Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 15. Ciuman pertama


__ADS_3

Hari-hari berlangsung lebih indah bagi Pandu. Status kenaikan level hubungan dengan Laras, membuatnya bahagia.


Dia rajin menemani Laras melatih anak-anak bermain bola di Rabu sore. Masih penuh antusiasme. Pelajaran teknis juga sportivitas serta tim work buat para pemain cilik ditanamkan oleh kedua pelatih. Pandu juga memberikan kotak obat dengan isi komplit sebagai alat pertolongan pertama.


Kamis pagi Pandu bersama pak Leo ada tugas ke RS di kota. Rapat lanjutan sistem asuransi kesehatan sebagai program jaminan sosial untuk rakyat. Hingga sore hari.


Pandu menyempatkan waktu membesuk Gaby. Ia menyampaikan titipan Laras pada gadis cilik itu. Gaby titip hasil belajarnya pada ibu guru Laras. Kondisi anak itu membaik, perkembangannya untuk pulih mengalami kemajuan pesat.


Di akhir pekan, dokter itu justru sibuk karena ada dua pasien yang harus dirujuk ke RS di kota dengan ambulans. Serangan stroke satu pasien lanjut usia dan satunya pasien pendarahan hebat setelah melahirkan.


Sebuah sambungan telepon dari mama Pandu di Jakarta. Video call di malam hari.


"Kamu pulang Minggu depan, ya. Mama buat acara ultah hanya buat keluarga. Ijin sehari, paling lama dua hari. Mama kangen padamu," suara mama dari seberang pulau.


"Iya, ma. Pandu akan usahakan."


"Oya, Sandra putri pak Sutoyo sudah menamatkan spesialis kulitnya. Lha kamu kapan berencana ambil spesialis?"


"Pandu kan baru pindah tugas. Semoga tahun depan, ma."


"Jangan di tunda terus. Hampir semua temanmu sudah ambil "


" Masih Pandu pertimbangan.


"Papa ingin kamu ambil jantung atau bedah..Ehm iya, kamu disana sudah punya pacar atau belum?"


"Ehm, masih pendekatan. Doakan saja ma."


" Siapa? Apa dia dokter juga?"


"Nanti Pandu ceritakan, masih terlalu dini. Pokoknya mama doakan ya."


"Sebenarnya mama ingin kamu menjalin hubungan dengan dokter Sandra. Dia pintar, cantik dan baik. Keluarga mereka sudah saling kenal dengan kita."


"Bukannya Sandra sudah punya kekasih, ehm tunangan, ma.


" Sekarang statusnya single."


"Oh ..begitu "


"Kamu janji nanti kasi lihat mama, gadis mana yang kamu sedang dekati itu......"


"Iya, ma."


"Papa dan Pram sedang menyiapkan klinik terpadu dan apotek yang kita rencanakan. Semoga akhir tahun ini bisa mulai operasionalnya."


"Semoga lancar, ma."


"Suatu saat jika kamu pindah ke Jakarta, bisa buat praktek sore."


"Iya, ma."


"Adikmu satu semester lagi wisuda. Semoga kamu sudah bisa cuti agak lama."


"Amin..."


Percakapan berakhir ketika ada panggilan dari perawat jaga. Ada pasien diare berat. Pandu segera ke ruang UGD.


Dia harus memeriksa dan mengevaluasi kondisinya.


Sebagai sesama dokter walau beliau ahli patologi, mama Pandu sangat paham bagaimana putranya sedang berjuang menunjukkan kemandirian nun jauh disana.


Teori medis memang perlu di buktikan dan implementasikan lebih nyata di lapangan langsung.


Terngiang percakapan tadi dengan sang mama. Sandra, adik tingkat Pandu. Setahun dibawahnya. Dulu gadis itu termasuk mahasiswi popular di kampus.


Cantik, pintar juga dari keluarga kaya raya. Dambaan para pria.


Keluarga mereka memiliki jaringan rumahsakit dimana papa ikut bergabung sebagai komisaris.


Semula Pandu dan Sandra ingin dijodohkan untuk memperkokoh kerjasama. Namun sayang Sandra tak bersedia. Dia memilih mencari kekasih seorang pengusaha kuliner terkenal.


Pandu sempat menjalin kasih dengan teman seangkatan. Namun ada daya bukan jodohnya. Mereka berpisah baik-baik. Mencari jalan sendiri-sendiri. Elena telah menikah dengan seorang pilot, bahkan kini sudah memiliki anak.


Bagi Pandu, semua cerita itu adalah masa lalu yang harus ditutup. Saatnya menikmati masa kini dan merencanakan masa depan.


Lelaki itu tak mau terjebak kenangan atau terpenjara oleh penyesalan.


Di lain sisi Laras disibukkan persiapan penampilan paduan suara anak-anak. Besok Sabtu siang mereka akan tampil.


Hari ini latihan terakhir. Semua semangat. Para ibu sudah menyiapkan perlengkapan terutama pakaian daerah.


Hari yang ditunggu telah tiba. Tak ada kelas di pagi hari. Rombongan telah siap pukul setengah satu di dalam balai pertemuan pabrik.


Laras dan Bu Nur tampil berkebaya dengan sanggul sederhana. Si kecil Sari memakai pakaian Bali, Ningrum dengan pakaian Minang. Kemal memakai baju Madura, Fadli dengan baju adat Jawa tengah. Banyak lagi. Delapan belas anak tampil dengan gaya tersendiri.


Laras membayangkan andai Gaby dan Budi tidak sakit. Pasti tambah semarak. Dua bocah itu adalah bintang di klas Laras.


Sebelum tampil rombongan mengambil potret di depan gedung megah itu.


Pandu sesungguhnya ingin mengantar Laras, namun apa daya ada pasien gawat. Seorang pasien setengah baya yang mesti dirujuk ke RS kota karena diabetes dan komplikasi jantung.


Laras dijemput Bu Nur dengan SUV yang di sopiri putra sulungnya yang baru kuliah.


Suasana tempat mereka akan tampil sudah dipenuhi undangan. Para pejabat daerah, petinggi perusahaan, serta para karyawan dan keluarga. Lebih dari dua ratus orang.


Tampilan pertama tarian penyambutan. Lalu gerak dan lagu dari sekolah dasar. Paduan suara anak- anak TK, band serta tari poco- poco para istri staf. Terakhir grup lawak lokal.


Saat anak anak tampil tepuk tangan sangat meriah. Pesona mereka yang imut dan lucu serta lagu yang dibawakan penuh semangat. Laras memimpin dengan luwes, sementara Bu Nur mendampingi di sisi kanan. Applaus menggema. Tentu ada kebanggaan tersendiri bagi mereka semua.


Anak-anak TK setelah tampil, ada yang langsung pulang, ada pula yang bertahan menonton pertunjukan hingga pertengahan serta sampai tuntas. Mereka didampingi orangtua masing-masing.


Sekitar pukul setengah tiga, sebuah chat Pandu diterima Laras. Dia akan menjemput ke sana. Acara belum selesai tuntas. Masih ada band lokal daerah yang bakal tampil pamungkas. Namun karena Laras agak lelah dan sebagian besar muridnya pulang, dia ingin istirahat juga.


"Kamu cantik dengan tampilan seperti itu," puji Pandu.


Ini pertama kalinya lelaki itu melihat Laras dengan make up lengkap. Tubuh langsing dibalut kebaya pink dan kain batik yang indah.


"Terimakasih."


Mereka sedang berjalan menuju parkir mobil, disebelah kanan gedung. Sekitar duaratus meter. Jalan tanah yang tak rata membuat Laras yang jarang memakai sandal dengan hak tinggi, hampir terjatuh. Padahal hanya lima sentimeter. Bagaimana yang lebih dari itu?

__ADS_1


Refleks Pandu memegang lengan gadis itu.


Laras tersenyum.


"Hati-hati."


Tak terasa hingga telah masuk ke dalam mobil.


Laras merasa gerah dan sedikit pusing. ini kali kedua rambutnya disanggul. Pertama saat wisuda dulu.


Laras memejamkan mata sejenak.


"Kenapa?"


"Agak pusing. Sanggul ini keras. Sudah dandan di salon dari jam dua belas tadi."


"Coba minum air dulu, nih."


Pandu menyodorkan sebotol air mineral dari stok dalam mobilnya.


" Makasih."


Laras segera meminum airnya.


"Sudah makan tadi?"


"Sudah di rumah, setelah tampil juga diberi snack."


"Apa ini bisa mengurangi


pusing?"


Tiba-tiba Pandu mencium pipi kanan Laras.


Tentu gadis itu sangat terkejut. Namun desiran dalam dada, membuatnya senang. Ada apa ini?


Sejenak mereka berdua terdiam. Meresapi perasaan masing-masing.


Beruntung tak ada yang melihat. Mobil Pandu terparkir di pojok lapangan.


Pandu menggenggam jemari Laras. Mereka saling bertatapan. Pandu semakin berani. Lelaki itu mendekat wajahnya pada Laras. Gadis itu menahan nafas.


Sekejap mata Laras terpejam. Kecupan lembut menyentuh bibirnya.


"Aku mencintaimu, Laras...."


Sejenak saling bertatapan. Pandu tersenyum tipis. Laras mematung.


Terdiam, hanya debaran jantung yang makin kencang. Suasana jadi canggung.


"Aku ingin cepat pulang, mas Pandu!"


Pandu paham. Segera dia mulai mengarahkan mobil keluar dari lapangan parkir. Jalanan tanah tak rata sepanjang setengah kilometer lebih dari sisi areal pabrik yang luas, membuat tubuh keduanya terguncang-guncang.


Laras menatap lurus ke depan, masih dalam diam. Sesekali tangan kirinya menggapai pegangan tangan di atas pintu mobil.


Pandu berusaha memperlambat kecepatan mobil karena harus melewati beberapa lintasan berlubang, becek dan berbatu.


Pandu sesekali melirik gadis di sebelahnya. Wajah Laras cemberut, lalu bersungut, melipat bibir ke dalam mulutnya juga melemparkan pandangan ke arah sisi kiri jendela, semua ia rekam dalam benaknya.


Pandu merasa bersalah. Dia tak mampu menahan diri. Laras yang kali ini berdandan lain dari biasanya membuat gejolak kelelakiannya bergelora.


" Apakah ini terasa terlalu cepat bagi gadis itu? " , batin Pandu.


Hanya butuh waktu duapuluh menit hingga sampai di depan rumah.


Sebelum mematikan mesin mobil, Pandu berkata," Maafkan aku, Laras..."


Gadis itu tak menjawab, membuka pintu mobil lantas bergegas berjalan ke arah dalam rumah. Dia tak memperdulikan Pandu.


Bik Jum yang sedang menyapu halaman, menghentikan gerakan. Dia hanya bengong, kepalanya menoleh ke arah Laras. Lalu membalikkannya. Kini dia menatap Pandu yang berjalan pelan.


" Sore, bik!"


"Sore, ada apa nak Pandu? Kenapa Laras seperti ngambek."


"Hem, mungkin lelah."


" Ayo, nak Pandu masuk dan tunggu di ruang tamu. Biar bibik buatkan minum dulu."


" Makasih, bik."


Pandu duduk di ruang tamu dengan rasa bersalah. Apa yang akan terjadi setelah ini?


"Ketika tadi aku menciumnya, dia tak menolak. Sepertinya malah turut menikmatinya. "


Pandu jadi tersenyum sendiri.


Untuk mengisi waktu sambil menunggu, lelaki itu mengeluarkan ponsel. Memainkan jemarinya. Melihat galeri. Potret Laras saat melatih bola. Hanya itu jadi favorit Pandu.


"Ehm, kenapa aku tadi tak sempat memotret Laras. Kan jarang-jarang dia dandan cantik seperti barusan. Malah menciumnya," batin lelaki itu.


Nenek datang membawa secangkir teh. Pandu menggangguk hormat dan memberi salam.


Setelah mempersilahkan agar sajian diminum, mereka mulai ngobrol.


"Maaf ya, sepertinya ada masalah dengan Laras?"


Pandu terhenyak. Bik Jum pasti sudah melapor. Nenek sepertinya tak melihat tingkah cucunya tadi karena ada di dalam toko.


"Tidak, nek."


"Kenapa dia tak keluar dan menemuimu?"


"Mungkin masih ganti baju."


"Kamarnya di kunci dari dalam."


Pandu terdiam. Apa Laras benar-benar marah?


" Nenek bujuk dia dulu, sabar ya dokter Pandu "

__ADS_1


"Iya, terimakasih nek."


Hampir empat puluh menit berlalu. Pandu gelisah. Bosan memainkan ponsel, dia ingin berjalan keluar. Tiba-tiba sebuah album foto berukuran sedang menarik perhatiannya. Benda yang tergeletak di belakang tv di atas bufet terlihat sedikit usang.


Pandu mengambilnya. Lalu duduk kembali. Membuka lembar demi lembar. Ada potret keluarga besar. Sepertinya kakek, nenek, Laras kecil dan kedua sepupunya. Serta dua pasang suami istri.


"Yang mana ayah ibu Laras?", bisiknya.


Pandu mendekatkan matanya pada potret lawas yang warnanya telah buram.


Ada juga foto diri masing-masing dari mereka.


Tampak Laras, mungkin seumuran Gaby. Limatahunan. Cantik. Pipi gembul, rambut tebal dipotong pendek. Senyum lebarnya membuat dua gigi depan atas yang hilang terlihat jelas.


Pandu tersenyum. Kejahilannya kumat. Dia memotret foto unik itu.


Lalu banyak kisah terurai dari foto, serta gambar-gambar lain. Pose gadis itu serta para sepupu dengan banyak polah. Sejak kecil hingga remaja. Belajar naik sepeda gayung, mancing di pinggir kolam, naik pohon jambu. Dibonceng motor oleh sang ayah, dipangku ibunya. Hingga berkemah dengan teman-teman remajanya. Potret main bola. Tak terlihat satupun foto Laras memegang boneka.


Sepertinya Laras sangat disayang oleh ayah ibu dan dua sepupunya.


Pandu mengulangi dari halaman pertama. Kali ini hanya mengamati wajah gadis itu sejak kecil hingga sekitar usia remaja. Tak banyak berubah.


"Aku mulai tahu profil keluarga Laras. Tetapi Laras malah belum tahu siapa dan gimana aku. Tak adil," bisik Pandu pada dirinya sendiri.


Pandu meletakkan kembali album foto tadi ke tempat semula.


Teh di cangkir telah ludes. Pandu memutuskan berjalan ke halaman. Mengobrol dengan bik Jum. Perempuan tengah baya itu telah kelar menyapu.


"Laras suka ngambek ya, bik?"


"Tidak, hanya sedikit keras kepala, ssstt mirip sang nenek," katanya, tertawa kecil.


"Ehm, begitu."


"Nak Pandu harus sabar. Tapi Laras baik hati banget. Kadang kebaikkannya itu dimanfaatkan dengan cara salah oleh orang lain."


"Oh, ya?"


"Tapi nak Pandu nggak begitu, kan?"


"Tentu tidak, bik!"


"Bibik percaya."


Tiba-tiba Laras berjalan ke arah mereka. Penampilannya telah berubah. Celana jeans biru dan kaos oblong putih. Rambutnya digerai. Wajah kembali polos tanpa riasan sedikit pun. Bersandal jepit.


"Mas Pandu, aku ingin bicara. Kita jalan keluar saja !"


Bik Jum mengedipkan mata memberi isyarat agar Pandu mengikuti langkah Laras keluar pagar.


Pandu berusaha menyamai langkah gadis itu. Berjalan hingga depan toko, berbelok ke arah sebuah kebun pepaya, lalu menuju sebuah jalan setapak ke sebuah kolam, ehm empang di pinggir pepohonan bambu.


Langkah lebar dan tergesa Laras sedikit di depannya menyebabkan Pandu meraih tangan gadis itu.


Laras menoleh dan menepisnya. Sampai di sebuah bebatuan besar di sisi kanan jalan masuk ke empang. Dia berhenti.


Laras menaruh dua tangannya di depan dada. Menatap ke depan dan tak menoleh sedikitpun pada Pandu yang kini telah berdiri di sampingnya.


Dua orang lelaki tua yang sedang memancing di arah berlawanan dengan tempat mereka sejenak menoleh.


Tempat itu berjarak sekitar seratus lima puluhan meter dari rumah Laras.


Di sela nafas yang masih terengah, gadis itu berkata " Tolong jangan lakukan lagi hal seperti tadi !"


"Maafkan aku."


" Mas Pandu harus janji."


"Iya, aku janji !"


"Kalau mas seperti itu lagi, aku akan marah dan tak mau ketemu !"


Laras mengancam.


Pandu menghela nafas.


Tiba-tiba seekor laba-laba kecil dengan jaring halusnya jatuh di kepala Laras. Spontan Pandu menyentuh kepala gadis itu.


"Aduh..!" Refleks gadis itu menghindari tangan Pandu.


" Ada laba-laba di kepalamu."


Tangan kanan Laras menari-nari di atas kepalanya buat menghalau binatang kecil itu.


Kini kaki kiri Laras di hentak-hentakkan. Gadis itu menoleh ke bawah. Barisan semu merah menjalar di sela-sela jemari kakinya. Laras berjongkok. Pandu mengikuti gerakannya.


Laras menggaruk dengan panik karena serbuan semut semakin banyak, kini juga ke kaki kanannya.


"Aduuuh," gadis itu berbalik badan, lalu lari ke arah rumahnya.


Pandu menggeleng-gelengkan kepala. Kenapa hanya Laras yang diserang semut, sedang dirinya tidak?


Lelaki itupun berbalik arah dan kembali dengan berjalan kaki. Tak mungkin dia ikut mengejar dengan berlari. Nanti seperti adegan film India.


Sampai di rumah Laras, gadis itu tak nampak. Nenek menyambut Pandu, mengatakan kalau Laras berpesan bahwa dia ingin istirahat dan tak mau diganggu.


Nenek minta maaf dengan sikap Laras.


Pandu mengerti. Dengan sopan dia berpamitan pulang.


Pandu tentu kecewa. Tapi berusaha tenang menyikapi respon Laras.


Sepanjang perjalanan pulang lelaki itu hanya membatin, seharusnya mereka melewati malam minggu ini dengan suasana baru. Status teman dekat punya banyak persepsi. Mestinya juga ada kesan lebih.


Pandu menyesali kecerobohan dirinya hingga membuat Laras marah.


Ada keraguan di hati lelaki itu. Kenapa Laras tak menolak atau memberontak saat dia cium. Mereka berdua menikmati momen itu.


Kini Laras marah. Dan, Pandu harus pulang lebih cepat.


"What's wrong?"

__ADS_1


__ADS_2