Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 18. Permainan rasa


__ADS_3

Hari Minggu sore, Pandu kembali ke tempat kerjanya dengan pesawat terakhir ke tujuan tersebut.


Seharian di rumah dari pagi hingga siang diisi dengan berenang beberapa putaran, ngobrol saat sarapan hingga menikmati ruang pribadi di kamarnya.


Juga memeriksa koleksi anggreknya di taman belakang. Dulu itu menjadi kegiatan favorit Pandu untuk melepaskan beban studi yang cukup melelahkan. Kini mama dengan terpaksa melanjutkan hobi si sulung itu. Meski tak seindah waktu dulu, setidaknya masih dirawat agar tak tinggal sebagai kenangan.


Papa mama meminta Sandra mengantar putranya ke bandara. Itu karena mereka ada undangan resepsi pernikahan teman kantor mama. Pram pun tidak bisa mengantar dengan alasan keluarga Bella memintanya ikut membantu kepindahan sang pacar ke apartement baru. Pak Beno supir keluarga mereka, juga berhalangan.


Sesungguhnya Pandu ingin menaiki taksi online saja. Namun mama memaksa agar dia mau diantar Sandra. Diam-diam Pandu merasa ini adalah bagian skenario perjodohan.


Perjalanan sepanjang dua jam lebih menuju bandara diisi dengan obrolan ringan. Setelah dijemput di rumah, Pandu mengambil alih kemudi sedan mewah Sandra.


Penampilan Sandra yang seksi, sesungguhnya membuat Pandu sedikit risih.


Rok jeans biru berukuran sangat pendek dan tank top dari merk fashion ternama yang mahal. Beralas kaki wadges trendy. Jangan ditanya riasan wajahnya. Tetap glowing maksimal.


"Ehm, kamu hanya bawa satu ransel saja?"


"Iya."


"Tak beli oleh-oleh ?"


"Tidak."


"Buat anak buahmu kek, atau yang lagi nungguin di sana."


"Tidak perlu."


Pandu paham Sandra mulai mengorek info lebih lanjut.


"Kalau akhir pekan suka main kemana sana?"


"Paling lihat sepakbola antar desa."


"Aduh, apa nggak ada yang lain?"


"Maksudmu?"


"Ke kota kek, lihat bioskop atau nonton konser. Ke mall atau gym. Ada restoran bagus, klub atau diskotek di sana? Di kota terdekat?"


Pandu mahfum. Gadis kota tulen seperti Sandra pasti tak akan betah di tempat seperti lokasi kerjanya saat ini.


"Konser dangdutan sering."


Pandu menjawab sekenanya.


"Wuih, jadi turun selera dong. Aku tahu dulu kamu penggemar musik rock."


"Kan ada versi dangdut rock, ha ha ha..."


"Oke."


Percakapan beralih tentang kasus medis yang paling sering Pandu tangani. Kemudian fasilitas kesehatan atau pun birokrasinya mengingat lelaki itu seorang abdi negara.


Sebenarnya ngobrol dengan Sandra bisa nyambung karena mereka punya latar belakang sama. Tetapi Pandu merasa sedikit membosankan. Itu-itu melulu.


"Boleh kan aku sering ngontak kamu?"


"Iya, tapi jangan di jam kerja, please."


"Pasti dong."


"Kamu agak kurusan, emang siapa masakin disana."


"Ada."


"Siapa?"


Sandra mendesak. Kali ini dia terus menoleh ke arah Pandu.


"Perempuan cantik, namanya Siti."


"Oya?"


Pandu sengaja menggoda Sandra pengin lihat responnya.


Nada suara gadis itu meninggi.


"Emang menunya apa saja kok kamu jadi kurus begini?"


" Tiap hari menu spesial pakai hati."


Pandu menahan tawa. Maksud dia pake hati ayam, hati sapi, hati kambing, mungkin.


Sandra terdiam.


"Apa pekerjaanmu disana berat ya?"


"Di bilang berat, ya bisa."


"Pastinya iya, karena daerah terpencil. Udah gitu kemana-mana jauh, nyari


apa-apa juga sudah."


Sandra sok menganalisa. Padahal semua pilihan pekerjaan pasti ada resikonya.


"Lagian pasti kamu kelelahan."


"Tidak juga."


"Masa? Bukannya kamu, kudengar tinggal di rumah dinas belakang kantor?"


"Bener."


"Itu maksudku, pasti kamu seolah-olah harus stand by duapuluh empat jam."


"Ah, itu resiko. Pekerjaan medis bukannya begitu?"


"Pandu, Pandu kamu tuh masih aja sama seperti dulu."


Sejenak suasana hening.


Sandra sebenarnya sadar Pandu tak banyak berubah. Meski tak seganteng dan se -atletis Jeffry, lelaki itu cukup cocoklah buat dia. Keluarga mereka juga saling mengenal dengan baik.


Sebenarnya Sandra lebih suka cowok sedikit bad boy, agresif dan macho.

__ADS_1


Apa daya setelah memiliki pengalaman dengan banyak lelaki, ternyata buat jenjang yang lebih serius, orang seperti Pandu lebih aman. Tak banyak tingkah. Bisa dikontrol dan cenderung konservatif. Meski harus di poles banyak urusan tampilan.


Bad boy di awal memang menantang, memacu adrenalin. Jika naik level ternyata menyimpan banyak kejutan yang bikin hubungan jadi penuh pressure. Tak bisa stabil. Apalagi jika kena problem selingkuh. Uhhh........! Pelanggaran komitmen yang tak bisa di tolerir. Itu yang terjadi dalam relasi dengan Jeffry, hingga tiga bulan lalu dia mengembalikan cincin pertunangannya.


Sementara, Pandu terdiam. Dia malas balik bertanya, tentang maksud perkataan Sandra yang terakhir. Terutama kalimat kalau dirinya masih seperti yang dulu.


Lelaki itu mengalihkan pembicaraan tentang klinik Sandra.


Gadis itu bercerita dengan antusias. Dia membeli franchise sebuah brand terkenal. Langganan kalangan atas. Juga investasi di dalamnya serta strategi marketing yang dijalankan. Sampai ke perhitungan dan analisa kapan break event poin.


Pandu hanya sedikit menyimak. Banyak terdiam dan pura-pura fokus mengemudi.


"Gimana menurutmu?"


Pandu tergagap. Cerita gadis itu barusan masuk telinga kiri keluar telinga kanan bagi Pandu.


"Bagus. Moga sukses."


Jawaban standar, agar Sandra tak kecewa.


"Ada saran mungkin ?"


Pandu menjawab sekenanya," Promosi lebih di gencarkan."


Sandra senang Pandu merespon ceritanya.


Sampai di bandara Pandu minta Sandra tak perlu mengantar sampai pintu masuk. Dia akan turun di pinggir run way areal keberangkatan.


Pandu menyuruh gadis itu segera pindah ke belakang kemudi. Alasan utama agar Sandra tak lelah karena harus menyetir sendiri saat pulang.


Sandra yang semula ngotot ingin mengantar terpaksa mengalah. Nada tegas Pandu barusan cukup membuatnya mengerti. Padahal dia masih ingin lebih lama bersama lelaki itu. Toh waktu take off masih lama.


Gadis itu hanya menitipkan sebuah tatapan penuh arti pada Pandu, dan satu kecupan di pipi kiri lelaki itu saat dia akan turun.


"Thank you, kamu antar aku!"


"Oke, take care and see you."


Sandra memacu mobil menjauh dari Pandu yang langsung menuju pintu masuk.


Sepanjang penerbangan hampir satu setengah jam di udara dan dilanjutkan di darat hampir dua jam, Pandu lebih banyak tertidur. Dia berharap Laras hadir jadi bunga tidurnya.


Hiburan Pandu sebelum memejamkan mata hanya melihat beberapa potret Laras kala melatih bola. Juga foto dia sewaktu kecil yang lucu.


Harapan dan doa Pandu agar Laras mau hadir dalam tidurnya. Dalam istirahat malam setelah hari hampir berganti.


Apa daya harapan tak terkabul. Malah dia mimpi Sandra memaksa agar menciumnya. Di sebuah tempat, ehm seperti di villa. Akhirnya dengan agresif Sandra berhasil menaklukannya. Walau Pandu semula menolak, tapi di akhir kisah dia mengalah. Jadi obyek hasrat gadis itu, meski tak sampai terlalu jauh karena mama memergoki mereka. Nyaris saja.


Aduuhh.... Pandu merasa bersalah pada Laras, ketika terbangun keesokan harinya. Untung semua adegan itu mimpi belaka.


Hari Senin pagi, lelaki itu sudah siap lagi menjalankan tugas. Meski masih lelah dia harus profesional. Secangkir kopi susu instan tadi turut membantunya mencegah kantuk.


Hari ini tak ada kasus spesial. Hanya beberapa pasien dengan gejala yang umum. Batuk pilek, demam, alergi makanan.


Hingga sore selepas jam kantor, Pandu ingin menelpon Laras.


Lagi-lagi tak ada jawaban. Malah ponselnya tak aktif. Pandu tak dapat lagi menahan kerinduannya. Dipacunya mobil sedan mungilnya ke rumah Laras.


Tak sampai setengah jam.


"Ayo masuk nak Pandu. Katanya pulang ke Jakarta," sapa perempuan paruh baya itu.


"Ya bik, kemarin baru sampe. Ehm, Laras ada bik?"


"Itu, lagi latihan senam di halaman belakang."


"Syukurlah, " batin Pandu.


Barusan dia sedikit khawatir jangan-jangan Laras bersama Jamil berdiskusi masalah kompetisi bola lagi.


Kenapa selalu prasangka itu yang muncul. Padahal sebelumnya Jamil sudah mulai dia keluarkan dari daftar saingan.


Pandu tahu karena Jamil sepertinya sering malah memberi kesempatan buat Laras berduaan dengannya. Tatapan Jamil pada Laras yang kerap dia selidiki, tak segenit lirikan Alvin pada gadis itu.


Duh, segitunya detail yang harus Pandu rekam dalam ingatan.


"Kok bengong? Bibik pangilkan Laras atau nak Pandu sendiri yang mau ke halaman belakang ?"


"Biar saya temui dia, bik."


"Sana lewat samping jemuran belok kiri," lanjut bik Jum memberi arah rute.


"Makasih, bik."


Pandu memang belum pernah ke halaman belakang secara langsung. Dia hanya mengintip dari jendela dapur untuk tahu ada pohon pisang berbaris di sana.


Lelaki itu berjalan sesuai petunjuk rute. Meski rumah Laras kecil, namun halaman depan dan belakang cukup luas, sekitar sepertiga hektar.


Pandu sampai di halaman belakang. Laras tak melihatnya. Posisi membelakangi Pandu. Memakai celana selutut berwarna hitam, tank top merah. Tapi tak beralas kaki.


Pandu menikmati pemandangan di depannya. Gerakannya lentur, senam standar. Tangan, kaki, juga skot jam. Seksi.


Sampai saat gadis itu mencoba untuk gerakan kayang. Tentu matanya akan melihat arah dibelakangnya.


Sedikit terkejut hingga mau terjatuh, begitu tahu Pandu berdiri seraya tersenyum, di belakang punggungnya.


Sebelum terjatuh ke tanah, spontan Pandu menyangga tubuh Laras. Tangan dan lengan kanannya memegang punggung bawah gadis itu. Mirip gerakan dansa. Sejenak mereka saling menatap.


Ehm, karena posisi tadi, sebagai dokter Pandu jadi mampu memperkirakan ukuran dada gadis itu. Cukup normal dan berisi.


Hush, mikirin apa aku ini, elak Pandu dalam hatinya.


"Aduuhh, mas Pandu bikin kaget aja!"


Segera Laras menggambil posisi berdiri dan menjauh.


"Lho, bukan bilang makasih. Kalau nggak kusangga barusan, kamu akan jatuh. Pinggangmu bisa cedera."


"Ehm ... aku tahu."


"Bilang makasih dong," goda Pandu.


"Iya... thank you very much."


"Nah itu baru sportif."

__ADS_1


"Ada apa kesini?" tanya Laras, kumat juteknya.


Tapi Pandu senang, moga dia sudah normal lagi. Tidak jaga jarak dan menggantung perasaannya. Dia sudah tak berprasangka ada dalam permainan rasa yang tak jelas.


"Kangenlah. Kamu nggak jawab telponku."


"Ponselku lagi di charge di kamar dan kumatikan. Baterainya sering drop akhir-akhir ini."


Pandu makin senang gadis itu udah mulai banyak bicara lagi padanya.


"Ayo masuk, aku haus."


Laras yang lugas membuat Pandu terbiasa.


Gadis itu mendahului langkah Pandu. Segera masuk ke dapur. Agak lama. Ketika keluar, Laras telah menambahkan kardigan tipis warna marron di tubuhnya. Dua gelas air putih di mug berwarna putih dibawa dengan kedua tangannya.


"Silahkan diminum," katanya seperti pada dirinya sendiri, karena gadis itu langsung meminum air dari mug yang masih dia pegang di tangan kiri.


Pandu tersenyum memandangnya.


"Kapan mas Pandu kembali?"


"Sampai puskesmas hampir tengah malam."


"Pasti lelah dong."


"Iya sedikit. Tapi sekarang sudah ketemu kamu jadi hilang lelahnya."


"Jangan bohong, mas. Wajahmu terlihat masih lesu begitu."


" Oya? Berarti kamu mengamati wajahku terus. Biar menurutmu masih terlihat lelah tapi tetap ganteng, nggak?"


"Aduh, kumat. Tentu Chris Evan lebih ganteng dong, ha ha,ha."


"Ayolah, aku kan produk lokal jangan bandingin dengan yang impor dong."


"Iya...iya bercanda. Baru pulang dari Jakarta jadi pemarah."


"Nggak marah, kalau buat perbandingan itu kriteria harus jelas. Ada batas syarat dan ketentuan berlaku.


"Baik, pak dokter. Eh ...mas Pandu."


Laras, membatin Pandu senang banget membahas hal yang gak penting kayak begini. Semua dilihat dengan detail kayak pake mikroskop.


"Oya, oleh-oleh mana nih?"


Pandu terhenyak. Tadi siang Sandra juga membahas tentang oleh-oleh. Tapi dia tak menggubris. Sekarang Pandu menyesal tak membawa apapun buah tangan setelah bepergian jauh.


Semoga Laras, tak berprasangka kalau dia pelit atau tak perhatian.


"Besok mas bawakan."


"Pasti nggak bawa oleh-oleh dari Jakarta. Besok paling mas belikan sekitar sini saja. Ya nggak spesial dong.


Mak jleb. Laras berhasil lagi membaca pikiran dia.


"Ya sudah, mas Pandu pergi dan kembali lagi dengan selamat, itu udah lebih dari oleh-oleh yang berharga.


Sungguh bijak, Pandu terharu dengan kalimat Laras barusan.


"Makasih ya pengertianmu. Kapan -kapan kalau pergi jauh lagi, mas janji pasti bawain oleh-oleh.


"Nggak perlu dianggap serius atau dimasukkan ke hati, tadi cuma bercanda aja."


Pandu terus mengarahkan pandangannya pada Laras. Dalam batinnya mencatat walau Laras berpenampilan polos dan sederhana, tindakannya lugas cenderung blak-blakan tetapi dia bisa bijak dan memiliki empati yang baik.


Laras menanyakan kegiatan Pandu selain merayakan ultah sang mama.


"Memeriksa koleksi anggrekku."


"Ehm ya, mas pernah bilang hobi berkebun."


Pandu senang Laras mengingat hobinya. Itu berarti gadis itu perhatian.


Pandu berkisah bahwa selama di Jakarta dia hanya melepas kangen pada papa mama dan sang adik.


Lelaki itu memperlihatkan potret terakhir keluarganya yang tersimpan di ponselnya. Hasil jepretan saat pesta Sabtu kemarin. Mereka berempat pake seragam batik Keris yang elegan.


" Mama mas Pandu cantik ya."


"Makasih."


" Ini adik mas?" tanya Laras sambil menunjuk Pram.


"Iya. Itu Pram."


"Wah, kok gantengan adiknya?"


"Apa?"


Secepat kilat Laras menjawab, "Dua- duanya sama, ganteng seperti papa mas."


Pandu tertawa. Dia tahu Laras ingin menghiburnya saja.


Kalau mau jujur, memang banyak yang bilang kalau Pram lebih jangkung, gagah dan atletis dari diri sang kakak.


Itu karena adiknya hobi basket dan rajin nge-gym sejak dulu. Pandu malah hobi belajar terus dan merawat aneka anggrek.


Giliran Laras yang bercerita tentang rencana kompetisi. Dua minggu lagi. Ada enam belas tim. Memakai sistem gugur setengah kompetisi. Berlangsung di stadion kota kabupaten. Dia kebagian mengurus konsumsi. Kang Jamil mempersiapkan transportasi serta seragam juga kelengkapan lain.


Bantuan dana didapat dari kas desa dan kecamatan. Ada juga sedikit tambahan dari pabrik, mengingat hampir sebagian besar pemain cilik itu adalah para karyawan di sana. Ada empat anak TK dan dua belas anak SD, kebanyakan klas dua dan tiga.


Pandu berjanji akan turut membantu semampu mungkin. Laras pun berterimakasih.


Kegiatan di sekolah TK bakal ada pawai hari Kartini di alun alun kecamatan dekat kantor dinas pendidikan lima hari lagi. Laras jadi ingat Gaby. Menurut kabar gadis kecil itu kondisinya membaik dan masih menyisakan satu sesi kemo lagi.


"Aku rindu dengannya. Lama tidak dapat menjenguk karena kesibukan melatih bola."


"Kita doakan Gaby cepat pulih. Dapat sekolah dan bermain lagi dengan teman-temannya."


" Kalau dinas ke RS kota lagi, aku titip buku buatnya, ya."


"Pasti, sepertinya Kamis ini ada rapat update untuk program imunisasi balita. Nanti ku kabari ya."


Pandu jadi teringat karena Gabylah, dia dan Laras jadi kenal dan berteman dekat seperti sekarang.

__ADS_1


__ADS_2