Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 25. Rencana mama


__ADS_3

Persiapan laga perempat final bagi tim anak-anak berlangsung penuh keseruan. Siapapun warga desa senang karena prestasi ini jarang terjadi. Tahun lalu mereka hanya juara dua kecamatan.


Untuk penyelenggaraan tahun ini kecamatan itu mengirim dua tim. Sang juara satu dari desa lain justru tumbang di babak awal. Mereka dapat undian langsung bertemu dengan sang jawara tahun lalu. Juara bertahan, tim desa yang dekat kota kabupaten.


"Persiapan teknis sudah maksimal. Tinggal mental anak-anak semoga tetap kuat!" sang coach pelatih berkata pada asistennya, saat usai latihan terakhir.


"Benar, kang. Lawan kali ini cukup tangguh. Sang runner up tahun lalu."


"Dukungan supporter bertambah. Bis satu lagi pinjaman dari pabrik."


"Jadi usaha ayah Sofyan berhasil. Beliau meminta ijin sang atasan untuk meminjam kedua bis pabrik. "


"Ya, sudah terkonfirm tadi pagi."


"Kita dari puskesmas memberi sumbangan susu kotak anak-anak dua dus."


Pandu menambahkan, bahwa laga Sabtu sore lusa nanti bakal dipenuhi karyawan tempatnya bekerja dan para keluarganya.


Jamil pun mengharap dukungan dari guru dan murid-murid lain di sekolah. Tak lupa Laras melakukan hal yang sama di sekolah. Empat dari enam belas anggota tim adalah anak kelas TK B. Meski lebih banyak berposisi pemain pengganti, mereka tetap semangat.


Jumat pagi sebuah video call dari mama membuat Pandu terkejut.


Mama menyampaikan bahwa beliau akan menengok sang putra yang hampir telah sepuluh bulan ini bertugas di sana.


"Senin pekan depan mama ada simposium nasional ahli patologi klinis di Medan. Jadi sekalian mampir."


"Ehm, mama berangkat kapan?"


"Sabtu pagi. Tolong jemput di bandara.


Pandu membatin. Rencana untuk mendampingi Laras dan timnya berlaga bakal berubah.


"Kenapa bengong?"


"Eh, Hem."


Tak mungkin mengatakan ke mama kalau dia sudah memiliki rencana.


"Mama sudah mendengar dari Pram. Kamu mulai pacaran dengan gadis setempat. Mama ingin tahu dan kenal."


Deg. Dasar Pram.


" Padahal sudah aku katakan jangan sampai mama tahu dulu soal Laras. Biar aku cari waktu terbaik menyampaikan pada mama dan papa."


Pandu tak henti membatin dan menyesal memberi tahu bahwa dia sudah punya Laras, pada sang adik. Itu pun keceplosan karena Pram kerap menggodanya sebagai lelaki naif yang hidupnya kesepian. Ketika dia tak menerima isyarat Sandra yang agresif untuk mendekati sang kakak.


"Awas, kau Pram!" desah Pandu di hatinya.


"Wah, benar kata adikmu. Kamu terlalu sering bengong. Melamun jika diajak berbincang. Hey, kamu kenapa Pandu?"


Mama melihat ekspresi di sulung yang berubah dari layar ponselnya.


"Hem, ehm....mama rencana datang sendiri kan?"


"Tadinya Sandra mau ikut tetapi batal. Mamanya opnam sejak kemarin karena infeksi lambung."


Uhh, Pandu sedikit lega. Beruntung Sandra tidak ikut.


Sudah beberapa kali ini panggilan telepon, video call atau chat dari gadis itu diabaikannya. Alasan adalah ada pasien gawat. Sedang ada di jalan, tugas ke rumah pasien atau rapat. Itupun dia balas setelah berjam-jam berlalu. Kadang dia malah tak merespon sama sekali.


Mungkin Sandra sudah cerita reaksinya itu ke mama Pandu.


"Masa tiap hari atau tiap malam ada pasien gawat. Seperti ada endemik saja!"


Sandra menjawab chat balasan Pandu dengan kesal. Beberapa hari lalu.


Sandra tahu sepertinya memang Pandu sengaja membuatnya sebal lalu mengharap gadis itu tak lagi berminat mengejarnya.


"Oh, jadi begini permainanmu, Pandu. Kamu harus tahu siapa aku!"


Dokter Pandu sampai ngeri membaca chat terakhir dari Sandra.


"Gawat nih gadis, gak peka. Ehm jangan-jangan psiko. Ih..!"


"Tuh kan, melamun lagi. Pandu, Pandu mama memang harus menengokmu."


"Iya, iya. Ma."


"Apakah jatuh cinta membuatmu banyak ngelamun? Hati-hati pekerjaanmu terabaikan."


"Nggaklah, ma."


"Mama dengar semuanya. Mama penasaran se istimewa apa gadis bernama Laras itu hingga Sandra kau cuekin."


"Aduh, ma..."


"Lho, memang benar kan? Apa kurangnya Sandra di matamu?"


"Mama, tolong. Ini masalah perasaan."


"Tahu, mama paham. Tapi cinta itu bukannya tanpa logika."


"Maksud mama?"


"Kamu pasti sudah paham itu!"


Kembali Pandu terdiam. Bibit, bebet, bobot. Itu akan jadi topik mama.


Memangnya hanya Sandra yang memenuhi ketiga kriteria diatas dengan nilai sempurna?


Tak semua masalah hanya dilihat dari segi rasional. Apalagi menyangkut percintaan. Menurut Pandu, dia nyaman dengan Laras. Gadis itu pun tidak memiliki track record yang negatif. Memang dari segi keberadaan secara materi, ada perbedaan jauh diantara mereka. Hanya itu. Tak jadi masalah bagi Pandu. Toh dia jatuh cinta pada Laras karena karakter baik gadis itu. Bukan melulu tampilan luarnya. Lelaki itu lebih memilih berprioritas pada esensi. Tidak sekedar eksistensi demi pencitraan semata.


"Sudah ya, pokoknya mama pengin tahu gadis itu secara langsung!"


Usai percakapan itu Pandu memutar otak.


Waktu mama hanya sehari. Minggu sore telah berangkat ke Medan.


Sang mama berangkat dengan pesawat jam sepuluh kurang dari Jakarta. Jadi sampai sekitar pukul dua belas. Pandu berencana mengajak beliau berkeliling kota propinsi dahulu. Setelah itu akan mengenalkan pada Laras saat gadis itu mendampingi tim di stadion. Setengah empat sore laga perempat final bakal dimulai.


Ehm, mungkinkah itu?


Pandu mulai gelisah. Jika skenario diatas gagal, rencana kedua dilancarkan. Siapa tahu mama gak mau diajak nonton bola.


Pandu mengajak keliling mama di ibukota propinsi, lalu ke kota kabupaten seraya menjemput Laras di stadion setelah pertandingan sepakbola. Bersama mereka akan pulang. Mama pasti ingin tahu puskesmas tempatnya mengabdi. Sebuah desa yang juga daerah tempat tinggal Laras.


"Aduh, kenapa kedatangan mama bersamaan dengan laga penting itu?" bisik sang dokter di hatinya.


Pikiran Pandu pun melayang. Menerka bagaimana nanti reaksi mama bertemu Laras. Atau gimana pula tanggapan sang pacar akan rencana kedatangan mamanya.

__ADS_1


"Duh, kenapa jadi over thinking begini?"


Urusan pekerjaan masih dapat terhandle dengan baik. Dia masih mampu tegas dan bertindak cepat. Untuk urusan perasaan, ternyata lebih kompleks, kerap membuat galau. Pandu terlalu berhati-hati karena tak ingin mengecewakan orang lain. Apalagi seseorang yang dia sayangi.


Pandu ingin segera bertemu sang pacar. Selepas jam kantor dia meluncur.


Sampai di rumah sang gadis, bik Jum yang sedang menyapu halaman mengatakan bahwa Laras latihan berlari ke empang.


Pandu meminjam motor Laras menyusul ke sana. Sedan mungilnya memang tak akan bisa melintas jalan setapak setelah tikungan desa yang mengarah ke lokasi.


Gadis itu sedang berolahraga sore dengan mengelilingi empang. Ada tiga remaja putra memancing di arah berlawanan. Seorang bapak dan anak kecilnya mencoba peruntungan memancing di dekat pintu masuk.


Pandu melambaikan tangan. Laras membalasnya dan berlari ke arah jalan masuk.


Dengan nafas tersengal gadis itu menyapa, " Mas Pandu kenapa tak telpon dulu kalau mau datang, kan aku bisa tunggu di rumah saja."


"Kamu tahu, aku senang buat kejutan!"


Ehm, apa rencana kedatangan mama juga akan mengejutkan Laras?


Pandu memarkir motor di bawah pohon. Sementara Laras berusaha mengatur nafas dan memperlambat aliran darahnya dengan merendahkan badan seraya memegang kedua lutut.


Gadis itu memakai celana training putih bersepatu kets warna sama serta memakai tank top hijau toska.


Peluh yang meleleh di wajah Laras membuat justru dirinya lebih seksi di mata Pandu.


"Nggak bawa minum?"


"Lupa tadi, biasanya botol kecil kuselipkan di saku belakang training."


"Hati-hati dehidrasi. Sudah berapa putaran?"


"Empat."


"Masih ingin lanjut atau cukup?"


"Sudah cukup dulu, kasihan nanti mas harus nungguin."


"Oke, kita bisa pulang sekarang?"


"Ehm, iya. Ayo!"


Pandu membonceng sang pacar dengan perlahan karena jalan tanah yang berbatu sepanjang lintasan ke luar. Tak sampai sepuluh menit sampai di rumah Laras.


"Tunggu di ruang tamu ya mas, aku membersihkan diri dulu."


Tak lama Laras muncul dengan dua mug coklat berisi air putih. Baju atasnya berganti dengan kaos oblong orange.


Obrolan dimulai dengan kesiapan anggota tim untuk acara besok. Laras terlihat antusias sementara Pandu memandang gadisnya dengan takjub.


Gadis itu berkisah dengan mata berbinar. Wajah polosnya tak menampakkan kesombongan. Hanya ada raut bangga dan bahagia. Pencapaian tim asuhannya di luar ekspektasi. Sesekali dia menyebut nama coach utama.


"Mas, kok diam saja. Aku terlalu banyak cerita ya. Maaf. Nah giliran mas yang bercerita sekarang."


Pandu sedikit menggigit bibirnya. Bagaimana reaksi sang pacar setelah dia sampaikan rencana mamanya?


Pasalnya dulu Pandu pernah bertutur bahwa dia belum cerita tentang mereka pada kedua orangtuanya.


"Masih bengong aja. Ada apa, mas?"


"Ehm...."


"Tidak, hanya....."


"Apa?"


Setelah menghela nafas panjang, lelaki itu menceritakan semua percakapan video call tadi pagi. Termasuk sang adik yang keceplosan berkisah tentang mereka. Tentu ada sensor. Bagian tentang Sandra dihilangkan.


"Jadi mama mas Pandu mau datang dan bertemu aku?"


"Iya. Tapi momennya nggak pas. Nanti mengganggu fokusmu."


"Sudah gak apa-apa mas. Aku siap. Semua kan di luar kendali kita. Di jalani saja. "


Laras terlihat tenang. Pandu sedikit penasaran jika sang pacar tahu tentang Sandra, apa masih bisa setenang itu?


Apakah dia juga akan cemburu?


Pandu baru menyadari ternyata selama sebulan lebih pacaran sang gadis jarang mencemburuinya. Tidak kepada para gadis perawat di puskesmas atau pada para pasien.


Hanya Laras pernah menggoda, kalau Pandu tak pacaran dengannya, apa dia akan kepincut seorang gadis perawat bernama Susana? Perawat muda berambut pendek dan berwajah manis, yang pernah Laras amati berbicara manja dengan sang dokter, saat Laras mengantar si kecil Budi dulu?


Perawat itu juga yang menangani administrasi pemeriksaan Budi dan terpergok mencuri - curi pandang pada Kang Jamil.


Ternyata Laras juga perhatian pada detail kecil.


Pandu tertawa terbahak-bahak mendengar curahan terdalam hati sang pacar.


Laras, Laras, ternyata walau belum jadi pacar ketika mengantar Budi, dia juga merekam memori yang berkisar tentang kisah diantara mereka saat masa - masa pendekatan.


Pandu senang mendengar penuturan sang gadis. Berarti Laras kala itu sudah naksir aku juga, pikir Pandu kegeeran.


Laras sedikit menyesal terlalu membuka diri menyangkut perasaan terdalamnya tentang Pandu. Bisa jadi itu reaksi spontan karena Pandu sebelumnya menyampaikan tentang Jamil, Alvin atau Aldito. Lelaki itu terus terang cemburu pada sikap ketiga lelaki itu.


Laras meyakinkannya bahwa ketiga nama itu tak berarti apa pun. Sebatas teman. Di hatinya kini hanya ada Pandu seorang.


Ah, sebuah kisah kasih. Semua mengalir alami. Itu pertanda bahwa ada keintiman emosional diantara mereka. Ada cerita dari rasa terdalam. Tak perlu di diamkan, disembunyikan atau diingkari.


Ada perasaan bersalah menyelinap perlahan di dada Pandu. Laras sangat terbuka. Namun berbeda dengan dirinya sendiri. Masih menyimpan rahasia tentang Sandra.


Itu dilakukan karena dia tak ingin Laras terluka hatinya. Sandra sangat agresif. Juga usaha perjodohan oleh kedua orangtuanya.


Pandu belum tahu darimana harus mulai bercerita tentang hal sensitif ini. Ini pun bukan saat yang tepat. Fokus Laras pada laga esok hari, tentu tertanggu jika dia bercerita sekarang.


Untuk mengalihlan perhatian dan mengganti topik perbincangan, Pandu mengajak Laras menonton acara siaran ulang bulutangkis. Japan open. Dia ingat belum menonton laga final ganda putra. Indonesia lawan negeri Jiran.


Keduanya larut dalam keseruan. Hingga waktu makan malam tiba.


Laras telah mandi dan berganti dress biru bermotif bunga putih kecil-kecil melebihi lutut. Manis. Sedikit riasan tipis di wajahnya kali ini.


Berdua mereka makan malam. Bik Jum telah pulang sedang nenek masih di rumah tetangga buat sowan sejak pukul lima tadi sore. Besok siang akan ada hajatan sunatan.


Kesempatan itu dipakai untuk sedikit bermesraan oleh Pandu dan Laras. Saling menyuapi menu yang terhidang. Ayam opor dengan tahu goreng crispy. Sambal dan kerupuk udang menjadi pelengkapnya.


Pandu memeluk Laras ketika gadis itu mencuci piring. Juga mengecup pipi kanannya. Ketika lelaki itu ingin lebih, Laras segera berlalu duluan ke ruang tamu. Menghidupkan layar televisi kembali. Menonton siaran kompetisi lagu dangdut yang durasinya hingga tengah malam. Kencan sederhana di rumah saja.


"Kapan-kapan boleh nggak mengajakmu bermalam minggu di kota?"


"Nanti mas, kalau bik Jum bisa menginap di sini menemani nenek."

__ADS_1


"Aku ingin mengajakmu dinner dan nonton bioskop."


"Iya."


"Janji setelah kompetisi ya."


"Ehm, mas pernah janji mengajari aku menyetir mobil lho."


"Tentu, kamu kan fokus melatih bola beberapa waktu belakangan."


"Oya, gimana juga kalau kita latihan badminton. Sepertinya mas suka banget olahraga itu."


"Boleh, nanti kita latihan berdua. Aku mau beli dua raket dan shuttlecok. Kamu bisa kan?"


"Bisa. Siapa takut?"


Tawa pecah diantara keduanya.


Nenek datang, ikut mengobrol sejenak dengan mereka. Lalu pamit beristirahat di kamar. Beliau sudah dijamu makan tadi di rumah tetangga.


Hingga menjelang pukul delapan malam.


"Besok mas berangkat ke bandara jam berapa?"


"Sekitar sembilan pagi."


"Kabari aku gimana rencana mas nanti."


"Tentu. Ponselnya diaktifkan terus ya."


"Iya, nanti aku kantongi di saku."


"Ingat tahan diri saat laga berlangsung."


"Siap bos. Kemarin-kemarin, memang aku tegang banget. Sekarang semua aku syukuri. Hasil ini telah diluar dugaan."


"Bagus! Aku bangga padamu."


Sebuah kecupan kembali mendarat di pipi Laras.


Sejenak mereka saling berpandangan. Lalu keduanya tersenyum.


"Ehm, paginya masih sempat mengajar?"


"Iya dong. Kan berangkat ke stadion jam dua lebih."


"Tetap jaga stamina ya. Kamu harus tetap fit. Pagi sampai siang mengajar. Siang sampai petang mendampingi tim berlaga. Malam bertemu calon mama mertua......"


Laras tertawa demi mendengar kalimat terakhir. Gadis itu mencubit pinggang sang pacar.


"Aduhhh, mau lagi dong."


Pandu terkekeh.


"Ssst, nanti nenek dengar."


Pandu tersenyum melihat muka Laras berpura-pura mendelik.


Gemas lalu dia memegang memegang kedua rahang Laras untuk mencium bibir gadis itu. Secepat kilat. Tap kiss. Berhasil.


Laras terkejut dan tak sempat memejamkan matanya. Keduanya tertawa kecil seraya bertatapan mesra. Gejolak rasa di dada makin menggelora.


Namun sejurus kemudian Laraslah yang berinisiatif meneruskan keintiman itu.


Mereka berdua saling memagutkan bibir. Merasakan gairah yang dalam. Pandu makin berani. Meraba dada sang gadis. Sedikit meremasnya lembut. Mata Laras terpejam dan kepalanya menegang. Leher jenjangnya mengundang Pandu untuk mencoba mencumbuinya.


"Terimakasih, sayang."


Terdiam. Hanya terdengar nafas yang terengah penuh hasrat.


"Cukup, mas."


Gadis itu menjauhkan wajahnya. Berpaling. Pandu yang belum ingin mengakhirinya, kembali menyentuh sisi pipi kira sang gadis.


Namun Laras segera menyadari. Mereka belum boleh terlalu jauh.


Saat itu posisi keduanya masih duduk di kursi yang saling bersisian. Dengan saling menyampingkan badan keduanya menikmati momen indah itu.


Laras melepaskan tangan Pandu. Tersenyum. Tatapan Pandu masih menghujam ke dalam dua bola mata gadis itu.


Debaran jantung kedua insan masih terdengar. Pandu menatap sang gadis dengan mata mengiba. Menginginkan momen itu kembali.


"Sudah malam. Mas istirahat dulu. Aku juga harus jaga stamina buat besok."


"Ehm, Laras. Barusan itu indah. Kita berdua menikmatinya," bisik Pandu di telinga sang gadis.


"Iya, tapi ini tak bisa diteruskan. Kita berdua tahu belum saatnya, mas."


"Satu kali lagi ya, please."


Laras terdiam.


Mereka berdiri dan saat melewati meja tamu dan berjalan ke luar, Pandu menggenggam tangan Laras.


Gadis itu bersandar di tembok pembatas ruang tamu dengan arah dalam rumah. Di belakang pintu yang terbuka sebagian. Pandu mendekatkan tubuhnya, memegang rahang Laras dengan kedua telapak tangan, menengadahkan wajah gadis itu kearahnya. Lalu mendaratkan kecupan di kedua pipi sang gadis.


Laras tersenyum dan melingkarkan kedua tangan di pinggang sang pacar. Terakhir di bibir. Ciuman lembut. Hanya sekali saja. Lantas saling berpelukan.


Laras melepaskan diri. Menuju arah pintu keluar. Pandu yang sejenak terdiam menyusul langkahnya. Lelaki itu mencoba mengerti.


Di usapnya kepala gadis itu.


"Mas, pulang dulu. Istirahatlah."


"Iya, sama-sama, mas."


"I love you....Laras."


"Me too."


Gadis itu menghantar Pandu hingga gerbang depan. Sampai masuk ke mobil. Sebelum meluncur Pandu masih sempat menurunkan kaca depan, melambaikan tangan dan mengirim tatapan penuh makna buat Laras.


Malam itu di dalam tidurnya sang lelaki melanjutkan kemesraan mereka. Hingga ke puncak. Sebagai khayalan gairah yang tak terhenti. Tentu dengan kelembutan dan cinta menggelora.


" Ehm, Laras. Terimakasih buat malam yang intim ini. Aku semakin mencintaimu. Kita memang harus bersabar menunggu saat yang tepat, momen kala hasrat ini menjadi nyata."


Pandu berbisik sendiri, ketika telah melewati subuh. Dia tak bisa lagi tertidur dan hanya termenung mengingat mimpi barusan. Sebuah gairah normal lelaki dewasa. Sang pacar menjadi obyek fantasi keintiman. Dia ingin dengan Laraslah dia akan punya kisah pengalaman malam pertama kelak. Sebuah kelegaan menghampiri, menyusup ke relung hati. Semoga hubungan ini benar-benar bertahan hingga ke jenjang itu.


Sementara Laras bermimpi timnya menjadi juara kompetisi.

__ADS_1


__ADS_2