Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 35. Pertaruhan


__ADS_3

Pandu bangun pagi ini dengan perasaan sedikit kawatir. Sementara Pram yang tertidur di sebelahnya masih meringkuk. Di perbaikinya selimut untuk sang adik. Lelaki itu tidur dengan baju kemeja dan jeansnya. Tak sempat memakai piyama tidur.


Beberapa kali Pram mengigau.


"Peristiwa dua hari kemarin pasti begitu berat bagimu," bisik sang kakak.


Mbok Siti sudah terlihat di dapur. Pukul enam lebih. Pandu seperti biasa setelah bangun membasuh muka dan akan minum segelas air hangat. Lalu berjalan ke halaman belakang sejenak. Menghirup udara segar.


"Pagi dok. Ini saya belikan dua porsi bubur ayam."


"Makasih, mbok. Tolong taruh di mangkok. Aku ingin makan selagi hangat."


"Iya."


Dokter itu kembali ke kamar. Ingin membangunkan adiknya. Beberapa kali mengguncang pelan tubuhnya seraya memanggil nama. Hingga kali ketiga.


"Pram, Pram.... bangun! Ada bubur ayam. Ayo sarapan!"


Sang adik menggeliat dan membuka mata. Tersenyum datar.


"Iya...!"


Pram bertingkah manja. Biasanya selalu membantah dan terlalu percaya diri dengan segala pendapatnya. Kini kerentanan karena masalah yang tak bisa dianggap enteng ini membuat ego dia terjun bebas.


"Cuci muka dulu! Kutunggu di dapur."


"Oke bos!"


Tak sampai lima menit. Mereka berbincang seraya menikmati sarapan. Bubur ayam komplit.


"Nanti elu diantar Handi ke bengkel. Jam sembilan kira-kira. Tanyain semua yang harus diperbaiki. Juga berapa biaya yang harus dibayar. Semua harus jelas di awal!"


Pram mengangguk.


"Lu, bawa duit nggak?"


"Ada tapi mungkin kurang."


"Nanti gue tambahin."


"Gue kepikiran klinik. Meski ada bang Regi rasanya belum lega ngasi dia semua urusan."


Pram curhat dan menyebut nama orang kepercayaan yang biasa bantu urusan bisnis papa. Dari masalah tempat praktek, klinik, apotek, villa hingga kebun sayur di Bogor.


"Iya, sering kontak dia. Diawasi kerjanya. Udah ada dokter Hasyim juga kan?"


"Emang, tapi dokter gigi kita masih nyeleksi kandidat. Bella juga bantuin nyiapin segala alat kelengkapan poli gigi. Di apotik sih asistenku udah bisa sedikit dilepas."


"Udah kalahin gengsi dulu. Tetap hubungi Bella, minta maaf dan minta tolong agar dia mau lihat klinik juga. "


"Gue juga nyesel, nggak bisa all out bantuin toko kedua dia."


"Toko Bella yang nyediain alat dan perlengkapan kesehatan di Kalideres lumayan sukses ya!"


"Makanya dia buka toko kedua. Di Pamulang sekarang. Ke depan malah pengin buka gym. Di Bintaro, dekat rumah dia."


"Kayaknya Bella lebih mandiri, mau belajar dari A sampe Z. Visi bisnisnya kuat. Ehm, bandingin Sandra yang selalu terima beres urusan operasional. Dia maunya cuman up grade ilmu teknisnya doang!"


"Emang beda effort. Mana mau Sandra ikut mikirin hal detail. Dari desain, persiapan hingga grand opening semua di tangan asisten. Dia hanya suka ikutan seminar atau training. Tim dia komplit sih, tapi menurut gue tuh model ekonomi biaya tinggi."


"Ya, udah. Lu harusnya bersyukur punya pacar seperti Bella!"


"Gue nyesel. Hanya satu kesalahan ngerusak segalanya. Gimana ini nanti ke depannya?"


Pram memegang kepala dengan dua tangan. Pandu jadi kasihan.


Di tepuknya pundak sang adik," Kita bertaruh. Ssstt, hanya buat kita berdua. Secret. Bayi Sandra benar punya elu atau orang lain?"


Pram terbelalak. Sang kakak kini bisa jahil tumben sinis or sarkas, nih? Bisa kejam juga ternyata.


"Eh, emang lu juga meragukan?" tanya adiknya menurunkan volume suara.


Ada mbok Siti sedang sibuk di areal loundry.


"Gue juga punya feeling, berdasarkan fakta kalau gadis itu terlalu mudah jatuh pada banyak lelaki. Who's know?"


"Ternyata, lu amati juga."


"Lu sih Pram, kurang hati-hati! Kena batunya. Lu suruh gue nerima perjodohan dengan Sandra. Untung gue nolak. Dasar! Lu cicipi dulu, gue dapat sisanya! Kayak gak ada gadis lain aja di dunia ini!"


"Sori gue khilaf. Trus gue sekarang harus gimana?"


"Tunggu hasil tes. Jika negatif lu bisa lega. Insyaf. Cukup satu Bella saja. Serius. Komit. Tapi kalau hasil tes berkata lain, mau gak mau kawinin tuh Sandra."


"Oh. ...my God!"


"Itu resiko. Bentuk tanggungjawab. Mungkin udah takdir elu...."


"Gimana dengan Bella?"


"Gue yakin tuh cewek bakal marah besar, kecewa, benci mungkin dendam. Jelas dan itu manusiawi. But she is a strong girl. Pasti dia cepat move on."


Pram tercengung. Mematung. Dalam bulan depan akan ada dua moment penting dalam hidupnya. Wisuda dan test DNA itu. Lalu setelahnya....?


"Duh ....apa yang bakal terjadi nanti?"


Pram bergumam sendiri.


Pandu mengakhiri percakapan. Dia harus bersiap. Jam kantor dimulai pukul setengah delapan. Sepuluh pagi dia dan tim akan ke dua desa untuk penyuluhan kesehatan.


Sang dokter menyempatkan berkabar pada kekasihnya. Saling berucap agar menikmati hari ini dan janji sore nanti bermain bulutangkis.


Di sekolah Laras, kegiatan menjelang kenaikan kelas diisi dengan latihan untuk acara perpisahan. Bermain serta membacakan buku cerita. Anak - anak tetap bergembira seperti biasa. Antusias juga karena bakal tampil beraksi. Semua anak kecil akan senang menjadi perhatian. Dan para orang dewasa pun bakal terhibur melihat tingkah polah para bocah cilik.


"Pemasangan tenda dan panggung dilakuan Jumat lusa di sore hari. Kita setengah hari saja bersekolah di Jumat pagi."


Bu Nur memberi tahu dua asistennya. Laras dan pak Yus setelah jam sekolah usai.


"Konsumsi sudah siap Bu, kue, permen dan air mineral dalam kotak. Ibunya anak-anak, membuat kue nagasari pisang dan bolu, Bu."


Pak Yus melapor. Bu Nur setuju.


"Untuk susunan acara gimana Bu Nur? Apa sudah sesuai?" tanya Laras.


"Ehm tadi saya liat sepertinya sudah cukup. Hanya sesi pemilihan pengurus paguyuban ortu dipersingkat, mbak. Sepertinya sudah ada calon. Tinggal mengenalkan pada semua!"


"Baik, bu! Oya, untuk kostum kebanyakan anak-anak memakai koleksi sekolah."


"Ya, silahkan. Asal di tekankan saat mengembalikan harus dalam kondisi bersih."


"Tentu, Bu."


Setelah diskusi dan mencapai keputusan, mereka pulang ke rumah masing-masing.


Sementara dokter Pandu bertugas ke lapangan. Sebuah desa terpencil dekat pantai, perbatasan dengan kabupaten lain. Kampung nelayan. Program posyandu dan pencegahan stunting adalah tema sentral. Tentu ada tanya jawab masalah kesehatan lainnya. Dari berbagai penyakit umum hingga keluarga berencana.


Setelah makan siang lanjut di sebuah kampung dimana sebagian besar penduduknya adalah transmigran dan pekerja perkebunan kelapa sawit. Buruh tanam, pemeliharaan tanaman dan panen. Tema yang sama. Tanya jawab berlangsung seru. Dari masalah imunisasi balita, sunatan, masalah penyakit ringan lainnya hingga jenis alat kontrasepsi. Ya begitulah. Kesempatan langka digunakan warga buat curhat segala hal kesehatan.


Pandu benar-benar terkesan. Kehidupan sederhana, bersahaja namun yang dijumpai sebagian besar adalah ketulusan, keceriaan serta rasa syukur. Kekeluargaan dan gotong royong sungguh kental di sana.


Bandingkan dengan hidup di kota besar. Penuh kompetisi, berkejaran dengan ambisi terkadang sangat membuat lelah lahir batin. Konflik dan konspirasi. Tak heran banyak yang menderita stress dan depresi di sana.


"Ah, semua adalah pilihan. Ada resiko dan tanggungjawab di dalamnya," bisik sang dokter.


Hingga pukul tiga siang. Tim kembali ke puskesmas. Mobil sedan Pandu disupiri Eko sang perawat muda serta turut ditumpangi Bu Maria, bidan yunior. Berbagai alat peraga penyuluhan tersimpan di bagasi.


Setelah jam kerja usai, Pram melapor tentang bengkel mobil. Detail dari bagian yang harus diganti, diperbaiki hingga waktu pengerjaan dan biayanya.


"Bagus!"


"Gue minta cepat. Jadi biaya sedikit ditambah karena mereka mesti lembur mengerjakan. Terutama body repair."


"Gak, pa pa. Tiga hari beres kan?"

__ADS_1


"Iya."


"Elu harus cepat ambil keputusan."


"Gue ngerti. Tapi ntar gue mau refreshing, ikut Handi dan Eko mancing. Di sungai dekat kantor polsek!"


"Oke, ingat jangan pulang malam!"


"Siap bos! Eits, kapan bisa ketemu pacar lu?"


"Kapan-kapan. Laras sibuk buat acara kenaikan kelas muridnya!"


Belum selesai sang kakak berucap, Pram sudah beranjak pergi ke rumah sebelah.


Pandu lega. Acara main badmintonnya tak bakal diganggu sang adik.


Pukul lima sore. Pandu sudah menjemput sang pacar dan mereka siap di pinggir lapangan di dalam GOR. Semua peralatan sudah dibawa sang dokter. Dua raket merk terkenal dan satu selongsong shuttlekok.


Pandu dan Laras sepakat memakai celana olahraga biru tua panjang serta kaos olahraga warna senada. Putih polos. Sepatu kets putih.


Pak Ali menyapa sejenak. Laras minta maaf molor dari jadwal yang harusnya setengah jam lalu. Jadilah lapangan dipakai dua bapak setengah baya yang kadung sudah main hampir dua set.


"Aku agak telat ya. Tadi masih istirahat trus ngobrol sama Pram, setelah tugas penyuluhan."


"Sedikit kesorean tapi yang penting di hari pertama harus komit."


"Ehm, ya."


"Pemanasan dulu mas. Biar gak pegal. Mas jarang gerak badan, kan?"


Laras tersenyum lalu mencontohkan beberapa gerakan peregangan tangan dan kaki. Pandu mengikuti. Mereka bertaruh siapa diantaranya yang bakal menang. Mulai latihan ringan saling berbalas pukulan shuttle kok. Masih di pinggir area.


Setelah kedua bapak kelar main dua set, mereka masuk lapangan. Sepakat main tanpa ada yang mengalah.


"Siapa takut?" tantang sang gadis.


"Ayo kamu service duluan!" Pandu memberi kehormatan sang gadis buat memulai.


Lima menit berlalu. Cukup seru.


Ternyata Laras jago juga. Bola-bola panjang dan pendek yang di layangkan sang kekasih dibalas dengan cepat.


"Smash!" Pandu memberi isyarat.


Laras membalas. Skor dihitung bersam


a mereka saling berkejaran. Malah kini si gadis mendominasi dan mendikte sang pacar.


"Kejar mas!"


Sebuah pukulan bola nyaris keluar lapangan di bagian belakang, tak mampu dijangkau Pandu. Skor untuk Laras.


Selanjutnya saling membalas.


"Masa kalah dengan cewek, " gumamnya.


Bola pendek di depan net. Laras ke depan. Balasannya bola panjang menyamping. Pandu berusaha menggapai.


Sang gadis salah menerka. Dikira out tetapi jatuh pas di garis batas.


"Service over!"


Hingga set pertama usai. Pandu menang tipis. Mereka break. Duduk sejenak dengan kaki di selonjorkan di pinggir lapangan. Minum air. Nafas masih terengah. Keringat mulai membasahi wajah dan leher. Pandu memberi tissu dari ranselnya untuk Laras.


Menjelang petang. Lapangan sebelah yang tadi dimainkan ganda putra, para staf pabrik telah kosong. Pak Ali masih terlihat ngobrol dengan dua orang bapak di sudut seberang lapangan.


"Lanjut?"


Pandu bertanya seraya menoleh pada sang pacar. Sudah sepuluh menit break.


"Ayo, satu set lagi ya. Keburu malam."


Pandu berdiri lebih dulu dan mengulurkan tangan buat sang kekasih agar bangkit.


Laga tidak seperti di awal. Pindah posisi. Sedikit pelan irama permainannya. Namun lima menit berikutnya, Laras mengajak bermain cepat. Sesekali Laras menyuruh sang kekasih memberi pukulan keras.


"Ayo mas. Di smash saja!"


"Ini, terima!"


Pandu melompat menggapai bola dan memukul dengan menukik area tengah. Ajaib, Laras bisa mengembalikan bola meski harus terjatuh. Cukup indah berakrobatik.


"Hebat pacar, gue!" Pandu masih sempat membatin, sebelum membalas pukulan bola ke arah sempit di depan net.


Kali ini Laras terlambat merespon. Skor bertambah buat sang dokter.


"Uhhh, sial!" Laras memukul pelan kepalanya dengan raket.


Pandu tertawa. Tingkah sang kekasih sangat menghiburnya. Membuat dia makin bergairah. Beberapa skor dicetak. Sang gadis tertinggal lebih dari tujuh poin.


Laras meminta break. Berjalan ke pinggir dan minum air serta menyeka keringat. Pandu diam di tempat. Dia memperbaiki bulu-bulu shuttlekok sambil menatap dan memperhatikan kekasihnya. Tak putus asa.


"Ehm. Apa gadisku juga garang di tempat tidur nanti, setelah nikah?"


Pandu tersenyum penuh arti menanggapi obrolan nakal di kepalanya sendiri.


Kembali ke lapangan. Laras tak mau kalah. Kali ini harus mengejar poin. Bola pendek disergap, bola panjang dikejar. Smash berkali kali dia lakukan karena bola-bola tanggung dari Pandu adalah kesempatan buat membalikkan keadaan.


"Udah nggak usah ngalah mas, main loss aja. Ayooo!" tantangnya.


Lelaki itu tertantang. skor hampir mencapai angka yang sama. Andrenalin lelaki itu mulai naik.


"Okey!"


Pandu melancarkan pukulan bola-boka sulit. Di sudut depan. Menyilang, lalu bola panjang. Membuat gerakan palsu seolah-olah bakal memberi pukulan smash ternyata tidak. Bola mendarat pelan sedikit menyentuh net dan bergulir jatuh di area lawan.


"Aduh...!


Laras berteriak pada dirinya sendiri.


Skor kembali berbeda jauh. Hingga akhir set.


"Ahhh ! " Laras tak dapat merespon baik smash terakhir. Keras dan tajam. Shuttlekok terjatuh tepat mengenai badannya.


Pandu menatapnya sejenak, "Semoga tak sakit."


Laras terlihat meringis membuat Pandu bergegas mendatangi area sang pacar.


"Duh mas. Smashnya kejam banget!"


"Sori, sori, sakit ya?"


Tangannya ingin memegang badan Laras yang terkena pukulan bola.


"Eits," tangan sang gadis spontan menghalangi.


"Ehm.....maaf ya."


Pandu tersenyum karena baru sadar bola jatuh di tengah dada sang gadis.


"Udah yuk. Mas menang. Selamat ya!"


Laras menatap kekasihnya.


Pandu meletakkan tangan di pundak gadisnya itu.


"Capek juga. Lama nggak main, moga tangan dan lenganku tak pegal-pegal nanti!


Mereka berdua berjalan keluar lapangan. Kembali duduk dengan santai dan memanjangkan kaki.


Pak Ali melampaikan tangan pamit duluan. Lapangan sudah sepi. Semua lampu di sudut sudah menyala. Kalau akhir pekan biasanya lapangan masih dipakai hingga hampir tengah malam. Jadwal penuh.


Sudah jam setengah tujuh. Laras dan Pandu minum air. Berbincang tentang permainan tadi.

__ADS_1


"Jago juga pacarku ini ," Pandu mengelus rambut Laras yang diikat ekor kuda.


"Jelas dong. Kalau nggak futsal, dulu aku waktu kuliah ingin ikut ekstra badminton. Tapi kuota penuh."


"Aku suka kamu senang sport. Jadi bugar dan sportif tentu. Ehm, juga seksi."


"Mulai nih, mas."


"Benar kan?" Pandu menatap mesra sang gadis.


"Mas itu tuh, yang harus jadi contoh! Dokter dengan gaya hidup sehat. Suruh semua anak buahnya olahraga rutin. Apa gitu. ....Bulutangkis boleh, voly atau pingpong. Di halaman samping kanan puskesmas kan ada lahan kosong?"


Pandu terdiam. Membenarkan perkataan Laras.


Lelaki itu mencubit pipi kanan sang pacar, "Benar juga. Makasih idenya. Kamu bikin aku makin cinta!"


"Uhhh, gombal banget!"


"Serius! Tak percaya?"


Laras tertawa. Secepat kilat Pandu telah mendaratkan kecupan di pipi yang tadi dicubitnya.


"Uhhh, mas ini!"


Laras bangkit lalu beranjak.


"Ayo pulang udah malam! Nenekku nanti marah!"


Pandu mengambil semua peralatan. Mengikuti langkah sang pacar keluar GOR.


"Kapan kita tanding lagi?"


Laras malah menantang.


"Sabtu gimana? Lapor pak Ali biar jadwal di sesuaikan."


"Okey! Nanti aku harus mengalahkan mas!"


Pandu terbahak. Laras menoleh dengan senyumnya.


Sampai parkiran. Semua peralatan masuk bagasi. Mereka menuju pintu depan. Pandu sudah menyalakan mobil dan AC. Tempat itu telah sepi.


"Tadi aku menang. Kamu kasi hadiah apa untukku?"


"Ehm. Makan malam di rumahku ya, mas."


"Itu sih biasa."


"Lalu?"


"Aku mau ini."


Pandu mencium wajah berpeluh sang pacar.


"Aduh, aku masih bau keringat, mas!"


"Aku suka. Ini yang kedua!"


Tangan Pandu telah mencengkeram sisi rahang Laras.


Gadis itu memejamkan mata. Sepertinya tengah siap. Lalu terjadilah. Ciuman bibir yang hangat. Saling berbalas.


Tiba-tiba Laras menjauhkan wajahnya.


"Mas. Ingat satu kali pertemuan hanya satu ciuman!"


"Ah, sudah beberapa kali ketemu tak ada kecupan. Jadi ini rapelan."


"Cukup sayang. Ini sudah lebih. Ada bonus, sekali saja!"


Laras yang kali ini memulai.


Cup. Bibir Pandu di ***** dengan lembut.


"Udah, ya! Ayo pulang, mas!"


Lelaki itu tertawa senang, " Thank you very much. Kamu makin mahir saja!"


Laras sedikit malu. Pandu tersenyum menggoda seraya menjalankan mobil ke luar parkiran dan menuju rumah sang gadis. Hatinya bernyanyi kecil. Sejenak melupakan masalah Pram yang menantinya di rumah.


Dering ponsel Pandu terdengar.


Pram menelpon sang kakak. Menanyakan jam berapa pulang. Sudah waktunya makan malam.


Sang kakak menyuruhnya makan sendiri. Karena dia akan makan dengan sang pacar.


"Kasihan dong Pram, mas."


"Biarin aja. Dia itu udah kenal dengan perawat bujangan sebelah rumah. Paling kesana. Lagian tadi sore mereka mancing bersama!"


"Oya? Baguslah.


"Mereka semua kayaknya sebaya. Cepat akrab."


"Moga Pram sedikit terhibur, ya."


"Sudah nggak usah bahas dia. Udah beberapa hari ini dia mendominasi acara kita. Waktuku tersita buat ngurusi adik bandelku itu.


"Mas, mas. Itu gunanya punya kakak. Masih syukur punya sodara kandung. Tak seperti aku. Ehm tapi sepupuku, bang Norman dan bang Herman melebihi saudara. Selalu peduli padaku."


"Sekarang giliran aku yang akan menjagamu selamanya. Biar mereka fokus dengan hidup mereka sendiri. Okey!"


"Iya, makasih mas."


Pandu menggenggam jemari tangan sang gadis.


Sampai di rumah nenek menyuruh Laras mandi dan Pandu membersihkan diri. Lalu makan bersama.


Bercerita tentang rencana nenek buat panen pisang di hari Minggu siang. Selain buat dipakai sendiri juga dibagi ke para tetangga. Pandu pun di tawari. Tentu dia berterimakasih.


Hingga pukul delapan malam. Sang dokter pamit.


"Istirahat ya, mas. Pasti capek hari ini."


"Kamu juga. Ingat mimpikan aku ditidurmu!"


Laras tertawa, "Emang mas juga begitu?"


"Iya ...hampir tiap hari."


"Bosan dong."


"Mana bisa? Sering malah kurang durasi."


"Aduh, memangnya film?"


"Sssst film dewasa!"


Senyum menggoda Pandu membuat Laras malu mendengar kalimat terakhir.


Laras mencubit pinggang sang pacar, "Udah, udah. Malu sama bayangan sendiri."


"Yuk, aku pulang. I love you."


Laras mengangguk," Love you, too.


Mereka berjalan hingga depan pagar.


"Ehm ....hati-hati mas. Salam buat Pram."


Pandu mengiyakan dan masuk ke dalam mobil, membuka jendela kaca depan sebelah kiri dan melambaikan tangan.


Tak lupa menitipkan tatapan penuh cinta buat Laras.

__ADS_1


Sedan putih mungil itu melaju menjauh.


__ADS_2