Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Menghindari Andi


__ADS_3

Happy Reading


Hari ini hari sabtu, hari terakhirku bekerja di shift pagi. Rencananya, aku kan segera melakukan semua yang telah kususun untuk membantu Rahma di hari senin besok. Tapi sebelumnya, aku harus membantu diriku sendiri untuk menghindari Andi. Aku tidak ingin dia berpikir, bahwa aku memberinya celah untuk bisa mendekati aku apalagi hatiku. Aku tidak ingin dia kecewa seandainya benar dia menaruh rasa padaku.


Saat ini adalah jam istirahat, karena orderan semakin banyak. Kami kerap kali lembur untuk memenuhi permintaan pasar. Dan ini semua berkat produk yang saat itu berhasil aku ciptakan.


Aku yang sedang menikmati makan siang bersama Rahma, masih berpura-pura baik pada Anda. Sejak saat Rahma membeberkan kejadian itu, aku memang lebih sering menemani Rahma. Agar si bajingan Anda itu kesulitan untuk mendekatinya. Aku juga berpesan agar Rahma tidak jauh-jauh dari teman-teman kerja yang lain, dan selalu berusaha mencari alasana apa saja untuk menjauh dari Anda.


Sepertinya semua saranku itu Rahma lakukan. Sehingga, untuk minggu ini, hari itu adalah hari terakhir Anda menjamah Rahma. Sejak saat itu pula, Rahma kembali pada Rahma yang dulu. Sepertinya rasa takutnya sedikit berkurang dengan adanya dukungan dariku. Dan aku sangat bersyukur dengan semua itu.


"Ma, loe liat gak cowok yang waktu kita pulang makan doclang di depan komplek? maksudnya ... loe liat gak ada cowok yang deketin aku, waktu aku turun dari angkot?" Sambil makan, aku mencoba untuk berbagi kegelisahanku pada Rahma.


"O, lihat kok! yang pas loe mau masuk komplek manggilin loe kan?"


"Iya itu, liat kan?" Aku mencoba menegaskan apa yang dia lihat.


"Iya liat, sebenernya gue mau nanya, cuma lupa. Gue mau ledekin loe sebenernya waktu di angkot, sayangnya Hp gue lowbet, terus mati. Jadi lupa dech ampe sekarang, emang siapa dia? cie ... pacaran ya?"


"Pacaran nenek Loe! Nggak lah! cuma gue bingung, tiap hari dia nungguin gue, nganterin gue pulang, gue takut dia ada maunya."


"Cowok baek kek gitu, pasti ada maunya lah! masa loe gak ngerti?" sarkasnya.


"Jangan menyamaratakan semua cowok, masih banyak cowok yang baik kok."


"Maksud loe?"


"Ya ... maksud gue, belum tentu juga prasangka gue bener. Gue cuma takut aja, soalnya perasaan gue 'B' aja ke dia."


"Tanyalah! Gitu aja kok repot."


"Gue takut disangka keGRan," lirihku disertai cengiran.


"Ya tanyanya pake trik, jangan to the poin pancing-pancing atau apa gitu. Kasih obrolan yang menjurus," ajarnya padaku.


"Nggak ah! Gue takut dia beneran suka, terus gue gak bisa nolak karena kasian. Loe tau gue kan? Gue orangnya gak enakkan."


"Ya terserah loe kalo gitu, terus sekarang loe mau ngapain?"


"Gue mau ngindar aja kali ya, ... atau gue beli motor aja kali ya? biar dia gak nungguin gue lagi," tiba-tiba saja ide untuk membeli motor terbesit di kepala.


"Emang loe punya duit?" ledeknya.


"Hmm ... jangan ngeledek loe! Gini-gini gue punya tabungan, ha..ha..ha.. kalo cuma buat beli motor doang sih kayaknya cukup dech!"

__ADS_1


"Emang loe bisa bawa motor?"


"He..he.. bisa tauuuu ... gue waktu masih sekolah kan suka nyolong motor ka Andra! kalo orangnya tidur, motornya gue bawa buat belajar, Ha..ha..ha... duh ternyata gue bandel juga ya dulu ha..ha..ha.." Aku tergelak sendiri mengingat masa-masa itu.


Ya ... aku memang seorang gadis yang tidak bisa menahan keinginan untuk belajar motor kala itu. Beberapa kali aku merengek untuk diajari, namun Kak Andra dan Abah tidak pernah mengizinkanku.


Saat itu aku masih anak sekolah SMP kelas dua. Suatu hari, aku merajuk saat membantu Abah di toko. Aku cemberut dan tidak mau berkata-kata meski satu kalimat pun. Pertanyaan, ocehan, dan perintah-perintah Abah aku abaikan begitu saja.


Saat tengah duduk di lantai atas ruko, aku yang merajuk. Masih memandangi layar televisi dari sofa di depannya, dengan muka masam. Tiba-tiba saja, Abah menyodorkan kunci motor Kak Andra di depan wajahku. Aku mendongak pada wajah Abah, dengan rasa heran.


"Ambil!" seru abah.


Aku masih diam, wajah penuh tanda tanya pun kuperlihatkan. Melihat itu, abah kemudian berseru kembali "Ambil!"


"Kalau kamu bisa mindahin motor Andra tanpa jatuh ke halaman belakang, kamu boleh pake motornya buat belajar," jelas abah padaku.


Tentu saja saat itu aku sangat bersemangat, dengan wajah penuh senyum ceria. Aku ambil kunci dari tangan abah dan bergegas turun ke lantai bawah.


Abah mengikutiku dari belakang, dan saat aku mulai menaiki motor Kak Andra, sebelum melajukannya aku menoleh ke belakang. Memastikan abah benar-benar mendukungku, ternyata aku melihat abah tersenyum kecil. Lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir. Aku paham! abah tidak ingin aku membuat keributan, dan akhirnya bisa membangunkan Kak Andra yang sedang terlelap.


Dari situlah aku belajar mengendarai motor, bahkan motor-motor yang pernah aku bawa bukan motor matic seperti kebanyakan motor sekarang.


"Weyy malah bengong! senyum-senyum gitu lagiiii gila loe ya?" Rahma menyadarkanku dari lamunan masa lalu, yang sempat melintas barusan.


"Mau ke mana?" Rahma mempercepat kunyahannya untuk menghabiskan satu sendok lagi makanan di piring dia. Lalu menenggak habis minuman yang masih tersisa.


Sedangkan aku, mulai melangkah menuju mushala dekat loker kami. Untuk melanjutkan beristirahat di sana.


Sambil berjalan, Rahma melingkarkan tangannya ke pundakku lalu bertanya,


"Kenapa loe tadi senyum-senyum?"


"Nggak kenapa-napa kok," kilahku.


"Cuma keinget jaman dulu aja, ampe putus sandal baruku! gara-gara nahan motor biar gak jatoh! ha.. ha.. ha..." imbuhku.


Rahma merengut heran, hingga akhirnya aku jรจlaskan kembali kejadian saat itu.


"Waktu pertama kali gue dikasih kunci motor sama bokap, tantangannya adalah gue gak boleh jatohin itu motor. So ... otomatis sekuat tenaga gue belajar bisa nahan itu motor biar gak gubrak. Sampe-sampe sandal baru gue putus waktu itu,"


"Loe gak diajarin?" selidiknya.


"Nggak! loe bayangin aja, gue dikasih kunci doang sama bokap, untung gue pinter ya gak?" banggaku padanya, saat menceritakan keberhasilanku saat pertama kali mengendarai motor tanpa diajari.

__ADS_1


"Gaya loe!" sarkasnya.


Kami pun terus melempar ledekan hingga sampai di mushala. Kemudian memilih tidur sebentar setelah shalat.


...*****...


Aku masih terduduk di atas pagar jembatan depan gerbang. Sambil sesekali menarik tubuh ke belakang. Bagi orang yang tidak tahu, mungkin mereka akan ngeri melihatnya. Tapi bagi yang sudah tahu mereka akan biasa saja melihatku seperti itu.


Ya ... aku memang kadang sering melakukan hal yang jarang dilakukan gadis atau wanita manapun. Menarik tubuh hingga terlentang ke arah bawah sungai, dengan hanya mengaitkan kedua kakiku pada pagar pembatas jembatan.


Saat aku sudah dalam posisi duduk di atas pagar jembatan tiba-tiba,


"Belum pulang?" tanya supir yang juga asisten pribadi Boss besar perusahaan ini.


Ya! dia mengenaliku, karena kami sering bertemu saat aku menghadap Boss untuk urusan percobaan.


"Eh Bapak, belum Pak," jawabku sedikit malu.


"Nungguin pacarnya ya? pasti mau malem mingguan nih!" tebaknya.


"Idiiiih siapa juga yang punya pacar ... Bapak kali tuh," ledekku.


"Ih sembarangan! istriku mau dikemanain?" celotehnya.


"Ye ... sapa tau kan hayoooo," Aku terus melontar ledekan padanya, karena aku tahu dia senang sekali bercanda.


"Udah, udah! masuk ayo," ajaknya.


"Masuk?" Aku terheran dengan ajakannya. Pasalnya, mobil yang dia gunakan adalah mobil mewahnya Big boss.


"Iya, ayo cepet! Bapak anterin," ajaknya kembali.


Sejenak aku berpikir, ini bisa membantuku menghindari Andi. Tapi, aku juga gak enak hati kalau harus menaiki mobil mewah ini. Takut ada yang melihat, dan berpikir yang tidak-tidak terhadapku.


"Malah bengong! Ayo!" tegurnya padaku, yang masih belum beranjak dari pagar jembatan itu.


"Gak papa Pak? aku naik di mana?" tanyaku.


"Ya gapapa, di depanlah! emang kamu naik taksi apa duduk di belakang? mentang-mentang Bapak supir," ocehnya padaku.


Aku hanya tersenyum menanggapi ocehannya, kemudian membuka pintu mobil depan dan segera memasukinya.


Saat di perjalanan, banyak hal yang kami obrolkan. Tapi, kami lebih banyak bercanda daripada bicara serius. Pak Gunawan mengantarkan aku pulang sampai rumah. Dan itu membuat aku tidak perlu repot-repot menghindari Andi. Yang ternyata memang masih ada di pemberhentian angkutan umum seperti biasa. Untungnya kaca mobil itu tidak terlihat dari luar, sehingga aku tidak perlu takut untuk terlihat.

__ADS_1


๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž


__ADS_2