
Pandu masih berulangkali menghela nafas panjang. Kabar dari Pram sungguh bagai petir di siang bolong.
Laras menggenggam jemari tangan kiri sang kekasih yang masih memegang erat kemudi, walau mobil berhenti total. Wajah Pandu masih menegang. Semilir angin dari jendela kaca yang terbuka tak mampu mengurangi gejolak perasaan Laras. Apalagi Pandu.
" Maaf mas, kalau boleh kasi saran. Berita ini biar perlahan mengendap dulu. Mungkin beberapa hari. Adik mas butuh waktu colling down. Demikian pula gadis bernama Sandra itu."
"Benar. Itu sudah ku katakan pada Pram. Biar Sandra membuktikan keyakinannya."
"Gimana tanggapan Pram?"
"Dia berkata setelah bertengkar dengan Sandra tadi, sudah mengingatkan gadis itu agar tak segera menyampaikan kabar ini pada papa mama."
"Syukurlah."
"Aku juga khawatir, papa dan mama akan mengamuk. "
"Apa menurut mas bakal sekeras itu reaksi mereka?"
"Gimana tidak?"
Pandu kembali menghela nafas lalu melanjutkan perkataannya.
"Coba kamu bayangkan. Jika peristiwa itu benar adanya, gimana papa harus berhadapan dengan dua koleganya. Papa Sandra adalah kenalan baik keluarga sejak dulu. Papa menjadi komisaris di rumah sakit milik papa Sandra. Sedangkan Bella, putri teman se profesi papa, yang menjadi dokter saraf."
"Aduh, kasihan juga papa mas Pandu."
"Itulah......"
"Rumit banget."
Ternyata kisah dalam banyak sinetron yang Laras pernah tonton, terkadang terinspirasi dari cerita nyata kehidupan beberapa orang di luar sana Seperti peristiwa begini. Based on true story. Tetapi memang ada dramatisasi di banyak bagian dan alur yang dibuat menarik agar jadi penasaran dan membuat penonton betah menunggu episode berikutnya.
Laras terdiam dan larut dalam obrolan dalam benaknya sendiri.
Tiba-tiba gadis itu pun ingin memeluk sang kekasih. Setidaknya untuk meringankan beban batin dia menyangkut masalah sang adik yang jelas akan jadi problem keluarganya.
Diraihnya tubuh Pandu.
Lelaki itu menyambutnya. Sejenak berpelukan. Laras mengusap punggung sang kekasih.
"Sabar ya, mas. Keluarga mas pasti bisa menghadapi semua ini."
Pandu berterimakasih atas empati sang kekasih.
Kali ini lelaki itu menahan diri. Dia tak mencium kening, pipi ataupun bibir Laras.
Mereka sepakat pulang. Laras ingin Pandu menenangkan diri dan beristirahat.
Sebelum pamit sore itu, Laras menitipkan serantang lauk makan malam buat Pandu. Rendang daging sapi buatan nenek, yang telah disiapkan sejak tadi siang.
Lelaki itu pamit dan berterimakasih pada nenek yang sedang ada di toko. Laras mengantarnya hingga pintu gerbang.
"Terimakasih ya, Laras sayang."
"Iya, mas. Hati-hati menyetir pulang. Tolong jangan melamun."
"Ehm, tentu. I love you."
Laras tersenyum, "Me, too "
Pandu memacu mobilnya. Dia menyetel lagu - lagu Bon Jovi buat menemani perjalanan sampai rumah dinasnya.
Setelah sampai langsung merebahkan diri di kasur. Ingin beristirahat total. Lelah lahir batin.
Menjelang tengah malam Pandu terbangun. Suara nada dering ponsel bertalu-talu tadi tak diangkatnya Kepala penat. Perutnya pun berontak meminta diisi. Dia baru sadar melewatkan makan malam.
Pandu segera bergegas ke dapur. Karena tak sempat masak nasi, jadilah dia mengambil sepotong roti tawar dengan lauk daging rendang. Lezat juga.
Pukul sebelas malam. Pram kembali menelpon. Menyatakan bahwa Senin besok dia akan datang menemui sang kakak dengan penerbangan sore hari. Tentu saja Pandu terkejut.
"Tak usah dijemput. Gue akan cari rent car dari bandara menuju tempatmu."
"Aduh, lu melarikan diri. Ini tak baik bagi lu. Bagi kita semua."
"Gue ingin menenangkan diri. Menjauh sejenak. Tadi gue bilang pada mama papa pengin pergi buat refreshing setelah ujian skripsi."
"Gimana kalau orangtua kita lebih dulu tahu dari Sandra yang mengadu?"
"Sudah gue ancam dia. Kalau gadis itu melakukan hal itu, selamanya gue tak akan mau mengakuinya. Walau ada tes DNA sekalipun. Sandra balas mengancam mau nyebarin aib ini ke semua teman gue. "
Pram lalu bertanya prosedur tes pada sang kakak.
Pandu mengatakan bahwa mereka harus menunggu agar kehamilan berusia di atas sepuluh pekan ke atas. Pengambilan sampel dari air ketuban pun harus dengan sangat hati - hati dan dilakukan oleh expert karena beresiko dapat menjadi penyebab keguguran.
"Gue udah gak sabar pengin tahu benih siapa itu!"
"Gila, lu Pram. Lu, benar - benar kejam!"
Pandu membatin, "Pagi masih mesra jogging bersama, siang sampe malam sudah bertengkar hebat dan saling mengancam. Ck, ck,ck...."
"Please, tolong ngertiin gue sekali ini saja."
"Sebenarnya jadwal gue sepekan ke depan akan padat. Percuma lu datang, nanti malah gue cuekin."
"Gak apa-apa. Gue bisa kemana - mana sendirian. Bila perlu pergi ke luar negeri sekalian. "
"Jadilah jantan, Pram. Berani melakukan, berani pulalah bertanggungjawab."
"Kalau saja gue sadar waktu itu pasti tak terjadi hal seperti ini. Mending gue lakuin dengan Bella. Sandra penuh trik merayu gue agar mau nemanin dia. Gue sangat menyesal!"
Pandu terdiam. Jangan-jangan prasangkanya benar. Gadis itu memang sepertinya punya kecenderungan gangguan mental. Terobsesi berlebihan pada sesuatu. Semua keinginannya meski terjadi.
Namun dilema selalu ada. Apakah Pram dan juga dirinya memperlakukan Sandra secara tak adil?
Apa orangtua Sandra yang terhormat itu tahu bagaimana kelakuan putrinya?
Pandu jadi ingat ancaman Sandra pada dirinya. Memaksa agar Pandu tahu, siapa sesungguhnya diri gadis itu. Apakah ini salah satu bukti? Adakah hal seperti ini pula membuat dulu Sandra putus dengan sang tunangan?
Jauh di dasar hati kecilnya Pandu bersyukur tak pernah terjadi hubungan apapun antara dia dengan Sandra. Tidak dulu, apalagi saat ini.
Apakah gadis itu sengaja menjebak Pram? Tahu benar bahwa sang adik adalah lelaki yang lemah urusan godaan macam begini? Jelas-jelas juga gadis itu tahu kalau Pram telah punya pacar serta lebih muda dari dirinya sendiri.
Berbagai kemungkinan bersliweran di kepala Pandu. Belum lagi bagaimana dia membayangkan reaksi mama papa. Juga Bella dan keluarganya jika tahu berita ini. Kalau Sandra dan sang keluarga, Pandu mungkin bisa tak peduli.
Kebiasaan over thinking. Hingga subuh menjelang. Padahal besok pagi dia harus mengunjungi dua desa sekitar untuk memulai program penyuluhan masyarakat.
Duh, soal asmara ternyata jauh lebih rumit daripada masalah pekerjaan.
Lelaki itu memaksakan diri memejamkan mata. Menyetel alunan berbagai musik instrumental lembut buat pengantar tidur dari playlist ponselnya.
Pukul setengah tujuh pagi lebih Pandu terbangun.
"Met pagi, dok. Tumben kesiangan. Begadang, dok?"
Mbok Siti sudah sibuk di dapur. Memang dia membawa kunci cadangan. Pintu teras dan ruang tamu.
Pandu nyengir dan berjalan ke dapur buat minum segelas air hangat," Pagi, mbok. Ada rendang di kulkas nanti masak nasi dan sayur saja buat malam. Siang aku makan di luar."
Lelaki itu belum menyampaikan rencana kedatangan sang adik. Siapa tahu bisa berubah. Pram selalu penuh kejutan.
"Baik dok. Buat tambahan sarapan, mbok belikan pisang Ambon tadi di pasar. "
"Iya aku mandi dulu, nanti aku sarapan buat sereal sendiri."
"Siap."
__ADS_1
Sebuah pesan terkirim. Dari sang kekasih. Barusan dia selesai dari kamar mandi dan berganti pakaian kerja.
"Pagi, mas. Bisa istirahat?"
"Pagi, sayang. Ya, aku ketiduran."
"Syukurlah. Ingat sarapan ya."
"Ok. Kamu juga."
"Enjoy your day."
"You too. Thx."
"Bye."
"I (emotion) love."
"(dua emotion love).
Pandu bergegas. Meminum segelas sereal rasa kacang hijau. Memakai sepatu serta jas putihnya.
Sementara Laras di hari pertama pekan ini sudah menyelesaikan hasil raport murid TK A. Siang nanti akan ditandatangani sang kepala sekolah dan di stempel. Untuk dibagikan hari Sabtu nanti.
Hari Selasa besok, dia mulai menulis tangan ijazah kelulusan buat anak TK B.
Sampai setelah petang Pandu belum sempat berkirim kabar pada sang kekasih. Setelah setengah hari di luar kantor dan sore ada pasien darurat yang dirujuk ke RS kota. Pendarahan hebat pasca melahirkan. Beruntung ambulans di awaki Bu Ina sang bidan senior dan sus Wati disetiri pak Leo segera dapat meluncur. Sebagai kepala puskesmas Pandu tetap turut bertanggungjawab dan menandatangani surat rujukan.
Pulang ke rumah dinasnya pukul setengah enam. Mbok Siti sudah pamit. Meninggalkan catatan. Lauk serta puding coklat ada di kulkas.
Pram berkirim pesan sudah otw dari bandara dengan SUV rent car. Menyetir sendiri. Memakai aplikasi untuk menunjukkan rute perjalanan tempat tujuan.
Pandu merasa lelah. Dia ingin ada seseorang yang menungguinya pulang. Menyambut kedatangannya dengan kasih sayang. Seorang istri. Dan itu adalah Laras.
Tiba-tiba Pandu ingin menelpon gadis itu. Tapi urung di lakukan. Dia terlalu lelah buat bercerita. Apalagi tentang rencana kedatangan Pram.
Pandu memilih mandi dan makan malam dulu seraya menunggu sang adik.
Dia tertidur.
Sebuah ketukan di pintu ruang tamu mengagetkan Pandu.
Pukul delapan malam. Dengan gontai Pandu menyeret kakinya ke ruang depan dan membuka pintu.
Pram telah tertawa di depannya.
"Jam segini sudah pulas?"
"Lu ! Gue kira kesesat di hutan. Kadang banyak cerita pake aplikasi yang sama tersebut, malah ada pemakai yang terbawa ke tempat lain!"
"Gue pilih tersesat. Sekalian ketemu Tarzan. "
Dalam suasana begini pelik, sang adik masih mempertahankan selera humor, yang kadang menurut Pandu tak lucu.
"Ayo, masuk. Gede banget koper lu."
Pandu mengamati sang adik. Tampak kucel dengan bawaan travel bag cukup besar. Juga tas ransel hitam.
Pram menyeret kopernya ke dalam.
"Punya makanan? Gue laper!"
"Sana bersihin badan dulu. Mandi dan ganti baju. Ehm, mobil rent car lu parkir dimana?"
"Cerewet amat. Mobil parkir di sisi jalan depan puskesmas. Sekarang gue makan dulu."
Pram berlalu ke belakang. Arah dapur. Mencuci tangan dan langsung membuka tudung saji di atas meja.
"Rendang, sayur tumis sawi ijo dan tempe goreng. Kelihatan lezat."
"Lu nggak makan juga?" tanya sang adik lalu duduk.
"Tadi udah duluan. Nih minumnya," ujar Pandu sambil meletakkan segelas air putih di hadapan piring Pram.
Pandu menatap wajah sang adik. Terlihat lelah juga.
"Papa dan mama nggak kaget tiba-tiba lu pengin kemari?"
"Nggak. Gue bilang kangen lu dan ingin refreshing serta pengin tahu pacar lu!"
"Dasar!"
Sang adik tertawa getir.
"Ntar habis makan, kasi kabar mereka kalo lu udah sampe."
"Siap bos!"
Pram menghabiskan isi piring dengan cepat.
"Enak banget rendangnya."
"Itu pemberian Laras!"
"Oya, beruntung banget lu. Punya pacar pintar masak enak."
Pandu hanya diam. Lagi-lagi memandangi sang adik. Sejurus kemudian dia bangkit dan membuka kulkas. Mengeluarkan semangkuk puding.
"Nih buat dessert!"
Pandu mengambilkan piring kecil dan sendok.
"Wuih, ini buatan Laras juga?"
Mata Pram berbinar.
"Ya."
Pandu menjawab sekenanya. Masih enggan bercerita panjang. Itu puding kan disiapin mbok Siti.
"Setelah ini sebaiknya lu mandi dan ganti baju. Oya, apa Bella tahu juga lu kesini?"
"Belum, seharian ini gue belum kontak dia. Gue merasa bersalah. Sepertinya pas di pesawat tadi sore, dia mis call gue."
"Tolong ntar hubungi Bella. Coba lu di posisi dia. Bayangin gimana reaksinya ?"
"Iya, iya. Gue ngerti."
"Lu pake kamar sebelah, ya. Kalau kamar mandi nggak pa pa pakai yang di kamar utama. Buruan mandi sana!"
Pram berlalu. Melakukan apa yang disuruh sang kakak.
Pandu membereskan semua peralatan makan. Mencuci dan meniriskannya. Memasukkan sisa lauk ke dalam kulkas.
Setengah jam berlalu. Pram selesai mandi. Lalu menghubungi mama. Video call. Mama juga ingin bicara pada si sulung.
"Kasi tahu adikmu. Jangan bandel. Nanti dia malah menggoda Laras di sana, ha, ha, ha ."
Pandu ikut tertawa. Kali ini dengan miris. Andai mama tahu apa yang kini sesungguhnya terjadi?
Pram yang ada di sebelahnya tumben terdiam.
Mama juga bercerita sudah menyiapkan pakaian dan setelan jas baru buat dua putra kesayangannya. Persiapan wisuda Pram akhir bulan depan. Dimajukan dua Minggu dari rencana semula. Juga rencana Pram melanjutkan program magister seraya bertunangan dengan Bella.
Pandu menendang kaki sang adik yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Layar ponsel Pram yang sedang dalam posisi video call hanya mengirim gambar kedua wajah kakak beradik itu.
Pram tak membalas. Diam. Wajahnya sendu.
"Kenapa si Pram itu. Sepertinya kelelahan. Pandu, nanti kamu periksa adikmu, ya.."
"Pasti mam."
"Ya, udah kalian berdua istirahat. Tidur. Jam sembilan disana pastinya udah larut kan?"
"Mama juga istirahat ya."
" Mama tunggu papa pulang dari praktek dulu. Bye. Love you both .."
Pandu mematikan siaran vc.
"Sekarang hubungi atau kirim pesan pada Bella!" perintah Pandu.
Pram tak berkutik. Menurut. Mengetik teks. Menunggu respon. Lalu mematikan ponsel dan ngeloyor pergi ke kamar sebelah. Terdengar suara pintu kamar terkunci dari dalam.
Pandu bangkit. Menutup pintu kecil teras dan mengunci ruang tamu. Dia pun ingin tidur dan mengistirahatkan seluruh beban pikirannya.
Lelaki itu memeluk guling. Melamun. Membayangkan kalau itu Laras, sang kekasih. Dia jatuh tertidur pulas hingga esok harinya.
Keesokan harinya. Pukul enam. Mbok Siti baru datang. Pandu mengetuk pintu sebelah. Tak ada jawaban. Dicobanya membuka pintu. Tak terkunci lagi.
Pandu melongok ke dalam. Pram tak ada.
Lelaki itu berjalan ke arah belakang.
"Ehm, mbok lihat adikku tidak?"
"Adik? Mbok nggak liat siapapun tadi, dok?"
Pandu menjelaskan kedatangan Pram semalam.
"Oh, pantas ada sepatu lain sepertinya bukan punya dokter. Terus sandal jepit hitam yang biasa di depan tak ada di tempat, " gumam si mbok dengan teliti.
Pandu kembali ke depan dan melihat sekitar teras. Sepi. Kemana si Pram?
Sang dokter meraih ponsel. Menelpon sang adik. Terdengar nada dering dari kamar sebelah.
"Sial, Pram nggak bawa ponselnya!"
Pandu berkata pada dirinya sendiri. Diambilnya handphone sang adik yang tergeletak di bawah bantal.
Pandu mulai dilanda gelisah. Kemana gerangan sang adik.
"Semoga dia nggak ngelakuin hal bodoh lainnya."
Pandu terus, membatin. Berjalan hingga depan puskesmas. Tak sadar masih memakai piyama. Dia menoleh ke arah jalan aspal. Tak ada mobil SUV terparkir disana.
"Pagi dok, mau kemana?" tanya satpam yang masih bertugas pagi itu.
"Pagi, pak Alim. Maaf tadi lihat seorang lelaki yang ehm...., pergi dengan mobil dari depan pagar itu?"
"Oh, itu. Katanya dia, adik pak dokter ya. Dia pamit pergi keliling dulu. Membawa SUV abu metalik. Terlihat membawa mobil ke arah barat."
"Makasih pak!"
"Sama-sama dok."
Pandu kembali ke dalam rumah dinasnya. Menenangkan diri. Minum segelas air putih hangat. Masih dongkol dengan kelakuan sang adik.
"Aduh Pram, Pram. Pagi-pagi udah buat sport jantung!"
Pandu memilih melupakan hal tadi.
Sebuah telpon dari Laras. Beritual saling mengucapkan selamat pagi. Gadis itu memberi info bahwa Rabu sore besok mereka bisa mulai pakai lapangan badminton di GOR pabrik. Dia sudah ijin pengelolanya. Pandu berterimakasih.
Lelaki itu belum bilang sang adik datang. Dia ingin menyampaikan langsung saat bertandang ke rumah sang kekasih nanti sore.
"Bentar lagi Pram bakal balik, sepertinya dompet pun dia tak bawa. Terlihat masih tergeletak di meja nakas kamar tidurnya," bisik Pandu di hati.
Pandu bersiap memulai kerja. Sampai pukul setengah delapan. Pram belum juga muncul.
"Mbok nanti kalau adikku sudah kembali, tolong diminta segera menelpon aku."
Sang dokter memberi pesan pada asisten rumahnya.
"Ya, dok. Jadi hari ini masak untuk porsi dua orang. Dokter makan siang di rumah?"
"Iya, aku tak ada dinas ke luar. Mungkin besok baru penyuluhan lagi ke beberapa desa."
"Baik dok. Oya menu hari ini ayam goreng crispy dan soup sayur wortel dan tahu, gimana dok. Rendangnya juga mbok hangatkan."
"Ya, boleh. Aku ke depan dulu, mbok."
Pandu berjalan ke kantornya. Ruangan kerja sekaligus tempat praktek poli umum. Mampir ke UGD dan memeriksa ruang rawat inap.
Hari ini ada tiga pasien umum. Keluhan ringan. Demam, diare serta gatal-gatal. Seorang lansia dan dua balita.
Pukul setengah sepuluh Pandu menyempatkan diri ke belakang, mampir ke rumah.
"Adikku belum datang juga mbok?"
"Belum dok."
Mbok Siti sudah kelar di dapur. Sedang mengepel lantai.
Pandu membuat kopi susu. Pagi tadi dia sarapan roti tawar berlapis selai strawbery dan teh manis. Beragam tanya menggema di hati sang dokter.
Dia mulai gelisah. Pram? Apa dia tak lapar? Kemana perginya anak itu?
Semoga dia benar tak tersesat, karena tak tahu arah. Gimana kalau dia bertindak bodoh? Misalnya putus asa, tak bisa berpikiran jernih dan mencelakai diri sendiri atau orang lain.
Kebiasaan over thinking Pandu mulai kumat.
Lelaki itu memutuskan membawa motor dinas berplat merah pergi mencari sang adik ke sekitaran puskesmas.
"Gak mungkin Pram pergi jauh. Dompet dan ponselnya tertinggal," batin Pandu lagi.
Berputar di sekitar lapangan dekat kantor camat lalu ke arah pasar dan pertokoan.
Terlihat sebuah mobil abu metalik terparkir di bawah pohon beringin. Pandu mendekati. Alangkah terkejut dirinya. Mobil itu bagian kanan depan agak ringsek, lampu depan pecah. Dari jendela kaca yang setengah terbuka, jok disandarkan dengan rendah dilihatnya Pram dengan mata terpejam.
"Hey. hey....Pram bangun, bangun! Lu kenapa?"
Pipi sang adik di tepuk perlahan, akhirnya mata Pram terbuka.
Lengan kanan sang adik terluka gores.
"Ada apa ini?"
"Uhhh, tadi gue nyerempet pohon asem di belakang, kaget dan terjadilah ini."
"Ayo coba keluar dulu."
Pram menggerakkan tangan," Arghhh !"
"Lenganmu terluka. Tahan dulu. Gue panggil perawat kesini!"
Sang kakak menelpon ke puskesmas.Tak lama muncul dua orang perawat menaiki sepeda motor. Segera membantu mereka.
Pandu menyetir SUV itu bersama sang adik yang terus meringis. Kembali ke arah puskesmas yang berjarak sekitar tiga kilometer dari sana.
__ADS_1
"Duhhh. Pram, Pram tak henti membuat masalah. Prahara macam apa lagi ini?"