Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 4. Perkenalan


__ADS_3

Dokter Pandu mengakhiri obrolannya dengan Bu Nur dan meminta ijin kembali ke ruang UGD. Seorang perawat memanggilnya karena ada pasien baru. Seorang anak yang terluka karena jatuh dari sepeda gayung.


Bu Nur mengiyakan. Dia memutuskan menunggu Laras di kantin puskesmas.


Hampir satu setengah jam berlalu Laras telah menyelesaikan tugasnya. Dia masih berada di ruangan, dimana tadi dia berbaring dan diambil darahnya.


Seorang perawat muda memintanya beristirahat sejenak sebelum bangkit. Duduk perlahan dan minum air.


" Terimakasih, ibu guru. Ini ada paket untuk ibu. Mohon di konsumsi ya."


Sang perawat menyerahkan goddie bag kecil yang berisi segelas air mineral, sekotak susu rasa vanilla berukuran sedang serta sebungkus kue bolu. Juga dua tablet pil suplemen penambah darah.


" Iya. Terimakasih, sus. Semoga Gaby cepat sehat, ya."


" Kita doakan. Oya nanti setelah satu ampul infus yang terpasang di tangan Gaby habis, barulah akan diberikan transfusi darah ini.


" Bagaimana kondisi Gaby sekarang, sus?"


" Cukup stabil, masih dipantau dengan intensif. Saat ini sedang tertidur. Jadi dimohon tidak dijenguk dulu."


Puskesmas ini menyediakan fasilitas yang cukup memadai. Bangunan seluas hampir satu hektar ini memiliki beberapa bagian. Di lobi depan ada ruang tunggu, loket, ruang admin serta dua toilet di ujung kanan. Ruang UGD, praktek umum, poli gigi, ruang bersalin dan instalasi obat. Di dekat parkir ada kantin kecil yang menghadap halaman samping.


Ada seorang dokter umum dan satu dokter gigi yang bertugas. Tiga bidan dan sepuluh perawat serta tenaga admistrasi. Untuk ukuran kecamatan yang sangat luas, pelayanan medis tersebut boleh dibilang adalah garda terdepan.


Di bagian tengah tersedia tiga kamar rawat inap untuk umum serta tiga untuk perawatan melahirkan. Di bagian belakang melewati taman kecil, ada satu rumah dinas dokter, kepala puskesmas dan dua lagi ditempati keluarga seorang perawat senior serta satu mess untuk tiga perawat pria yang masih membujang.


Bu Nur menyongsong kedatangan Laras yang terlihat keluar dari sebuah ruang di bagian kiri tempat pengambilan obat.


" Bagaimana kondisimu, mbak? Tidak pusing? Ayo duduk di sini dulu, " sambutnya seraya meraih lengan Laras.


" Saya baik - baik saja dan tidak apa- apa, Bu."


" Tapi tetap harus istirahat. Tadi kan mbak diambil darahnya, pasti lemas, dong."


" Iya, sedikit."


Laras mengambil tempat duduk di sebelah Bu Nur.


" Ini, diminum dulu."


Bu Nur menyodorkan sebotol air mineral yang barusan dibelinya di kantin. Laras tetap menerima pemberian itu. Gadis itu juga meminta tas kecilnya yang berisi dompet dan ponsel yang dibawa oleh Bu Nur selama dia menjalani proses menjadi donor.


" Terimakasih. Tadi saya sudah minum segelas air di dalam."


" Pasti mbak juga lapar sekarang. Maaf tadi sewaktu mbak di dalam, ibu ke kantin membeli nasi bungkus dan makan disana."


" Iya, Bu. Tadi saya juga sudah makan kue yang diberikan perawat."


"Oke, kita beristirahat dulu. Karena Gaby tak boleh dijenguk, sebaiknya setelah ini kita pulang. Nanti ibu yang akan membonceng mbak, ya."


" Baik, Bu."


Bu Nur menceritakan kembali kisah si kecil Gaby pada Laras. Persis seperti apa yang tadi dokter Pandu katakan padanya.


Laras mendengar dengan seksama, meski kondisi badannya masih sedikit lemas.


Setelah beristirahat selama setengah jam, mereka sepakat pulang. Bu Nur akan mengantar Laras sampai rumah. Nanti malam dia akan mengembalikan motor Laras dengan terlebih dahulu mengambil motor bebeknya yang masih tertinggal di sekolah. Rencananya sang suami yang akan mengantar.


Kebetulan tempat tinggal kedua ibu guru itu tak terlalu jauh. Meski berlainan desa jarak tempuh kedua rumah hanya sekitar limabelas menit. Jika sama sama diukur dari sekolah, rumah Laras berada lebih jauh.


Hari Minggu, keesokan harinya Laras bangun lebih siang dari biasanya. Sang nenek yang tinggal bersamanya memaklumi. Kisah Laras dan si kecil Gaby sudah diceritakan Bu Nur semalam, saat bertandang kembali untuk mengembalikan motor Laras.


Gadis itu tinggal di sebuah rumah kecil sederhana berhalaman luas. Peninggalan sang kakek yang dulu pernah menjadi mandor di pabrik kelapa sawit. Nenek Laras membuka warung kecil di samping rumah. Hanya menjual stationary dan bahan jahit menjahit sederhana seperti aneka benang, jarum, alat merajut serta kain kain untuk bahan seragam anak sekolah. Kebetulan setengah kilometer dari sana ada Sekolah Dasar Negeri.


Toko Arumi. Seperti nama almarhum ibunda Laras.


" Ayo, segera sarapan setelah mandi. Nenek sudah buatkan soup ayam kesukaanmu."


Suara nyaring sang nenek dari arah dapur terdengar begitu tahu Laras menyelinap melewati samping dapur menuju kamar mandi.


" Makasih, nek. Tunggu Laras mandi dan keramas dulu ya "


Pukul setengah delapan saat ini.


Di hari sekolah jam setengah enam pagi biasanya Laras telah bangun. Membantu nenek menyiapkan sarapan, menyapu rumah lalu mandi. Setelah makan pagi bersama, meluncurlah dia ke tempatnya mengajar. Sekitar pukul dua siang kembali ke rumah dan membantu nenek di toko.


Biasanya tugas Laras menjaga toko hingga petang sampai mereka ditutup. Sementara nenek akan istirahat atau menyiapkan sajian makan malam.


Mandi, bersantap dan ngobrol dengan nenek sambil menonton tv. Sesekali ikut belajar merajut. Membuat kaos kaki atau topi bayi, favoritnya. Hingga sekitar pukul sembilan. Saatnya istirahat untuk esok melakoni rutinitas yang hampir sama. Sudah dua tahun ini.

__ADS_1


Kelar mandi, gadis itu segera ke dapur.


" Hem, lezat sekali soup ayam buatan nenek."


Laras mengambil dua sendok sayur lagi menu itu. Lalu menikmati setiap suapannya.


"Pasti untuk cucu cantikku....", tawa renyah sang nenek.


" Boleh dihabiskan, nek?"


" Kali ini boleh deh. Nanti makan siang buat kita dan bik Jum, dimasak sekalian untuk makan malam. Menu perkedel jagung manis dan tempe bumbu bali."


Bik Jum adalah keponakan jauh kakek yang tinggal dekat mereka dan sehari hari membantu di toko.


" Laras hari ini tambahkan sayur tumis kangkung, ya."


" Iya, giliran kamu yang masak. Nenek membuka toko sambil menyelesaikan pesanan tetangga. Dua topi bayi untuk cucu baru."


" Siap bos," kelakar Laras.


Gadis itu segera membersihkan meja makan. Membereskan dapur lalu menyapu seluruh bagian rumah. Hari libur adalah saat bersih bersih. Mengelap


semua bagian pintu dan jendela serta mengepel lantai.


Bik Jum yang telah nongol diminta membantu menyapu halaman. Daun- daun dari pohon jambu air dan mangga yang berguguran di depan rumah cukup membuat tenaga terkuras buat membersihkannya.


Sejam kemudian, Laras telah mulai mencuci motornya di dekat teras. Bagian sadel dan stang. Spion lalu pijakan kaki.


Tiba- tiba sebuah mobil sedan mini berwarna putih berhenti di samping pagar. Laras mengira pengunjung toko. Dia tetap asyik menggosok roda bagian belakang motornya dengan sikat dan sabun. Hari hari hujan belakangan ini membuat banyak lumpur menempel di bagian itu.


" Selamat pagi, ibu guru Larasati."


Sebuah sapa mengejutkannya. Laras yang sedang berjongkok serta hanya memakai celana pendek dan kaos oblong, sungguh terkejut saat menoleh ke arah suara itu. Ember kecil berisi air di sebelahnya nyaris jatuh disenggol kaki Laras.


" Pak dokter?"


Mata Laras sedikit terbelalak. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gadis itu spontan berdiri setelah tadi asyik jongkok dan memegang sikat kotor. Dia sedikit salah tingkah.


Lelaki muda di depannya tersenyum. Tampilannya santai. Celana jeans biru dongker dan T shirt biru muda. Sepatu kets hitam bergaris putih. Rapi dan wangi.


" Aduh, maaf. Ada apa ya? Gaby bagaimana kondisinya? Ada masalah?"


Yang paling menyita pikirannya adalah apakah ini tentang Gaby?


Namun reaksi sang dokter yang masih senyum simpul melihatnya membuat Laras tak lekas mampu menguasai diri.


Tak kunjung mendapat jawaban, Laras bertanya lebih lanjut," Ada apa


ya, pak dokter?"


" Kaget, ya?" tanya dokter Pandu.


" Ehm, iya ...."


" Saya datang untuk memeriksa kondisimu."


"Saya....? Kondisi apa maksudnya? Eh ya,


mari masuk dulu. Silahkan duduk. Maaf saya ganti baju dulu."


Laras segera mengajak sang dokter ke arah ruang tamu. Setelah mampu menguasai dirinya, dia pamit untuk mengganti pakaian.


Tak sampai sepuluh menit. Gadis itu telah berganti dress hijau toska selutut. Tentu tangan dan kaki yang sebelumnya terkena sedikit lumpur telah bersih.


Laras keluar menuju ruang tamu sambil membawa piring kecil dengan empat gelas air mineral.


" Aduuuh, maaf ya pak dokter jadi menunggu."


" Tidak apa- apa. Santai saja "


Dokter muda itu menatap lekat ke arah Laras. Gadis itu seperti biasa tampil apa adanya. Tanpa riasan. Rambut sebahunya kini digerai. Hitam dan tebal. Masih tetap manis senyum di wajah oval gadis itu.


" Mari silahkan diminum dulu."


Laras menyadari situasi itu dan berusaha mengalihkan perhatian.


"Oh, ya. Terimakasih."


Kali ini sang dokter yang sedikit salah tingkah karena tertangkap memandang Laras tak berkedip. Untuk menutupi perasaannya segera ia mengambil gelas air mineral di depannya.

__ADS_1


" Maaf, ada apa pak dokter datang kemari?"


" Begini ....."


Dokter Pandu memperbaiki posisi duduknya. Kali ini agak condong ke arah sisi kanan mengadap ke Laras yang duduk dua jarak kursi dari tempatnya.


Di ruang tamu Laras yang berukuran kecil sekitar tiga kali empat meter, memang tak ada kursi yang saling berhadapan. Ada tiga kursi kayu tunggal dan sebuah sofa lama berukuran panjang untuk dua orang. Juga sebuah meja tamu di depannya. Televisi flat berukuran 21 inch bertengger di atas bufet kayu model lama.


"Saya ingin tahu kondisi Bu Larasati setelah donor darah untuk Gaby, kemarin."


" Terimakasih. Saya baik - baik saja......'


" Syukurlah. Oya sudah diminum suplemennya ?"


" Pil penambah darahnya, ya?" Belum."


" Segera diminum ya, setelah makan nanti."


" Baik, pak dokter."


" Panggil Pandu, saja."


Laras tersenyum tipis dan mengangguk.


"Tahu dari mana rumah saya?"


"Dari Bu Ina. Tadi sempat terlewat dan bertanya pada orang yang kebetulan searah."


" Bagaimana kondisi Gaby?"


Nada bicara Laras sedikit cemas. Masih terbayang wajah pucat bocah mungil itu ketika dia membawa ke puskesmas bersama pak dokter Pandu.


" Gaby kondisinya stabil. Apalagi transfusi darah berjalan lancar dan tak ada reaksi alergi. Jadi terimakasih atas kesediaan ibu guru Larasati mendonorkan darahnya."


Suara dokter Pandu terdengar serius dan tegas. Tatapan matanya yang teduh langsung menghujam di dada Laras.


Sejenak hening.


" Aduh, panggil Laras saja, pak dokter.... eh ehm...mas Pandu."


Lelaki muda itu tertawa melihat reaksi Laras. Demikian pula gadis itu. Tawa pecah diantara mereka berdua.


" Oya, papa Gaby menitip ucapan terimakasih untukmu."


Lalu cerita mengalir tentang sang dokter yang baru bertugas sekitar lima bulan ini di puskesmas. Setahun lamanya lelaki itu pernah menjalani intership di ujung negeri. Pedalaman Aceh. Lalu dua tahun di rumah sakit milik pemerintah di kota propinsi. Akhirnya terdampar di tengah hutan sawit ini. Sebuah kecamatan di pelosok Riau.


Sebagai abdi negara, Pandu menjalani semua takdirnya dengan ikhlas. Lulusan universitas negeri terkenal di ibukota negara itu, tak menolak semua proses perjalanan hidupnya.


Pandu dua bersaudara. Sang adik lelaki masih kuliah di farmasi. Kedua orangtua Pandu adalah dokter di ibukota. Ayah spesialis jantung dan ibunya ahli patologi.


Giliran kisah Laras. Cerita tentang rutinitas mengajar di TK. Suka dukanya. Tetapi lebih banyak senang karena sesuai cita cita Laras. Sejak kecil ingin menjadi guru. Dia suka anak- anak.


Diam - diam di dalam hati Pandu, salut pada gadis muda itu. Menjadi guru apalagi di TK butuh kesabaran tinggi.


" Jadi Laras baru lulus program studi pendidikan usia dini dan langsung mengajar disini?" tanya Pandu.


" Iya, status masih honorer."


" Kita syukuri. Siapa tahu nanti ada kesempatan untuk jadi guru tetap atau bisa jadi guru negeri."


" Semoga, ya."


Cerita bersambung tentang keseharian. Tak terasa lebih satu jam berlalu. Percakapan terasa akrab. Mereka asyik mengobrol. Termasuk tentang kedua orangtua gadis itu yang telah tiada. Juga kehidupan Laras bersama sang nenek kini.


Pandu bersimpati pada keadaan Laras.


" Ehm, saya pamit dulu. Maaf sudah mengganggumu. Jadi silahkan lanjutkan lagi menggosok motormu," senyum Pandu mengakhiri perkataannya.


" Terimakasih juga pak dokter bersedia memeriksa kondisi saya ...." kali ini Laras tak mau kalah menimpali.


" Boleh saya kemari lagi memeriksa kondisi anda? Maksudnya, tak ada yang marah kalau saya sering kesini?"


Deg. Laras paham maksud Pandu.


" Silahkan, jika berkenan."


" Terimakasih, ya." Senyum Pandu jatuh dalam pandangan Laras.


Laras mengantar lelaki muda itu hingga ke depan toko. Dia sempat mengenalkan

__ADS_1


sang nenek yang sedang merajut. Pandu mengobrol sejenak, lantas dengan sopan pamit pada nenek dan juga Laras karena akan melanjutkan perjalanan ke kota.


__ADS_2