
Happy Reading ....
Aku berjalan menuju ruang tamu yang bersebelahan dengan ruang keluarga yang kebetulan juga bersebelahan dengan kamarku yang berada di depan.
Alangkah terkejutnya aku mendapati siapa yang kini tengah duduk di sofa ruang tamuku. Bersamaan dengan itu, Barakh juga sampai di ruang tamu. Ia memberikan segelas air untuk tamu tak terduga ini.
"Air putih doang Bro. Minum," tawar Barakh, sambil menaruh gelas berisi air putih di atas meja.
Kemudian Barakh meninggalkan ruang tamu dan kembali ke ruang keluarga sepertinya.
"Loe ngapain malem-malem ke sini?" tanyaku pada laki-laki itu, yang ternyata adalah Andi.
"Duduk dulu dong," pintanya.
Aku pun duduk dan mencoba tenang menghadapi Andi yang berusaha keras aku hindari.
"Aku mau kamu jawab sekarang, sekali lagi. Mungkin tadi kamu sedang cape, sehingga berkata tidak punya perasaan yang sama padaku. Aku mohon, aku bisa gila kalau kamu ninggalin aku."
"Ndi! Gue udah jawab, dan tadi atau pun sekarang. Jawabannya tetap sama. Gue gak punya perasaan lebih ke loe, gue harap loe ngerti dan bisa menerima, kita lebih baik berteman aja. Gue lebih nyaman jadi temen loe."
"Tapi kamu pasti akan lebih nyaman lagi kalau jadi pacarku Dis!"
"Sorry, Ndi! Perasaan itu gak bisa dipaksa. Gue juga gak mau nerima loe cuma buat coba-coba," tegasku padanya.
"Tapi, Dis!"
"Ini udah malem, gak enak sama tetangga. Maaf ya! Gue juga harus istirahat, besok gue masih harus kerja pagi." Secara tidak langsung, aku meminta Andi untuk pergi dari rumahku.
Andi terlihat mengembus kasar napasnya, kemudian bangkit dan pamit untuk pulang.
Aku merasa lega karena tidak terlalu sulit untuk mengusir Andi dari rumah. Dengan perasaan yang tak karuan, aku masuk ke kamarku berusaha untuk menenangkan diri dan tetap berpikir positif.
Sebelum memutuskan untuk tidur, aku menyempatkan diri mengecek handphone yang sejak tadi pulang belum aku sentuh.
Ada banyak chat yang masuk ternyata. Pertama-tama, aku membuka chat dari Alexa yang bertanya tentang keberadaanku. Kemudian membalasnya dan menjelaskan, bahwa aku baru membuka handphone dan kini dalam keadaan baik bersiap untuk memasuki alam mimpi.
Selanjutnya ada beberapa miss call dari Aji. Mulai dari panggilan suara sampai panggilan video, juga chat dengan isi yang sepertinya mengkhawatirkan keadaanku.
Aku hanya membalas chat Aji dengan kata-kata, 'Sorry Hp aku silent, gak ngeuh ada panggilan' tak lupa aku sematkan emot menangkupkan kedua tangan.
Chat yang lain hanya aku baca dan tak aku balas. Aku memilih menonaktifkan benda pintar itu malam ini.
Sebelum tidur, aku sempatkan untuk berdoa dalam hati. Agar Andi benar-benar bisa menerima keputusanku, dan tak melakukan hal konyol yang bisa merugikan siapa pun.
__ADS_1
...¤¤¤¤¤...
Dalam ruangan Bu Lia, saat ini cukup penuh dengan orang-orang. Selain aku dan Melati yang memang biasa ada di sini, saat ini juga Ada Mbak Sri, dan Kepala bagian produksi yang bertugas.
Pasti kalian bisa menebak, betul sekali! Bu Lia sedang membagikan oleh-oleh dari luar negeri. Aku dan Melati dapat oleh-oleh sendiri yang tak diberikan di depan mereka. Sedangkan untuk anak-anak QC (Quality Control) dan anak-anak ingredien scalling, Bu Lia menitipkannya padaku. Yang langsung aku bawa ke ruanganku dan kemudian ke ruang sebelah untuk kubagi-bagikan.
"Ngapain kamu Dis?" sapa Mbak Sri, saat masuk ke ruang ingredien scalling.
"Ini, Mbak. Bagiin oleh-oleh," jawabku.
"Udah, udah taro aja di situ. Biar mereka ambil sendiri nanti kalau mau istirahat," titahnya.
"Oke!" singkatku, sambil menaruh bingkisan yang kubawa, di meja admin. Dan meneriakkan pada yang lain untuk mengambil oleh-oleh tanpa berebut.
"Eeh! Kamu mau ke mana?" teriak Mbak Sri, saat aku hendak melangkah ke luar ruangan.
"Mau lanjut kerjaan Mbak," sahutku.
"Sini! ke ruangan aku dulu," Mbak Sri memintaku untuk mengikutinya.
Akhirnya, aku masuk ke ruangan Mbak Sri. Dan, duduk di hadapannya meski tidak dipersilakan. Lanjut bertanya ada perintah apa lagi untukku hari ini.
Ternyata, Mbak Sri memintaku untuk melakukan percobaan lagi. Seperti biasa, perintahnya hanya sampai enak. Mbak Sri memang sudah kebiasaan, kalau memberi tugas padaku. Dia tidak pernah memberi catatan berapa gram bahan-bahan yang harus kutimbang dan mix, dan berapa persen bumbu yang harus digunakan.
Sore ini, semua tugas dari Mbak Sri telah rampung. Saat Bu Lia dan Melati akan pulang karena jam kerjanya sudah selesai, Bu Lia terlebih dulu memanggilku ke ruangannya.
"Dek! Oleh-oleh buat kamu aku taruh sini ya, nanti kalau pulang kamu ambil aja. Ini, kamu pegang kunci ruanganku." Bu Lia menyerahkan kunci ruangan kerjanya padaku.
"Oke!" jawabku sambil mengangkat jempol.
"O iya! kamu ... gak ada niat apa buat ngambil ijazah dengan kejar paket?" tanya Bu Lia tiba-tiba.
"Iya bener Teh, kenapa gak kejar paket aja, sayang lo Teh. Teteh itu pinter, kalau cuma ngandelin dokumen kelulusan SMP, kayaknya gak bakal ningkat-ningkat jabatannya." Melati menimpali.
Aku tersenyum menanggapi semua kepedulian mereka, ada haru yang aku rasakan menyelinap dalam sanubariku.
"Malah senyum-senyum," tegur Bu Lia padaku.
"Hehe, sebenarnya ... bentar lagi aku ikut ujian persamaan. Sudah beberapa bulan ini aku ikut belajar kejar paket C," jujurku pada mereka.
Ya! Sudah beberapa bulan ke belakang ini, aku mengikuti pembelajaran untuk kejar paket C untuk mendapatkan ijazah SMA. Aku sengaja merahasiakannya dari teman-temanku, dan baru akan kuberitahukan nanti bila aku sudah mendapatkan ijazah itu.
"Waah! Bagus itu, Aku sih yakin kamu lulus. Kamu kan cukup pintar, jadi gak ada alasan untuk gak lulus. Apalagi, kamu gak cuma ikut ujian," ujar Bu Lia padaku
__ADS_1
"Semangat Teteh," Melati memberikanku dukungan dan semangat dengan senyum manisnya plus kepalan tangan sebagai penyemangat.
"Makasih ya Bu, Mel. Aku jadi tambah senangat! Senang dan semangat." Aku bersyukur dikelilingi oleh banyak orang baik, meski kami tidak punya hubungan darah. Akan tetapi, mereka semua begitu baik dan perhatian padaku.
Selepas Bu Lia dan Melati pulang, aku kembali melanjutkan pekerjaanku hingga tiba pula jam pulang kerja untukku.
Aku sengaja tak kembali ke ruangan setelah berkeliling, menjelaskan beberapa mesin yang membutuhkan perhatian lebih pada lawan shiftku.
Kutemui Alexa, yang sedang berkumpul bersama Kimmi dan Nirmala.
"Ngomongin gue pasti ...." ceplosku pada semua sahabatku itu.
"GR!!" Mereka serempak menyuraki aku.
Kami pun tertawa bersama dan melepas kerinduan. Tak peduli yang lain memerhatikan, bahkan masing-masing kepala bagian kami saja, sudah tahu kedekatan persahabatan kami. Hingga akhirnya kami di pisah shift. Bila saja jam kerja bisa dibagi empat, mungkin mereka juga akan memisahkan kami di empat jam kerja yang berbeda.
"Eh, hari minggu kita belum ada acara ke mana-mana 'kan?" tanyaku.
"Kayaknya emang belum ada rencana dech," jawab Alexa.
"Kenapa? Loe mau traktir kita?" Nirmala menimpali.
"Roman-romannya sih ada yang mau ngajak jalan nih!" ucap Kimmi.
"Hehe ... anterin gue nyari motor ya," kataku.
"Loe mau beli motor?" tanya Alexa dan Kimmi bersamaan.
Aku anggukan kepalaku untuk menjawab tanya mereka.
"Gue mah ikut aja, yang penting pulangnya makan-makan." ujar Nirmala sambil berlalu meninggalkan kami, menuju tempat kerjanya.
Akhirnya kami sepakat untuk pergi hari minggu. Setelah tos yang biasa kami lakukan, aku dan Alexa undur diri dan segera bergegas pulang.
Alexa memintaku untuk bermalam lagi di rumahnya. Tapi aku tolak, karena masih tak enak hati pada Angga. Meski berkali-kali dia membujuk, aku tetap memutuskan untuk pulang ke rumah.
Saat aku keluar dari pintu gerbang, lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan kehadiran orang yang kini berada tepat di jembatan depan gerbang.
💞💞💞💞💞
Siapa lagi ya yang datang mengejutkan Gadis? 🤔 hmmm kita lihat di next episode oke 😊
Terima kasih 🥰😘❤
__ADS_1