Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 1. Murid baru


__ADS_3

Hari Senin di pekan pertama bulan Januari adalah hari pertama sekolah untuk semester ini. Setelah liburan panjang akhir tahun kemarin, hari- hari belajar dan bermain bersama akan kembali mewarnai perjalanan anak- anak.


Suara riuh rendah keramaian di halaman sekolah pagi itu adalah sesuatu yang menggembirakan. Anak -anak tampak riang bermain empat ayunan dan jungkat jungkit serta dua plosotan. Pukul tujuh limabelas menit. Sebentar lagi pak Yus, penjaga sekolah akan membunyikan bel tanda masuk kelas.


Sebuah Jeep hitam berhenti tepat di gerbang.


" Selamat pagi, ibu guru," suara berat menyapa Larasati dan Bu Nur yang sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan belajar mengajar.


" Pagi....., silakan pak Himawan," sahut Bu Nur, ramah seraya menoleh ke arah pintu.


" Selamat pagi. " Laras bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah pintu.


Larasati menghampiri seorang gadis kecil yang menyembul dari balik badan sang papa.


" Silahkan duduk, pak. Ini pasti Gabriella ya.'


Lelaki itu membimbing sang gadis kecil untuk duduk di kursi kayu sederhana," Ini Gaby, putri saya. Hari ini sudah mulai masuk sekolah."


Larasati mengulurkan tangannya meraih tangan mungil Gaby. Gadis kecil tampak malu-malu menyambutnya. Gabriella Renata Santoso, nama panjangnya.


" Ayo, Gaby berkenalan dulu dengan ibu guru ya," sang ayah berkata lembut.


Setelah menyalami dan mencium punggung tangan Lara, Gaby menuju ke arah Bu Nur. Gadis kecil itu melakukan hal yang sama.


" Gaby cantik sekali ya," puji Bu Nur.


Gadis kecil itu tersenyum, " Terimakasih."


Lalu percakapan berlangsung. Gaby secara resmi akan menjadi murid baru di kelas TK A. Kelas dimana Lara telah berpengalaman mengajar selama dua tahun belakangan ini. Bu Nur sendiri menghandle klas B.


Semua dokumen kepindahan Gaby dari sekolah terdahulunya di kota telah dikirim bulan lalu. Kala itu bersamaan dengan dimulainya tugas sang ayah sebagai pimpinan kebun R and D perusahaan kelapa sawit besar di negeri ini. Blok B yang luasnya sekitar limapuluh hektar.


Teng....teng...teng....


Suara khas bel yang dipukul Pak Yus menggema. Anak-anak berhamburan menuju depan kelas. Segera berbaris rapi. Dipimpin ketua klas masing-masing. Ada sepuluh orang di TK A dan duabelas anak di TK B.


" Selamat pagi anak-anak..."

__ADS_1


"Selamat pagi .......Buk," sahut mereka semua dengan semangat.


" Hari ini kita kedatangan teman baru. Namanya Gaby. Ayo beri salam dulu."


" Hallo Gaby......selamat pagi," seru mereka berbarengan.


Wajah malu- malu Gaby seketika berubah senang dengan sambutan teman - temannya.


" Nah, Gaby boleh duduk di sini ya," Lara membimbing dan menunjukkan sebuah meja dan kursi kayu berwarna merah yang memang disediakan di arah kiri depan ruangan.


" Baik, Bu Guru. Terimakasih," sahut gadis kecil itu seraya duduk dan meletakkan ransel pink-nya.


Kelas dimulai dengan berdoa serta menyanyi beberapa lagu. Nada riang gembira mewarnai kelas. Anak anak berumur sekitar lima tahunan tersebut terlihat menikmatinya.


Kelas dilanjutkan dengan bercerita satu persatu ke depan. Liburan akhir tahun anak anak adalah topik yang menyenangkan. Ada yang ke rumah kakek nenek, merayakan natal dengan keluarga besar, memancing dengan ayah, belajar memasak bersama ibu atau sekedar panen singkong di rumah paman. Gaby bercerita paling akhir. Gadis kecil itu berkisah tentang kepindahan keluarganya ke areal perkebunan ini.


Setelah itu dilanjutkan dengan mewarnai gambar rumah sederhana. Aneka jenis warna bertebaran. Crayon yang dibawa masing-masing anak segera berserakan di atas meja. Hasil gambar mereka menakjubkan.


Selesai mewarnai dan merapikan meja, giliran membuka kotak bekal. Sebelumnya mereka diwajibkan mencuci tangan dengan sabun di tiga kran wastafel dari semen di depan kelas.


Pukul sembilan tigapuluh, bel istirahat berbunyi. Anak anak dipersilahkan bermain di luar klas. Empat puluh lima menit setelah itu adalah jam pelajaran terakhir.


Anak-anak berhamburan ke luar. Bermain adalah aktivitas favorit mereka. Dua gadis kecil segera menghampiri Gaby. Laras memperhatikan mereka dari meja guru pojok ruangan. Dia sedang memberi nilai dengan tanda bintang untuk kertas hasil mewarnai barusan.


" Gaby, aku Sari dan ini Lala."


" Iya, aku Gaby."


"Ayo diajak main ke luar Gaby. Nanti dikenalkan dengan teman yang lain juga ya, Sari ".


" Baik, Bu Laras," sahut Sari.


Sari, adalah ketua klas A. Gadis kecil yang cerdas dan pemberani. Dia putri tunggal pak Jaya, salah seorang dari tiga mandor di blok C. Blok produksi perkebunan kelapa sawit besar ini yang luasnya hampir tiga ratus hektar. Ada sepuluh blok di perusahaan ini. Tiap kawasan menangani tanaman sesuai umur dan perawatannya. Pabrik pengolahan ada sejauh sepuluh kilometer dari sini.


Hampir sebagian besar anak anak yang bersekolah TK disana adalah putra putri karyawan perkebunan. Beberapa memang ada yang dari desa terdekat yang berjarak tiga hingga limakilometer dari areal luar kebun. Kehidupan mereka secara umum sangat sederhana. Bersahaja namun solidaritas diantara mereka sangat tinggi. Maklum kebun ini terletak di tengah hutan. Berjarak hampir lima hingga enam kilometer dari jalan raya utama lintas Sumatra.


Laras memperhatikan dari tempat duduknya di ruang guru. Gaby sepertinya anak yang luwes. Dia terlihat cepat akrab dengan teman-teman barunya. Bergantian naik ayunan, bersenda gurau dan tertawa lepas. Walau secara umum penampilan Gaby terlihat berbeda karena dia dari keluarga terpandang. Namun di hari pertama sekolahnya gadis kecil itu cukup mampu beradaptasi dengan baik.

__ADS_1


Kegiatan terakhir sebelum pulang adalah menyusun aneka puzzle kayu berukuran besar dan sedang. Ada berbagai jenis binatang. Gajah, harimau, sapi, kucing, anjing, burung dan ikan. Suara mereka berbincang terdengar saling bersahutan. Walau agak berisik tetapi tetap tertib. Maklum ini sudah semester kedua. Laras menengok bergilirian tiap kelompok. Hingga puzzle tersusun tepat dan pas.


Hingga hampir menjelang pukul sebelas. Laras mengajak merapikan semua puzzle. Menjelang pulang anak - anak berdoa dan bernyanyi. Gelang si patu gelang, adalah lagu wajib.


Beberapa orang tua telah berdiri di luar gerbang sekolah. Anak- anak menyalami Bu guru begitu keluar klas dan langsung berhamburan ke arah para penjemput. Sebagian besar mereka naik sepeda motor. Ada juga yang pulang berjalan kaki karena tempat tinggalnya relatif dekat. Sekitar setengah kilometer dari sekolah adalah kompleks perumahan sederhana para buruh pemetik kelapa dan karyawan atau staf perkebunan. Ada kurang lebih lima puluhan rumah untuk di blok ini.


Kemal dan Gaby adalah dua anak yang belum dijemput. Laras mengajak mereka duduk di kursi panjang dekat tempat ayunan.


" Kemal, nanti kalau tidak dijemput sampai sekolah ditutup, ibu yang akan antar pulang ya."


Rumah Kemal cukup dekat dan searah dengan kediaman Laras.


" Iya, Bu." Suara sendu Kemal membuat Laras kerap terenyuh.


Anak lelaki kecil itu memang kerap terlambat atau tidak dijemput sang kakek. Rumah Kemal ada di desa para petani tebu, diluar perkebunan. Sang kakek menjadi buruh panen tebu. Konon ayah ibunya merantau menjadi buruh migran di negeri seberang.


"Gaby, sabar dulu ya. Tadi papa pesan ke ibu akan menjemput jam setengah duabelas."


" Ya, Bu Guru."


Kemal lalu mengajak Gaby bermain plosotan. Kedua tas mereka diletakkan di samping Bu guru.


Laras melihat keduanya bermain. Senda gurau terdengar. Tak lama Jeep hitam papa Gaby terlihat berhenti di depan sekolah.


Laras membawa tas dan ko menghampiri gadis kecil itu," Gaby, itu papamu telah menjemput."


" Papa ...." suara riang Gaby menyambut pak Himawan.


" Selamat siang, Bu. Maaf sedikit terlambat. "


" Oya, tidak apa- apa."


Pak Himawan menanyakan bagaimana hari pertama putrinya di sekolah. Lara menjelaskan bahwa Gaby anak yang cepat akrab dan pintar. Sejenak mereka bercakap tentang sekolah yang baru lima tahun ini berjalan.


Hampir sepuluh menit. Pak Himawan dan Gaby pamit. Laras mengajak si kecil Kemal ke ruang guru dan meminta agar menunggu di dalam dengan melihat majalah anak anak yang ada di meja tamu. Laras dan Bu Nur melanjutkan memeriksa pekerjaan anak anak, menulis laporan serta menyiapkan bahan ajar buat besok.


Hingga pukul setengah satu, akhirnya sekolah ditutup. Pak Yus sudah selesai memeriksa dan membersihkan ruang. Mengunci pintu dan gerbang sekolah. Bu Nur menghidupkan motor bebeknya, Pak Yus mengayuh sepeda gayung miliknya. Larasati membonceng Kemal ke arah jalan raya kecil memasuki kompleks perkebunan. Melewati sebuah sungai kecil dan jembatan kayu yang menuju desa.

__ADS_1


__ADS_2