Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Kehadiran Andi


__ADS_3

"Andi!" Aku terkejut saat melihat orang di atas motor sport bermerk Ninja itu membuka helmnya. "Ngapain Ndi?" imbuhku.


"Nungguin kamu lah!" jawabnya dengan singkat.


Aku menelan saliva, bingung untuk berkata-kata. Meski akhirnya aku beranikan diri untuk berbasa-basi.


"Apa kabar Ndi?" tanyaku.


"Tidak baik! Sudah dua malam aku menunggu. Aku nunggu kamu di terminal, tapi kamu gak pernah ada. Ternyata kamu turun di sini?" celotehnya. Ada sedikit nada kemarahan yang aku rasakan dari bicaranya.


"Lagian ngapain juga nungguin gue? Gue udah biasa balik sendiri kok."


Andi tiba-tiba turun dari motornya dan meraih tanganku. dengan beraninya dia menggenggam tanganku, yang tengah menenteng paper bag pemberian Bunda.


"Aku suka sama kamu! makanya tiap malam aku selalu nungguin kamu. Aku ingin selalu ketemu sama kamu, ingin dekat sama kamu, walaupun cuma sesaat kala berjalan kaki menuju rumah kamu."


Sejenak aku tertegun, aku memang sudah mengira dia memiliki perasaan padaku. Akan tetapi, aku tidak menyangka bila malam ini akan bertemu dengannya di sini. Segera kutepiskan tangannya dari tanganku. Yang berkali-kali dia raih kembali.


"Sorry, Ndi. Gue ... gue enggak! Gue gak punya perasaan lebih sama loe," Aku memundurkan langkah. Dan, melepas paksa genggaman tangannya.


"Tapi Dis! Aku sayang banget sama kamu."


Andi masih berusaha menggenggam tanganku, lagi dan lagi.


"Teh! Maaf telat, tadi nganterin si Apoy dulu ke 88," Tiba-tiba saja, Barakh muncul dari sisi jalan di belakangku.


"Gue duluan ya! udah dijemput," ucapku pada Andi.


Aku merasa sangat bersyukur dengan kedatangan Barakh saat ini. Kedatangannya seperti memberiku jalan keluar untuk lari dari Andi.


"Loe temennya si Riki 'kan?" tanya Barakh pada Andi.


Andi hanya mengangguk dan tersenyum kecut. Menanggapi pertanyaan Barakh.


Aku segera naik, ke punggung motor yang sedang ditumpangi Barakh. Setelah menyerahkan tas punggung dan paper bag untuk di taruh di bagian depan jok motor.


"Duluan ya," pamitku pada Andi. Kemudian mengajak Barakh untuk segera pergi dengan menepuk punggungnya.


"Duluan ya bro!" Barakh juga menyempatkan diri untuk pamit sebelum melajukan motornya.


...○○○○○...


"Assalamualaikum," salamku, saat mulai memasuki rumah.


"waalaikumsalam, kok sendiri? Barakh mana?" Umi, mempertanyakan keberadaan Barakh yang tak terlihat.


"Dia ke rumah siapa tuh nama temennya? yang suka dipanggil si Bogel ... Bogel itu," jawabku, setelah mencium punggung tangan Umi.


"Oooh! Enggak tau Umi juga siapa namanya, Orang temen-temennya juga pada manggil Bogel mulu."


"Kamar dulu ya Mi, cape banget! O iya hampir lupa. Ini ada titipan dari Bundanya Alexa," Aku yang sudah melangkah menuju kamar, berbalik lagi untuk menyerahkan paper bag yang diberikan Bundanya Alexa padaku.

__ADS_1


"Apa ini?"


"Biasa! Oleh-oleh."


"Ya udah sana! Jangan lupa mandi, makan, shalat, terus istirahat."


"Iya Umi ...," Aku mencubit gemas pipi umi dengan kedua tanganku.


...¤¤¤¤¤...


Ceklek, suara pintu kamar mandi yang kubuka. Rasanya segar sekali setelah aku membersihkan diri. Masih dengan handuk yang melilit dari dada hingga paha, aku duduk depan cermin di kamarku. Rambut yang aku gulung saat mandi dan ditusuk dengan sikat gigi, perlahan tergerai saat aku mencabutnya.


Aku memang sering menggunakan sikat gigi sebagai tusuk konde saat lupa ketika tak membawanya ke dalam kamar mandi. Agar rambutku tak basah terkena guyuran air.


Aku memang jarang menyisir rambut, karena tanpa disisir pun rambutku mudah sekali rapi. Hanya dengan jari aku rapikan rambutku.


Setelah memakai piyama untuk tidur, aku segera ke luar dari kamar. Untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan.


Aku membawa piring makananku ke ruang keluarga. Dan, makan di sana sambil menikmati acara televisi. Aku memang tidak terlalu suka makan di meja makan. Bahkan kadang, kami sekeluarga lebih memilih menggelar tikar atau karpet di ruang keluarga untuk makan bersama. Rasanya selalu lebih nikmat dan hangat.


Saat asik menikmati makanan di piringku, tiba-tiba saja Barakh muncul dan mencomot kerupuk yang baru saja hendak kumakan.


"Di dapur masih banyak," Aku memukul tangan Barakh dengan pukulan kecil.


"Cuma satu elaah pelit banget," Barakh melahap kerupuk itu dengan sekali hap.


"O iya! tadi loe pake motor siapa?" tanyaku pada Barakh yang sedang memindah canel televisi dengan remot di tangannya.


"Bukannya tadi loe nganterin dia ke '88?"


"Iya!"


"Terus dia pulangnya gimana? Ateh kira loe pake motor si Bogel."


"Itu, tadinya si Apoy mau berangkat sama si Bogel. Kebetulan Barakh pinjem kan motornya, jadi si Bogel bisa ngerjain tugasnya dulu. Nanti dia nyusul Apoy ke sana,"


"Loe gak ngerepotin orang kan?"


"Ya enggaklah Teh, justru mereka terima kasih ma Barakh. Motornya dibensinin, Apoy bisa ketemu temennya tepat waktu, Bogel bisa ngerjain tugasnya, tapi tetep bisa nemenin Apoy nanti pas pulang."


Aku tersenyum dan memberikan tanda jempol pada adik laki-laki satu-satunya kesayanganku itu.


"Kuliah Loe lancar?"


"Alhamdulillah lancar Teh,"


"O iya, minggu ini kalau jadi. Ateh mau beli motor, nanti kita bisa pake berdua. Sabar ya, Ateh baru bisa beli sekarang-sekarang. Soalnya alhamdulillah tabungannya in syaa Allah udah cukup buat beli motor."


"Serius, Teh!" Barakh begitu antusias mendengar rencanaku. Dan, aku jawab pertanyaannya dengan senyum dan anggukan.


"Yes! Yes! Yes! Akhirnya, bisa punya motor." Barakh berjingkrak menggoyangkan badannya, sepertinya karena senang sekali mendengar aku hendak membeli motor.

__ADS_1


"Kredit apa Cash Teh belinya?" tanya Barakh kembali.


"Loe kayak gak tau aja?"


"Wiiih keren emang Atehku yang satu ini, the best pokoknya." Barakh memelukku dan mencubit kedua pipiku.


"Nasi gue!" Aku memekik, karena hampir saja makanan di piringku tumpah oleh kelakuannya.


"Sorry, sorry." Barakh menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"O iya! Tadi temennya si Riki ngapain sama Ateh?" imbuhnya. Sepertinya Barakh juga penasaran dengan keberadaan Riki di tempat tadi.


"Gak kenapa-napa, kebetulan aja ketemu di situ. Jadi ya nemenin ngobrol bentar."


"Ateh gak ada apa-apa kan sama dia?" tanyanya yang sukses membuatku tersedak.


"Nah! Loh, ampe keselek tuh. Jangan-jangan," tambahnya.


"Aer ... aer!" Barakh segera berlari menuju lemari es untuk mengambilkan air. Setelah melihatku kesulitan berbicara.


"Makanya! Kalau makan itu sedia minum Teh," Barakh menyodorkan segelas air dingin padaku.


Aku kemudian meraih gelas yang diberikan Barakh, dan meminumnya dengan menahan napas.


Barakh masih setia di sampingku, meski beberapa kali pukulan ringan mendarat ditubuhnya dari tanganku.


"Sakit Teh! Ih!" keluhnya sambil menghindari.


Barakh beranjak dari duduknya di sampingku. Dia berjalan menuju dapur dan mengambil toples berisi kerupuk putih dengan warna berbeda di tiap sisinya.


Saat ini Barakh duduk di bawah, beralaskan karpet bulu yang dia gelar sebelum duduk. Sesaat dia menoleh dan menggodaku kembali.


"Hayooo, ada apa-apa ya?" Full cengiran yang membuat aku sukses mendaratkan bantal sofa pada mukanya.


Aku bangkit dari dudukku, dan mulai berjalan menuju dapur. Setelah selesai makan, aku cuci piring-piring yang masih ada di wastafel. Hanya ada satu piring dan satu gelas di sana. Ditambah piring bekas aku makan. Mungkin itu piring bekas Barakh makan, karena cuma dia yang biasanya habis makan tidak mencuci alat makannya.


Saat sedang mencuci piring, Barakh menghampiriku dan memberitahu, ada tamu yang ingin menjumpaiku.


Rasa penasaran dan kesal pun hinggap. Pasalnya, ini bukan waktu yang pantas untuk berkunjung. Dan, tentu saja aku penasaran, siapa orang yang malam-malam begini datang berkunjung. Karena saat aku bertanya pada Barakh, Barakh malah berkata agar aku melihatnya sendiri.


💞💞💞💞


Sampai sini dulu ya, udah serebu lebih oe 🤭


Terima kasih untuk yang masih setia dengan like, komen juga gift and votenya.


Thank you 😊🥰


and


Love You All ❤

__ADS_1


__ADS_2