Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Melunasi Hutang Pada Gusti


__ADS_3

Happy Reading


"OMG! Gusti, Rama itu ... cuma temen sekolah aja dulu. Gak ada yang istimewa, just a friend," jelasku.


"Tapi kok dia perhatian banget sama loe?" tanyanya kembali.


"Ya dia kan pemilik kafe, jadi harus baik-baik sama pelanggan. Kalau pelanggan dijutekin mana betah mereka lama-lama di kafe miliknya." Aku menjelaskan logika yang memang seperti itu menurutku.


Tak berapa lama, pelayan datang dengan membawa nampan berisi apa yang kami pesan. Secangkir kopi hitam, segelas cappucino latte dingin, dan dua piring surabi dengan toping durian ditaburi keju di atasnya.


"Loe gak mau pesen makan siang? ini udah waktunya makan siang loh," tanya Gusti saat pelayan masih menata pesanan kami di atas meja.


"Enggak! Ini udah cukup kok, kalau loe mau pesen aja, tenaaang gue masih mampu kalau cuma nambah makan siang doank,"


"Loe mau pesen apalagi? Ayo buruan, mumpung si Mbaknya masih di sini," imbuhku.


"Cukup, cukup! Makasih ya Mbak ...." Selain menjawab tanyaku, dia juga menyempatkan berterima kasih pada pelayan kafe. Dan, aku pun melakukan hal yang sama dengan sunggingan senyum yang dibalas senyuman pula.


Cukup lama kami di sana, menikmati segelas kopi dan surabi sebagai cemilannya. Berbincang-bincang dan saling bercerita tentang diri masing-masing. Dari situ, aku tahu bahwa Gusti ternyata seorang dokter juga Mahasiswa yang sedang kuliah untuk meraih gelar S2. Dan, Rumah Sakit yang semalam aku inapi, ternyata adalah milik keluarga Pranajaya. Yaitu Dr. Widodo Agung Pranajaya, yang tidak lain adalah ayah dari Gusti Putra Pranajaya, yang kini sedang duduk di depanku.


Sedangkan aku sendiri, aku mengakui statusku yang hanya seorang buruh pabrik. Aku bilang, "Tidak ada pekerjaan yang lebih baik, daripada pekerjaan yang kita cintai." Dan Gusti setuju dengan itu.


"Balik yuk!" ajakku pada Gusti.


"Loe gak betah ya lama-lama sama gue?"


"Bukan gitu, ini udah siang banget."


"Hari sabtu kan emang waktunya santai," ocehnya.


"Astaga! Gue hampir lupa kalau ini hari sabtu," Aku sedikit terkejut untuk hari yang aku lupakan.


"Kenapa?"


"Gue kalau hari sabtu itu, biasanya pulang setengah hari."


"Kan bisa telpon, chat, atau apa gitu. Ampe panik, gitu doank!"


"Denger! Gue udah gak pulang semaleman, terus sekarang pulang telat juga? Oh! No! Gue bukan tipe anak yang suka bikin khawatir orang rumah."


"Kan gue bilang bisa telpon! Biar mereka gak khawatir."


"Udah, udah. Kita balik aja," Aku segera bergegas bangkit dari duduk dan melangkah menuju kasir.


Gusti mengekoriku dari belakang dan saat aku hendak mengeluarkan uang dari tasku, dia terlebih dahulu menyerahkan kartunya pada kasir.


"Eh! Apa ini? Gue gak mau ya ... punya hutang and berurusan lagi sama loe." tegasku pada Gusti

__ADS_1


"Balikin Mbak, aku bayar cash aja." Sambil meminta kartu milik Gusti, aku berujar pada Mbak-mbak petugas kasir.


Setelah Kasir memberikan kartu milik Gusti, aku serahkan beberapa lembar uang untuk membayar tagihan. Kemudian menyerahkan kembali kartu yang Gusti tadi berikan pada kasir, sambil berkata. "Lunas ya! Gue udah gak punya hutang sama loe."


"Gue kan cuma becanda Dis, gue gak beneran minta ganti kok."


"Stop! Gak usah banyak omong, gue gak mau urusan panjang sama loe, oke!" tegasku.


"Loe kok gitu, sama si Rambu lalu lintas aja loe bisa berkata manis-manis dan baik-baik, masa sama gue jutek terus?" protesnya padaku.


Aku membiarkan pertanyaannya begitu saja. Lalu melangkah pergi meninggalkan kasir dan Gusti yang masih berdiri di sana.


Tanganku ditarik, oleh siapa lagi kalau bukan Gusti. "Apa lagi?" tanyaku saat menoleh pada tarikan tangan itu.


"Loe mau ke mana?" tanyanya.


"Ya pulanglah, mau ke mana lagi?"


"Loe ke sini kan gue yang ajak! Jadi ... harus pulang sama gue juga."


"Enggak! Makasih, gue bisa naik Ojol atau taksol kok."


"Taksol?"


"Iya! Taksi onlen, kenapa emang?"


"Ya ampun udah deh! Please biarin gue balik sendiri ya? Gue gak mau berhutang budi sama loe. Gue takut nanti loe ungkit terua loe jadiin hutang," ucapku dengan santainya.


"Astaga Dis! Gue cuma becanda. Maaf kalau loe gak suka candaan gue."


Gusti terus saja memintaku untuk memaafkannya. Padahal apa yang salah? Aku juga bingung. Karena tidak ingin jadi tontonan, akhirnya aku mau mengikuti kemauan Gusti untuk naik ke mobilnya.


Mobil Gusti meninggalkan parkiran, tapi herannya, dia tidak mengambil jalan lurus saat sampai di lampu merah. Padahal jalan itu lebih singkat daripada jalan yang Gusti ambil sekarang. Ternyata, dia membelokkan kendaraannya pada sebuah rumah kue bernama Raincake.


Rumah kue ternama yang terkenal dengan dessert kekinian yang memiliki berbagai varian rasa. Dan, Raincake ini hanya ada di Bogor. Tidak membuka cabang di daerah mana pun.


"Ngapain lagi sih? Gue kan mau balik," Aku bertanya dengan sedikit nada kesal.


"Bentar doank, yuk temenin," ajaknya.


Walaupun malas, akhirnya aku turun juga. Dan, menemani Gusti masuk entah untuk apa. Bisa saja pemiliknya adalah temannya kan? Atau untuk apa aku juga tak tahu.


Aku mengekorinya dengan malas, ternyata dia membeli dessert dengan rasa durian, blueberry, dan caramel. Setelah semua dipack dengan rapi, kami kembali ke parkiran menuju mobil. Gusti memintaku untuk memegangi belanjaannya barusan, dengan alasan takut jatuh bila ditaruh di jok belakang. Aku pun tanpa pikir panjang mengiyakan.


"Makasih ya," ucapnya sebelum melajukan mobil.


"Hmm," gumamku membalas ucapannya.

__ADS_1


Jalanan benar-benar macet menjelang sore ini, hingga waktu seakan berputar lambat seiring bergeraknya kendaraan yang tersendat-sendat. Aku yang dilanda kebosanan, terpikir untuk bermain game dari ponsel milikku. Lalu, dengan semangat aku merogoh benda pipih itu. Tapi, karena tanganku juga sedang memegang paper bag milik Gusti. Aku sedikit kesulitan untuk bisa cepat mengeluarkan ponsel dari tasku.


"Ngapain sih?" tegur Gusti.


"Gak ngapa-ngapain, kok. Cuma mau cek HP."


"Bosan ya?"


"Iya!"


Gusti tampak menyalakan sesuatu di mobilnya, aku mengira dia akan menyalakan musik. Dan, ternyata dugaanku tidak salah. Musik mulai mengalun dengan volume suara yang sedang. Tapi ... kenapa dia memilih musik jadul? kenapa seleranya tidak sesuai dengan usianya? Dia memang lebih tua dariku. Tapi, aku yang masih dua puluhan saja suka lagu-lagu jadul sih! Ketimbang lagu-lagu sekarang. Mungkin seleranya sama denganku, ah! Sudahlah, untuk apa juga aku pikirkan. Yang penting kan aku nyaman mendengarkannya.


Kulihat banyak panggilan tak terjawab dan chat. Dari Alexa juga Barakh saat pertama kali membuka ponsel. Aku lupa kalau HP masih dalam pengaturan silent. Aku langsung menghubungi Barakh dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja dan sedang menuju arah pulang. Setelah itu, aku juga langsung menghubungi Alexa. Tapi sayang, panggilanku tak terjawab. Bahkan setelah aku mengulangnya lebih dari satu kali panggilan.


"Nelpon siapa lagi sih? Sepertinya penting sekali, pacar?" tanya Gusti yang sepertinya memperhatikanku sejak tadi.


"Pacar dari Hongkong!? Aku nelpon Alexa, tapi gak dijawab-jawab."


"Alexa ...,"


"Iya! Yang nungguin gue waktu loe jemput."


"Jadi loe belum punya pacar?"


Pertanyaan Gusti membuat aku sedikit kaget dan tersedak udara. Lalu aku tertawa menanggapinya.


"Kenapa ketawa?"


"Ya lucu! Ngapain juga nanya-nanya punya pacar apa enggak, kepo! kek wartawan aja."


Dari perbincangan itu, tiba-tiba saja Gusti dan aku terdiam. Kulihat matanya fokus ke jalan, tapi wajahnya sulit kubaca mengisyaratkan apa. Aku berpikir, apa dia marah padaku? Tapi apa salahku? Ingin sekali rasanya bertanya pada Gusti. Tapi, ada keraguan yang entah apa dalam hati, yang melarangku untuk bertanya.


Jalanan yang kami lalui, kini mulai lancar. Dan mobil yang Gusti kendarai juga mulai bertambah kecepatan lajunya.


Tiba-tiba, aku dan Gusti secara bersamaan mengeluarkan kata memecah sunyi kami, sejak tadi.


"Gue!" ucapku dan Gusti bersamaan.


...●●●♡♡●●●...


Nah! Kira-kira mereka mau ngomong apa ya?


nantikan kelanjutannya ya, doakan aku bisa up gak terlalu lama 😬🙏🙏


Terima kasih untuk yang masih nunggu kelanjutannya, maaf belum bisa up tiap hari 🙏


Love u all ❤💜💛

__ADS_1


__ADS_2