Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 28. Rencana Pandu


__ADS_3

Mama masih beristirahat di kamar, saat Pandu dan Laras tiba. Pukul duabelas kurang.


"Sepertinya beliau masih lelah dan tertidur. Tadi sempat minta di pijit ," ujar mbok Siti.


" Biar istirahat. Nanti aku tengok. Oya tolong dibuatkan dua teh buat kami, mbok. Makasih."


"Baik, dok."


Pandu mengajak Laras ngobrol di ruang tamu. Persiapan laga empat hari lagi. Lusa ada latihan dengan durasi setengah porsi . Biar para pemain tak terkuras energinya.


"Dukungan pabrik masih sama. Memberi pinjaman dua bis. Konsumsi juga tak keluar dana karena semua orangtua akan mendukung. Sudah ada yang mendaftar. Minuman, susu, kue hingga nasi kotak."


"Oya. Mereka pasti turut bangga dengan prestasi anak-anak."


"Sepertinya Bian akan masuk nominasi top scorer."


"Hebat."


"Siapa dulu pelatihnya?"


Iya, coach Laras yang manis itu lho, ha ha,ha.."


Pandu terkekeh. Laras tersipu, kegeeran.


Mama telah bangun dan tak sengaja mendengar percakapan mereka.


"Pandu terlihat bahagia bersama gadis itu. Sering tertawa juga tersenyum simpul. Terus aku sebagai mamanya, apa tega tak merestui hubungan mereka?" batin mama.


Perempuan paruh baya itu menghela nafas panjang. Lalu membuka pintu dan berdehem.


"Mama sudah terjaga. Ayo kita makan siang dulu, ma," ajak Pandu.


"Selamat siang, Tante, "Laras menyapa dengan mengangguk hormat.


"Jam berapa kita berangkat nanti?"


"Paling lambat setengah duaan, ma."


"Kalau begitu mama bersiap dulu. Berganti pakaian dan dandan."


Mama masuk ke dalam kembali.


Perbincangan sang anak dan pacarnya berlanjut.


"Gaby sudah keluar dari RS, namun masih pemulihan di rumahnya."


"Mas dapat berita dari mana?"


"Papanya berkirim chat tadi pagi. Beliau berterimakasih pada mas dokter dan ibu guru Laras, katanya. Beliau juga minta aku sering mengecek kondisi putrinya."


"Aku ingin menengok Gaby."


"Jangan dulu, biar total beristirahat. Agar benar-benar pulih dan ketahanan tubuhnya kuat."


"Kira-kira kapan dia bisa sekolah?"


"Sekitar dua mingguan ini."


"Semoga ya, mas. Semua sudah kangen dengan keceriaan si kecil Gaby."


Setengah jam berlalu, mama telah selesai bersiap. Pakaian resmi. Blouse ungu dengan celana panjang senada. Di padu blazer merah. Rambut bergaya bob pendek telah rapi, walau ada sedikit warna keperakan mulai tampak.


Laras mengagumi style fashion mama Pandu.


" Ayo kita makan siang dulu," ajak Pandu berdiri dan menuju dapur.


Sang mama dan Laras mengikuti dia.


Hidangan telah siap. Soup ayam dan tempe goreng crispy. Sambel serta krupuk. Ada potongan buah pepaya merah yang segar.


Mama hanya menyantap buah lalu mengambil tiga sendok sayur soup.


"Kok nggak pakai nasi, ma?"


"Kan mama udah bilang mau kurangi kalori dan kolesterol.


"Nggak lapar sampai petang nanti, ma?"


" Pukul enam akan ada jamuan peserta simposium di hotel tempat mama menginap. Sebenarnya sore ini semua sudah harus check in. Tapi gak apa-apa. Penerbangan dari sini ke Medan cuman sejam kurang."


"Hem, ya deh."


"Ayo kamu dan Laras makan yang banyak. Kalian masih muda biar sehat."


"Terimakasih, Tante."


Mereka bersantap seraya mengobrol ringan. Tentang pekerjaan Laras. Suka duka menjadi guru TK. Juga kisah Pandu saat menangani beberapa pasien darurat di puskesmas.


"Acara di Medan berapa hari Tante?"


"Resminya hanya dua hari. Nyambung refreshing satu atau dua hari lagi."


"Ya, mama bilang sekalian reunian "


"Benar, cari waktu kumpul bersama itu kan susah. Apalagi nanti jika sudah pada pensiun. Fokusnya pada momong cucu, he he he...."


"Ehm, mama. Pengin punya cucu berapa, ma?"


"Berapa rejekinya, kita terima."


"Kan juga harus kita rencanakan."


"Lha kamu mau punya anak berapa? Pram berapa?"


"Tanya Laraslah ma, berapa kali mau hamil dan melahirkan? Ha, ha, ha..."


Pandu melirik sang pacar dengan mesra. Laras yang sedang memasukkan suapan terakhir ke mulutnya, jadi salah tingkah. Mama hanya senyum tipis lalu mesem-mesem, melihat kelakuan sang anak.


"Huh....mas Pandu ini ngelantur saja. Dari tadi nyinggung masalah anak melulu," batin Laras.


"Ayo, ayo di habiskan makannya. Setelah ini kita siap berangkat."


Obrolan kembali terdengar. Mereka telah selesai makan lalu duduk di ruang tamu.


Mama memulai percakapan rencana Pandu mengambil program spesialis.


"Tahun depan pasti, ma. Awal tahun, tepatnya. Semoga aku sudah memantapkan pilihan."


"Iya, peluang untuk mengekplorasi perkembangan ilmunya juga dipertimbangkan. "


"Baik ma. Pilihan pertama tetap penyakit dalam. Kedua mungkin spesialis anak."


"Oke, kamu kaji lagi yang lain. Jantung atau bedah, mungkin?"


"Pandu coba menganalisa semua pilihan dulu."

__ADS_1


"Mama papa tunggu keputusanmu."


"Ehm, boleh Pandu bicara hal lain ma?"


"Iya, tentang apa?"


"Begini....., sebelum ambil spesialis, Pandu ingin menikahi Laras terlebih dahulu."


Deg, jantung sang pacar serasa berhenti sejenak. Lalu berdebar kencang setelah itu. Sementara Pandu sangat tenang dan terlihat yakin.


Mama terdiam. Menatap sang anak dan pacarnya silih berganti.


Lalu tak lama, tersenyum," Tolong siapkan dan mantapkan diri kalian masing -masing dulu. Menikah itu tidak mudah, lho. Itu keputusan besar dan penting dalam hidup."


"Pandu sadar itu, ma."


"Ehm, kamu juga harus dengar dan mengerti keinginan Laras."


"Bagaimana, Laras?"


Pandu bertanya seraya menoleh dan menatap wajah sang pacar yang tampak tak nyaman tentang percakapan terakhir barusan.


"Duh....mas Pandu ini. Membuat pernyataan tak diskusi dulu. Terlalu cepat. Penuh emosional. Awas deh!" Laras tak henti berkata di hatinya.


"Hem, heh.....saya belum bisa bicara tentang hal itu. Maaf."


Gadis itu salah tingkah dan menjawab dengan gugup.


Pandu menggenggam jemari tangan kanan sang pacar. Dia sedikit merasa bersalah seperti menekan Laras.


"Sudah, sudah. Pandu dan Laras, sebaiknya kalian bicarakan berdua dulu hal sensitif seperti ini. Okey?"


"Hem, makasih ma."


"Ayo, sebentar lagi berangkat. Mama ke dalam dulu, ambil tas."


Terdengar perdebatan sang anak dengan kekasihnya itu.


"Mas, tolong jangan suka begitu. Aku tak nyaman!"


"Laras, kita tuh harus memanfaatkan momen. Aku ingin mama tahu bahwa kita menjalin hubungan ini secara serius. Tidak main-main!"


"Iya, aku tahu. Tetapi ini terlalu tergesa!"


Nada suara Laras meninggi.


"Please, percaya aku. Aku sadar apa yang kukatakan pada mama."


Hening.


"Apa kamu gak mau, aku melamarmu cepat-cepat?"


Laras terdiam terus. Ngambek. Ingin rasanya menumpahkan seluruh uneg unegnya. Namun dia tersadar sedang ada dimana dan dengan siapa saja saat itu.


"Aku mau ke toilet belakang dulu, mas."


Gadis itu ngeloyor pergi.


Pandu menata hatinya. Sesungguhnya tadi itu tak dia rencanakan. Spontan. Yang dia tahu harus segera menangkap momen untuk berbicara serius pada mama. Mumpung ada sinyal baik, sang mama merestui hubungannya dengan Laras.


Pandu melamun. Tiba-tiba mama sudah dihadapan dia. Menyeret koper. Tas tangannya tergantung di lengan kiri.


"Ssst, Pandu. Tadi itu mama mengerti keinginanmu. Tapi tolong juga kamu pahami perasaan Laras. Mama juga perempuan, jadi tahu gimana di posisi dia."


Pandu minta ijin menyusul Laras ke belakang. Gadis itu lama tak keluar juga dari sana.


Pandu menunggui di depan halaman belakang. Tak sabar, lelaki itu mengetuk pintu toilet.


"Laras, Laras, kamu kenapa lama? Gak apa-apa kan?"


Diam.


"Laras, tolonglah. Ayo keluar. Aku minta maaf soal tadi."


Pintu toilet terbuka. Laras berjalan pelan, memegang tissu di tangannya.


Pandu segera meraih kedua lengan sang pacar. Mangamati wajah Laras. Ada butiran bening mengalir perlahan.


"Maafkan aku membuatmu tak nyaman."


Pandu memeluk sang gadis. Sementara Laras hanya berdiri mematung.


Laras seperti sedikit terisak. Pandu mengeratkan pelukan. Diusap-usapnya punggung sang kekasih.


"Sudah....Maaf ya....tadi."


"Mas, harus janji tak seperti itu lagi. Aku merasa tak di hargai. Mas jangan seperti memaksa dan menekanku."


Suara parau Laras membuat Pandu melembut.


Sang mama melongok ke arah belakang dari jendela dapur.


"Mereka sesungguhnya terlihat serasi. Hanya memang perlu waktu lebih lama untuk saling memahami," batinnya.


"Ehm iya, Laras.....Aku janji tak membuatmu sedih lagi. Tolong selalu ingatkan aku, ya sayang."


Laras mengangguk dan melepaskan pelukan Pandu.


"Ayo perbaiki riasan wajahmu, kita berangkat sebentar lagi. Aku ambil minum untukmu, ya."


Mama tersenyum ke arah Pandu begitu sang anak sampai di dapur. Kelembutan sikap Pandu tadi mampu meluluhkan hati sang kekasih.


Tak lama Pandu membawa segelas air mineral ke arah belakang. Laras yang tengah melihat cermin di bedak compactnya menoleh. Memasukkan benda itu ke dalam tas kecilnya. Lalu mengambil gelas yang disodorkan Pandu seraya langsung meminum isinya.


"Makasih, mas."


"Nah itu sudah cantik kembali. Ayo kita berangkat."


Mereka siap berangkat dan segera pamit pada mbok Siti yang sedang menyetrika pakaian di areal loundry.


Mobil Pandu meluncur ke luar dari halaman puskesmas. Menuju arah jalan besar keluar kecamatan hingga masuk ke lintasan trans Sumatra.


Hampir pukul dua siang.


Suasana dalam kendaraan kecil itu senyap sejenak. Mama yang kali ini memilih duduk di jok belakang asyik memeriksa ponsel.


Laras terdiam di sebelah Pandu yang fokus mengemudi.


"Hem berapa lama nih perjalanannya?" tanya mama.


"Sekitar dua jam, ma."


"Lalu lintas lumayan ramai ya?"


"Biasa begitu ma, akhir pekan. Pada ke pusat kota semua yang dari pedalaman atau pinggir kota buat refreshing."

__ADS_1


"Sama aja dengan di ibukota. Pada kabur ke Bogor atau sekitarnya kalau weekend."


"Yah....melepas penat dan rutinitas kerja."


Pandu menyetir dengan kecepatan cukup tinggi di jalan bebas hambatan. Sesekali sempat melirik sang pacar yang lebih banyak diam.


"Ehm, Laras dulu kuliah dimana?" mama mencoba ngobrol dengan gadis itu.


Laras menjawab bahwa dia kuliah di sebuah universitas negeri di kota propinsi.


"Kost ya dulu?"


"Tidak, tinggal di rumah bude."


"Ngenger."


"Ma, budenya Laras ini punya dua rumah makan Padang di sana."


"Hem, bisnis kuliner."


"Iya, Tante."


"Laras punya dua sepupu cowok. Sekarang satunya jadi prajurit dan sedang tugas di Papua. Satu lagi menjadi dosen di Jakarta..Benar, kan Laras?"


"Oya?"


"Ya, Tante."


"Ngajar dimana sepupumu?"


Laras menyebutkan kalau bang Herman menjalani profesi dosen ekonomi di sebuah universitas swasta. Saat ini sedang tugas belajar untuk program magister di luar negeri.


"Hebat."


"Terimakasih, Tante."


Mama membatin, "Keluarga gadis ini lumayan berpendidikan."


Pandu menyempatkan diri menyinggung sang prajurit sangar, bang Norman.


"Pernah kontak dengannya, Laras?"


"Tiga hari lalu, dia menelpon nenek dan aku. Memberi kabar sudah di lokasi. Minta di doakan."


"Hem, kalau dia telpon lagi, bilang mas Pandumu ini titip salam."


"Iya, nanti kusampaikan."


"Pandu mengenal keluarga gadis ini juga," bisik mama di hati.


"Eh, Hem ya. Salam buat si Alvin juga. Tolong sampaikan bahwa kamu sekarang udah resmi jadi pacar dokter Pandu, ha ha,ha..."


"Aduh, mas ini. Kumat deh," kelakar Laras, kembali ceria.


Sang mama ikut tersenyum simpul. Jadi saingan Pandu dulu seorang prajurit.


Memasuki rest area di pertengahan perjalanan. Pandu ingin membeli kopi dan snack. Mereka bertiga turun sekalian ingin meregangkan pinggang.


"Ayo mama dan Laras pilihin snacknya, aku pipis ke toilet dulu."


Tak seberapa lama sudah terbeli segelas kopi latte, dua botol air mineral, dua snack kentang rasa keju dan barbeque. ukuran besar. Juga sekotak kecil permen mint. Mama menambahkan tissue basah dalam kemasan kecil buat di selipkan di tas tangan beliau.


Mobil kembali melaju. Kini percakapan lebih seru karena ada suara nyaring snack yang mereka nikmati.


Obrolan berkisar rencana dan topik simposium. Lalu suasana di ibukota propinsi ini.


Laras cukup mengenal tiap sudut kota. Gadis itu bercerita tentang ikon kota juga tempat buat rekreasi di sekitarnya. Tiga setengah tahun masa studinya dulu di sini membuatnya paham situasi kota secara detail.


Sampai di bandara. Pukul empat lima menit. Setelah parkir mereka bergegas ke arah gerbang keberangkatan.


"Mama pergi dulu ya. Kalian hati-hati dalam perjalanan pulang nanti."


"Iya, ma."


"Baik, Tante."


Pandu dan Laras silih berganti mencium punggung tangan beliau. Pandu memeluk sang mama erat.


"Ma, ingat kirim foto selfie di pinggir danau Toba ya."


Mama tertawa," Oo, tentu sayang."


"Sudah ya, bye bye...."


"Hati-hati ma..."


Mama menoleh sejenak dan tersenyum lalu melangkah masuk ke areal check ini. Hingga bayangan beliau tak terlihat, Pandu mengajak Laras kembali ke mobil.


Setelah di dalam, duduk berdampingan dan mesin telah dihidupkan, air conditioner menyala, tiba-tiba Pandu mencium pipi kanan sang kekasih. Sangat cepat.


Beruntung mobil mereka mendapat lokasi yang sedikit lengang.


"Mas Pandu?"


" Aku gemas liat kamu."


"Lho?"


"Sejak di rumah aku sudah ingin menciummu. Meminta maaf dengan mengecup kening, wajah dan bibirmu."


Laras mencubit pinggang Pandu. Tawa pecah.


Pandu mendekatkan wajahnya pada Laras," Boleh menyentuh yang sensitif?"


Gadis itu memejamkan mata.


Secepat kilat Pandu beraksi. Ciuman lembut penuh cinta mendarat di bibir ranum Laras. Sejenak hening. Terdiam.


Mereka menikmati momen penuh kenikmatan itu.


Laras membalas kecupan sang kekasih.


Kali ini Pandu memegang kedua rahang gadisnya. Beberapa kali memagutkan rasa yang mengalir penuh gejolak.


Tersadar ketika ada sebuah mobil memasuki areal dan mengambil tempat di sebelah sedan Pandu. Untung kaca kedua mobil cukup gelap.


"Makasih, sayang......"


"Iya sama-sama."


Suara ******* Pandu terdengar indah. Laras selalu menyukainya. Lelaki itu selalu mengucapkan rasa terimakasih setelah berciuman.


Mereka berdua bertatapan dan tersenyum penuh cinta.


Sebuah bahasa kasih yang akan tersimpan penuh makna.

__ADS_1


__ADS_2