Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 34. Ultimatim


__ADS_3

Pram menceritakan kecelakaan tunggal yang dia alami. Semula hanya ingin berkeliling sekitar kota kecil di kecamatan itu. Sekedar mengalihkan kegundahan hati. Akibat banyak melamun, seekor kucing yang menyebrang jalan nyaris ditabrak. Spontan dia membanting stir ke kanan. Menyerempet pohon asam. Untung mobil masih mampu dikendalikan hingga tak terperosok ke parit samping pohon beringin.


"Percaya nggak lu, sekilas gue nggak nyadar. Kepala pening, seperti ada bayangan lewat."


"Beruntung jalanan di situ sepi."


"Bener, kalau ada kendaraan lain gimana? Wuih gue pasti parah, nggak bisa ngebayangin deh. Bisa-bisa gue dead!"


"Hush....."


"Saking kagetnya gue mungkin layaknya masuk dunia lain sejenak. Dejavu. Lantas tertidur. Gue mimpi dikejar cewek cantik yang jalannya melayang. Iiih.....!"


Pandu membiarkan Pram berasosiasi dengan agak berlebihan atas apa yang telah dialaminya.


Tapi konon, banyak cerita orang di dekat situ memang seram. Ada penunggu tak kasat mata. Ada sosok makhluk mistis. Entah apa lagi. Makanya kalau lewat disana diharuskan membunyikan klakson.


Tapi apa mungkin ya, Pram "disembunyikan" karena tak ada yang coba menolong dia? Mobil terhenti, sedikit ringsek dengan orang tertidur atau pingsan di dalamnya.


Menurut Pram, ia pergi pukul setengah enam. Terus baru berjalan tiga kilo, dengan kecepatan sedang udah mengalami peristiwa itu. Sekarang menjelang pukul sepuluh. Lebih dari empat jam. Masa tak ada kendaraan lain lewat lalu berhenti dan penasaran dengan kondisi sang adik, berusaha menolong atau apapun itu.


Pandu sempat bergidik.


Namun coba berpikir realistik. Mungkin ada yang melihat dan coba membangunkan, melihat Pram masih bernafas serta tak terlihat terluka, jadi dibiarkan.


Kembali overthink habit's.


Sesungguhnya itu karena sang adik masih syok , kelelahan, dehidrasi atau kelaparan. Nggak bisa tidur semalam. Hingga tidak fokus menyetir.


"Lain kali kalau mau pergi, pamit dulu."


"Iya .... tapi pas gue mau jalan, lu kan tadi belum bangun."


"Nggak pa pa, dibangunin aja."


"Gue liat ke kamar, tidur lu lelap banget memeluk guling. Ngebayangin meluk siapa lu? Pacar?"


Pandu nyengir.


"Mana gue gak bawa dompet dan hp. Eh tapi untung juga ya. Kalau bawa, bisa dirampok. Emang di sini aman atau rawan sih?"


"Aman kok!"


"Syukurlah.


"Udah ntar gue periksa dan obati lengan lu. Setelah itu makan dan istirahatlah."


Mereka sampai di puskesmas. Saat sang dokter mengajak Pram ke UGD untuk mendapat penanganan lukanya, tak pelak bisik-bisik, rasa keingintahuan alias kekepoan para personil lain tak terhindar. Terutama gadis-gadis suster itu.


"Sssst, adik dokter Pandu lebih cakep."


"Jangkung. Body goals banget."


"Keren. Manis. Senyumnya itu loh...!"


Pram yang tampil rapi dengan jeans biru dan T-shirt hitam, pastilah senang. Hal itu sedikit banyak menghiburnya. Lupa sejenak dengan masalah yang di hadapi.


Pandu melirik ke arah suster Susana dan suster Wati yang turut membantu membersihkan luka, memberi obat, memasang perban dan plester di siku dan lengan kanan sang adik.


Senyum menggoda dan tatapan kedua perawat tak mampu menyembunyikan kekaguman atas sosok Pram.


Sang adik sepertinya menikmati suasana itu. Pura-pura memejamkan mata dan tetap terlentang di dipan UGD.


Hingga hanya tersisa kakak beradik itu saja.


"Pram, ayo bangun. Udah kelar. Balik ke rumah sana!" perintah sang kakak.


"Aku bisa ke sini lagi nanti?"


"Tidak. Ini jam kerja. Tidur di rumah saja!"


"Uhhh...!" Tapi thanks ya. Bilangin para suster itu kalau gue tersanjung....ha, ha,ha!"


"Dasar!"


Pram berjalan perlahan meninggalkan ruangan itu. Masih sempat melambaikan tangan kiri pada dua suster yang sedang membersihkan peralatan yang barusan dipakai.


Hingga waktu makan siang. Pandu pulang. Sang adik telah tertidur. Pulas.


"Udah makan tadi adikku, mbok?"


"Sudah, dok. Lahap banget. Terus nonton tv dan tidur. Tapi sepertinya belum mandi."


"Iya biarin aja."


"Adiknya dokter baru lulus ya. Tadi kenalan dengan mbok. Katanya bisa lama di sini. Dia juga terdengar bolak-balik menelpon seseorang dengan nada marah. Eh, maaf dok. "


"Ya, gak pa pa, mbok. Emang dia lagi ada masalah."


Pandu menikmati hidangan makan siangnya. Setelah itu memeriksa keadaan sang adik.


"Gue tuh sering jengkel dengan kelakuan lu. Tapi kali ini ada sedikit kasihan. Pram. Pram, " bisik sang kakak.


Pandu membatin kembali seraya memandangi wajah Pram yang terlihat lelah. Tidur telentang tanpa berganti pakaian sejak pagi.


Di akui olehnya semenjak mereka kuliah dan hingga kini lulus, jarang ada lagi waktu berdua. Sebagai kakak beradik. Sodara kandung.


Teringat lagi kisah saat masih kecil di sekolah yang sama. Dari sekolah dasar hingga menengah. Mereka cukup kompak. Walau sering berdebat dalam banyak hal sesungguhnya dalam hati saling membutuhkan serta menyayangi.


"Mbok, aku ke depan dulu. Buat makan malam tolong buatin tambahan menu soto ayam, ya. Biar adikku mau makan banyak lagi."


"Baik, dok."


Pandu melanjutkan kerja hari itu hingga pukul setengah lima. Ketika pulang dilihatnya sang adik tengah nonton televisi. Mbok Siti sudah pamit.


Lelaki itu duduk di hadapan sang adik. Setelah berganti dari seragam kerja menjadi pakaian santai. Denim coklat dan kaos ivory white.


"Pram, udah mandi lu. Gimana keadaan lu?"


"Maksudnya ?"


"Tuh lengan dan sikunya, masih nyeri? Kepala pusing nggak?"


"Nyeri dan perih masih dong. Kepala juga berputar- putar. Selama ini masalah belum jelas, pasti pening terus gue!"


"Maksudnya ada cidera nggak di kepala kira-kira?"


Pram memegang bagian atas badannya itu. Memijit mijit serta mengetok dengan tangan. Kayak orang bego.


"Kayaknya kepala gue baik-baik aja."


Sebuah panggilan telepon terdengar dari ponsel Pram.


"Ssst dari Bella."


Pram berjalan menjauh. Ke arah belakang. Terdengar nada suaranya meninggi.

__ADS_1


Tak lama kembali ke posisi semula.


"Tambah pening gue. Sekarang Bella marahin gue. Katanya gue kabur karena nggak mau bantuin dia membuat rencana renovasi toko alkesnya yang baru."


Pandu bertanya," Pacar lu itu udah tahu masalah sesungguhnya?"


"Tentang Sandra? Ya jelas belumlah. Kalo udah bisa di putusin langsung gue!"


Pandu terdiam. Membatin.


"Nih, orang sedang dalam situasi tertekan oleh masalah besar. Memilih menghindar. Kita lihat aja nanti sampai kapan dia mampu bertahan."


"Gue mau ke rumah Laras. Lu nggak boleh ikut. Diam di rumah!"


Pandu beranjak.


"Gue bosen. Ikutan boleh nggak?"


"Belum sehari di sini udah bosen. Nggak boleh ikut, ganggu orang pacaran lu! Pikirin gimana perbaiki mobil rent carnya!"


Pandu mengambil kontak dan pergi meninggalkan sang adik sendiri.


Sampai di rumah Laras terlihat gadis itu menyapu halaman.


"Bik Jum kemana?"


"Sudah pulang sejak jam dua tadi. Dijemput suaminya. Anak sulungnya sakit."


"Oya? Sakit apa?"


"Pulang dari sekolah, demam dan mual."


"Kenapa nggak dibawa periksa ke puskesmas?"


"Kata suaminya coba dikasi obat warung dulu. Besok kalau belum sembuh baru ke puskesmas."


"Hem. Laras bisa bicara di dalam nggak?"


"Ya, sebentar aku selesaikan dulu ini. Mas duduk dulu, ya."


Pandu mendahului sang pacar yang terlihat masih menyapu serta mengumpulkan dedaunan kering yang jatuh di bawah pohon jambu. Membentuk gundukan kecil.


Sementara nenek ada di toko.


Laras lalu mencuci tangan dan masuk ke ruang tamu.


"Di buatin minum dulu ya. Mau teh hangat?"


"Boleh, makasih ya."


Tak lama sang gadis sudah datang dan membawa dua mug minuman.


"Ayo mas. Diminum."


Pandu mengangguk. Cerita lalu mengalir tentang kedatangan Pram juga kejadian pagi tadi.


Laras tentu sangat terkejut.


"Jadi adiknya mas nekad kemari?"


"Benar. Katanya bisa semingguan di sini."


"Ya. Syukur juga mas, daripada ke tempat lain yang nggak jelas. Setidaknya dia kemari dan bertemu kakak yang bisa diajak sharing."


"Iya sih. Tapi belum sehari udah buat masalah baru."


"Sabar mas."


"Tadi malah maksa mau ikut kesini. Aku marahin aja. Gangguin orang mau pacaran...hehe he."


Kembali sang gadis ikut tertawa.


"Besok diajak ke GOR mas, biar gak bosen. Nggak bisa turut main badminton juga gak apa-apa."


"Jadi dia bisa liat orang pacaran?"


"Kan bukan pacaran tapi berolahraga!"


"Ya deh. Orang pacaran yang menikmati waktu bersama dengan bermain badminton!"


Laras membatin," Kumat lagi. Suka membahas hal detail, mas ini!"


"Rencana Pram disini mau kemana dan ngapain saja?"


"Itu yang aku tak tahu pasti. Yang jelas jangan sampai gangguin kamu, Laras!"


"Nggak lah, mas."


"Atau ganggu para suster itu? Gawat!"


"Gini aja mas, kasi dia kesibukan. Hobinya kan olahraga. Kenalkan dengan kang Jamil saja. Biar ikut melatih basket atau voli di pabrik. Tapi dia sedang cidera ya?"


"Ehm. Idemu bagus juga.Yang penting nggak ganggu para gadis!"


"Siapa tahu juga diajak panen ayah kang Jamil. Sekarang mereka lagi banyak jadwal panen di kebunnya. Ada pisang, jambu biji juga kelapa hijau."


"Benar-benar. Makasih ya. Kamu memang cerdas. Aku jadi tambah sayang..."


Pandu tersenyum dan meraih tangan Laras. Menggenggam erat.


"Pram orangnya gak bisa diem. Kalau dia sibuk paling nggak bisa sedikit mengalihkan fokusnya biar gak stress mikirin masalah besarnya itu."


"Semoga ya, mas!"


Pandu mengajak Laras menyelesaikan tugas tadi. Membawa dedaunan kering dengan keranjang bambu untuk dibawa ke halaman belakang. Bakal dibuat kompos. Dipakai menyuburkan pisang dan ubi kayu. Lalu sisanya akan dibagi ke para tetangga buat pupuk tanaman mereka. Seperti yang bik Jum sering lakukan.


Hak sederhana yang punya makna besar.


Pukul tujuh Pandu pamit pulang. Karena ada sang adik di rumah dinasnya, dia tak melewatkan makan malam dengan sang kekasih.


"Lho, udah dateng. Cepat amat ngapelnya?" tanya Pram yang terlihat ngobrol dengan tetangga sebelah rumah. Di teras mereka. Para perawat bujangan itu.


Pandu nyengir. Menyapa anak buahnya sejenak lalu mengajak sang adik makan malam.


"Gue mandi dulu. Tolong hangatkan soto ayam di panci atas kompor!" perintah sang kakak.


"Siap bos!"


Saat makan kembali keduanya berbincang.


"Sejam lalu Sandra telpon lagi."


"Omong apa dia?"


"Minta gue cepat balik dan menemani ke genekolog! Gue di ultimatum. Jika nggak mau kooperatif bakal di aduin secepatnya pada papa mama.

__ADS_1


"Trus jawaban lu, gimana?"


"Gue bilang padanya baik-baik. Dia dan gue perlu nenangin diri dulu. Cooling down. Paling lambat pekan depan gue balik. Okelah nanti kita cari genekolog bersama."


"Bagus. "


"Menurut lu, Sandra itu memang sedang buat satu konspirasi nggak?"


"Mana gue tahu? Lu kira-kira aja sendiri atau langsung aja tanya pada dia!"


"Iya, iya...!"


"Sekarang gimana rencana lu tentang mobil itu?"


"Tadi gue udah telpon pengelola rent car. Emang gue yang harus betulin!"


"Jelas dong!"


"Barusan tanya anak buahmu. Katanya ada bengkel bagus dekat pasar. Mereka mau antar aku besok. Tinggal minta ijin lu. Bossnya."


"Oke, kamu bakal pergi dengan Handi besok."


"Thank you pak bos! Gue duluan."


Pram bangkit dari kursi. Mencuci piringnya lalu ngeloyor ke depan. Sepertinya ke tempat Handi lagi.


Pandu hanya geleng-geleng kepala menyaksikan sikap Pram.


Lelaki itu melanjutkan makannya. Setelah itu berbenah di dapur. Ritual selanjutnya melihat berita malam di tv.


Hingga pukul sembilan, Pram belum kembali. Pandu membiarkan. Toh hanya main ke rumah sebelah.


Pandu mengantuk dan masuk ke kamarnya. Sejenak memeriksa ponsel dan mengirim chat pada sang kekasih.


"Udah mau tidur, syg?"


"Belum. Ini sdg nulis ijazah klas B."


"Istirahat dlu."


"Kurang dua nama."


"Coba ada aku disana, kubantu."


"Sori, tulisan mas gak kebaca!" (emotion tertawa)


(Pandu nyengir. Membatin. Emang begitu. Kebanyakan dokter, tulisan tangannya sulit dipahami)


"Ya, bantu meluk kamu aja!"


"Ehm jgn ganggu dlu. Ini perlu fokus."


"Ups, sori. Met mlm. I love you."


"Me,too."


Pandu bangkit. Melongok ke kamar sebelah. Belum ada Pram.


Tak lama terdengar suara orang berbincang di ponsel. Memasuki rumah.


Itu Pram. Nada suara meninggi. Sepertinya pertengkaran.


"Kalau nggak percaya nih, omong sendiri dengan Pandu!"


Sang adik memberi ponselnya pada kakaknya," Dari Bella."


Pandu yang sedang berbaring di kasurnya dan di todong, segera menerima sodoran hp mahal milik sang adik.


Pram duduk di sisi kasur.


"Hallo!"


"Hallo, Bel? Gimana kabarmu?"


"Kabar buruk. Tolong kasitau Pram. Penuhi janjinya. "


"Janji?"


Pandu mengernyitkan dahi seraya menoleh pada sang adik.


"Iya janji bakal bantuin sampe selesai. Toko kedua aku mau buka dua minggu lagi, eh dia kabur pergi gak pamit. Emang ada apa di tempat tugasmu?"


"Enggak....!"


Pram memberi isyarat dengan telunjuk. Pandu paham. Langsung punya ide.


"Ehm itu. Ada banyak acara outdoor penyuluhan. Aku perlu bantuan dia buat dokumentasi. Foto-foto!"


"Kan bisa komunikasi dulu kek. Itu juga Sandra, sama aja polahnya. Janji juga mau ikutan bantu eh promosiin. Nggak bisa dihubungi pula. Mereka berdua sama aja. Gak komit."


Bella menumpahkan uneg-unegnya. Pram dan Pandu saling berpandangan.


Sang kakak mendelik. Pram menunduk.


"Pandu, tolong bilangin Pram. Kalau tak balik dalam dua atau tiga hari ini, gue mau buat perhitungan. Jangan salahkan gue kerjasama lagi dengan Erlangga. Biar Pram tahu rasa!"


"Sabar dikit, Bel!"


"Udah segitu dulu. Thanks kamu mau denger. Met malam!"


Klik. Sambungan di hentikan.


"Gimana Pram?" Dua ultimatum dalam sehari!"


"Tahu nih, pening gue."


"Siapa Erlangga?"


"Mantan Bella. Sekarang mungkin bakal jadi mitra bisnisnya lagi."


"Duh Pram. Kasian lu, udah jatuh ketimpa tangga pula."


"Iya, iya .....!"


Pram merebahkan tubuhnya di samping sang kakak. Mendekatkan dirinya dan memeluk badan Pandu. Erat.


Sang kakak semula ingin menolak. Mereka bukan anak kecil lagi.


Pandu segera tersadar. Adiknya saat ini butuh dukungan. Pengertian dan juga kasih sayang.


Di balasnya pelukan Pram seraya menepuk punggung sang adik.


Pram meringkuk di dada sang kakak.


"Aku tidur disini ya, hanya untuk malam ini saja. Please...."

__ADS_1


Pandu mengangguk...


__ADS_2