
Hari berlalu. Hingga minggu terakhir bulan Juni. Di sekolah murid-murid libur pergantian tahun ajaran hingga pertengahan bulan depan.
Laras dan Bu Nur menerima pendaftaran murid baru. Sudah ada sebelas putra putri yang mendaftar di TK A.
Sementara pekerjaan Pandu bertambah dengan penyuluhan kesehatan reproduksi pada siswa sekolah menengah lanjutan atas di kecamatan itu. Ada sebuah sekolah negeri dan satu sekolah kejuruan.
Setelah program lain yang bertujuan keliling desa. Jika dia berhalangan karena ada pasien darurat, maka sang dokter gigi atau bidan senior bersama perawat yang turun ke lapangan.
Ini hari terakhir bulan ini. Sebuah kabar datang dari Pram. Mengejutkan. Setelah melalui perdebatan alot disertai ancaman akhirnya gadis itu sepakat melakukan tes DNA.
Hasilnya sungguh di luar harapan Pram. Janin itu memang hasil hubungan tak sengaja mereka berdua. Di malam panas yang tak diharapkan. Bisa dikatakan hal itu terjadi karena hubungan friend with benefit antara Sandra dan dirinya.
Pram tentu syok berat. Bayangan dia harus menikahi Sandra jauh lebih buruk daripada saat dibantai papa waktu ketahuan balapan dulu.
Mama papa mendesak agar pernikahan segera dilangsungkan bahkan sebelum wisuda Pram. Tetapi namanya persiapan tentu banyak hal harus dikebut. Tidak melulu soal pesta, kelengkapan lain tentu juga diperlukan.
Kedua orangtua ingin cepat diresmikan hubungan ini. Mereka tentu tak tahu kesepakatan besar antara calon kedua mempelai setelah hari kelahiran kelak.
Yang jadi perhatian adalah keburu perut Sandra membesar. Malah akan jadi pertanyaan hingga perbincangan banyak orang.
"Gue sudah sampaikan Sandra bahwa pernikahan ini hanya formalitas. Sampai anak itu lahir. Gue juga berjanji bakal menafkahi anak itu. Dia setuju. Demi sebuah akta kelahiran yang sah secara hukum."
"Lantas Bella gimana?" Pandu bertanya lebih lanjut.
"Dia awalnya kecewa berat. Aku bisa memahaminya. Bella minta waktu berpikir dan mempertimbangkan segala kemungkinan. Belum memberi kepastian apapun. "
Pandu bisa mengerti. Tetapi tetap ingin tahu kelanjutan rencana papa.
"Apa elu ..ehm mungkin mama atau papa menawarkan opsi agar dia mau bertunangan denganku?"
Pandu hanya sekedar ingin tahu.
"Iya. Bella pun bilang akan perlu waktu bagi dia untuk memikirkannya."
Pandu kaget Pram merespon datar, tanpa emosi terhadap opsi mustahil yang ditawarkan papa mereka. Lebih tepat paksaan papa.
"Seharusnya dia menolak. Sama seperti aku. Tak baik menunda sesuatu yang tak mungkin terjadi. Elu bisa paham kan gue sudah punya Laras.
"Ehm gue tahu itu. Gue minta maaf. Pasti berat bagi semua. Tapi bagi papa mama, Bella sudah seperti putri yang tak pernah orangtua kita miliki. Keputusan ada di tangan elu berdua. Gue akan belajar mengikhlaskan...."
Suara Pram terdengar parau menahan sedih. Sang adik seperti nyaris menyerah pada keadaan.
"Gue akan bicara dengan Bella. Ini harus segera diselesaikan. Tolong kirimkan nomor ponselnya!"
Pandu memutuskan untuk menghubungi pacar sang adik. Segera membicarakan sesuatu yang penting. Menunda membicarakan rencana tak masuk akal ini akan menjadikan mereka tawanan keadaan.
Tak bijak bagi siapapun. Bahkan pada kedua orangtua mereka. Toh yang akan menjalani semua konsekuensi ini adalah Bella juga Pandu. Jadi mereka pulalah yang harus memutuskan. Kesepakatan berdua untuk menolak rencana mustahil ini.
Siang itu pula Pandu langsung mengontak Bella. Tak ada jawaban. Begitu pula chat dan SMS yang dia kirim. Tak deliv.
Pandu sampai harus mengkonfirmasi lagi nomor yang diberi Pram. Sore hari ini.
Sudah benar. Kenapa Bella tak membalas permintaan Pandu buat meminta waktu bicara?
Konon sejak menjelang sore tadi pun kontak dari sang adik tak juga di respon Bella.
Pandu mencoba mengerti. Memang benar pacar Pram tersebut butuh waktu. Kejadian beruntun yang harus diterimanya karena ulah Pram pastilah cukup berat baginya. Sekuat apapun dia mencoba tegar atau menjadi pahlawan di awal masalah.
Hingga keesokan harinya tak ada respon.
Jumat terakhir pekan ini.
Pandu pun tak ingin menekan Bella atau Pram masalah rencana papa mereka. Pertunangan itu.
Sementar Laras masih sibuk ketika Pandu mengunjungi di sore hari itu. Dia sedang pergi ke tempat konfeksi pemesanan seragam buat murid baru. Hingga menjelang petang. Pandu menunggu dengan setia. Dia membantu bik Jum menyapu halaman serta mengumpulkan dedaunan kering buat kompos.
"Lho mas kenapa nggak telpon atau kirim chat. Jadinya aku nggak mampir ke rumah Bu Nur tadi. Malah diajak rujakan segala. Maaf ya."
"Nggak apa-apa. Mas ingin kamu nggak terburu-buru. Gimana sudah beres urusan seragam?"
"Belum sih. Ada kekurangan stok kain buat baju olahraga. Besok penjahitnya akan ke pasar kota."
"Hem. Sudah banyak murid barunya?"
"Sampai hari ini ada sebelas orang. Dengan Gaby akan ada duabelas orang TK A. Mungkin ada tambahan. Biasanya ada saja tambahan di akhir masa penutupan pendaftaran."
__ADS_1
"Kamu akan tetap mengajar TK A atau B?"
"Bu Nur meminta tetap mas. "
"Hem tentu akan lebih sulit di awal."
"Ya begitulah. Kan anak-anak itu memang belum terbiasa. Terutama membuat mereka disiplin dan tertib memang perlu waktu."
Pandu membayangkan bagaimana beratnya sang kekasih akan menghandle para siswa baru dari berbagai latar belakang keluarga itu?
Butuh perjuangan dan kesabaran tinggi pastinya. Tetapi sepertinya Laras enjoy dengan pilihannya menjadi guru taman kanak kanak. Di dasar hatinya Pandu bangga pada sang kekasih.
Laras pamit mandi. Setelahnya dia ajak Pandu buat makan malam bersama nenek.
Menu yang sederhana. Lodeh nangka muda serta ikan tongkol bumbu sambel tomat. Lezat dan mengenyangkan. Tak lupa ada renyahnya kerupuk ikut menghias suasana. Tentu makan bersama sang kekasihlah hal terindah bagi Pandu. Haruskah ini akan berakhir ketika sang papa memaksakan pilihan lain untuknya?
Usai makan, mereka bersih-bersih di dapur. Nenek memilih beristirahat di kamar, sementara Laras mengajak Pandu mengobrol di ruang tamu.
"Mas masih sibuk penyuluhan?"
"Iya ada beberapa desa yang belum dikunjungi."
Pandu menceritakan bagaimana suka duka timnya berkunjung ke desa terpencil. Dari mobil yang sempat terperosok di jalanan tanah yang becek hingga pulang membawa oleh oleh hasil panen. Kacang tanah, ketela pohon hingga mangga dan pepaya serta pisang. Hampir pasti sekarung penuh. Alhasil semua personil puskesmas akan kebagian.
Laras sesekali tertawa. Ada kisah lucu pertengkaran para ibu yang anaknya bersaing buat jadi ketua karang taruna. Gossip pak kepala desa yang mendua hingga kedua istrinya nyaris barengan melahirkan hingga sosok mistis penunggu jembatan desa. Ada saja. Sampai segitunya tim menerima pengaduan warga. Di luar konteks, kadang. Tapi itulah uniknya di desa.
Pandu tak mau lagi bercerita tentang masalah keluarganya. Apalagi hal terbaru tentang tukar guling perjodohan yang konyol itu.
Dia paham Laras tak begitu tertarik. Mungkin juga akan marah seperti tempo hari.
Dia hanya berkisah tentang wisuda sang adik pekan depan.
"Jadi mas akan pulang ke Jakarta?"
"Iya, mas cuti hanya sehari. Jumat. Sabtu keesokan harinya acara wisuda. Minggu sore mas sudah kembali."
"Iya hati-hati. Ingat oleh-oleh ya," Laras tergelak.
Pandu mengiyakan. Tangannya menggenggam jemari sang gadis. Dadanya berdesir. Mereka berdua saling menatap dalam. Mata penuh cinta Laras menghujam hatinya.
Sebuah kecupan di pipi kanan sang pacar mengakhiri kencan bersahaja malam itu.
Galau dan beragam tanya di benak Pandu beberapa hari ini membuatnya menanyakan perasaan terdalamnya buat Laras.
Ternyata rasa itu memang harus dia perjuangkan. Ragu tak boleh lagi menyelinap. Laras adalah gadis yang ingin dia ajak mengarungi hari depannya. Sikap dan karakter Laras begitu mengesankan Pandu. Tak dapat dibandingkan. Pun tak dapat digantikan. Gadis itu memberi warna baru dalam hidupnya. Membumi dan bersahaja.
Gadis itu bukanlah pengisi kesepiannya semata. Pada Laraslah dia menemukan banyak hal yang dia ingin bagikan kelak. impian dan harapan.
Merajut kisah dan kenangan masa sekarang dan memimpikan masa depan bersama. Semoga dia pun adalah lelaki yang Laras inginkan buat menjalani saat ini dan masa mendatang.
Pandu memantapkan diri.
Sabtu pagi ada pasien darurat yang perlu penanganan serius. Pendarahan dari sistem pencernaan dan muntah tak berhenti sejak semalam. Demam tinggi. Pasien yang sama beberapa bulan lalu pernah datang berobat. Sudah Pandu buatkan rujukan buat ke RS kota. Indikasi ada kemungkinan kanker usus stadium awal. Belum dilakukan juga.
Akhirnya hari ini pasien langsung diantar ambulans ke RS kota. Pak Leo dan perawat Jauri mengantarnya.
Sabtu sore. Pandu kembali mengunjungi rumah Laras. Gadis itu sedang latihan cardio ringan dan berlari mengelilingi empang. Pandu menyusulnya dengan meminjam motor gadis itu.
"Tunggu disana, mas!"
Laras melambai dari seberang empang. Tempat umum milik desa itu sudah seperti area publik yang bebas di akses warga sekitar.
Pandu baru sampai jalan masuk.
Lelaki itu membalas lambaian tangan. Tubuh langsing sang gadis dibalut kaos oblong putih dan celana training merah bergaris putih. Sepatu kets yang sama, warna putih. Rambut ekor kuda.
Ada dua orang remaja tanggung yang terlihat memancing di sudut kanan dekat pepohonan.
Laras mengobrol dengan mereka setelah keduanya berteriak-teriak kegirangan kala hasil pancingan ditarik. Seekor ikan mujair cukup besar berhasil pindah ke keranjang bambu. Ketiganya tertawa bersama saat salah seorang bercerita kronologis terjadinya umpan termakan sasaran.
"Kamu kenal mereka?" Pandu bertanya saat sang gadis telah menghampiri.
Nafas Laras sedikit terengah.
"Sebagian besar warga kampung saling mengenal satu sama lain, mas."
__ADS_1
"Ehm iya. Ya. ... itulah hidup di desa. Coba di kota besar. Bahkan tetangga kini banyak yang tak saling kenal. Hanya sekilas. Sekedar say hello. Apalagi ada sosmed. Yang dekat terasa jauh. Tapi yang berada begitu jauh rasanya malah dekat."
Pandu berkata panjang seolah pada dirinya sendiri.
Laras tersenyum," Semua ada kelebihan dan kekurangan. Di desa tetangga rasa saudara, mas."
"Benar...ehm masih ingin lanjut?"
"Mas mau nunggu? Baru tiga putaran. Mas bisa ikutan memancing dengan Jono dan Dayat, tuh!" Laras menyebut dua nama remaja tadi.
"Okelah. Mas penasaran dengan cara mereka. Kelihatan asyik."
Laras berlari kembali. Mungkin untuk dua atau tiga putaran lagi. Agar sesuai target latihan.
Sementara Pandu asyik bercakap-cakap dengan dua remaja yang masih semangat memancing ikan. Sesekali dia ikut menarik pancing. Seru. Ternyata kegiatan sederhana ini juga dapat menghilangkan penat. Penuh interaksi dan tak terasa Laras telah ikut nimbrug.
Hingga menjelang petang. Dua remaja itu membagi ikan buat Laras dan Pandu. Dua dari delapan ikan berpindah ke tangan Laras. Mujair berukuran sedang.
"Nanti kita bakar mas. Bareng nenek."
Laras sungguh gembira.
Mereka berboncengan pulang.
"Buat malam mingguan ya," celoteh Pandu.
"Iya."
Mereka berdua tertawa.
Nenek ikut gembira. Segera membantu sang cucu buat membakar ikan di halaman belakang. Membuat bumbu buat dioleskan pada ikan yang telah dibersihkan Laras. Potongan tempe beberapa biji ikut ditambahkan. Sambel tomat serta potongan mentimun jadi teman lauk.
Jadilah setelah itu mereka bertiga makan malam bertiga. Percakapan ringan berlangsung. Nenek bercerita bahwa sewaktu kakek masih ada, mereka sering mengisi waktu akhir pekan dengan memancing. Ada kolam ikan mas dan mujair di halaman belakang. Sesekali tetangga sebelah rumah akan ikut bergabung dengan lele bawaaannya.
Sungguh kenangan yang indah. Sederhana namun penuh keakraban.
"Ehm, nek sepertinya mas Pandu juga harus belajar memancing ya."
Gadis itu menatap lekat sang kekasih yang lahap menyantap ikan.
"Benar. Kapan-kapan belajar dengan Jamil juga bisa," ujar nenek.
"Bukannya lik Sapto suami bik Jum ahli memancing? Biar Laras dan mas Pandu minta diajarkan dia saja, nek!"
Pandu lega, sang gadis peka dengan apa yang ada di benaknya.
Nenek kerap menyebut Jamil dalam banyak kesempatan. Meski di dalam hatinya Pandu telah menetapkan bahwa lelaki itu tak masuk lagi daftar yang harus dia cemburui namun celah untuk itu tetap ada. Apalagi dia tak pernah mendengar Jamil punya seseorang spesial. Pacar atau tunangan atau apapun mungkin calon istri. Jangan-jangan ....ehm. Pengisi hati Jamil adalah.....Laras.
Pandu tak mampu menepis pikiran itu.
"Gimana mas, mau memancing denganku dan lik Sapto? Kok melamun saja. Ikan bakarnya kelewat enak ya?"
Laras tertawa.
"Eh eh...ya. Iya. Ini benar-benar segar. Terimakasih. Sambelnya juga lezat."
Pandu tersenyum melirik sang pacar. Laras memberi kode dengan mengedipkan mata. Gadis itu benar-benar membuatnya senang. Mengerti isi hati Pandu.
"Lihat nanti kalau lik Sapto bisa libur di hari Minggu. Supir ekspedisi seperti dia selalu malah sibuk di hari libur," ucap nenek.
"Coba nanti Laras tanya bik Jum ya."
"Sepertinya kita bisa memancing dekat sungai belakang kantor Polsek ya?"
"Lho kok mas tahu tempat itu?" tanya sang pacar.
"Iya. Ada anak buah mas sering cerita."
"Hem, ya. Memancing di empang dan sungai sedikit berbeda. Perlu telaten dan sabar," lanjut nenek.
"Tenang nek. Mas Pandu pasti bisa. Iya kan, mas?"
"Iya....ternyata memancing juga mengasyikkan. Boleh kita nikmati kapan-kapan ya."
Pandu kembali tersenyum pada sang gadis. Laras tergelak.
__ADS_1
Hal-hal sederhana seperti inilah yang kerap membuatnya kangen dan semakin mencintai gadis itu. Laras mulai bisa memahami diri Pandu.
Obrolan berlanjut. Laras mengajak Pandu ke ruang tamu setelah selesai berberes serta mandi.