nyaman.


Setelah menyenderkan tubuh, angkot mulai penuh, dan melaju. Aku mencoba membuka percakapan. Menurutku, tidak asik rasanya bila kita saling kenal, duduk bareng di satu angkot, tapi tidak saling bicara.


"Cape banget ya Ma?"


"He'eum, orderan banyak banget lagi. Kaki Gue ampe gempor langsirin barang!" keluh Rahma.


"Samalah, Gue juga. Apa bedanya coba?" timpalku.


"Iya, ya?" kata Rahma, yang kemudian membuat kami berdua tertawa.


Jarak antara pabrik dengan pemberhentian tujuanku tidak terlalu jauh, sehingga dalam waktu sekejap saja, Aku sudah memberhentikan angkot yang kutumpangi.

__ADS_1


"Duluan ya Ma," pamitku pada Rahma.


"Iya, baek-baek Loe," jawabnya, dan tak lupa memperingatkanku untuk berhati-hati. Karena perjalananku memang masih panjang dari situ.


Aku terbiasa berjalan kaki untuk menempuh rumah dari gang pemberhentian angkot, hanya sesekali Aku kadang naik ojek. Itu pun bila aku sedang terburu-buru atau sedang benar-benar letih tak bertenaga.


****


Pagi ini aku bangun seperti biasa, tidak langsung mandi karena ini hari minggu, biasanya ini adalah hari bebas mandi buatku, mau mandi atau tidak, toh aku tidak ke mana-mana pikirku. Sehingga aku terbiasa berleha-leha dengan menghabiskan waktu di depan televisi. Menonton acara favorit yaitu Doraemon, kartun Jepang yang sudah aku tonton sejak usiaku masih balita.


Tak terasa waktu semakin siang, saat Aku kembali ke kamar, dan melihat jam wakker berbentuk sandal jepit yang tertata rapi di meja kecil samping tempat tidurku, tiba-tiba aku mengingat sesuatu, 'Ardi' astaga kenapa aku bisa lupa!


Aku langsung menyambar anduk yang tergantung di balik pintu kamarku, bergegas ke kamar mandi lalu bersiap-siap untuk berangkat memenuhi janji.


"Alhamdulillah ... kayaknya kalau aku jalan juga masih cukup dech waktunya, paling cuma sepuluh menit jalan santai juga Aku sudah sampai," monologku pada cermin yang memperlihatkan wajahku di sana. sambil merapikan ikatan rambutku.


Ya ... Aku akhirnya memutuskan untuk berjalan ke tempat kami berjanji untuk bertemu, dan sesuai hitunganku. Aku tiba lima menit sebelum jam sepuluh, dan saat Aku sampai, Ardi sudah ada di sana, dengan kemeja kotak-kotak berwarna coklat muda, dan celana bahan model lurus yang terlihat agak lebar, karena tubuhnya yang tinggi dan kurus.


"Sorry ... udah lama nunggu ya?" sapaku padanya.


"Nggak, kok. malah masih kurang lima menit." Ardi menjawab sambil memperlihatkan arloji yang menggelang ditangannya.


"Ya udah, gimana mau langsung berangkat aja?" tanyaku menawarkan.


"Ya udah ayo!" ajaknya sambil melangkah, meninggalkan tempat tadi dia berdiri.


Aku mengikuti langkahnya dari belakang, dan saat akan menyeberang, kami menunggu sejenak, memastikan aman dari lalu lalang kendaraan di depan kami.


Tiba-tiba, tangannya meraih tanganku, saat kami akan melangkah menyeberang. Aku yang kaget, malah menatap pada Ardi yang terus saja melangkah, sambil menuntunku. Pandanganku aku alihkan, saat mata Ardi tiba-tiba menoleh padaku saat kami sampai di seberang jalan.


"Kenapa?" tanyanya.


"ng-nggak papa," tergugup Aku menjawab pertanyaannya. Merasa seperti maling yang tertangkap basah.


Kami menunggu angkutan kota di pinggir jalan raya itu, dan saat sebuah angkot berhenti tepat di depan kami, kami pun langsung menaikinya.

__ADS_1


__ADS_2