Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 26. Pertemuan itu


__ADS_3

Sabtu pagi sebelum pukul setengah tujuh, Pandu menyempatkan mengirim chat pada Laras. Dia tahu gadis itu tengah bersiap pergi mengajar.


"Pagi, sayang.


Thx buat momen kemarin."


I love you."


Tak ada jawaban. Lebih setengah jam, notifikasi berbunyi.


"I will remember.


Thx to your kiss.


Hati-hati jalan ke bandara, ya.


See you next.


I (emotion love) you."


Pandu tersenyum. Pagi ini sang gadis kembali membuat dadanya berdesir.


"Please jaga kondisi.


Hari ini full schedule utkmu.


GBU"


"Belum deliv, sepertinya Laras sudah masuk klas," batin Pandu.


Pukul sembilan dia berangkat. Setelah sarapan nasi soto ayam yang dibeli mbok Siti. Tak lupa segelas teh hangat.


Hari ini dia meminta wanita paruh baya itu tak memasak lauk. Hanya mencuci baju serta menyetrika serta bersih-bersih. Mengganti seprei di kamar pribadi serta kamar sebelah. Dia berkisah bahwa sang mama akan menginap sehari di rumah dinasnya.


Meminta besok Minggu pagi agar mbok Siti tidak libur. Malah datang lebih pagi. Agar dapat membuat sarapan buat mamanya.


"Baik dok. Hati-hati di jalan."


"Makasih, mbok."


Sepanjang perjalanan hampir dua jam Pandu menyalakan playlist. Lagu-lagu Queen, Bon Jovi hingga Bruno Mars. Menemani kesendirian. Sesekali dia ikut bersenandung.


"Coba Laras bisa ikut menemani. Kenapa ada benturan jadwal?"


Situasi di luar kendalinya. Ada sedikit kekhawatiran akan reaksi mama. Dari Laras, nampaknya gadis itu membuat Pandu lebih tenang.


Untuk mengalihkan kegundahan hati, Pandu berhenti sejenak di sebuah minimarket. Beristirahat dan memakai toilet. Membeli segelas cappucino hangat dan snack. Sebuah potato chips rasa seeweed. Juga kue dorayaki.


Pukul sepuluh lebih ponselnya berbunyi.


Mama menelpon sudah akan lepas landas.


"Siap ma, ini aku otw bandara."


Jalanan ramai di akhir pekan seperti ini. Banyak yang refreshing ke kota. Begitu memasuki pusat kota agak macet. Padat merayap. Para ekspatriat dan profesional yang bekerja di daerah pedalaman sepertinya tumpah ruah. Sendiri, bersama pasangan atau dengan keluarga mereka.


Mall, pusat perbelanjaan, bioskop dan pertokoan tampak ramai. Jalan tol arah bandara juga tak lengang.


Pukul setengah duabelas Pandu telah berada di ruang tunggu kedatangan. Suasana ramai. Dia ingin menelpon Laras.


"Ehm, biasanya klas sudah usai jam segini."


Ditekannya nomor sang pacar. Tak ada jawaban.


Lelaki itu berkirim pesan :


"Aku sudah di bandara.


Kamu sudah kelar ngajar.


Boleh telpon?"


Segera ada jawaban:


"Sori mas, ada pengawas.


Staf yysan pabrik.


Ngecek fasilitas."


Pandu mengetik pesan lagi:


"Ok, ingat makan yg byk sblum brkt."


"Siap dok." (emotion tertawa)


"Please stay fit.


Mau ketemu camer (emotion senyum)"


"Ya. (emotion victory)


"Take care."


"Don't worry. Bye."


Pandu tersenyum. Laras selalu punya cara membuatnya nyaman. Dia lalu tetap duduk menunggu seraya berselancar di layar ponsel. Beberapa laman sosmed pertemanan. Tak ada update.


Hanya kiriman quates, nasehat juga promosi serta iklan. Pandu memang bukan tipe sosmed minded.


Pukul duabelas pesawat yang ditumpang sang mama mendarat.


Telpon berdering," Mama sudah mendarat. Lagi nunggu bagasi."


"Oke mam, aku tunggu di depan pintu kedatangan."


Pandu mengarahkan pandangan pada koridor penumpang kedatangan. Tampak di kejauhan mama melambaikan tangan.


Dengan tampilan berkelas, beliau selalu chic memadu padankan fashion. Terlihat masih fresh dan cantik di usia setengah abad. Menyeret kopor hitam metalik berukuran sedang.


Pandu mencium tangan sang mama, " Lancar tadi ya, ma."


Segera dia mengambil alih koper sang mama.


"Iya, syukurlah. Gak delay di akhir pekan."


"Ehm kamu kok sendiri. Pacarmu...."


"Nanti Pandu ceritakan deh. Kita cari makan dulu, ok."


"Boleh, mama juga udah lapar."


Mereka berjalan sepanjang koridor menuju areal parkir. Banyak restoran, depot dan toko souvenir juga minimarket sepanjang sisi terminal kedatangan.


"Makanan Padang mau nggak, ma?"


"Mama jaga kolestrol nih. Yang lain aja."


"Mama pengin apa?"


"Masakan dari ikan deh. Rebus-rebusan atau sop, biar lebih sehat."


Pandu menunjukkan sebuah restoran di sudut lokasi itu. Sebuah tempat yang khusus menyediakan aneka soup dan pepes dari ikan.


Sang mama memilih soup ikan salmon. Sedang Pandu pepes ikan tenggiri. Seraya bersantap mereka mengobrol.


Pandu menceritakan situasi sang pacar. Laga itu serta rencana mama bertemu dengannya.


"Ehm, jadi dia perempuan tetapi hobi melatih bola? Ada saja..."


"Iya ma, pernah jadi atlet futsal putri di kampusnya.


"Sudah tahu mama. Pram cerita banyak."


"Apa lagi yang diceritakan Pram?"


"Dia guru TK. Lulusan sarjana pendidikan usia dini. Ketemu denganmu saat membawa muridnya ke puskesmas."


" Mama harus tahu cerita dia seutuhnya dari aku."


Pandu menceritakan secara detail. Bagaimana Laras menolong sang murid, cara gadis itu memperlakukan murid-muridnya. Juga anak-anak tim bola yang dilatihnya. Kepolosan dan keceriaan dia.


"Jadi kamu jatuh cinta karena itu?"


"Pandu mencintai karena karakter dia, ma."


"Itu baru permulaan Pandu. Orang bisa berpura-pura."


"Pandu yakin ma. Laras itu apa adanya."


"Hormon jatuh cinta itu paling bertahan hanya enam bulan," mama berkata dalam hatinya.


"Kamu mengenal keluarganya dan lingkungan pergaulan dia?"


"Iya."


"Sudah seberapa lama?"


"Ehm, lebih empat bulan ini."


"Itu waktu singkat, nak."


"Tapi Pandu yakin padanya, ma."


"Orangtuanya, saudara dia gimana?"


Pandu mengatakan bahwa kedua orangtua Laras telah tiada. Laras anak tunggal. Dia hidup dengan sang nenek, tiga tahun ini. Dia tinggal di desa tetapi keluarganya ada di kota ini.


Pandu baru tersadar selama ini Laras hanya berkisah tentang keluarga bude, kakak sang ibu. Tak ada cerita keluarga sang ayah. Mereka konon tinggal di pulau seberang. Hanya itu.


"Jadi dia anak yatim piatu sekarang?"


Pandu terdiam. Mengangguk lemah.


"Ayah atau ibunya bekerja dimana dulu?"

__ADS_1


"Mendiang ayahnya peternak ayam. Ibunya dulu staf administrasi di pabrik kelapa sawit."


Mama menatap si sulung. Pandu, Pandu. Sepertinya gadis yang dicintai hanya gadis biasa. Kalau menurut cerita sang anak, sang mama menduga, pastilah mereka adalah golongan keluarga menengah ke bawah.


Jika dibandingkan Casandra Sutoyo dan keluarganya sungguh jauh berbeda. Juga dengan keluarga Bella, pacar sang adik. Bagai bumi dan langit.


"Mama, nanti pasti akan senang bertemu Laras. Aura dia berbeda, ma."


"Apanya beda?"


"Sikap dia, rendah hati dan lembut."


Mama membatin, "Asal nggak rendah diri aja."


Sesudah makan siang Pandu mengajak mama berkeliling kota propinsi ini.


Mama ternyata menyetujui option kedua. Beliau tak mau menonton laga. Memilih berkeliling untuk mendapat view yang indah tentang propinsi ini. Lalu menjemput pacar Pandu searah jalan menuju tempat sang putra bertugas.


Inilah pengalaman pertama singgah ke kota propinsi yang luas ini.


Mereka pergi ke beberapa ikon kota, pusat kota dan daerah perniagaannya. Kebetulan ada tempat wisata seperti museum serta beach walk pantai tempat untuk hang out.


"Sekalian buat mencari suasana baru. Sehari-hari mama hanya berkutat dari rumah ke laboratorium, rumah sakit, kembali ke rumah. Itu saja, " ujar sang mama.


"Sabar ma, sebentar lagi mama kan bisa istirahat. Pensiun."


"Makanya itu. Pas pensiun nanti mama ingin sudah menggendong cucu. Siapa aja boleh deh nikah duluan. Kamu atau Pram. Tak masalah bagi mama. Kalau papamu sih inginnya kamu dulu menikah. Nah calonnya aja belum ada. Ehm nggak jelas."


Pandu tersenyum tipis. Cita-cita sebagian besar para lansia, bisiknya.


"Mama udah pengin hidup tenang dan damai."


"Iya ma, Pandu mengerti."


Sementara itu di desa Laras. Pukul dua siang semua bersiap berangkat ke stadion. Para pemain , kedua coach dan supporter.


Dua bis kecil meluncur. Spanduk dan genderang kecil ikut diangkut. Yel, yel disiapkan dengan latihan. Ada tambahan.


Go...go...red team go for win!


Kembangsari, Yes, Yes!


Keren, hasil ciptaan pak Sofyan dan pak Erland. Tak mau kalah seperti liga Inggris di televisi. Asal tak ada 'hooligans' alias perusuh bola tak terkoordinir alias bonek.


Sepakbola adalah olahraga merakyat. Tak salah penggemarnya dari segala lapisan. Kaya miskin, desa kota, tua muda, laki perempuan. Pokoknya gila bola.


"Ingat tim, semangat juang dan junjung sportivitas!"


"Yes, coach!"


Sampai stadion, tim lawan sudah beraksi. Melakukan pemanasan dan membawa supporter lebih banyak.


Pandu berkirim chat pada Laras.


"Sudah sampe stadion?"


"Ya, barusan. Lgs pemanasan."


"Good luck. Nanti kujemput dengan mama."


"Thx."


Laras tak sempat berdebar dan berpikir gimana nanti dia bertemu dengan mama sang pacar. Gadis itu memilih berfokus pada laga krusial ini. Momen besar bagi tim.


"Apapun reaksi mama mas Pandu, terjadilah," batin Laras.


Laga dimulai. Langsung dengan tempo cepat. Saling serang. Kedua coach memberi isyarat agar menurunkan irama permainan. Tetapi anak-anak terbawa pola lawan.


Tim berseragam ungu muda dan celana putih itu menekan tim merah. Berbagai aksi di muka gawang membikin jantung berdebar.


"Tahan Sofyan. Edo disiplin !"


Coach Jamil berteriak dari pinggir lapangan.


Laras hanya menatap cemas dengan tim. Mereka, anak -anak yang bermain itu memforsir diri di menit-menit awal.


Kelihatan tim merah sedikit keteteran. Akhirnya melakukan pola defensif.


Menit akhir terjadi gol yang tak terduga. Tendangan indah dan melengkung dari sudut lapangan. Supporter lawan bersorak-sorai kegirangan.


Skor satu lawan kosong, untuk tim lawan.


Saat break istirahat, coach kepala membuat taktik baru.


"Reno dan Bian buat bola dari kaki ke kaki. Pemain tengah bantu serangan. Yang di belakang tetap disiplin."


"Edo, kamu bisa naik membantu serangan dan jika ada bola yang bahaya segera turun bantu pertahanan."


Anak-anak mengangguk.


"Edo harus pintar membaca situasi, oke!" Laras menambahkan.


Edo si bongsor adalah sang kapten tim sekaligus play maker.


Tepuk tangan dan tabuhan drum kecil supporter saling bersahutan.


Yes yes! Kembangsari. Go go for wiiiinnn!


Anak-anak makin bersemangat. Dua gol tercipta lagi. Satu dari tendangan bebas dari Reno dan satu dari titik pinalti oleh Bian kembali.


Coach Jamil sujud syukur. Laras menyambut pemain yang berlari ke arah pelatih. Memeluk dan menepuk-nepuk punggung para pemain cilik.


Gol tercipta karena kiper kedua tim lawan bermain jauh dibawah performa kiper utama yang diganti karena cidera engkel. Situasi inilah salah satu keberuntungan tim merah. Hingga pluit berbunyi nyaring tanda laga usai.


Semua anggota tim merah berpelukan. Segera menuju kedua coach untuk melakukan toss.


Skor akhir empat lawan satu untuk tim merah.


"Go...go....red team go for win!"


Tak di prediksi, tim merah menang dan masuk semifinal. Mereka berselebrasi keliling lapangan.


Sementara itu di luar lapangan, mobil Pandu memasuki areal parkir. Sorak sorai penonton terdengar hingga keluar.


"Semoga ada keajaiban. Tim Laras bisa menang, " bisik Pandu dalam hatinya.


Pandu ingin mengajak sang mama masuk ke tribun.


Mama menolak. Beliau menunggu di mobil sementara Pandu menjemput Laras ke dalam.


Ponsel Laras tak menjawab ketika di hubungi.


Lelaki itu berjalan ke arah pinggir lapangan. Menuju tim merah yang tampak beristirahat.


Dari sorak sorai dan pemandangan di tribun, Pandu tahu tim merah menang.


"Laras, gimana bisa kita permisi duluan?"


"Ehm sabar ya mas, aku ijin coach Jamil dan perwakilan orangtua."


"Iya."


Pandu menunggu sambil mengobrol dengan anak-anak. Sementara Laras menyampaikan apa yang sebelum berangkat dari desa mereka tadi sudah dia tuturkan kepada Jamil.


Ketidakhadiran Pandu dalam menemani mereka serta kedatangan sang mama.


Coach Jamil dan juga ayah Sofyan bisa memahami. Laras berterimakasih untuk itu.


"Ayo, mas. Aku sudah pamit pulang duluan."


Pandu menyempatkan menoleh ke arah Jamil dan mengangguk kepala sebagai tanda terimakasih.


Pukul lima sore.


Mereka berjalan keluar setelah Laras minta ijin ke toilet dulu. Membasuh muka serta merapikan diri. Mengganti kaos dengan hoodie berwarna putih, hadiah sang pacar. Tas ransel hitam kecilnya juga menyimpan bedak compact dan lipstik. Tentu gadis itu sedikit merias wajahnya.


"Kamu sudah lebih fresh dan cantik pakai itu."


"Makasih. Kan mas pilihkan untukku."


Berdua mereka tertawa kecil. Tangan Pandu memegang pundak sang pacar.


Sang mama kebetulan menoleh dan menyaksikan pemandangan tadi.


Sebagai seorang ibu, dirinya tak bisa pungkiri bahwa putranya terlihat nyaman jalan berdua dengan gadis itu. Senyuman dan cara mereka saling menatap.


"Ma, ini Laras."


"Selamat sore, Tante."


Sang mama tersenyum. Tipis. Matanya tak lepas dari penampilan Laras.


Sederhana. Polos. Imut. Manis juga.


Gadis itu meraih tangan mama Pandu dan mencium punggung telapak tangan beliau.


Sopan.


"Ehm sudah selesai pertandingannya?"


"Sudah, Tante."


"Tim anak didik Laras menang. Masuk babak selanjutnya, ma."


Kali ini Pandu bercerita dengan antusias.


"Ehm, ayo kita berangkat," ajak sang mama.


Mama tetap duduk di depan disamping sang putra yang mengemudi, sementara Laras duduk di jok belakang.


Mama mas Pandu modis banget. Elegan. Berkelas. Meski tubuhnya cukup berisi namun tampilan wajah terawat maksimal.


Laras mulai membatin.


Pandu mengajak mama dan sang pacar buat makan petang. Alasan dia karena sepanjang perjalanan satu jam ke puskesmas, rumah makan makin jarang. Tak banyak pilihan. Suasana juga sepi dan gelap.

__ADS_1


"Mama mau makan apa?"


"Terserah."


" Gimana kalau kita cari chinesse food, ya. Laras setuju?"


"Boleh, mas."


Jadi dia memanggil 'mas' pada anakku.


"Ma, gimana?"


"Ya, mama nanti makan sayur capcay saja. Diet dikit. Badan mulai mekar, nih.


"Sip ...ayo kita keliling kota ini dulu."


Pandu mengarahkan mobil ke alun-alun kota. Mencari sebuah restoran tujuan. Dekat pertokoan besar.


"Kita udah sampai. Ayo ma, ayo Laras."


Bertiga mereka masuk dan Pandu memilih tempat, sebuah meja bundar berisi empat kursi, di pojok ruangan.


Setelah duduk seorang pelayan menunggu di samping meja mencatat pesanan. Mereka melihat daftar menu.


"Jadi mama pesan capcay ayam ya. Aku nasi goreng udang. Kamu apa Laras?"


"Nasi goreng ayam saja, mas?"


"Ma, perlu ditambah fuyunghai atau....


"Nggak."


"Minumnya?"


"Mama es jeruk."


"Aku sama, es jeruk."


"Laras?"


"Air mineral, makasih."


Pandu mengulangi pesanan.


"Mohon ditunggu, pesanan segera disiapkan!" sang pelayan berkata seraya berlalu dengan sopan.


Perbincangan berlanjut. Terasa agak kaku. Sang mama menanyakan rutinitas pekerjaan Laras. Juga sang putra.


Pandu beralih topik tentang suasana kota propinsi dan kota kabupaten ini.


"Lumayan ramai juga disini ya?" ucap mama.


"Ehm ya, ada beberapa industri di sini. Pabrik pengolahan kelapa sawit, pabrik kertas, pabrik gula dan juga penambangan minyak bumi, Tante."


Laras bercerita panjang. Juga tentang sejarah kota kabupaten ini.


Mama mengangguk. Tatapnya tak lepas dari Laras.


Cukup cerdas.


" Malah di pinggiran pantai juga ada pengeboran minyak bumi, ma."


"Iya, iya."


"Di lokasi puskesmas nanti baru agak sepi, ma. Di kelilingi kelapa sawit."


"Mama pengin tahu."


Pesanan datang. Mereka menikmati hidangan. Obrolan ringan masih mewarnai.


"Ehm Laras selain hobi bola, ada hobi lain?"


Pandu langsung menyahut, " Dia suka bikin kue - kue kering, ma. Aku sering diminta buat nyobain."


"Iya, bagus itu."


"Masih belajar, Tante."


Lumayan, tak terlalu tomboy. Untung nggak hobi bertinju. Mama membatin.


"Suka berkebun atau lainnya?"


"Ada sedikit kebun buah di halaman, Tante."


"Ma, Laras tahu kalau aku suka memelihara anggrek, kok."


Sang mama tertawa.


"Pandu ini jiwanya lembut, beda dengan sang adik."


"Iya, Tante. Saya juga merasa mas Pandu orangnya lembut, suka nggak tegaan."


"Eits tapi jangan salah, dia suka dengerin lagu rock!"


"Karena itu Laras suka padaku, ma. Aku unik, kan Laras?"


Laras tertawa kecil.


Semoga anakku tak disakiti oleh gadis ini. Mama terus membatin.


"Makasih, Laras mau berusaha mengerti karakter Pandu. Ehm, mas Pandu ini."


Sang putra menyenggol lengan gadisnya. Kedua insan itu bertatapan dan saling tersenyum.


Mama menangkap gelagat itu. Ada chemistry yang baik diantara mereka.


"Gadis ini sepertinya baik. Tapi Pandu kan baru kenal, gimana kalau dia punya topeng?" sang mama masih kerap bercakap sendiri dalam hatinya.


Hidangan telah usai disantap. Mereka melanjutkan perjalanan.


Mama berbincang tentang kasus - kasus medis yang biasa sang putra tangani di daerah itu. Hal-hal yang bisa di handle juga situasi gawat lain. Kasus rujukan ke faskes yang lebih lengkap serta program untuk preventif. Sesekali sang mama memberi advise dan menjelaskan sudut pandangnya terhadap kasus tertentu.


Percakapan seru karena bidang mereka sama.


Laras lebih banyak terdiam. Gadis itu mendengar cerita ibu dan anak itu dengan seksama.


"Sepertinya mas Pandu cukup dekat dan terbuka pada sang mama. Ehm cenderung sedikit manja," bisiknya dalam benak.


"Coba ada Sandra. Pasti seru. Kita nyambung ngobrol soal kerja di medis," kali ini mama yang membatin.


"Kasihan Laras. Aku harus mengalihkan topik, nih." Obrolan batin Pandu lain lagi.


"Ehm, ma Laras ini hobi olahraga. Jadi dia selalu terlihat bugar dan fit. Padahal aktivitasnya banyak."


"Baguslah. Masih muda memang harus itu. Teruskan saja."


"Makasih, Tante."


"Aku sering malu, karena tak intens gerak badan."


"Kamu memang lebih banyak berkutat dengan buku-buku medis. Sesekali ikutlah itu main bola."


"Ya, ini Laras menantangku agar main badminton lagi."


Mama lagi-lagi berbisik di hati, "Ehm, gadis ini setidaknya memberi pengaruh baik. Hidup lebih sehat buat anakku."


"Makan bergizi juga harus diimbangi. Bukan melulu olahraga."


"Benar, ma. Nih, Laras sering mengirimkan lauk buatku terutama di akhir pekan. Si mbok kan libur hari Minggu."


"Oya?"


Uh, mas Pandu suka melebihkan. Baru juga sekali, aku titip lauk. Itupun masakan olahan nenek. Laras tersenyum tipis seraya berucap di hati.


"Aku terlihat lebih berisi nggak, ma?"


"Setidaknya wajahmu sudah tak tirus banget. "


"Itu karena aku suka minta makan di rumah Laras."


"Enak nggak masakannya?"


"Jelas dong ma. Apalagi dimasak dengan hati. Iya kan, Laras?"


Gadis itu tersenyum mendengar cerita sang pacar yang menurutnya sedikit berlebihan.


Tawa Pandu pecah, sementara sang mama terus membatin.


"Pandu terlihat sangat memuja gadis ini."


"Kamu kemana saja kalau libur atau akhir pekan?"


"Kemana kita Laras?"


Pandu melirik ke arah sang pacar.


"Ehm, lapangan bola."


Laras berkata spontan.


Mama tertawa. Bagus, semoga jawaban itu jujur adanya.


"Masa iya?"


"Benar ma. Hari Minggu pagi adalah jadwal Laras melatih bola anak-anak di desa sini. Bersama coach utama. Aku selalu menemani dan memberi semangat buat dia."


"Jadi kamu jadi bala bantuan tim medis, begitu?"


"Bisa dibilang begitu."


"Okelah!"


Mobil memasuki lingkungan puskesmas. Pandu memperlambat laju. Dia tak memasukkan ke garasi seperti biasanya, karena sebentar lagi dia harus mengantar Laras pulang.


Hampir pukul setengah delapan malam.

__ADS_1


__ADS_2