
Sabtu pagi Pandu sudah siap menjemput sang pacar. Kamera sudah dibawa. Penampilannya rapi. Kemeja batik berwarna biru tua dengan motif angsa berwarna gold. Celana panjang hitam.
Dia bertekad akan mengambil foto acara sekolah hari ini. Kamera siap dengan baterai terisi penuh karena sudah di charge semalam.
Semua dilakukan Pandu untuk memenuhi janji Pram dan juga agar Laras tidak kecewa.
Masalah hasil pemotretan bagus atau tidak, tak jadi soal. Pastinya Laras akan bisa mengerti.
Sementara Pram akan berangkat ke bandara jam sepuluh pagi. Sendirian. Kembali hanya bergantung pada aplikasi petunjuk arah yang terkenal itu buat jadi teman perjalanan.
"Ingat elu kudu hati-hati saat masuk jalan trans yang besar. Akhir pekan akan agak padat."
Pandu memberi pesan saat sarapan.
"Oke."
"Kabari gue kalo udah sampe bandara."
"Siap."
"Ehm, kabari mama juga."
"Udah tadi pagi."
"Gimana kata mama?"
"Hanya mau bicara setelah gue sampai di rumah!"
"Ya banyak berdoa aja. Moga papa nggak lagi bad mood. Kalau mana sih gue yakin bisa lebih tenang!"
"Gue harap juga begitu. Doain gue juga ya."
"Pasti. Tetap kontak gue gimana hasil sidang elu nanti!"
"Ehm...iya."
Pandu pamit. Pram menitip salam buat calon iparnya.
Setelah ke rumah menjemput Bu guru Laras, mobil Pandu meluncur ke TK.
Sang pacar mengungkapkan kisah Pram. Laras mengerti dan tak memaksa Pandu buat jadi fotografer dadakan.
"Gak apa-apa aku coba. Kemarin sudah banyak latihan dengan Pram!"
"Kasihan mas, ntar grogi."
"Percaya padaku ya. Nanti hasilnya gimana tolong dimaklumi."
"Iya....makasih mas mau berusaha."
"Buat kamu, apa sih yang nggak mas usahakan?"
Laras tersenyum. Pandu menggenggam jemari sang pacar sepanjang jalan menuju sekolah.
Anak-anak dan beberapa orangtua sudah berdatangan. Acara dimulai empat puluh menit lagi. Pukul sembilan tepat.
Bu Nur dan pak Yus tampak sibuk. Laras mengatur susunan acara dibantu pak Yus yang memeriksa peralatan sound system' sederhana. Mencoba mikrofon. Juga musik dari tape recorder yang akan dipakai mengiringi aksi para murid.
Panggung beralaskan karpet hijau dihias dengan backgound spanduk nama sekolah. Ada lampion merah dan gold serta rangkaian bunga mawar plastik berwarna warni, di kedua sisi panggung bertinggi satu meter dan berukuran lima kali tiga meter itu.
Pandu mencoba kamera yang dibawa. Mengambil beberapa moment. Tentu yang terbanyak adalah potret sang pacar.
Dengan celana panjang hitam dan batik berwarna merah maroon bergambar burung merak. Sepatu flat hitam. Rambut sebahu digerai rapi. Riasan wajah natural. Sederhana namun manis.
Pandu melihat hasil tangkapan layar. Lumayan, batinnya.
Dua bocah mendekati Pandu.
Budi yang telah pulih dari cidera kaki dan Kemal masih mengenali sang dokter. Mereka berdua ingin di foto bersama. Pandu setuju. Aksi bergaya kedua bocah berpakaian tentara dan badut itu cukup lucu.
Tawa keduanya pecah kala Pandu menunjukkan hasil foto.
"Nanti aku mau hasil cetaknya ya, pak dokter!" Budi berteriak senang.
"Aku juga!" tambah Kemal.
"Iya....nanti minta Bu guru Laras ya."
"Makasih pak dokter!"
Acara dimulai. Tampak Bu Ina sejawat Pandu. Putranya lulus tahun ini dari TK itu. Saling menyapa. Bidan senior itu memang mengenal sang bos di kantor adalah kekasih guru di TK itu.
Beberapa orangtua lain mengenalinya sebagai dokter kepala puskesmas.
Ada dua orang undangan dengan penampilan mencolok. Bu Candra wakil yayasan pengayom sekolah dan staf bagian umum dari pabrik, Bu Meiyanti. Modis dan up to date.
Kursi telah terisi penuh. Bu Nur dan dua undangan tadi serta Bu Ina di kursi tamu dengan meja di depannya. Anak-anak duduk di deretan kedua. Keluarga para murid di belakangnya. Penonton umum juga ada yang berdiri di belakang. Ada lebih dari seratus hadirin.
Laras bertindak sebagai pembawa acara. Suaranya cukup merdu tetapi tegas.
"Ehm, pacarku sungguh mempesona. Multi talent," bisik sang dokter.
Acara dimulai dengan tari penyambutan. Pidato sang kepala sekolah. Lalu dua lagu dari paduan suara TK A. Deklamasi. Pidato wakil orangtua. Penyerahan ijasah satu persatu dibatas panggung. Tepuk tangan bergemuruh.
Anak-anak tampil percaya diri dengan berbagai kostum. Aneka profesi. Juga baju adat. Lucu dan menggemaskan.
Para penonton banyak yang memotret dan merekam momen dengan kamera ponsel masing-masing.
Pandu tak melewatkan semua sesi.
Beruntung dia berhasil memotret semua anak. Juga sebagian besar aksi panggung.
Laras cukup lihai memandu acara. Beberapa kali mengomentari penampilan para murid dengan pujian dan canda. Mempersilahkan hadirin menikmati snack.
Aksi berikutnya gerak dan lagu. Dua gadis cilik berlenggak lenggok. Tawa ceria mengiringi penampilan mereka.
"Mas, sambil dinikmati snacknya juga. Itu pak Yus taruh di meja samping tape."
Laras menyempatkan mendatangi Pandu di sisi kiri panggung.
"Iya nanti aja. Lagi fokus. Paling banyak tadi motret pacar yang cantik!"
"Hush, ini acara sekolah."
"Tenang nanti kita save yang satu itu buat memori pribadi."
Laras tersenyum. Kembali ke depan mike yang berdiri tepat di pinggir panggung.
Pandu beranjak ke arah belakang. Mengambil angel dari depan. Mengarahkan kamera pada aksi pencak silat seorang murid lelaki yang kini telah lulus TK B. Terlihat mahir dan lincah.
Tepuk tangan meriah buat penampilan uniknya.
Acara terakhir pemilihan dan pelantikan ketua paguyuban orangtua. Dari Bu Ina diserahkan pada, Bu Tatik, ibunya Sari murid TK A yang kini telah naik klas.
Juga ada pembagian rapor anak klas A yang naik jadi TK B.
Penutupan kembali Bu Nur mengajak para penonton dan warga sekitar buat mendaftarkan putra putrinya yang telah cukup usia buat mendaftar jadi murid baru di TK A.
__ADS_1
Paduan suara terakhir para alumni. Semua murid TK B. Dua lagu anak-anak. Terimakasih Bu Guru serta Sayonara.
Pemotretan bersama seluruh siswa bersama dua guru dan penjaga sekolah di depan panggung menjadi penutup yang manis.
Pandu mengambil beberapa foto. Semua orangtua melakukan hal yang sama. Dari kamera ponsel hingga ada yang membawa kamera saku sederhana.
Pukul setengah dua belas acara usai.
"Mas, ini snacknya. Ayo habiskan," Laras datang membawa sekotak kue buat sang pacar yang duduk sendiri di sudut panggung seraya memeriksa layar penyimpan hasil foto.
"Ehm, kamu lumayan mahir jadi MC."
Lelaki itu minum segelas air mineral. Lalu makan sebuah kue bolu.
"Ya, MC kampung mas!"
"Sudah bagus buat pengalaman. Nanti kan bisa naik tingkat."
"Semoga saja."
Laras tertawa. Dia juga menikmati kue nagasari yang empuk buatan istri pak Yus.
Pandu lalu menunjukkan beberapa hasil pemotretan. Beberapa kali ibu guru itu tertawa melihat anak-anak.
"Mas lumayan. Cepat jago motretnya," puji Laras pada sang kekasih.
Setelah itu sang gadis minta ijin bergabung dengan Bu Nur di ruang guru.
Bu Nur masih berbincang dengan Bu Tatik dan Bu Ina. Membicarakan rencana program usulan orangtua. Laporan tahun lalu dan sisa dana.
Sementara Pak Yus bersama tiga orang lelaki lain membantu membongkar tenda. Membersihkan halaman dan menata semua peralatan. Sebuah mobil pick up tempat persewaan tenda dan kursi telah parkir depan gerbang.
Satu jam kemudian semua sudah beres.
Bu Nur menyempatkan berterimakasih pada dokter Pandu yang bersedia mendokumentasikan acara. Setelah itu beliau pamit duluan.
Laras dan Pandu berjanji segera mencetak foto dan digunakan sebagai dokumen dan memori di sekolah.
"Sang kepala sekolah nggak tahu gimana aku mendadak jadi fotografer gadungan. Tapi okeylah cukup lumayan hasilnya," batin lelaki itu.
"Ayo pulang mas, aku sudah lapar."
Laras mengajak sang pacar beranjak. Pak Yus sudah siap mengunci gerbang sekolah.
Dering ponsel Pandu berbunyi nyaring saat mereka baru duduk di jok depan mobil. Dari Pram, sang adik.
Sang gadis tersenyum dan terus menoleh ke arah kekasihnya itu.
"Hallo, ya ini baru usai."
"Udah boarding elu."
"Oke, ingat makan siang. Kabari gue lagi kalau udah sampe rumah."
"Ehm take care. Salam buat mama papa."
Hampir pukul satu siang. Tak lama kemudian sampai di rumah. Nenek menyambut mereka. Menyuruh membersihkan diri lalu makan siang bersama.
Menu istimewa. Rendang daging dan sayur oseng-oseng wortel buncis.
Laras bercerita tentang acara sekolah. Nenek sesekali ikut tertawa mendengar kisah sang cucu dalam mengomentari aksi para muridnya.
Pandu merasakan senyum kehangatan diantara dua perempuan beda generasi itu.
Setelah makan, Laras berganti pakaian.
Dia berganti pakaian di kamar mandi. Lalu kembali ke ruang tamu.
"Agak sesak gak apa-apa daripada aku pakai kemeja batik tadi."
"Apa pakai kaos oblongku yang agak longgar?"
"Gak ini juga sudah cukup. Ehm ada sisa aroma tubuhmu disini."
"Mas ini, mulai lagi!"
"Gak percaya, coba cium."
"Gak mau, modus! Sweater itu sudah kucuci dan setrika kok."
Pandu tergelak. Ketahuan akal bulusnya.
Laras mengajak sang kekasih panen beberapa mangga yang mulai ranum.
Di bantu bik Jum. Pandu mencoba naik ke dahan mangga. Meski sedikit susah tentu dia harus berusaha. Ada sang pacar yang harus dia buat agar terkesan.
"Mas itu yang sebelah kanan. Kelihatan mulai masak!"
"Iya ....iya. "
Tangan lelaki itu menggapai ujung dahan.
"Tangkap."
Pandu memberi aba-aba. Sekejap tiga buah mangga harum manis telah masuk keranjang.
Laras menunjuk lagi bagian di atasnya. Sang pacar naik setingkat lagi.
"Uhhh, semut ini mulai genit menggigit tanganku," keluh Pandu.
Tapi usaha keras tak boleh berhenti. Empat mangga setengah matang sudah ditangkap bik Jum.
"Sudah cukup mas. Sepertinya semut penghuni pohon mulai marah. Turun mas!"
Pandu lega. Bergegas menuruni dahan setinggi hampir enam meter lebih. Jemari kanannya menggaruk tangan kiri yang memerah.
"Aduh, gatal ya mas. Aku ambil minyak gosok dulu."
"Nggak usah tolong bantu digaruk saja."
Bik Jum hanya mesem. Perempuan itu pergi beranjak ke dalam. Memberi kesempatan dua sejoli itu bercengkrama.
Laras membantu menggaruk serta meniup tangan Pandu yang gatal.
Lelaki itu menikmati perlakuan sang gadis. Gatalnya sih gak seberapa bonus itu yang cukup enak.
"Masuk dulu nanti ku ambil minyak gosok."
Mereka kembali ke ruang tamu. Laras tetap memaksa mengambil minyak dan segera menuangkan sedikit di tangan Pandu.
Tak lupa jemari gadis itu masih ikut mengelus elusnya.
"Masih terasa gatal nggak mas?"
"Iya.... Aduh sepertinya ada yang masuk ke dalam sweater."
Pandu berpura-pura kewalahan menggaruk badan dan punggung.
__ADS_1
Laras spontan membantu.
"Bagian mana mas?"
"Ehm ini!"
Pandu menunjuk dadanya lalu perutnya. Tentu Laras tak berpikir ada modus lelaki itu.
Tiba-tiba pergelangan tangan sang gadis di cengkeram Pandu.
Lelaki meraih tubuh Laras dan memeluknya erat. Tawanya pecah perlahan.
Laras memukul dada Pandu perlahan. Baru tersadar kalau dia dikerjain.
"Mas.....awas ya. Lepaskan. Tolong."
"Hush jangan teriak. Nanti bik Jum dan nenek tahu."
"Please....lepasin mas.."
Volume suara Laras mengecil. Memohon. Pandu bukannya melepaskan malah mencuri kesempatan buat mencium wajah Laras.
Lelaki itu gemas melihat sang gadis. Minta pelukan di lepaskan tapi pasrah dan tak berontak. Berarti dia juga senang dengan aksinya
"Sudah kita tuntaskan ya."
Pandu menciumi lagi wajah sang gadis. Desiran di dada membuatnya lebih bergairah.
Kali ini Laras sekuat tenaga melepaskan diri.
"Aduhhh....mas. Jangan. Nanti ada yang lihat. Malu!"
Pandu masih tersenyum menggoda. Laras menatapnya mesra. Sejenak. Lalu kabur ke dalam membawa minyak gosoknya.
"Memori hari ini sungguh indah. Coba tiap hari bisa begini.... ," gumam Pandu.
Gadis itu kembali membawa dua mug berisi air putih.
"Ayo minum mas."
Pandu masih menatap penuh arti. Laras jadi salah tingkah.
"Mas, nggak usah main badminton ya. Tangannya tadi kan digigit semut."
"Gak apa-apa. Katanya kamu ingin mengalahkanku. Raket ada di bagasi."
"Kapan-kapan saja. Maaf ya aku sedikit capek. Besok pagi melatih bola juga."
"Okelah. Terus ngapain kita setelah ini?"
"Lihat hasil foto tadi aja."
"Hem, biar lebih lega besok kita lihat di laptopku saja. Sekalian edit sebelum di cetak. Setelah melatih, kamu harus mau ke tempatku. "
"Bawa laptopnya kesini aja."
"Masa aku harus bawa printernya juga. Di rumah ada sisa kertas buat cetak foto. Sekalian kita coba."
"Gini aja. Mas bawa laptopnya kemari. Nanti simpan di flasdisk. Aku yang akan mencetaknya di kios dekat pasar. Itu kan jumlah fotonya banyak."
"Karena aku sudah memotret dengan sekuat tenaga, harus mau dong pakai caraku. Setuju?"
"Uhhh, minta imbalan ya."
"Fotografer juga harus dibayar."
"Nggak ikhlas ya."
"Bukan, biar kamu juga bisa menghargai usahaku."
"Mulai deh, kita lihat besok aja deh mas!"
"Jangan marah dong, jadi jelek."
"Nggak apa jelek, situ juga mau sama aku!"
Gadis itu memasang wajah jutek. Pura-puralah.
Pandu tertawa. Laras ..Laras.
Benar kata Pram. Cewek itu banyak yang jinak-jinak merpati, batin Pandu.
"Melamun dan menyesal mau pacaran dengan gadis jelek ini?"
Pandu bangkit dan memeluk gadisnya, "Jangan suka begitu. Mas tambah gemas! Nanti mas cium paksa lagi."
"Coba kalau berani!"
Laras melepaskan diri dan berlari kesamping rumah lantas ke halaman belakang.
Pandu tertawa. Nantang nih cewek.
Lelaki itu mengikuti dengan berjalan santai. Nggak mungkin mereka kejar kejaran. Nanti nenek dan bik Jum yang sedang di toko malah tahu.
Laras sudah menatap buah-buah pisang yang akan dipanen besok. Seperti menghitung jumlah tandannya.
Pandu sampai di tempat dan baru teringat janjinya pada nenek. Mau bantu panen pisang setelah menemani Laras melatih bola.
"Gagal deh, ngajak Laras ke rumah dinas."
"Ehm, banyak juga besok kita panen!" kata lelaki itu pada gadisnya.
"Iya, mestinya bisa dijual juga ini!" Laras menjawab.
"Kata nenek mau dibagikan ke tetangga."
"Mas, hampir semua rumah disini ada pohon pisangnya. Bisa bosan mereka."
"Tanya nenek dulu ya."
"Coba nanti malam aku bilang. Daunnya juga bisa dijual. Ada tuh pengepul yang ambil ke lokasi. Lumayan buat nambah modal toko."
Laras masih menatap ke pepohonan pisang aneka jenis itu. Ada hampir dua puluhan.
Pandu terdiam. Kehidupan sederhana Laras dan nenek yang membuat dia tersadar. Betapa jauh berbeda dengan hidup keluarganya di Jakarta.
Tapi inilah yang membuatnya makin mencintai Laras. Kebersahajaan yang nyata.
Pandu tiba-tiba teringat akan sebuah buku tentang stoikism. Sebuah filosofi hidup tenang dan sederhana namun penuh makna.
Dia berjalan mendekati sang kekasih. Berdiri di belakang Laras. Memeluk perlahan tubuh gadis itu. Kali ini bukan lagi tentang gairah.
Pelukan kasih sayang. Laras menyambut tangan Pandu yang melingkar di pinggangnya. Laras menoleh lalu mereka saling menautkan jemari.
Pandu mempererat pelukan. Mencium rambut sang gadis. Sungguh berbeda. Damai dan indah. Sejenak mereka tenggelam dalam koneksitas emosi yang mendalam.
"Aku mencintaimu, Laras. Sepenuh hati."
__ADS_1
"Aku juga, mas. Terimakasih."