Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 24. Ujian


__ADS_3

Bulan Mei telah memasuki pekan ke dua.


Hari-hari berlalu seperti biasa. Namun yang tak biasa adalah jalinan percintaan Pandu dan Laras. Ada berbagai warna di dalamnya. Meski gairah menggelora namun pertemuan diantara mereka berdua masih dalam batas masih wajar.


"Ini mas Pandu, sesuai janjiku. Lauk untuk akhir pekan. Satu rantang ayam kecap. Lainnya tempe dan kentang sambel balado."


Laras memberikan hadiah lain buat sang pacar ketika Pandu usai ngapel di malam minggu. Pukul setengah sembilan malam. Sudah larut, menurut ukuran di sana. Di kota besar, jam - jam itu justru dunia malam baru dimulai.


"Makasih ya, sayang."


Sebuah panggilan masuk ke ponsel Pandu. Pasien sesak nafas cukup berat. Ada gejala epilepsi. Dia merespon beberapa instruksi pertolongan pertama pada perawat dan bidan jaga.


Segera dokter itu pamit. Seseorang menunggu tangan dinginnya di ruang gawat darurat.


"Hati-hati, mas."


Hingga tengah malam, Pandu baru sempat berkirim pesan. Lelaki itu tak ingin membuat Laras cemas.


"Pasien sudah tertangani. Sementara rawat inap."


"Syukurlah mas. Istirahat ya."


"Ehm, ya. Kamu kenapa belum tidur?"


"Menunggu berita dari mas, khawatir harus mengantar untuk rujukan ke RS kota."


Pandu terharu.


"Ooh begitu, sekarang sudah tenang kan. Kamu tidur. Bukankah besok ada latihan bola?"


"Iya, mas tidur juga."


"Besok gak apa-apa, gak diantar latihan dulu. Mas istirahat saja.


"Oke. Aku sayang kamu."


"Aku juga sayang mas Pandu.


Lelaki itu membatin, ayo kita tidur bersama. Tentu di waktu yang sama tetapi tempat berbeda.


Malam itu kembali Pandu bermimpi menghabiskan waktu bersama Laras. Memadu kasih.


Pandu berterimakasih atas pengertian Laras akan resiko pekerjaannya yang kadang tak kenal waktu.


Hari Minggu pagi latihan bola dimulai seperti biasa. Kali ini penuh kejutan. Ada Dito.


Pandu sempat berkirim pesan tak bisa menemani latihan. Pasien semalam drop. Karena kondisi parah segera di putuskan tindakan darurat. Dokter itu mengantar untuk rujukan di RS kota. Sejak subuh tadi.


"Hey, boleh aku gabung?"


"Kang Jamil ada salam dari abang Rendi. Dia sudah punya istri dan anak, gimana denganmu?"


Jamil tersenyum tipis.


"Gimana kabar Laras?"


Gadis itupun hanya menjawab, "Kabar baik."


Jamil adalah teman seangkatan di sekolah menengah dari kakak sulung Dito.


Lelaki itu baru datang lalu menyapa kedua coach dan langsung duduk dekat tiang gawang dimana Laras melatih anak-anak. Style tetap rapi, perlente. Kacamata hitam membuatnya lebih mencolok dari para penonton latihan bola di tempat itu.


Laras memilih fokus pada menu latihan. Tendangan bebas, pinalti, sepak pojok. Hingga segala manuver menangkap tembakan bola dari segala sudut untuk dua kiper.


Aksi Dito sengaja ingin menarik perhatian Laras. Dengan bertepuk tangan, bersiul, bersuit - suit serta meneriaki Laras membuat Jamil pun tak respek.


"Ayo coach Laras!"


"Yes, good job!"


"Biarkan dia Laras. Abaikan saja. Ikuti kata hatimu!" Jamil menguatkannya.


Lelaki itu tahu pernah ada kisah diantara Laras dan Dito.


"Makasih kang."

__ADS_1


Laras memang mengabaikan kehadiran Dito. Meski godaan dalam dirinya tak pernah mampu dia tuntaskan. Lelaki itu masih tetap mempesona. Tampilan luarnya. Gadis normal manapun akan setidaknya menoleh padanya. Tetapi kini ada Pandu di hatinya.


Coach utama melatih strategi dengan pola-pola serangan dan latihan menggiring bola dengan berbagai halangan.


Pertemuan di stadion tempo hari membuat Dito penasaran. Rasa yang masih tersisa di hati turut mengantar kehendak bertemu sang mantan. Apalagi kini dia sedang kosong. Putus dengan teman sejawat yang telah dikencani hampir dua tahunan ini.


"Siapa tahu masih ada sisa rasa juga hasrat bersemayam di hati Laras."


Dito membatin.


Pesona sang pacar pertama. Ciuman perdana juga kisah penuh kenangan itu. Manis. Berakhir pahit terutama oleh situasinya saat itu.


Hingga saat latih tanding. Laras sengaja minta ijin Jamil agar dialah jadi wasit. Untuk setidaknya menghindari obrolan dengan Dito.


Jamil paham situasinya. Lelaki itu sudah seperti kakak bagi Laras.


Hingga akhir latihan. Setelah para pemain dan penonton pulang, tersisa mereka bertiga.


Percakapan pun terpaksa terjadi.


Dito pindah tugas ke kota yang lebih dekat dengan asalnya agar bisa turut menemani ibunya yang sering sakit. Diabetes dan sering keluar masuk RS di kota kabupaten. Kini penyakit beliau sudah terkendali. Kehadiran si bungsu kesayangan konon membuat ibunya membaik.


Dito lebih banyak menceritakan kisahnya pada Laras dan Jamil. Kepercayaan diri Dito di atas rata-rata memang. Tak lupa membanggakan prestasi, tentunya.


Laras mahfum.


Kang Jamil mengajak pulang. Laras memang tadi pagi berangkat dengan lelaki itu. Mobil pick up pelatih utama penuh barang perlengkapan. Jumlah bola ditambah. Juga beberapa butir kelapa hijau yang dipanen dari kebun sang ayah. Buat penambah energi anak-anak.


Kang Jamil pun mengetahui alasan Pandu tak muncul.


Dito memaksa ingin mampir ke tempat Laras. Mobil Jeep hitamnya siap mengantar. Sudah lebih lima tahun silam dia tak berkunjung. Terakhir kesana ketika ibu Laras masih ada. Setelah bolak balik di opname hingga cuci ginjal.


Sesungguhnya lelaki itu sempat berjasa pada Laras sekeluarga. Beberapa kali turut mengantar ibu cuci di RS kota.


Dito telah tahu ibu Laras meninggal saat pertemuan dua tahun silam. Saat reuni sekolah.


Lelaki itu menanyakan kondisi nenek. Laras tidak yakin apakah neneknya masih mengingat Dito atau tidak? Tetapi saat dia kelas tiga sekolah menengah atas, lelaki itu hampir tiap hari datang ke rumah Laras. Kadang sendiri lebih sering dengan satu atau dua teman gengnya. Belajar bersama, panen mangga atau jambu atau sekedar mancing di empang lalu singgah ke tempat pacar pertamanya.


Dito memang satu angkatan dengan Laras namun berbeda kelas. Sejak kelas satu sudah menjadi cowok popular. Komandan pencinta alam, paskibraka kabupaten, kapten tim basket. Soal ekstra memang jago, namun untuk akademik sih, murid standar. Hampir sama dengan Laras.


Keluarga Dito memiliki dua toko bangunan besar di kecamatan menambah nilai plus di mata cewek satu sekolah. Keluarga berada untuk ukuran daerah mereka.


Fakta berbicara lain. Dua cewek tercantik satu sekolah pernah mengaku korbannya. Sang pemberi harapan palsu.


Itu kisah lama. Masa remaja saat-saat hormon menjadi kuasa kita bertingkah laku. Gejolak masa muda. Hanya sebuah momen.


Berbeda kini. Ketika usia dewasa telah menyapa. Semua adalah tentang komitmen. Tanggungjawab. Pilihan dengan resikonya.


Kang Jamil sebenarnya mengerti Laras tak mau lama-lama bertemu sang mantan. Dia menyampaikan pada Dito bahwa dirinya dan Laras masih harus bertemu anak didik yang dulu pernah cidera.


"Kalau kamu nggak nyaman dengan kehadiran Dito, kita mampir ke rumah si Budi menengok kondisinya. Tulang kering kakinya yang di gips mungkin sudah membaik," bisik coach utama.


"Iya, kang. Sebal juga dengan tingkah Dito. Sok akrab. Caper."


"Ssst, stay cool. Orang seperti dia tak usah kita lawan. Lebih baik dihindari."


"Benar."


Kedua coach meluncur. Demikian pula Dito. Semula dia ingin mengajak Laras di mobilnya, tetapi gadis itu memiliki banyak alasan menolak secara halus. Dalihnya adalah diskusi taktik dan pola permainan dengan Jamil untuk laga krusial nanti.


"Duh, dia kok nggak ngerti amat ya, Kang ."


"Kalau dia masih cari perhatianmu terus, kamu katakan saja terus terang bahwa sudah jadi pacar Pandu."


"Ehm, iya. Makasih Kang."


Mobil Jamil mengarah ke dekat pabrik. Rumah Budi, sang anak didik. Jeep Dito malah lurus ke arah jembatan menuju desa.


Hampir satu jam kedua coach menengok Budi. Bocah itu sangat senang. Meski belum bisa bermain, mendengar tim mereka maju membuatnya bersemangat.


"Tahun depan, aku ingin main terus. Biar bisa cetak gol yang banyak!"


Kedua coach menyemangati agar Budi lekas pulih.


Budi dan bapaknya berjanji akan melihat laga nanti sebagai supporter.

__ADS_1


Sementara Dito nekad ke rumah Laras. Ngobrol dengan sang nenek. Kesana sini. Sebenarnya modus. Dia ingin menunggu Laras.


Sebagai teman lama sang cucu, lelaki itu mengisahkan cerita lama. Nenek sedikit mengingatnya.


"Nek, Laras memang suka pergi-pergi dengan Jamil ya."


"Iya. Kan sudah dianggap seperti kakak sendiri."


"Benar, nek? Apa mereka tak pernah saling suka?"


"Tanya merekalah. Urusan hati mana nenek tahu."


Cerita bergulir tentang keluarga Aska tetangga lima rumah dari sana, yang juga kerabat Dito. Kabarnya minggu depan salah seorang putri pak Aska bakal menikah. Nenek pun dengar beritanya.


Ketika Laras belum juga nongol setelah satu jam Dito minta pamit. Tak disangka bertemu Pandu di depan gerbang.


Tatapan keduanya bertemu. Nenek mengenalkan sang dokter sebagai teman Laras dan Jamil.


Dito ingat. Lelaki itu sempat melihatnya menarik tangan Laras buat menepi dari pinggir lapangan bola tempo hari.


"Ehm, kali dia bagian official tim mereka," pikir Dito.


Berbeda dengan Pandu. Dia mengetahui Aldito, nama itu masih terekam di kepalanya. Lelaki dari masa lalu sang pacar.


"Ada apa dia disini?" bisik Pandu di dalam hati.


Hingga Dito menghilang dengan jeepnya, Pandu masih menatapnya.


"Nek, saya mau menunggu Laras. Tadi sudah saya hubungi. Dia sedang di menengok muridnya yang sakit bersama Jamil."


"Baik, ayo masuk. Nenek buat minum dulu."


"Nggak usah repot, nek."


"Hanya secangkir teh, gak apa-apa."


"Terimakasih, nek."


Tak lama Laras terlihat turun dari pick up Jamil. Pukul setengah duabelas siang.


"Maaf ya mas jadi menunggu."


"Gimana kondisi Budi ?"


"Sudah membaik meski masih berjalan pincang. Urusan rumah sakit sudah selesai, mas?"


"Sudah."


"Syukurlah."


Tadinya Pandu ingin tanya soal Dito. Namun menatap wajah Laras yang kelihatan lelah, dia mengurungkan niatnya.


"Mas, aku ke dalam ganti baju dulu. Terus kita makan siang, yuk. Aku lapar banget."


"Iya."


Laras tampil memakai dress. Berganti dari kaos jingga dan celana olahraga panjang biru.


Gadis itu mengajak Pandu ke dapur, dimana bik Jum telah usai memasak. Nenek bergabung bersama mereka.


Dadar jagung manis, pepes ikan kembung bumbu kuning dan sayur bening bayam.


Sepanjang bersantap Pandu lebih banyak mencuri pandang ke arah wajah gadisnya.


Laras masih seperti biasa. Bercerita tentang latihan, si kecil Budi juga rencana laga berikutnya.


Pandu masih gelisah dengan dirinya. Adakah Laras tahu kalau Aldito datang dan berbincang akrab dengan sang nenek?


Setelah makan, Laras mengajak Pandu ke depan. Memanen jambu-jambu air yang telah ranum. Pandu memanjat ke dahan yang tinggi sementara sang gadis menunggu di bawah dengan membawa keranjang bambu.


Canda tawa keduanya sejenak membuat Pandu lupa akan kegalauan hatinya.


Bagi lelaki itu jika Laras tak bercerita mungkin saja gadis itu tak tahu ada Dito yang datang. Nenek pun sepertinya tak berkata apapun saat makan barusan.


Pandu menganggap pertemuan dengan mantan Laras itu sebuah ujian bagi dirinya. Apakah dia mempercayai Laras sepenuhnya atau ngotot ingin mendapat penjelasan yang justru tak ingin diuraikan oleh orang bersangkutan.

__ADS_1


Egois rasanya menuntut Laras untuk berkisah hanya untuk kelegaan pribadinya sendiri.


Pandu, Pandu....


__ADS_2