Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 29. Kencan


__ADS_3

"Okey, Laras. Kamu lebih tahu kota ini. Silahkan buat keputusan untuk tempat kencan kita, sayang."


"Gimana kalau kita lihat sunset di salah satu pantai, sebentar lagi petang."


"Jauh nggak dari sini?"


"Nggak, sekitar limabelas menitan. Aku tahu jalan terdekat ke sana. "


"Baiklah."


Laras kemudian memberitahu arah pantai yang dituju pada Pandu. Gadis itu jauh detail dan membuatnya pede dibanding dia harus mengikuti panduan aplikasi penunjuk arah.


Lintasan ke lokasi semula mulus tetapi setelah berbelok menuju jalan lebih sempit, menjadi sedikit berbatu karang.


Mobil perlahan masuk ke areal parkir. Cukup ramai karena beberapa saat lagi pengunjung bakal disuguhi sebuah ritual sang surya menuju peraduan.


Ada beberapa keluarga mengabadikan momen itu. Juga banyak pasangan kekasih yang melewatkan waktu dengan bermesraan.


Semburat orange kekuningan di ufuk barat. Deburan ombak pantai yang berpasir hitam terdengar lembut. Sebuah view magis tersaji di depan mata.


Di arah berlawanan tersebar coffe shop, beberapa warung seafood serta minimarket kecil.


Beberapa kursi khas pantai dari rotan sintetis berjejer di depan trotoar. Beach walk petang itupun dilalui banyak pengunjung buat jalan-jalan.


"Indah ya disini?"


"Dulu belum sebagus ini, mas."


"Kamu sering kemari?"


"Iya."


"Dengan siapa?"


"Orang special."


"Pacar lama?"


Laras mencubit pinggang Pandu.


"Sahabat juga, seseorang yang special bagi kita, mas. Aku jadi teringat Lilisiana."


"Hem, soulmate sesama penggemar Jack Sparrow?"


"Wow, mas masih ingat."


Keduanya tertawa. Pandu masih menyimpan memori kecemburuan inisial L and J itu.


Mereka berjalan mencari tempat buat duduk menatap view pantai yang menawan. Karena areal perbukitan kecil ramai, lalu menuju ke bebatuan dan karang yang menjorok ke laut. Di sana pun sudah banyak di kapling pasangan muda.


Akhirnya agar tak melewatkan momen, Laras meminta duduk di atas pasir pantai saja. Beralaskan sepatu masing-masing.


"Kita sedikit terlambat datang kemari. Tapi disini juga lumayan."


"Apa memori specialmu di sini dengan sahabatmu itu?"


"Please jangan ditertawakan ya, mas. Kita tuh masih kuliah tahap awal. Sama-sama merantau. Dia kost dekat kampus. Kita suka kangen rumah sendiri, lalu kemari membayangkan suasana seperti ini seperti dalam film Pirates the Carribean. Sekedar menghibur diri."


Mendengar cerita Laras, tak urung Pandu tersenyum.


"Benar begitu?


"Sure, naif ya?"


"Ah, tidak."


"Jika stress juga sering datang kemari. Apalagi sedang patah hati."


"Siapa kamu atau Lilis?


"Ups....dua-duanya."


"Jadi Laras sayangku pernah broken heart."


Pandu meraih tubuh Laras dengan tangan kiri agar gadis itu bersandar di bahunya. Kepala sang pacar akhirnya rebah di bahu kiri Pandu.


"Siapa laki-laki itu, boleh aku tahu?"


Pandu membantin, " Dito? Atau ada lagi lelaki lain?"


"Sudahlah mas, Itu masa lalu. Moment kita ini tak perlu dirusak oleh kenangan yang tak baik. Setuju?"


"Kita buat kenangan indah sekarang."


Pandu menoleh dan mencium rambut Laras.


Matahari perlahan tenggelam. Deburan ombak mengiringi. Mereka berdua terdiam. Jemari Pandu menggenggam erat tangan kanan sang pacar.


Meski tak seindah dan seglamour banyak pantai pasir putih di pulau Dewata, sunset saat ini sangat berkesan.


Kencan pertama Pandu dan Laras yang memang ditujukan buat menghabiskan waktu berdua saja.


Durasi yang terbatas hanya setelah mengantar mama ke bandara. Juga pesan nenek agar pulang tak lebih dari jam sembilan malam.


Kalau mau jujur sesungguhnya Pandu ingin seharian dengan Laras. Berdua, mengobrol berbagi perasaan terdalam dan saling memahami karakter diantara mereka.


"Sudah pukul enam lebih, ayo cari makan. Perutku mulai berontak.


Laras mengiyakan, " Makan seafood di salah satu warung disini saja."


"Ayo .."


Pandu mengajak sang pacar buat bangkit dan berjalan menuju tempat yang dituju. Sebuah warung ikan bakar.


Berdua sepakat memilih ikan bakar. Kakap dan ikan dorang. Sambel terasi serta aneka sayur lalapan. Dua buah es kelapa muda melengkapi.


Mereka bersantap seraya kembali ngobrol.


"Kalau waktu agak longgar aku ingin mampir ke bude sih, mas."


"Rumahnya di daerah mana?"


Laras menyebut nama lokasi. Cukup jauh. Sekitar sepuluh kilometeran arah ke kota kabupaten lain.


"Jadi kamu dulu jauh juga pulang pergi kuliah, ya."


"Iya, lumayan. Kadang berangkat bareng bang Herman, yang kebetulan di kampus sama. Beda fakultas. Dia dua tahun diatasku. Kadang naik bus kota. Sesekali bawa motor lama bude."


"Setiap hari aku bersama bang Herman bantu-bantu. Ke pasar, memasak hingga menjaga warung."


"Terus Norman?"


"Abang sudah jadi tentara dan sedang pendidikan. Dia kan enam tahun lebih tua dariku."


Pandu membayangkan kehidupan sederhana sang kekasih. Berbeda dengan dia. Sudah bawa mobil pribadi sejak sekolah menengah atas. Bergonta ganti merk. Begitu pula sang adik. Kalau saja dia tak tinggal di tempat terpencil seperti sekarang, mungkin bawaan dia adalah mobil keluaran Eropa.


"Kamu sudah fight sejak dulu ya."


"Tentu. Hidup tak selamanya indah. Apalagi sejak ibu meninggal....."


Suara sendu Laras, membuat Pandu segera menggenggam jemari tangan kiri sang kekasih. Seolah menguatkan.


"Pasti beda dengan mas Pandu, ya."


"Tiap orang punya cerita sendiri. Tantangannya juga beda."


"Nah, mas Pandu dulu waktu masih kuliah gimana?"

__ADS_1


"Ehm......memang berat juga."


"Berat beban studinya juga berat biayanya. Tapi buat keluarga mas sepertinya tak masalah."


"Laras, saat sekolah dan kuliah aku dituntut berprestasi tinggi. Pram juga.Terutama oleh papa. Beliau sangat keras dan disiplin masalah pendidikan."


"Kan semua demi masa depan mas dan adik."


"Benar. Tapi terkadang aku jenuh sekali. Aku, termasuk anak penurut, orang rumahan, kutu buku, kuper mungkin baperan juga, ha ha ha..."


"Oya? Sepertinya yang katagori terakhir nih masih ada jejaknya," sahut Laras dengan senyum.


" Beda dengan Pram. Dia cenderung pemberontak dan suka berpetualang."


"Beda orang beda respon terhadap tantangan ya."


"Kadang adikku itu membuat banyak masalah. Termasuk dengan para gadis. Barisan mantannya tuh lebih dari jumlah jari jemari tangan kita. Tetapi herannya meski bandel dia tak pernah lepas dari lima besar di kelasnya dulu."


" Adik mas jadi cowok popular dong. Kalau model mas Pandu jadi langganan best student, tentu."


"Begitulah...ehm."


" Pasti ada cewek yang suka model cowok kayak mas dulu. Biasanya yang se frekwensi alias introvert."


"Terus terang aku ini tak punya banyak pengalaman."


"Maksudnya dengan para gadis?"


Laras menatap sang kekasih saraya menopang dagunya dengan kedua tangan. Menatap Pandu yang tersenyum simpul.


"Cita-citaku kini hanya


pengin jadi best man in your heart!"


Laras kali ini mencubit lengan kanan sang pacar karena mereka duduk berhadapan.


Kala itu acara bersantap telah usai. Hanya sedang menghabiskan minuman.


Laras membatin," Buat cowok yang besar dan tumbuh di kota metropolitan, mas Pandu termasuk lelaki polos. Lugu. Sedikit ngotot tapi tetap lembut hati."


Setelah makan dan membayar di kasir mereka beranjak keluar lokasi. Malam telah datang. Kerlap-kerlip lampu sekitaran kota berwarna warni.


Pandu minta waktu menelpon mama. Dia lega. Mama telah bergabung dengan kolega beliau di acara welcome party.


"Ehm, mama sudah sampai."


"Kita langsung pulang ya, mas."


"Sebenarnya aku masih ingin mengajakmu berkeliling. "


"Kapan-kapan ya. Nanti kita sampai rumah lebih dari jam sembilan."


"Bukannya bik Jum kamu mintai tolong buat menginap?"


"Iya. Tapi kalau aku belum pulang, nenek belum bisa tidur dengan tenang."


"Ehm, baiklah. Tapi aku ingin membeli baju couple buat kita. Nanti ada toko pakaian yang pernah aku kunjungi, searah jalan pulang."


Laras tersenyum dan membatin," Mas Pandu ngikutin tren juga, nih. Biar seperti pasangan dalam drama Korealah."


Pandu mengarahkan mobil ke sebuah pertokoan. Tadinya dia ingin ke mall. Tetapi lelaki itu berpikir akan perlu waktu lama. Mencari tempat parkir di basemen memutari berbagai talent, terlalu banyak menyita waktu. Padahal mereka di deadline agar sampai di rumah tak lebih dari pukul sembilan malam.


"Kamu pilih sendiri, Laras."


"Iya, makasih mas."


Pandu meminta sang pacar membuat keputusan setelah memasuki toko pakaian. Ada pilihan dari kaos katun, bahan kain serta denim.


"Gimana kalau ini?"


Laras menunjuk sebuah sweater warna pink muda. Bertuliskan Best Friend Forever.


"Hush, terlalu jauh mas....."


"Nah, ini saja Boys Girls."


Laras mengambil sepasang sweater berwarna baby blue. Lalu mencoba mencocokkan ukuran di badan Pandu, juga dirinya.


"Hem, kamu suka?"


Laras mengangguk.


"Sudah kita ambil ini saja."


"Ingin beli yang lain?" Untukmu sendiri."


"Tidak, makasih, mas."


Pandu mengelus kepala Laras seraya membatin, "Coba gadis lain kutawari hal serupa, pasti deh sudah memborong banyak."


Setelah itu mereka segera ke kasir. Akhirnya sebuah hodiebag berwarna hitam telah dijingjing Pandu.


Mereka juga mampir ke minimarket sebelah toko tadi. Bergantian memakai fasilitas toilet.


Membeli dua botol air mineral berukuran sedang serta snack berupa kacang kapri dan pop corn rasa mentega buat bekal perjalanan sepanjang dua jam nanti.


Pandu mulai mengemudi dengan kecepatan tinggi memasuki areal jalan lebar lintas Sumatra.


Lalu lintas tak seramai tadi siang. Obrolan ringan mewarnai suasana.


"Mau setel musik?"


"Mas, gimana?"


"Kamu suka genre apa?"


"Apa aja dari pop, dangdut, rock, jazz."


"Diborong semua. Suka penyanyi siapa?"


"Tulus serta Afgan.


"Yang cewek?"


"Celine Dion. Lha mas sendiri? Suka musik rock, kata mamanya tadi."


"Bener, aku suka denger Queen dan Bon Jovi, Scorpion, KoTak band juga.


Laras membatin ,"Nih cowok tampilan kalem tapi selera musik keras. Beda dengan bang Norman. Tampilan sangar dan orangnya keras kepala, yang didengar seringan lagu Rossa yang mendayu-dayu. Bang Herman lain lagi, suka musik latin macam lagu-lagu dari Shakira.


"Apakah kerap ada dua pola atau lebih kepribadian ehm kecenderungan dalam diri seseorang?" gadis itu masih bercakap di benaknya.


"Kenapa ngelamun? Udah kita stel Kotak aja ya."


"Oke!"


Laras mencari daftar playlist lagu dimonitor kecil mobil sang kekasih.


Lalu mengalunlah Lagu Pelan Pelan Saja, Tendangan Dari Langit, Selalu Cinta, Kecuali Kamu, Terbang.....


Sesekali Pandu mengikuti irama dan turut bernyanyi. Laras mengikuti jika ada lirik yang dia tahu.


Gadis itu selalu mengarahkan senyum buat sang pacar yang beberapa kali meliriknya. Genggaman tangan kiri Pandu terasa hangat. Sementara tangan kanan memutar kemudi.


"Mas, fokus nyetirnya. "


"Iya tenang aja, aku bisa multitasking, jangan khawatir."

__ADS_1


Diciumnya punggung tangan Laras.


Memasuki kota kabupaten.


"Gimana kalau nenek dibelikan martabak?"


"Mas mau juga?"


"Boleh. Nanti diberikan satu buat perawat jaga.


Mereka membeli dua martabak telur ayam dan satu martabak manis bertabur meses coklat. Sebuah depot yang tak terlalu ramai jadi persinggahan.


Pandu meregangkan pinggang sejenak.


"Kalau kamu sudah bisa menyetir, mas bisa istirahat. Gantian."


Iya, nanti tolong diajari, setelah kompetisi."


" Biar cepat mahir tuh harus sering latihan."


"Ya, ya....."


"Besok sore mas mulai ajarin nyetir. Main badmintonnya saja setelah kompetisi."


"Siap, bos."


Tawa Laras pecah, Pandu mengacak rambut sang pacar. Kalau udah punya keinginan mas Pandu selalu ingin bertindak cepat.


Perjalanan sesi kedua menuju kecamatan yang ditujukan. Sekitar empat puluh lima menit. Kawasan makin menyepi. Lebar jalanan juga mengecil.


Percakapan masih diisi dengan hal-hal ringan. Kali ini tak ada alunan lagu.


"Laras, kenapa ya kalau aku gemas melihatmu, selalu ingin mencium dirimu ?"


"Karena aku manis dan baik hati."


Kembali tawa gadis itu pecah. Dia menggoda sang pacar dengan lirikan dan senyum.


Kali ini Pandu yang mencolek pinggang sang kekasih. Secepat kilat lalu memperlambat laju kendaraan, meminggirkan mobil di tempat remang-remang. Perlahan berhenti. Mesin mobil dan AC tetap menyala.


Hati Laras berdebar.


"Makin kamu bersikap seperti tadi, aku akan menciummu lagi!"


Ancaman sang pacar membuat Laras terdiam. Serta merta menutup bibirnya.


"Sudah nggak usah ditutupi begitu....."


Pandu mengarahkan badannya mendekat ke arah sang gadis. Mencium pipi kanan Laras. Memegang dua jemari gadis itu. Dan menyingkirkannya dari depan bibir.


"Mas, jangan....."


Belum selesai perkataan Laras, sang kekasih telah mengulum bibir berlipstik merah bata itu. Mesra.


Laras mematung. Pandu makin agresif.


Sejurus kemudian memegang kedua sisi bawah wajah Laras. Kedua insan itu bertatapan.


Sebuah bahasa cinta kembali terealisasi. Kecupan lembut di bibir Laras, saat mata gadis itu terpejam. Desiran rasa diantara keduanya makin membara.


Pandu lebih banyak berinisiatif. Beberapa kali melancarkan ciuman panas. Laras membalas. Bibir dan leher depan. Tangannya mulai menyentuh pundak Laras.


"Terimakasih, Laras," bisikan mesra lelaki itu membuai sang pacar.


"Iya, mas."


Wajah mereka masih sangat dekat. Kedua tangan Pandu pun masih mencengkram kedua bahu sang pacar.


"Aku selalu tak tahan melihat bibir indahmu. Aku mencintaimu, sayang."


"Mas......."


"Ayo kita mulai rencanakan untuk bicara serius. "


Laras melepaskan diri, menegakkan badan dan bersandar di kursi mobil. Manatap lurus ke depan. Menghindari wajah Pandu yang masih menolehnya.


"Maaf bukan ingin memaksamu."


"Bicara pernikahan lagi ?" Laras bertanya dengan jutek.


"Memang sepertinya tergesa. Gimana kalau kita bahas perlahan? Maksudnya kamu ingin mas gimana dulu?"


Laras terdiam.


Padahal sebelumnya Pandu berjanji tak akan membahas hal serius ini dulu.


"Iya, mas minta maaf lagi deh. Tadi siang sudah janji tak lagi membuatmu tak nyaman."


Hening.


"Maaf, Laras ....."


"Tolong ya, mas. Jangan membahas hal ini secara mendadak. Kita sepakati kapan sama-sama siap. Biar bisa tenang."


"Ehm, iya."


Pandu sedikit menyesal. Karena dorongan hasratnya selalu terlintas keinginan buat segera menghalalkan hubungan ini. Itu semata karena dia ingin selalu bersama Laras. Namun saat ini belum dapat tercapai. Dia ingin membahagiakan gadis itu. Tapi.......


Apakah benar? Bukan sekedar ego pribadinya yang mendominasi keinginan itu?


Di satu sisi dia merasa ini hal yang wajar, bukan tentang nafsu belaka. Dia yakin masih mampu mengendalikan diri.


Dilema menghantuinya.


"Mas, boleh aku buat peraturan. Mari kita sepakati. Demi kebaikan bersama. Ehm, begini.....kita hanya boleh berciuman satu kali saja kalau bertemu. Tak lebih. Buat mengerem diri. "


Laras berkata tegas.


Pandu terdiam. Ada benarnya. Tapi kan berciuman itu hal spontan. Terjadi oleh situasi dan kondisi tertentu.


Kali ini Pandu tak ada pilihan. Daripada berdebat dan akhirnya Laras meminta bahwa dia tak boleh mencium gadis itu lagi? Lebih berabe. Siksaan berat.


"Gimana mas?"


"Ehm......boleh. Tapi itu berlaku mulai besok saja."


"Masih menawar."


"Kan ada masa reses."


Pandu mencuri start mencium pipi sang gadis secepat kilat.


Belum sempat Laras protes, sang pacar berkata," Ayo kita lanjutkan perjalanan. Nanti nenek marah karena kamu terlambat sampai di rumah."


"Iya....."


Memasuki jalan desa. Hanya beberapa ratus meter. Laras telah sampai di rumah. Pandu memintanya membawa sekotak martabak. Dia hanya mengantar sampai depan teras. Pukul sembilan lewat sepuluh menit.


Lelaki itu minta dipamitkan pada nenek dan bik Jum.


"Istirahat ya."


"Mas, juga. Hati-hati menyetir pulang."


"Ehm, oke. Aku pulang dulu. I love you."


Pandu menyentuh jemari gadis itu.

__ADS_1


"Love you, too."


Lelaki itu berjalan menjauh. Laras mengikuti untuk menutup gerbang. Lambaian tangannya mengakhiri kencan mereka hari itu.


__ADS_2