
Sampai di halaman depan puskesmas, Pandu mengajak sang mama dan Laras langsung ke rumah dinasnya.
"Nah ini tempat aku tinggal ma."
"Ehm, not bad. Cukup nyaman."
Mama mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Teras yang bersih dengan dua pit anggrek bulan. Ruang tamu dengan kursi kayu gaya minimalis, terbuat dari jati. Sebuah bufet kecil dengan televisi layar lebar. Lukisan bunga anggrek ungu mengghias dinding.
Laras mengikuti dari belakang.
"Mama mau istirahat dulu atau liat-liat ke belakang?"
"Boleh, ayo!"
Sang mama mendahului langkah putranya masuk ke arah dalam. Pandu menjelaskan semua ruang hingga ke halaman kecil di belakang.
Berdiri dan ngobrol tentang tempat itu.
Laras kembali hanya mengekor mereka.
"Mas, aku buatkan mama minum ya."
"Ma, mau minum apa?"
"Tolong air mineral saja."
"Aku teh hangat ya, Laras."
"Baik."
Gadis itu menuju dapur.
"Ssst, apa Laras sering kemari?"
"Nggak. Hanya sekali. Itupun aku yang maksa. Dia kebetulan selesai antar murid pawai di alun alun. Saat itu siang hari ada mbok Siti di sini."
"Syukurlah."
Pandu tahu maksud sang mama. Dia tersenyum ke arah perempuan yang melahirkannya itu.
"Sudah berapa jauh hubungan kalian?"
"Hem, baru juga Pandu menciumnya sekali. Hanya di keningnya."
Tentu tak mungkin sang putra mengatakan kalau mereka pernah menikmati momen sedikit intim walau tak sampai jauh.
"Bukan itu maksud mama."
"Terus apa dong, ma."
"Rekan-rekan kerjamu tahu?"
"Laras itu malah gadis popular di sini. Semua perawat dan bidan tahu gimana dia mendonorkan darah buat muridnya dulu."
"Jadi reputasi dia baik."
"Tentu, ma. Jangan khawatir. Besok pagi mama ngobrol dan konfirmasi deh sama bik Siti atau rekan Pandu yang lain di depan."
"Iya, iya. Kamu sepertinya cinta banget dengannya."
"Pandu ingin benar-benar serius menjalin hubungan ini. Kami sudah sama-sama dewasa dan saling nyaman.
"Mama coba mengerti."
"Makasih ya, ma."
Lelaki itu mengajak sang mama ke ruang tamu. Minum dan bercakap-cakap. Lebih banyak tentang fasilitas puskesmas.
Karena sudah malam dan Laras terlihat letih begitu pula sang mama, Pandu minta ijin mengantar sang pacar pulang.
"Rumahmu jauh, Laras?"
Pandu yang menyahut, "Nggak hanya duapuluh menitan dari sini. Di desa tetangga."
"Ehm, baiklah."
"Di rumah sebelah ramai, ma. Ada keluarga perawat dan mess. Jadi mama di sini dulu, ya. Istirahat di kamar Pandu saja."
"Ya, jangan lama-lama."
"Siap bos."
"Saya pamit dulu Tante. Selamat malam..."
Laras mencium tangan sang calon mama mertua. Ehm.....
"Hem, besok Laras ikut ngantar mama ke bandara kok. Pesawat jam lima sore kan, ma?"
"Iya."
Sepanjang perjalanan ke rumah Laras, Pandu tak henti menggenggam tangan gadisnya.
Laras tampak benar-benar lelah. Tapi saat dia bercerita tentang jalannya laga tadi, Pandu kembali melihat binar bola matanya menyala.
"Terimakasih Laras."
"Untuk apa, mas?"
"Sikapmu pada mama."
"Santai saja, mas. Mama mas Pandu baik ya."
"Iya, tapi kalau beliau nggak cocok sama seseorang kadang bawel berlebihan. Atau tak bisa sembunyikan penilaiannya."
"Oya?"
"Ups, sori. Tadi sepertinya kamu cukup membuat mama nyaman."
"Mas, juga terlalu melebihkan cerita tentang aku."
"Kurasa semua hal yang aku sampaikan benar adanya. Mama harus tahu bahwa putranya bahagia memiliki pacar, seperti kamu."
"Idih...."
Laras tertawa. Dalam hatinya maklum, mas Pandu ingin memberi kesan pada sang mama, bahwa Laras gadis yang tepat buat dia.
Pandu mencium punggung jemari tangan kanan gadisnya itu. Mereka saling menatap dan tersenyum.
"Besok aku jemput jam sebelasan ya, kita makan siang di rumahku. Kamu mengobrol lagi dengan mama. Jam dua kita antar mama ke bandara."
"Iya, mas."
"Tolong minta ijin pula dengan nenek, kalau besok pulangnya agak malam."
"Kemana kita?"
"Dari bandara, aku ingin mengajakmu kencan."
"Hah? Tapi kalau pulang jangan lewat jam sembilan ya, mas."
"Kita lihat saja besok."
"Senin pagi kan mas harus kerja, aku juga."
"Pokoknya kita lihat sikon besok, okey?"
"Ehm, iya."
Pandu menepikan mobil sejenak. Di pinggir jalan sebelum belokan ke rumah Laras. Suasana cukup sunyi.
Diciumnya kening sang gadis. Kedua pipi dan terakhir kecupan lembut di bibir ranumnya. Sekali saja.
Laras mematung. Tapi jujur dia juga menikmati momen itu.
__ADS_1
"Terimakasih, aku cinta padamu, Laras."
Gadis itu tersenyum," Ayo cepat antar aku pulang, mas."
Pandu menolehnya, seraya mendaratkan tatapan penuh cinta.
Sampai di depan teras rumah Laras. Lelaki itu minta diri, tak masuk ke dalam dan tak lupa dia minta agar dipamitkan pada nenek.
"Hati-hati, mas. Istirahat ya."
"Kamu juga, mimpikan diriku."
"Ehm, iya."
"I love you."
Laras tersenyum menggangguk.
"I love you, too."
Mama sudah mandi dan beristirahat di kamar sang anak. Di situ ada kamar mandi dalam. Kloset duduk , shower dan bathtab mungil serta wastafel melengkapi ruangan.
Saat Pandu kembali, beliau telah duduk dan menonton tv di ruang tamu. Berganti daster batik dari pakaian sebelumnya blouse magenta lengkap dengan scarf batik tulis, serta celana katun berwarna khaki dan highheel beliau.
Sementara Pandu setelah mengambil pakaian ganti dan handuk, segera ke kamar sebelah. Mandi di toilet belakang. Dengan kloset jongkok dan bak mandi kecil.
Setelah itu sejenak mengobrol dengan sang mama. Sebuah goddie bag berisi dua kotak brownies diserahkan mama buat anak buah Pandu.
"Besok berikan pada perawat jaga atau tetanggamu ya."
Pandu mengangguk.
"Uhh, kenapa tadi mama nggak kasi buat Laras?" batin lelaki itu.
"Mama tak memberikan ini ke Laras, karena katamu dia hobi bikin kue. Jadi lebih baik semua ini untuk rekan - rekan di puskesmas saja."
Pandu tersentak, sang mama bisa membaca apa yang ada di hatinya.
"Mama mau tidur dulu. Besok mengobrol lagi. Kamu sudah terlihat lelah."
"Iya, ma."
Keesokan harinya pukul setengah enam pagi Pandu telah bangun. Ritual pagi seperti biasa. Minum dua gelas air hangat dari dispenser.
Mama sepertinya belum bangun.
Mbok Siti datang tak lama kemudian. Lebih pagi, sesuai pesan dokter Pandu. Membawa bahan sayur segar dan lauk.
Pandu sedang menyiram koleksi anggrek dan beberapa pot bunga serta tanaman hias lain di teras.
"Pagi, dok."
"Pagi, mbok. Masak apa pagi ini mbok?"
"Ini rencana mbok buatkan mama dokter Pandu, sayur urap touge dan kangkung. Lauknya telur balado dan tempe goreng. Gimana dok?"
"Terdengar enak. Bolehlah. Oya buat makan siang, menu apa?"
"Soup ayam serta tempe goreng."
"Sambelnya dan kerupuk udang juga dong."
"Siap, dok."
Setelah itu si mbok asyik di dapur. Pandu menonton siaran berita pagi. Highlight satu pekan ini.
Mama belum juga bangun hingga hampir pukul tujuh. Tak seperti biasa.
"Pasti mama sangat lelah," bisik Pandu lalu perlahan mengetuk pintu kamar depan. Membuka dan melongok ke arah bed.
Mama sudah membuka mata. Sedang memeriksa layar ponselnya.
"Pagi, ma. Bisa istirahat dengan baik?"
"Di bandara kemarin, Pram udah ku kabari, saat mama baru landing."
"Bentar, mama telpon papa dulu."
"Oke, aku tunggu di ruang tamu. Setelah itu kita sarapan, ma."
"Iya.."
Pandu keluar. Segera setelahnya mama menelpon papa. Terdengar percakapan kedua orangtuanya. Ada tawa. Sesekali ceramah mama yang mengingatkan sang suami minum suplemen omega tiga.
Lima belas menit berlalu. Mama keluar setelah mandi serta berganti pakaian. Terlihat lebih segar. Pandu mengajak ke ruang makan sekaligus dapur kecilnya.
Sudah siap terhidang menu sarapan. Mbok terlihat mencuci alat memasak.
"Ini mbok Siti, ma. Yang masak dan bantu di sini."
"Selamat pagi ibunya dokter Pandu," ucap si mbok, mengangguk hormat.
"Ya, mbok met pagi. Sudah lama kerja di sini?"
"Lebih sepuluh tahun, bu. Sudah empat dokter yang saya layani. Semua bawa keluarga. Hanya dokter Pandu yang bujangan."
"Anak saya ini nggak nyusahin kan?"
"Tidak, bu. Malah terlalu polos dan nrimo."
Pandu melirik si mbok, tersenyum senang dengan pujiannya. Si mbok membalas dengan senyum simpul.
"Titip dia mbok ya. Kalau bandel dikasi tahu saja."
"Baik, bu. Silakan dinikmati sarapannya. Mbok ke halaman belakang dulu."
"Makasih."
Perempuan itu berlalu menjauh. Pandu dan sang mama mulai bersantap. Mengobrol tentang kondisi tempat kerjanya. Lalu topik beralih tentang Sandra.
"Barusan Sandra mengirim pesan. Mamanya sudah membaik. Dia kirim salam buatmu."
"Ehm ...." Pandu hanya bergumam kecil.
"Dia pernah cerita kalau telponnya sering kamu abaikan."
"Kan Pandu lagi sibuk, ma. Ketika itu sedang ada pasien darurat."
"Sering seperti itu?"
"Mama pasti paham, gimana di lapangan. Apalagi di sini. Aku terkadang kerja duapuluh empat jam."
"Hati-hati, jaga kondisimu juga."
"Tentu. Untung ada Laras. Dia membuat hari-hariku berwarna. Gimana dia menurut mama?"
"Begini. Mama baru kenal dia kemarin. Terlalu dini menilai seseorang. Kesan pertama, dia sepertinya gadis yang cukup baik."
"Sangat baik malah, ma."
"Ehm, apa menurutmu waktu beberapa bulan cukup buat meyakini bahwa hubungan kalian bisa bertahan ? Atau bisa menuju jenjang lebih serius?"
"Pandu yakin. Aku dan Laras sepakat memperjuangkan hak itu."
"Sesungguhnya Sandra benar-benar ingin membina hubungan serius denganmu. Sampai dia sepertinya terus memohon. Menurunkan ego dan keangkuhannya. Mama tahu pasti sulit buat dia. Orang bisa berubah, demikian juga perasaan kita."
"Pandu telah melupakan masa lalu, ma. Tak ingin terjebak kenangan. Waktunya menikmati saat ini dan prioritas menyiapkan masa depan."
Mama masih ingin membahas Sandra. Bagaimana gadis itu nyaris menikah. Lalu sang tunangan berselingkuh. Lama dia terpuruk. Konon ada rumor kalau Sandra pernah berbadan dua dan keguguran.
"Kasihan dia."
Pandu terdiam. Menghela nafas.
__ADS_1
Mama melanjutkan," Papa Sandra meminta dia bersedia dijodohkan dengan putra teman baiknya, yakni kamu."
Pandu membatin, " Perjodohan karena rasa kasihan. Aku tak ingin berkorban buat hal seperti ini. Lagipula Sandra sekarang hanya teman lama bagiku."
"Kalau kamu nggak mau membuka hati untuknya, atau kini telah punya Laras, tolong tetap bersikap baik pada Sandra. Berterus terang dan jujur saja padanya."
"Jadi mama memberi kesempatan dan restu padaku dan Laras untuk menjalin hubungan ini?"
"Belum seratus persen. Mama posisinya wait and see. Terlalu dini."
"Tapi Pandu tetap akan bertahan ma, beri kami waktu untuk membuktikan hal ini."
"Sejujurnya mama percaya padamu. Pasti bisa memilih gadis yang baik buat jadi pendampingmu kelak."
"Makasih, ma. Doakan Pandu selalu, ya. "
Mama mengangguk.
Setelah makan, Pandu permisi buat mandi dan bersiap. Mama menunggu dengan mengobrol dengan si mbok di belakang.
Mama ingin Pandu menemani buat berkeliling puskesmas.
Tak lama kemudian Pandu mengenalkan sang mama seraya membawa oleh oleh buat tetangga. Mereka anak buahnya di kantor. Perawat bujangan dan keluarga perawat senior.
Berjalan ke ruang praktek sang putra. Praktek poli gigi yang digawangi drg. Sugiri. Lalu ke UGD hingga koridor loket dan ruang admin menuju ruang rawat inap. Menyapa dua perawat dan satu bidan jaga karena ada pasien yang akan melahirkan.
"Cukup memadai fasilitas kesehatan ini. Hanya perlu peningkatan sanitasi, keselamatan kerja dan instalasi, sepertinya."
Sang mama memberi beberapa masukan buat puskesmas itu.
"Benar, ma. Pandu sudah diskusi dengan kepala perawat serta TU, buat proposal penambahan perlengkapan K3, perbaikan gudang juga genset."
"Mama percaya pada kemampuanmu."
"Makasih, ma."
"Sosial masyarakat disini gimana?"
Pandu menuturkan bahwa warga cukup welcome, open minded dan mau diajak bekerjasama untuk kemajuan. Banyak pendatang juga, terutama buruh dan karyawan pabrik pengolahan sawit.
"Ehm bagus itu. Terus wilayah kerjamu gimana?"
"Cukup luas, ma. Ada sekitar lima belas desa. Tapi penduduknya tak terlalu banyak."
"Kamu tetap hati-hati. Kondisi wilayah di sini aman nggak?"
"Aman kok, ma. "
"Syukurlah."
Mama ingn mengetahui detail tempat mengabdi sang putra.
"Ehm, sepertinya taman dekat parkir dan ruang tunggu pasien umum harus di perbaiki. Biar asri."
"Benar ya, ma."
"Mama lebih jeli dari para pengawas dinas," batin Pandu.
Mereka melanjutkan obrolan di ruang tamu. Kali ini tentang keluarga. Kisah Pram yang sudah lulus dan segera wisuda. Keluarga Bella, pacar sang adik itu. Klinik praktek dokter umum dan dokter gigi serta apotek yang dikelola Pram. Juga berita update para kerabat.
Pukul sebelas, Pandu menjemput Laras. Mama beristirahat di kamar sang anak. Beliau titip salam buat keluarga Laras.
Sebelumnya lelaki itu menelpon sang pacar.
"Aku otw menjemputmu. Dandan yang cantik ya, mau kencan."
" Iya, mas Pandu."
"Serius, kencan dengan calon suami dan calon mertua."
"Aduh......kejauhan!"
"Lho memang kamu gak pengin kita cepat halal?"
"Bukan begitu."
"Ayo, jawab yang jujur."
"Aku belum siap untuk itu."
"Aku siap dan akan menyiapkan dirimu untukku."
"Ya, dijalani saja dulu. Sudah ya, aku mau ganti pakaian dan berdandan..."
"Ingat harus cantik!"
"Lihat saja nanti."
Percakapan dihentikan Laras. Pandu tersenyum geli. Dia memang suka menggoda sang pacar.
Laras, Laras, kadang kamu bisa jadi pacar, jadi adik perempuan bahkan jadi ibu guru, bagiku.
Pandu membatin. Hatinya begitu senang.
Sampai di rumah Laras, nenek menyambutnya. Menanyakan mama Pandu.
"Maaf mama belum bisa kemari karena masih lelah. Hanya titip salam buat nenek."
Nenek lega. Sepertinya ada sinyal baik sang mama merestui hubungan Pandu dengan sang cucu. Tadi pagi pun Laras cerita bahwa mama Pandu, orangnya baik.
"Tolong sampaikan rasa terimakasih dan salam perkenalan nenek buat mamamu."
"Baik nek. Oya nanti Laras pulang agak malam. Mohon ijin, nek."
"Ehm, ya. Kalau bisa jangan lebih dari pukul sembilan."
"Terimakasih, nek."
Laras muncul. Dress hijau toska dengan V neck, motif bunga daisy putih. Jaket denim biru muda. Wajahnya manis oleh hiasan natural. Listrik merah bata. Rambut sebahu tergerai indah dengan jepit warna perak di sisi kanan. Tas selempang abu-abu. Alas kaki flat shoes hitam. Manis, girly dan fresh.
Pandu terpesona. Mereka mengobrol sejenak bersama nenek. Lalu pamit untuk turut mengantar mama Pandu ke bandara.
"Laras kalau tampil begini terus aku bisa cepat-cepat melamarmu!"
"Hus, mas Pandu bisa aja."
"Sure!"
"Kita nih baru pacaran kurang dari dua bulan, tapi sudah kejauhan mikirnya."
"Ada malah yang gak perlu pacaran, langsung nikah. Hem menikah rasa pacaran. Seru kali. Jadi bisa langsung...."
"Langsung apa?"
"Ehm, langsung buat anak!"
"Duh, mas kok pikirannya kesana terus?"
"Terus harusnya kemana?"
"Ke arah membangun kepercayaan dan pendalaman karakter, mengatasi segala ujian dalan hubungan, begitu!"
"Baik, ibu guru."
Pandu melirik sang pacar. Juteknya kumat. Tapi dia suka Laras seperti itu.
"Semua pilihan ada resikonya, intinya itu kan?"
"Nah itu bisa buat conclusion."
"Iya, buk guru....."
Tawa pecah. Pandu senang, Laras tak bertanya tentang respon mama atau penilaian terhadap dirinya.
__ADS_1