
Hari cerah, matahari mulai bersinar Minggu pagi pukul setengah tujuh, mobil Pandu telah terparkir di samping gerbang rumah Laras.
Begitu Pandu hendak turun, Laras menyambutnya dan mengajak langsung berangkat. Memakai kaos panjang berwarna abu-abu serta training senada, sepatu kets putih. Rambut di cepol ke atas. Tak lupa topi putih bertengger di kepala gadis itu. Ransel kecil berwarna hitam ikut menemaninya.
" Nek, kami pergi dulu....!" teriaknya seraya menutup pintu pagar.
"Takut telat, ya. Bukannya latihan dimulai pukul setengah delapan?"
" Ya, tapi barusan Kang Jamil menelpon agar aku mampir ke warung membeli dua dus air mineral. Dia lupa bawa dan kini terlanjur sudah tiba di lapangan."
Pandu bergumam, "Ada saja..."
Lelaki itu memacu mobil menuju lapangan bola.
" Laras sudah sarapan?"
" Sudah dengan semangkuk mie instan."
" Ini aku bawakan sebotol minuman penambah elektrolit tubuh. Buat tambah energi, " seraya menyetir Pandu memberi botol berwarna biru itu pada Laras.
Dia sengaja menaruh botol itu dekat dashboard.
"Makasih ya, mas Pandu."
"Tolong berhenti di depan toko itu," Laras menunjuk sebuah minimarket kecil yang baru buka.
Laras dan Pandu turun untuk membeli dua dus air mineral. Pandu juga menambahi belanjaan dengan dua sachet permen pelega tenggorokan berwarna biru dan merah. Dia membayar semua tagihan. Laras berterimakasih sekali lagi.
Tak sampai dua puluh menit, mereka telah sampai di areal parkir. Kondisi sedikit becek, setelah hujan kemarin sore.
Tampak hampir semua anak mulai melakukan gerakan senam pemanasan. Penonton selain orangtua para pemain bola, mulai berdatangan. Sepertinya hari ini bakal lebih ramai karena hari libur. Jadi banyak yang sekalian rekreasi ke lapangan bola. Maklumlah di daerah cukup terpencil seperti di sini, pastilah jarang ada hiburan seperti di kota.
Pandu membantu dengan membawa dua dus air mineral ke pinggir lapangan dekat tiang gawang.
Pukul setengah delapan pas, sang pelatih utama meniup pluit beberapa kali. Isyarat agar anak-anak berkumpul semua.
"Aku bergabung dengan mereka dulu ya. Mas Pandu disini saja sekalian menjaga tasku dan punya anak-anak. Makasih, ya ...."
"Oke!" Pandu setengah berteriak, karena Laras tengah berlari ke tengah lapangan.
Lelaki bercelana jeans coklat cream serta berkaos orannye muda itu duduk bersila.
Pandu memperhatikan sekelilingnya. Banyak keluarga muda yang membawa serta anak balitanya. Mereka asyik bermain di pinggir lapangan. Ada juga yang membawa sepeda kecilnya. Beberapa balita belajar berdiri dan berjalan.
Penjual mainan dan makanan mulai datang. Balon aneka bentuk berhias bintang kartun. Aneka mainan anak. Bola kaki, boneka, mobil- mobilan. Bahkan penjual es krim dengan suara khasnya telah standby pula.
Pandu baru menyadari betapa alun - alun, lapangan bola atau taman sangat berguna untuk ruang terbuka hijau. Tempat berinteraksi masyarakat beragam usia. Wahana bersosialisasi. Ada manfaatnya pula buat kesehatan baik fisik maupun mental.
Laras terlihat begitu bersemangat melatih anak- anak.
Setelah berlari keliling lapangan, latihan teknis dimulai. Tendangan bebas dan pinalti.
Gaya lincah penuh empati ditunjukkan oleh Laras dalam melatih anak - anak. Memberi dua jempol jika anak didiknya berhasil menggolkan bola. Ber - high five, hingga menepuk lengan atau punggung para pemain bola cilik tersebut.
Dari kejauhan Pandu mengambil gambar dengan kamera ponselnya, kegiatan Laras dan anak-anak.
Beberapa hasil jepretannya, di zoom oleh Pandu. Laras masih tampak manis. Berdiri, merentangkan tangan, memberi aba aba, meniup pluit. Bertepuk tangan hingga melakukan gerakan toss.
Pandu senyum-sentum sendiri. Pesona Laras semakin menancap di hatinya.
" Itu si Laras. Gayanya masih sama aja."
Tiba-tiba Pandu mendengar seseorang menyebut nama Laras. Lelaki itu menoleh ke samping kanan. Ada keluarga muda membawa seorang putri kecilnya menggelar tikar plastik tak jauh dari tempat Pandu. Sekitar tiga meteran.
" Iya, mas. Dasar tomboy," tutur sang perempuan, tertawa.
Sepertinya pasangan suami istri, batin Pandu.
" Coba si Dito lihat Laras sekarang. Bakalan nyesel mutusin gadis itu."
" Ihhh, jadi benar ya mereka dulu pacaran?"
__ADS_1
"Sepertinya, benar. Kenapa Laras mau, si Aldito, kan playboy di sekolah kita dulu."
"Dito kan ganteng mas, banyak yang naksir."
" Kamu naksir dia juga?"
" Aduh....mas masih cemburu. Itu dulu. Yang penting aku kan memilihmu, ha ha ha..."
Pandu melirik mereka. Sang suami mencolek ujung hidung si istri. Mesra. Mereka tampak mencium sang putri yang sepertinya belum genap berusia setahun, secara bergantian.
Pandu tersenyum dalam hati, " Keluarga harmonis."
"Eh, omong-omong, kalau Dito dan Laras awet pacaran, pasti Laras sudah jadi ibu bhayangkari sekarang. Ha, ha, ha....."
Pandu, merekam perbincangan mereka. Jadi cinta pertama Laras adalah Dito, ehm Aldito. Sekarang dia seorang polisi.
Dari cerita mereka, berarti Laras pernah patah hati. Apakah Dito itu, mantan terindah Laras?
Beragam tanya kini berkecamuk dalam benak Pandu. Kisah masa lalu Laras secara kebetulan Pandu ketahui dengan cara tak diduga. Menguping pembicaraan orang.
Tanpa Pandu sadari, Laras berjalan ke arahnya disertai anak-anak. Juga si Kang Jamil itu.
" Mas Pandu melamun saja. Tolong dibantu membagikan minuman," seru Laras.
" Ehm, iya iya."
Pandu merobek kardus air mineral dan segera mengambil beberapa gelas untuk diserahkan pada anak-anak yang mengerubunginya. Dia juga membagi permen. Anak - anak semua duduk beristirahat.
Laras mengambil satu, menancapkan sedotan dan segera menghabiskan isi gelas plastik itu. Kang Jamil melakukan hal yang sama.
Lelaki itu meminta anak-anak membuat lingkaran seraya duduk. Dia mengambil tempat di tengah. Arahan dan motivasi diberikan pada anak didiknya.
" Hey, Laras!"
Mendengar namanya dipanggil Laras menoleh ke arah datangnya suara.
"Hei ...Sri? Eko?"
" Ternyata kalian di sini."
" Iya, kemarin kami baru pulang kampung."
" Laras, kamu tambah cantik."
" Aduh, makasih."
" Sri juga tambah cantik."
" Yang ada tambah gemuk, maklum sudah jadi ibu-ibu sekarang, ha ha,ha...."
" Tapi jadi lebih seksi, kan?" ujar Laras.
Tawa mereka pecah bersama.
"Jadi ini putri kalian. Lucu dan cantik."
" Kabarnya kamu jadi guru TK ya di sini?"
" Iya .."
" Ssstt, sudah ada pacarmu sekarang, Ras? Pasti udah, ya."
" Husssh...belum ada."
" Jangan keasyikan menjomblo. Ayo move dong kamu, Ras."
"Nggak usah lama-lama sakit hati dengan Dito. Jangan biarkan lagi hatimu hancur berkeping - keping.
"Iya, iya...."
"Ssssttt...ingat Laras, jangan menyimpan memori ciuman pertamamu. Ha ha ha," ujar sang perempuan, teman Laras itu.
__ADS_1
" Hush....ssst."
Laras membuat gerakan menutup mulut lalu mencubit pinggang temannya tadi.
Pandu yang masih mendengar percakapan mereka, menjadi tercekat. Tak urung dia mendehem dalam hati.
Laras dan dua temannya kembali tertawa. Gadis itu pamit karena harus segera bergabung dengan anak-anak.
Dua temannya itu juga mau pulang karena matahari mulai terik. Putri kecil mereka terdengar menangis, karena hari cukup panas.
Pandu hampir mendengar semua percakapan mereka. Rekaman tersimpan dalam benaknya.
Limabelas menit kemudian sesi kedua dimulai. Pertandingan bola sesungguhnya. Tim rompi hijau dan tanpa rompi.
Kang Jamil bertindak sebagai wasit. Laras duduk disamping Pandu. Disebelahnya ada empat anak sebagai pemain pengganti.
Sorak sorai penonton terdengar ketika tensi pertandingan meningkat. Satu gol tercipta. Laras bertepuk tangan disertai empat anak didiknya. Pandu mengikuti. Tepuk tangan. Laras mengajaknya berhigh five. Tentu Pandu senang. Tos juga dilakukan pada empat anak lain.
Laras berdiri saat seorang anak minta diganti. Gadis itu menunjuk satu anak yang terlihat bongsor. Berbicara sejenak lalu menepuk punggung anak itu sebelum dia memasuki lapangan.
Pemain lama keluar lapangan dan segera mengambil minum. Duduk dan memanjangkan kakinya. Laras memilih mengikuti arah bergulirnya bola dari pinggir lapangan. Jika bola out, gadis itu bakal mengambilnya dan menyerahkan kembali pada para pemain.
Sebuah gol nyaris tercipta. Kemelut di muka gawang. Namun berhasil di blok kiper. Sang striker menunduk lesu.
" Ayo..... Bian tetap semangat !"
Laras berteriak dan anak itu menoleh padanya. Laras membuat gestur dengan mengepalkan tangan kanannya.
Pandu memperhatikan dengan seksama. Laras sudah seperti pelatih profesional. Diam-diam semua itu menambah nilai plus Laras di hatinya.
Hingga hampir pukul sepuluh. Pluit panjang berbunyi. Pertandingan berakhir dengan skor satu lawan kosong.
Lapangan mulai terlihat sepi, karena cuaca mulai terik. Anak - anak diminta Kang Jamil buat membantu membersihkan sampah di sekitar lapangan. Lalu mengumpulkan di bak di luar lapangan.
Setelah melakukan ritual yang sama di akhir latihan, seperti evaluasi dan berdoa bersama, anak anak segera pulang.
Di akhir perjumpaan, Kang Jamil mengucapkan terimakasih pada dokter Pandu. Dia pamit pulang duluan karena harus mengantar ayahnya membeli beberapa peralatan buat membikin kolam lele dibelakang rumahnya.
Laras berjalan bersama Pandu menuju areal parkir. Gadis itu mengambil handuk kecil dari dalam ransel dan membersihkan keringat di wajah serta lehernya.
Sampai di dalam mobil, Pandu menyalakan air conditioner.
Laras duduk menyandarkan tubuhnya di kursi sebelah Pandu. Dia lalu meminum air berelektrolit, pemberian Pandu tadi pagi.
Matanya mulai terpejam. Sepertinya kelelahan, hingga sampai mobil berjalan belum memasang seatbeltnya. Suara alarm terdengar ketika mobil mulai jalan, namun Laras masih terpejam.
Pandu menghentikan mobil di pinggir sebelum belokan ke jalan raya. Suasana jalan cukup sepi. Dia menoleh ke arah gadis di sampingnya.
Lelaki itu perlahan ingin memasang seatbelt Laras. Karena gerakannya itu, membuat Pandu sangat dekat dengan wajah Laras. Meski jelas sangat lelah dan wajahnya sedikit memerah karena kepanasan, namun Laras masih tampak manis.
Debaran di dada Pandu tak mampu diredamnya. Dia benar-benar hendak mencium wajah Laras.
Ups...., tiba-tiba mata Laras terbuka. Dia terkejut demikian pula Pandu.
" Maaf, maaf....tadi aku hanya ingin memasangkan seatbeltmu."
" Hem, ehm......"
Laras memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak. Lalu menarik seatbelt dan memasangnya.
Pandu sedikit salah tingkah. Dia melanjutkan menyetir.
Suasana jadi hening.
Pandu melirik ke arah Laras. Gadis itu menatap ke depan. Terpekur.
" Apa dia jadi teringat si Dito itu ? Atau.....?Jangan-jangan Laras tahu kalau tadi aku mencoba menciumnya," batin Pandu.
Lelaki itu menjadi gelisah.
Sementara Laras pun berbisik dalam hatinya, " Apakah mas Pandu barusan mencoba menciumku?"
__ADS_1