Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 37. Janji


__ADS_3

Sebuah telepon di pagi hari mengejutkan Pram. Pukul setengah enam pagi.


"Segera kembali ke Jakarta hari ini! Papa dan mama mau bicara serius. Kamu gak boleh melarikan diri dengan alasan refreshing!"


Pram lebih banyak terdiam. Hanya kata maaf serta janji segera kembali yang dia katakan pada mama.


Setelah telepon di tutup, lelaki itu segera ke kamar sang kakak. Mengetuk pintu berkali-kali.


"Pagi, mas Pram!"


Suara si mbok menyapa.


"Eh, ya mbok. Pagi."


"Dokter belum bangun ya. Tadi mbok dibilangin satpam kalau pak dokter begadang sampai subuh sejak tengah malam. Ada pasien gawat. Pasti sekarang capek."


"Oya?"


Pram membatin," Pasti gue terlelap banget semalam hingga gak tahu Pandu berjibaku dengan tim untuk menolong pasiennya."


"Sebentar lagi pasti bangun, mas."


Si mbok berjalan ke dapur.


Kembali Pram berbisik sendiri.


"Kakakku disini berjuang. Egois banget gue ganggu dia dengan masalah gue yang bodoh ini."


Pram kembali ke kamarnya.


Pukul tujuh pagi, Pandu keluar dari kamar. Sudah mandi dan rapi. Siap dengan pakaian kerjanya.


"Pagi dok, hari ini masak pepes ikan tuna dan sayur bening bayam."


"Boleh. Tambah tempe goreng dong mbok."


Pandu duduk dan membuat sarapan sendiri. Roti tawar diolesi seksi coklat dan segelas teh hangat.


"Siap."


"Ehm, Pram belum bangun mbok?"


"Tadi terlihat mengetuk pintu kamar dokter. Mbok bilang mungkin dokter bangun agak siangan karena ada pasien gawat tengah malam."


"Biar aja mbok. Aku ada dinas ke luar pagi hingga siang. Mungkin gak makan di rumah. Tolong bilang ke Pram ya."


"Iya, dok!"


"Berangkat dulu mbok. Aku ke kantor depan!"


"Baik "


Dokter itu berlalu.


Sebelum mulai bekerja dia menyempatkan memeriksa ponsel. Ada chat dari Laras. Setengah jam lalu.


Ritual pagi. Saling menyemangati dan mengatakan I love you.


Pukul delapan dua puluh menit Pandu meluncur ke sebuah desa buat penyuluhan tema yang sama buat sebulan ini. Kali ini bersama Handi, sang perawat dan Bu Ina, bidan senior.


Hingga istirahat makan siang di rumah sang kepala desa yang menjamu mereka. Setengah dua belas.


Sebuah chat dari sang adik terkirim satu jam lalu meminta dia menghubungi jika sudah ada waktu longgar.


Pandu minta ijin buat telpon. Menjauh dari tempat tim dan perangkat desa yang sedang mengobrol ringan usai makan.


"Hallo. Ada apa Pram?"


"Hallo. Gue diminta balik hari ini sama mama."


"Lu jawab gimana?"


"Gue iyakan. Cuma ini ntar gue mau hubungi mama. Bilang tiket hari ini habis. Gue berangkat besok."


"Mobil rent carnya gimana?"


"Barusan gue dari sana. Ngecek. Ntar sore diusahakan udah kelar."


"Apa mama udah tahu masalah lu?"


"Tadi sih gak nyinggung tentang itu. Hanya bilang papa mama mau bicara serius sama gue!"


"Gue balik ke kantor pukul tigaan. Nanti kita bicara lagi. Udah makan lu?"


"Ini baru mau. Lu sendiri?"


"Baru selesai."


"Ok, lanjutin tugas lu. Sori gue gangguin."


"Ehm ya."


Pandu menutup ponselnya.


Berbagai pikiran liar mulai merayap dalam kepalanya.


Dia mengafirmasi diri agar tak overvthinking. Fokus pada tugasnya hari ini.


Kunjungan kedua ke desa dekat bendungan. Berjarak tujuh kilometer dari puskemas. Sebuah kampung penghasil palawija.


Penyuluhan berlangsung seru di balai desa. Para ibu banyak bertanya tentang masalah gizi putra putrinya. Juga beberapa penyakit balita dan manfaat imunisasi.


Pukul setengah tiga, tim pamit. Oleh-oleh sekarung kacang tanah dari kepala desa membuat mereka senang. Panen tahun ini melimpah.


Sampai di puskesmas segera dibagi rata. Tiap personil ada yang bawa satu hingga dua kilo kacang tanah ke rumahnya masing-masing.


"Udah pulang?" sapa Pram yang sedang membuka laptop dan duduk di ruang tamu.


"Iya."


Pandu membawa kantong plastik hitam berisi dua kilogram kacang yang masih terbalut kulit. Dia memberikan pada si mbok yang hendak pamit.


"Tolong di kukus kira-kira sekilo aja, mbok. Buat camilan. Sisanya mbok bisa bawa pulang. "


"Baik dok."

__ADS_1


Pandu masuk kamar dan mengganti baju kerja dengan celana pendek serta kaos oblong. Lalu ke dapur mengambil segelas air minum.


"Gimana rencana lu?" tanya Pandu.


Kini dia sudah duduk di hadapan sang adik.


"Itulah seperti yang gue bilang tadi."


"Mobilnya?"


"Udah mau diantar ntar lagi."


"Cukup nggak uang lu?"


"Sudah, sudah cukup."


"Tiket udah dapat?"


"Ini lagi nyari. Tersisa penerbangan siang. Pukul dua siang."


"Ambil aja."


"Iya."


"Ehm, apa gadis itu sudah memberi tahu orangtua kita ya?"


"Maksud lu, Sandra?"


"Jelas, siapa lagi? Ada yang lain? Tak mungkin itu Bella.


"Uhhh, sial. Udah janji sama gue, dia tak akan bilang siapapun sampai hasil tes dilakukan! Awas lu, Sandra!"


Pram menahan geram.


"Gimana nih gue kalau disidang papa mama?"


"Menurut gue lebih baik lu sampaikan dengan jujur. Hadapi dengan ketenangan maksimal. Semuanya, termasuk rencana tes. Setelah ada hasilnya baru bisa bikin keputusan. "


"Benar. Itu satu-satunya cara. Gue tak punya pilihan lain."


"Masalahnya berbeda jika orangtua Sandra tahu duluan."


"Itu, yang gak bisa kita kontrol. Gue bisa minta tolong sekali lagi, lu telpon mama. Kira-kira hal serius apa yang ingin dibicarakan dengan gue!"


"Kenapa gak lu sendiri yang minta penjelasan ke mama langsung?"


"Gue belum siap dengan hal terburuk yang mungkin terjadi. Please...!"


"Ini udah masalah terburuk hidup lu, sekalian aja dibuka habis-habisan!"


"Apanya?"


"Kelakuan lu itu! "


"Ehm, ini akan jadi vonis berat. Ibaratnya gue tuh terpidana seumur hidup. Apalagi mesti nikah dengan gadis itu!"


"Belum terpidana tetapi masih tersangka utama!"


"Ya, ya ....bener. Satu-satunya bukti yang bisa nyelamatin gue, ehm ataupun nanti justru memenjarakan gue adalah tes DNA itu."


Pandu berlalu pergi. Mematikan panci diatas kompor yang tadi dipakai mengukus kacang tanah. Si mbok udah pulang.


Lanjut juga mengambil jaket bomber warna khaki dari dalam kamarnya. Dia pamit mau bawa sedannya ke tempat car wash. Setelah ikut bertugas ke beberapa desa, debu dan lumpur ikut terlukis di bagian tertentu. Terutama pada keempat ban.


Sang dokter menuju tempat yang dituju yakni arah belakang pasar. Sore hari seperti ini mulailah pedagang kaki lima yang berbisnis kuliner membuka lapak sepanjang halaman dan areal parkir yang mengelilingi pasar terbesar di kecamatan itu.


Ada pedangang sate, bakso dan mie, es dan bubur kacang hijau serta tentu aneka gorengan.


Seraya menunggu, Pandu ingin menelpon sang pacar.


Ternyata Laras masih di sekolah, baru usai menunggu pemasangan tenda dan panggung buat acara besok. Kenaikan kelas dan perpisahan TK B.


Pandu teringat janji sang adik yang akan membantu dokumentasi. Berarti jika dia balik ke Jakarta besok, maka sang kakak lah yang harus melakukan tugas memotret itu.


Janji adalah janji. Harus dipenuhi.


Lelaki itu segera pulang setelah sedannya beres di cuci bersih. Dia akan bicara tentang janji ini dengan adiknya.


Mobil SUV yang dipinjam Pram telah terparkir di sisi jalan dekat gerbang puskesmas.


"Lu udah beresin masalah rent car. Tiket gimana?"


"Udah, besok gue balik jam dua siang."


Pram masih berkutat di depan laptop. Memeriksa segala laporan klinik. Seraya menikmati camilan kacang.


"Gue mau bicarain janji lu pada Laras untuk memotret acara besok. Gue pinjam dulu kamera lu, ya. Biar disini dulu. Pas menjelang wisuda, gue balikin."


"Lu bisa pakai? Itu kamera canggih."


"Ya ajarin dulu dikitlah. Gara-gara lu banyak janji begini jadinya. Lu mudah berjanji dan gak bisa menuhin, gue mesti tanggungjawab."


"Baiklah. Sori gue harus balik lebih cepat. Maksud gue kemarin kan baik. "


"Maksud boleh baik, realisasinya belum tentu juga sama baiknya!"


"Iya. Cerewet banget nih dokter!"


Pram mengambil kamera merk terkenal miliknya dari ransel. Mulai mengajari cara pakainya. Pandu berkali-kali mencoba memahami.


Sang adik memberi contoh dengan telaten.


Cekrek. Cekrek. Cekrek. Beberapa sudut rumah menjadi tempat latihan. Bunga dan tanaman hias yang ada di pot sampai wajah Pandu yang di close up.


Giliran sang kakak mengoperasikan kamera. Memotret apapun di sekitar mereka.


Setelah itu dua bersaudara itu mendiskusikan hasil tangkapan kamera.


"Duh, besok gue jadi fotografer gadungan dong!"


"Intinya lu harus pede, perhatiin fokus dan angel. View yang mau diambil. Tenang, jangan goyang ketika mulai menekan tombol. Ntar pelajari juga manual kamera ini. Untung selalu ada di ransel gue!"


Alat fotografi cukup besar dengan lensa otomatis itu terasa sulit dioperasikan oleh Pandu.


Berdua mereka mencoba keluar rumah. Memotret sekitar taman, lalu kedepan ruang. Benda diam seperti mobil sedan dan ambulans, pepohonan hingga motor para perawat jaga dan satpam.

__ADS_1


Giliran media bergerak. Burung-burung yang hinggap di dahan pohon dekat area parkir hingga lalu lintas depan puskesmas.


Kembali mengamati hasil pemotretan.


Tampak belum maksimal, sesuai harapan.


"Sulit amat," gerutu Pandu.


"Pake feeling juga dong! Yang tenang. Kayak lu periksa pasien. Konsentrasi!" Pram, membalas.


"Okey, okey."


"Sekarang coba gue jadi model."


Pram bergaya aneka pose, di dekat taman. Berdiri dengan merentangkan tangan, melompat hingga memiringkan badan seraya bergerak seperti orang menari gaya bebas.


Sementara sang kakak mengikuti aksi kocaknya.


"Responmu dipercepat dong. Besok tuh para murid beraksi, media bergerak jadi harus dapat moment terbaik!"


"Iya ini sedang diusahakan. Kursus kilat dan dadakan pengin hasil bagus. Mana ada?"


Pandu berdiri, sedikit berjongkok, sesekali minta sang adik mengulang pose karena kewalahan dengan polahnya yang mengubah gerakan dengan cepat.


Sekali lagi keduanya memeriksa hasil di layar belakang kamera. Diskusi, saling mengejek dan beberapa kali tawa pecah diantara mereka.


"Giliran lu jadi model. Gue kasi instruksi momen apa yang harus ditangkap. Gimana caranya juga angel terbaik."


Pandu mengiyakan. Jadilah dia model bercelana pendek, belum mandi berwajah polos karena tidak berdandan. Beruntung lokasi pemotretan dilakukan di halaman belakang rumah.


Lelaki itu berpose dengan serius. Sesi pemotretan beneran. Pose berdiri. Menatap ke samping, dagu dinaikan. Tatapan ke arah layar kamera dengan wajah ceria, sendu, kaget, tertawa. Lalu pose duduk dengan kaki dinaikkan dibatas lutut. Foto jarak jauh hingga close up.


Sang adik memberi aba-aba lanjut tips mengambil view. Posisi paling tepat menekan tombol hingga pencahayaan.


"Gaya elu, boleh juga. Ada bakat jadi model. Cukup fotogenik. Hanya ekspresi perlu diperbaiki," puji sang adik.


Mereka lagi-lagi mengevalusi hasil foto yang tersimpan.


"Bener nih? Kenapa gak dari dulu gue sadari? Kan bisa jadi model beneran!"


Pandu terkekeh.


"Ge er juga nih dokter. Ha, ha ha..." Pram tak mampu menahan tawa.


Sang kakak yang biasa serius bisa sedikit genit.


"Lu, kan rada mahir motret orang. Kira-kira Laras menurut lu, ada bakat kayak gue nggak?"


"Fotogenik, maksudnya?"


"Ehm ya."


"Sepertinya. Gue perhatiin dia cukup luwes. Sehat dan bugar. Tapi masih pemalu."


"Bagus. Thank ya. Berarti gue harus belajar lebih keras pake kamera lu, agar bisa motret pacar gue dengan baik!"


"Uhhhh, modus. Beli kamera sendiri dong!" kelakar Pram.


Pandu tersenyum, "Boleh juga ide lu! Kalau hasilnya bagus, pengin juga punya kamera sendiri. Bisa merekam berbagai kenangan indah dengan.....ehm pacar."


Pram kembali membatin, "Kakakku tampak bahagia bersama Laras. Banyak bercanda, tertawa dan kerap mulai menunjukkan ekspresi yang lebih hidup ketimbang saat pacaran semasa kuliah. Lempeng. Kutu buku dan terlalu serius.


Hari mulai petang. Malam terakhir sang adik di sana, Pandu mengajak makan di luar. Warung kaki lima lesehan. Ayam, lele dan sayur lalapan.


"Bulan-bulan pertama gue disini sungguh membuat home sick."


"Gue bisa bayangin itu!"


"Untung gue orangnya suka menyendiri, introvert atau apalah istilahnya. Waktu luang kerjaan gue hanya nonton tv atau baca buku medis."


"Lu emang kuper akut sih, dulu."


"Benar. Salah satu motivasi gue mau terima penempatan di sini adalah menantang diri sendiri. Masa ilmu gue tak di up grade dengan realitas di lapangan. "


"Syukur lu sadar semasih muda. Sebenarnya gue juga pengin pergi dari rumah. Melihat dunia yang luas dan lebih berwarna."


"Lu ambil magister di luar aja. Kapan itu lu kan sempat kepikiran begitu."


"Iya, sih tapi punya tanggungan pacar gimana dong. Gue gak kuat LDR."


"Ajak Bella juga. Ehm nikah dulu kek?"


"Lha, sekarang ada masalah begini. Gimana dong."


"Oh iya ya. Gue lupa...."


"Uhhh, ini gue dapat ide. Tolong dengerin dulu sampe elu paham bener. "


Pandu terdiam dan terus menatap sang adik.


"Begini. Seandainya hasil tes DNA menunjukkan janin yang Sandra kandung itu benar ehm anak gue, kita mau buat kesepakatan. Menikah oke. Just formal, sah secara hukum."


"Iya terus.....?"


"Gue juga mau berusaha keras memberi pengertian Bella. Kalau emang dia cinta, moga dia bisa mengerti kekhilafan gue ini. Gue hanya mencintai Bella. Tak ada dan tak akan pernah cinta gue buat Sandra. Moga Bella mau menunggu hingga gue menceraikan Sandra setelah lahiran."


"Kalau Bella nggak terima?"


"Mau apa. Gue tak punya hak menahan dia. Bakal gue terima sebagai hukuman kesalahan ini. Gue juga akan tetap bertanggungjawab dengan anak itu. Gue janji bakal menafkahi anak itu sampai dia dewasa."


"Kalau Sandra nggak mau? Termasuk nggak mau menjadi single mother atau tak setuju caramu itu?"


"Masa nggak mau sih? Dia mestinya sadar, kita tidak saling mencintai buat apa mengikatkan diri dalam pernikahan palsu? Tidak akan pernah bahagia. Yang ada bakal saling menyakiti satu sama lain. "


"Apa arti teman tapi mesra yang kemarin itu dengan Sandra?"


"Yah..... just having fun."


Pandu tercekat. Mudah bagi Pram bersikap demikian.


"Duh, itu semua versi lu, keinginan lu. Lihat aja respon dua gadis korban elu itu!"


"Ya, gue akan hadapi. Kalaupun kemungkinan terburuk semua skenario ini gagal, gue akan menyiapkan diri. Keduanya pergi juga biarlah. Pasti ada gadis di luar sana yang memang jadi jodohku kelak."


"Baguslah. Gue senang lu mulai dewasa menyikapi masalah ini."

__ADS_1


__ADS_2