
Hari Selasa pagi, Pandu menelpon Laras apakah bersedia ikut dengannya untuk
menengok Gaby, nanti sore. Gadis kecil itu akan menjalani kemoterapi pertamanya hari ini.
" Maaf, belum bisa beri kepastian. Mungkin nanti setelah pulang mengajar, aku kabari."
Pandu mengerti. Ini cukup mendadak bagi Laras. Walau kemarin lusa di Minggu siang, dia pernah memberi info tentang jadwal kemo Gaby.
Di sekolah, di hari kedua pekan ini akan ada kunjungan pihak yayasan dari pabrik. Meninjau rutin tiap tiga bulan sekali, bersama staf bagian General Affair, bernama pak Kevin.
Bu Nur hari Senin kemarin baru di beritahu melalui sambungan telepon dari staf pabrik.
Pukul sepuluh pagi dua orang tamu tersebut telah berada di sekolah. Bu Nur menghandle mereka. Sementara anak - anak klas B diberi tugas membuat huruf hidup di buku kotak masing- masing. Kali ini kelas itu diawasi oleh Pak Yus.
Klas A, sedang belajar menggambar dan mewarnai arsiran berbentuk binatang. Dua ekor bebek. Induk dan seekor anaknya.
Seorang perempuan setengah baya bernama ibu Candra, dari pihak yayasan pengayom sekolah, berpenampilan sangat modis. Blazer cream dan rok senada berukuran pendek. High heels setinggi mungkin sembilan centi meter menghias kakinya. Tas tangannya pun dari merk terkenal.
Dengan diantar seorang supir, mereka berkeliling melihat aktivitas anak - anak hingga fasilitas sekolah.
" Untuk semester depan mohon dibuatkan proposal permintaan dana seperti biasanya, " ujar pak Kevin.
Bu Nur, menjawab, "Baik, pak."
" Bagaimana kalau dibuat tambahan ruang perpustakaan kecil di sebelah barat gerbang?" usul ibu Candra.
" Disebelah dapur, maksud ibu?"
" Ya, kan ada space. Kita buat kecil saja, sekitar tiga kali tiga meter begitu?"
" Kami setuju saja, asalkan ada dana tambahannya," lanjut Bu Nur.
" Pak Kevin tolong segera ajukan ke atas untuk alokasi dananya!" ibu Candra berkata tegas.
" Baik, ibu ..."
Hingga pukul sebelas diskusi berlangsung di ruang guru. Di sepakati akan ada perubahan proposal.
Setelah sekolah usai jam belajar, para tamu berpamitan. Bu Nur menceritakan semua hasil diskusi.
Laras dan pak Yus mendengar dengan seksama. Mereka bertiga senang karena ada penambahan fasilitas yakni perpustakaan bagi anak anak.
Pukul dua kurang sepuluh menit Laras telah sampai dan beristirahat di rumahnya.
" Nek, Laras minta ijin akan menengok Gaby. Ini hari pertama dia kemo," ujar Laras setelah makan siang.
" Iya, boleh. Tengoklah si kecil Gaby. Beri semangat dan dukungan moral untuk dia dan keluarganya."
" Dengan siapa ke sana?"
" Dokter Pandu. "
" Ehm, ingat pulangnya jangan terlalu larut."
" Terimakasih, nek. Laras janji sebelum jam delapan sudah kembali di rumah."
Sang nenek mengangguk seraya tersenyum.
Laras segera mengirim chat pada dokter Pandu.
Dokter itu sangat senang.
" Terimakasih, Laras. Jadi aku punya teman di perjalanan nanti."
Jarak dari kecamatan mereka ke Rumah sakit di kota adalah dua jam pergi pulang.
Pukul setengah empat sore, mobil Pandu telah terparkir di samping toko untuk menjemput Laras.
Penampilan rapi sang dokter. Kemeja abu abu bergaris horisontal warna putih dimasukkan ke dalam celana hitam denim. Sepatu sneaker putih.
Setelah berpamitan pada nenek, mereka berangkat.
Pandu sesekali melempar pandangan pada gadis yang duduk di sebelahnya. Kali ini ada riasan tipis di wajah. Rambut diikat ekor kuda. Memakai kulot panjang coklat, blouse putih bermotif polkadot dengan kardigan rajutan warna maroon. Alas kaki flat shoes hitam. Tas selempang abu abu berukuran kecil. Penampilan bersahaja. Namun tetap manis.
Sepanjang perjalanan diisi dengan obrolan ringan. Tentang keseharian di sekolah atau di puskesmas. Beberapa kisah lucu terutama aktivitas anak- anak TK menjadi pemicu tawa.
Sebuah kisah kocak kemarin tentang perseteruan sepasang suami istri.
Masalah nama yang akan dicantumkan di dokumen kelahiran sang anak pertama.
Petugas admin puskesmas di buat pusing untuk melerai. Sampai sang kepala puskesmas harus turun tangan.
" Si istri ingin mengabadikan nama mantannya di belakang nama yang dipilih sang suami. "
"Oya?"
" Aku masih ingat. Febrian Sukma Margono. Febrian karena lahir di bulan ini. Sukma, sang mantan. Margono barulah nama belakang si suami."
" Mantan terindah mungkin, dok."
" Ehm, iya juga. Susah move on, barangkali. He he he...."
Laras ikut tertawa.
"Terus bagaimana akhir kisahnya?"
" Aku bilang ke mereka, agar buat perjanjian kalau nanti anak kedua perempuan, giliran si suami boleh selipkan nama mantannya. Sang istri pun harus legowo....."
" Kalau anak kedua nanti tetap laki- laki?"
" Nah itu yang susah. Berarti si istri banyak punya mantan. Ha ha ha......"
Laras tersenyum dan bergumam," Ada- ada saja ..apa sesusah itu buat move on ya?"
" Punya pengalaman tentang hal ini?"
__ADS_1
Pandu tiba - tiba berbicara hal yang lebih pribadi.
" Maksudnya?"
" Mantan terindahmu...."
" Ha,ha,ha. Ada, kisah cinta monyet "
Laras hanya bergurau, namun Pandu menanggapi sedikit serius.
" Cinta pertama?"
" Sudahkah, dok. Nggak penting amat. Bagaimana dengan anda sendiri?"
" Mantanku banyak..," goda Pandu, tak mau kalah.
Sudut matanya melirik ke arah wajah oval Laras.
" Sudah kuduga, pasti."
Pandu tergelak," Mantan teman tapi mesra, mantan musuh, mantan tetangga, mantan selingkuhan, mantan pembantu."
Laras ikut tertawa. Dia tahu benar Pandu ingin dia tak melulu berpikir tentang kondisi Gaby. Jadi sepanjang perjalanan mereka isi dengan senda gurau. Agar mood tidak down, saat menjenguk orang yang sedang sakit.
" Dok, sebelum sampai RS, boleh mampir ke toko mainan atau baby shop, mungkin?"
" Ya."
" Gaby pernah cerita kalau dia suka binatang. Saya ingin membeli boneka kelinci untuknya."
" Ehm, boleh. Di pertokoan sebelum belokan RS sepertinya ada. Sebentar lagi kita sampai ke sana.
Pandu mengarahkan mobilnya menuju tempat yang dituju. Memarkirnya di depan toko mainan anak. Mereka segera turun dan masuk ke dalam ruang yang berisi penuh oleh aneka jenis boneka dari ukuran kecil hingga jumbo.
Ada berbagai jenis mainan lain di bagian tengah dan belakang toko. Sore itu hanya tampak dua hingga tiga pengunjung.
Mata Laras tertuju pada bagian boneka berbentuk binatang. Sebuah bentuk kelinci yang berukuran sedang dipilihnya. Warna abu abu dengan telinga yang lebar.
" Biar, aku yang ke kasir," cegah Pandu saat Laras hendak membawa nota di tangannya menuju meja Cassa.
Lelaki itu meminta nota dan Laras disuruh menunggu di tempat semula.
Tak sampai lima menit. Sebuah goddiebag pink telah dijinjing Pandu. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Jarak RS hanya satu kilometer dari toko tadi.
Menyusuri koridor RS besar itu sebelum masuk lift menuju lantai tiga, Pandu berpesan agar Laras menguatkan hati. Bagaimanapun nanti kondisi Gaby.
" Iya, aku janji."
" Bagus, Laras."
Tiba- tiba Laras merasakan dadanya berdebar. Dia tak mampu menepis bayangannya akan kondisi di kecil Gaby.
"Aku harus kuat. Ayo Laras kamu pasti bisa," bisiknya.
Lift berjalan perlahan. Hanya mereka berdua disana. Dari pintu lift, mereka berbelok ke arah kiri.
Tiba tiba lelaki itu menggenggam jemari tangan kiri Laras yang terasa dingin. Gadis itu sedikit terkejut. Sejenak dia merasakan kehangatan tangan Pandu.
Pandu tersenyum dan menolehnya, "Bagaimana? Kamu harus tepati janji agar kuat."
Laras melepas genggaman tangan Pandu. Dia mengangguk perlahan. Membawa tangannya di atas dada. Memejam mata dan menghela nafas panjang sekali lagi.
Pandu mengetuk pintu lalu membukanya.
" Selamat sore. ..." sapa lelaki itu kepada semua orang yang ada dalam ruangan.
Tampak papa mama Gaby di sisi ranjang. Kedua abangnya di bagian sisi yang lain. Menggenggam jemari Gaby.
Sepertinya Gaby sedang duduk di tengah bed. Selang infus masih menggantung di sisi kiri.
" Oh, ada dokter Pandu dan ibu guru, mari silahkan," papa Gaby, menyambut ramah tamu mereka.
Mama Gaby hanya menoleh dan tersenyum tipis. Tak beranjak dari tempatnya berdiri tadi. Tangannya terlihat mengusap usap punggung Gaby.
Dokter Pandu dipersilahkan duduk demikian pula ibu guru Laras. Kursi tamu berjarak sekitar tiga meter dari bed pasien
Sejenak papa Gaby menceritakan kondisi sang putri dengan suara pelan.
" Kemo pertama telah usai pukul tiga. Gaby sempat mual dan muntah. Dia terus menangis karena semua tulang dan persendiannya terasa sakit."
Laras terdiam. Tak kuat membayangkan rasa sakit yang harus di tanggung Gaby.
" Sudah bisa menelan minuman atau makanan lembek?" tanya dokter Pandu.
" Tadi sudah mau minum secangkir jus wortel. Juga sedikit bubur."
" Maaf, pak boleh kami mendekat ke ranjang Gaby?" kali ini Laras memberanikan diri mengajukan pertanyaan.
Ibu guru itu sangat ingin menggenggam jemari Gaby, kalau boleh bahkan ingin memeluknya. Seperti saat beberapa minggu lalu di dalam ambulans yang membawa mereka ke puskesmas.
"Mari, Bu guru dan pak dokter Pandu."
Papa Gaby mendekati sang putri. Disusul dokter Pandu dan Bu guru. Kedua abangnya menjauh dari sisi bed lalu memberi tempat mereka pada Pandu dan Laras.
Mata cekung Gaby menatap ke arah Laras. Wajah bulatnya kini tampak mengecil, pucat dan lemas.
" Ibu guru," suara serak Gaby terdengar lirih.
Laras berusaha keras menahan diri agar terlihat sedih di depan si kecil Gaby.
" Gaby cantik, ini ibu guru bawakan boneka kelinci untukmu."
Ada binar di mata bening Gaby. Diraihnya kelinci bertelinga lebar dan berbulu lembut yang di serahkan Laras padanya. Senyum mengembang.
"Terimakasih."
__ADS_1
Papa dan mama Gaby saling bertatapan melihat pemandangan di depannya. Ini pertama kali Gaby selama di rawat, terlihat melempar senyum lebar dan gigi putihnya yang rapi terlihat jelas.
Senyum khas yang dirindukan semua orang di sekitarnya.
Laras menyentuh lengan Gaby. Tiba- tiba di kecil meminta untuk dipeluk olehnya.
Keduanya saling berpelukan. Butir-butir bening dari bola mata Gaby mulai menetes.
" Gaby sudah kangen sekolah, Bu guru .."
" Gaby berobat dulu, ikuti nasehat papa mama serta dokter ya. Nanti pasti cepat sehat. Bisa sekolah dan bertemu teman- teman kembali," bisik Laras, berusaha tegar.
" Iya..... Bu guru."
'"Teman - teman juga merindukanmu..."
Gaby melepaskan pelukan dan mengangguk ke arah sang ibu guru.
Dia minta jika Bu guru menengoknya lagi, agar diberi pe er mewarnai dan membuat origami serta menebalkan huruf atau angka.
Laras sungguh terharu. Gaby, anak yang cerdas.
" Iya, ibu janji membawakan buku buat Gaby nanti. Sekarang Gaby harus tetap semangat. Gaby juga harus makan yang banyak."
" Baik, Bu guru. Pokoknya Gaby mau cepat sembuh dan bersekolah lagi ....."
Laras mengancungkan jempol untuk gadis kecil itu.
Gaby menirukan gerakan ibu guru.
Malah meminta gerakan tangan high five. Laras membalasnya. Tawa keduanya pecah. Semua orang yang berada di ruangan itu kagum dengan cara Laras memberi dukungan pada si kecil Gaby.
Hampir empat puluh menit, Laras dan Pandu membesuk Gaby. Menjelang petang, mereka pamit.
Papa dan mama Gaby sangat berterima kasih atas kunjungan bu Guru Larasati dan pak dokter Pandu.
Begitu keluar dari ruangan Gaby, tak sabar Pandu ingin tahu apa resep Laras meraih perhatian Gaby. Membuat binar di mata gadis kecil itu kembali menyala.
" Apa yang datang dari hati, akan menyentuh hati pula," tutut Laras, tanpa bermaksud menyombongkan diri.
"Hem, akan ku ingat quotes darimu itu."
Mereka berjalan sepanjang koridor menuju area parkir. Pandu mengajak Laras untuk makan dulu. Sudah hampir jam enam petang. Dokter itu mengarahkan mobil menuju alun - alun kota, tak jauh dari RS.
" Kita makan di lesehan yang menjual aneka masakan ikan. Gimana?"
" Setuju."
Terus terang perut Laras mulai meronta. Karena berusaha keras menahan perasaan sedih menyaksikan kondisi Gaby, sempat membuat perutnya tegang. Barangkali karena itu dia merasa cepat lapar.
Tak lama mereka telah menunggu pesanan. Dua porsi nasi, gurami bakar dan soup ikan tuna. Tumis kangkung serta es teh manis, melengkapinya.
Dering ponsel Pandu terdengar. Nada klasik dari Dave Koz. Kala itu mereka sedang ngobrol tentang suasana kota. Pandu minta ijin Laras untuk menerima panggilan telponnya.
" Hallo."
...........
" Ehm, lagi makan."
............
" Sudah kontrol ke dokter Zul?"
...........
" Oke nanti malam, aku telpon."
...........
"Thanks."
Pandu menutup panggilan.
" Adikku telpon dari Jakarta.'
" Oya?"
" Mama harus kontrol ke dokter langganan, sementara papa ada tugas luar kota."
" Apa mamamu sakit?"
" Sudah pulih dari sakit. Bebrapa bulan lalu mama operasi batu empedu."
" Tidak telpon langsung ke beliau?"
" Tadi masih istirahat, coba nanti malam aku hubungi dan ngobrol dengan mama."
" Disyukuri dan dijaga dok, selama masih punya orangtua yang lengkap."
Pandu terdiam mendengar perkataan Laras.
"Nah, pesanan sudah datang. Ayo kita makan....." Pandu mengalihkan pembicaraan.
Selesai makan, mereka meluncur pulang.
Sepanjang perjalanan, obrolan mereka berkisah tentang suasana sekitar. Jalan lintas Sumatra yang panjang, berkelok dan di kelilingi kebun sawit serta hutan yang seakan tak bertepi.
Juga pengalaman Pandu ketika bekerja menjadi dokter muda di pelosok ujung negeri.
Tak terasa menjelang pukul delapan malam Laras telah sampai di rumah.
" Terimakasih dok, sudah mengajak membesuk Gaby."
" Sama-sama. Met, istirahat ya."
__ADS_1
" Iya, hati- hati."
Suara pelan klakson mobil dan lambaian tangan Pandu, mengakhiri kisah hari ini.