
Pekan ini kesibukan di sekolah mulai bertambah karena ruang perpustakaan mini telah usai di bangun.
Tinggal mengisi buku koleksi. Beberapa sumbangan buku buat anak-anak di berikan yayasan. Para orangtua yang ekonominya sedikit mampu juga memberi buku-buku bergambar.
Walau para siswa belum fasih benar membaca, beberapa anak klas B mulai mengeja huruf huruf besar judul buku. Lalu ibu guru mereka akan membaca kisah tersurat dan bercerita buat mereka. Di saat istirahat atau setelah jam sekolah usai.
Meski koleksi belum banyak, rak kayu bersap tiga di sudut ruang sudah terisi setengahnya. Ada duabelas buku tebal berisi kisah dunia binatang dan tetumbuhan. Sepuluh buku cerita rakyat yang ditulis versi pendek dan sederhana. Ada empat buku bercover tebal tentang aktivitas keseharian anak-anak pra sekolah hingga usia tujuh tahun.
"Ayo anak-anak duduk yang rapi, ibu bacakan cerita tentang domba yang baik hati dan ceria, " ajak Laras di ujung jam belajar usai. Ada tujuh anak yang belum dijemput saat itu. Hari ketiga pekan ini.
"Ya, Bu guru....!"
Mereka duduk lesehan di lantai beralaskan tikar plastik bergambar superhero.
"Hem, Bu guru kenapa domba yang kecil selalu memimpin temannya?" tanya Fero, anak klas B.
"Iya benar, kan ada domba lain yang badannya lebih besar?" Sari bertanya tak mau kalah.
" Begini anak-anak.....walau domba ini masih kecil tetapi dia pintar dan suka bergembira. Jadi semua domba lain menyukainya.
"Lho ibuknya domba itu juga suka bernyanyi. Domba besar dan gemuk yang satu lebih banyak sial karena nakal suka ganggu. Ha ha ha. .."Kemal menambahkan.
"Hem teman si domba, anjing kecil itu juga pintar," celutuk Edo.
"Tapi domba kecil sering bermain dengan si anjing yang suka jail itu," kelakar Ningrum.
"Bermain dan berteman boleh dengan siapa saja, asal sama-sama saling menyayangi."
Laras menekankan satu pesan buat murid-muridnya.
"Betul Bu guru, kita anak klas B juga sayang dengan adik - adik klas A," Rido, siswa klas B yang kalem, menjelaskan.
Kisah berakhir ketika satu persatu anak-anak mulai dijemput. Kecuali Kemal, yang nunut Bu Laras pulang nanti.
"Besok dibacakan lagi cerita lain ya Bu guru. Aku mau pulang terlambat saja," pinta Kemal.
Laras tersenyum, maklum. Kemal si kecil yang lebih banyak kesepian di rumahnya.
"Iya, nanti ibu bacakan kisah anak kecil seusiamu yang mau belajar naik sepeda mini."
"Terimakasih Bu. Aku juga ingin punya sepeda, lalu belajar menaikinya, seperti punya Budi."
Laras menatap si kecil bertubuh kurus dan berkulit gelap itu. Teman baik Budi, yang belum mulai sekolah karena cidera saat berlatih bola.
"Minggu depan Budi sudah mulai hadir, tetapi kalian berdua mainnya berhati hati ya, karena Budi baru sembuh."
"Iya, buk....!"
Setelah menurunkan Kemal di depan rumah kakeknya, Laras melanjutkan perjalanan ke pasar. Membeli keperluan stok toko yang menipis. Nenek meminta dibelikan enam buku tulis untuk menulis halus, selusin pensil hitam serta selusin penghapus pensil.
Pukul setengah dua, Laras sampai di rumah kembali. Perutnya terasa lapar.
Nenek menyambut dan mereka makan siang bersama seraya bercerita tentang laga kompetisi besok sore.
"Doakan ya nek, ada keajaiban bisa ke babak selanjutnya. "
"Iya tentu. Semua orang di desa membicarakan pertandingan bola itu. Kalau nenek gak cepat lelah ingin juga turut nonton ke stadion."
Laras tersenyum. Di usia menjelang tujuh puluh tahun sang nenek masih termasuk sehat. Sesekali mengeluh nyeri dan sakit persendian dan terkadang debar jantungnya meningkat.
Ketika nenek diajak untuk periksa ke puskesmas selalu menolak. Dengan alasan takut minum obat dan disuntik. Nenek kerap teringat dan merasa trauma dengan kisah sakitnya ibu Laras. Penuh kesedihan karena harus minum obat banyak jenis, disuntik dan menjalani cuci darah hingga lima kali sebelum beliau menyerah dan meninggal.
Konsumsi jejamuan menjadi andalan nenek. Bercerita dengan para tetangga dan mengisi hari dengan merajut adalah rutinitas yang membuat nenek gembira.
Laras mencoba memahami. Pernah terbersit meminta pertolongan Pandu untuk memberi pengertian pada nenek.
Tapi kekerasan hati sang nenek membuat Laras urung bertindak.
"Selama nenek masih beraktivitas normal, nggak perlu periksa dokter."
Itu alasan beliau. Bagi nenek menelpon Norman atau Herman, dua cucunya yang merantau lebih merupakan obat mujarab.
Tetapi di dasar hati Laras tetap punya keinginan agar dia dan Pandu suatu saat bisa membujuk nenek untuk check up.
Di akhir hari menjelang pukul delapan, Pandu menelpon. Meminta maaf tak menghubungi seharian ini karena ada tugas mendadak ke puskesmas kecamatan lain yang berjarak empat puluh kilometer, hingga sore. Kunjungan pengawas dinas kesehatan kabupaten. Dilanjutkan sharing dengan kepala puskesmas di sana.
Dokter itu sedang duduk beristirahat seraya memanjangkan kakinya di kursi kayu, rumah dinasnya.
"Mas, sudah makan malam?"
"Sudah. Ditraktir seniorku yang jadi kepala di sana. Mas Burhan bersama istrinya."
"Syukurlah."
"Kamu sudah makan?"
"Sudah dong, dengan nenek. Menu hari ini soto ayam dengan koya yang banyak."
"Tadi aku makan masakan Padang. Gulai ikan. Ehm, gimana buat laga besok?"
"Sudah siap, mas. Tadi sore, coach Jamil telpon, katanya manager GA pabrik mau ikut menonton. Beliau memberi sumbangan secara pribadi, satu dus susu cair kotak buat para pemain."
"Oya, baguslah. Aku usahakan akan mengantarmu juga."
"Para coach akan ada di bis, mas gak apa-apa berangkat sendiri?"
"Apa aku boleh nebeng di bis juga, nggak? Kalau kurang tempat duduknya, kamu akan mas pangku saja, ha ha ha..."
"Mas.....awas ya. Ini bukan waktunya buat bercanda!"
"Iya, iya....jangan marah. Nanti aku bisa gemas lalu ingin menciummu."
__ADS_1
Laras terdiam. Karena kesibukan Pandu yang padat, ada pasien darurat, kunjungan dinas, rapat jadilah rasa rindu mereka hanya terobati melalui sambungan ponsel.
"Besok kita kan bertemu, sudah tiga hari ini hanya nelpon atau kirim pesan. Jadi boleh nggak jatah menciummu di double. Ehm, setelah laga usai tentunya."
Tawa Pandu tertahan di ujung sana.
Laras dongkol.
" Cari kesempatan dalam kesempitan, dasar mas Pandu, " batinnya.
Beruntung paket data selular dia habis. Kalau nggak pasti sang pacar sudah mengajak video call. Wajah Pandu yang sedang menggodanya akan membuat Laras lebih jutek lagi. Namun kalau mau jujur sesungguhnya dia juga rindu dengan celoteh sang pacar.
"Lihat saja besok. Sudah ya mas, maaf aku mengantuk. Tadi lari keliling empang delapan putaran," ujar gadis itu mengakhiri telepon.
"Eits, ritualnya mana?"
"Eh, ehm...met malam, met tidur....aku sayang mas."
Klik. Ponsel ditutup.
Pandu sedikit jengkel. Masih ingin bercengkrama namun sang pacar justru menutup percakapan.
Tak hilang akal, lelaki itu menulis pesan SMS.
"Laras, sayang. I love you.
Mimpikan aku dalam tidurmu.
Bye, see you tomorrow."
Tak ada jawaban hingga keesokan paginya.
"Iya thx."
Jawaban singkat dan padat.
Kamis pagi ini, ibu guru itu masih mengajar hingga setengah satu siang. Sampai rumah beristirahat dan makan. Pukul dua sudah ada di halaman samping pabrik, dengan dibonceng bik Jum. Dia berkumpul dengan para pemain dan coach utama serta deretan orangtua yang turut mengantar para putranya berlaga.
Pandu belum juga datang. Laras mencoba menghubunginya. Ponsel Pandu aktif tetapi tak diangkat. Gadis itu berkirim pesan singkat.
"Mas, maaf aku berangkat duluan. Bersama rombongan dua bis."
Juga nggak ada jawaban segera.
"Mas kalau mau nyusul silahkan.
Kita ketemu di stadion."
"Please kabari aku. thx."
Hingga sampai stadion. Sebuah pesan singkat diterima Laras.
"Sori aku ada pasien darurat.
Ini dlm ambulans. Hrs kudampingi.
Nti ku kabari lagi. Thx."
Gadis itu segera mengetik sebuah jawaban.
"smg cpt tertangani.
take care,mas."
Tidak ada komunikasi lanjutan.
Laras menghela nafas. Gadis itu membatin.
"Semoga mas Pandu berhasil menghandle. Tugas berat menyelamatkan jiwa seseorang."
Laga berlangsung tepat setengah empat sore. Sorak sorai penonton terdengar gempita.
Lawan yang berseragam kaos ungu dan celana putih tampil mendominasi.
Tim merah asuhan coach Jamil dan Laras jatuh bangun bermain defensif.
Laras tak mampu menyembunyikan ketegangan. Berkali-kali berteriak pada sang kiper.
"Sofyan tetap tenang. Fokus!"
Sesekali serangan balik pemain depan tim merah hingga berhasil membuat lawan terkejut. Nyaris membuat gol. Sepakan bola Reno membentur tiang gawang lawan dan bola luar lapangan.
Beberapa menit kemudian kembali tim merah ada peluang mencetak gol.
"Edo, Bian serang dari kanan!"
Teriakan Laras membuat pemain yang disebut mengikuti instruksinya. Namun bola berhasil dicuri oleh kaki lawan.
Coach Jamil hanya berjalan hilir mudik seraya menggigit bibir. Memberi isyarat untuk maju dan membawa bola keluar dari pertahanan sendiri.
Babak pertama berakhir seri. Kosong kosong. Tetapi secara statistik pertandingan harus diakui tim lawan lebih unggul.
Saat break kedua coach menyemangati para pemain. Mereka harap bisa bermain lepas. Tidak tegang. Karena situasi memang tak seimbang.
Para penonton dari kedua kubu saling beradu dukungan. Yel-yel silih berganti.
Walau sedikit keteteran tim Kembangsari seperti bermain tanpa beban di babak kedua. Mereka enjoy menikmati irama permainan.
Tim lawan bermain ngotot. Cenderung keras. Sebuah gol berhasil mereka cetak di menit-menit akhir.
Hasil laga mencetak skor satu lawan kosong untuk kemenangan tim ungu, lawan dari desa di kecamatan kota.
__ADS_1
Meski kalah, tim merah tampak tak terlalu kecewa. Bermain sampai babak perempat final dan masuk delapan besar adalah prestasi terbaik.
Sportivitas tim merah mendapat applaus panjang penonton. Tak terpancing bermain keras. Bandingkan dengan tim ungu yang mengantongi tiga kartu kuning. Tim merah berlaga dengan fair play. Kalah terhormat.
Kedua coach tetap bangga pada anak asuhnya. Walau ada beberapa anak terlihat sedih, pelatih menghibur mereka.
Hasil tahun ini jadi penyemangat untuk evaluasi dan meningkatkan prestasi nanti. Masih ada event menjelang hari kemerdekaan nanti. Piala bergilir pak bupati. Sudah tahun ke empat. Tahun lalu tim merah masuk sepuluh besar dari duapuluh dua tim yang berlaga.
Kalau kompetisi yang berlangsung ini adalah seleksi pekan olahraga dan seni se kabupaten. Para juara akan dikirim ke tingkat propinsi. Demikian hingga tingkat nasional nanti.
Hingga menjelang petang dan Laras telah beristirahat dan baru usai mandi. Sebuah telpon dari sang kekasih diterimanya.
Pasien kecelakaan motor tadi seorang bapak yang akan menjemput sang istri di pasar. Tersenggol truk kelapa sawit. Mengalami gegar otak parah dan meninggal dalam penanganan RS di kota. Begitu sampai UGD.
Laras terdiam. Batinnya sungguh teriris sedih mendengarnya. Pasti berat buat keluarga sang bapak juga bagi tim medis termasuk Pandu.
Gadis itu teringat memori kisah sang ayah. Usia Laras sekitar sembilan tahun kala itu. Ayah meninggal kecelakaan tunggal saat naik motor di jalan trans Sumatra. Ketika sedang dalam perjalanan akan bertemu teman untuk pembelian bibit anak ayam untuk usaha ternak beliau.
Samar-samar memori itu muncul.
"Laras, Laras.....," suara Pandu dari jauh, merespon percakapan yang tak terbalaskan.
"Laras kamu masih disitu?"
"Ehm, Hem....iya. Iya mas. Maaf."
"Kamu baik-baik saja?"
"Maaf aku tadi teringat ayahku. Peristiwa yang nyaris serupa....."
"Aku minta maaf......"
"Mas nggak salah."
Pandu sedikit menyesal memberi info tadi via telepon. Dia lupa kalau ayah Laras bernasib serupa dengan sang bapak barusan.
Membayangkan wajah sang gadis yang tak sengaja dia buat sedih.
"Maafkan mas, tak peka tadi menyampaikan hal ini padamu."
"Iya, mas. "
"Ini mas baru sampai puskesmas. Setelah mandi dan makan, mas akan ke tempatmu."
"Mas istirahat dulu saja. Hari ini pasti berat bagi mas Pandu."
"Tunggu tak sampai satu jam lagi mas sampai rumahmu."
"Aku merasa bersalah. Tadi hanya bercerita kisahku. Tentang alasan ketidakhadiran ku menemani Laras saatnya timnya berlaga. Lalu peristiwa ini membuka memori kesedihan dia pula. Hingga tak sempat bertanya gimana kisah dia hari ini. Laga itu. Egois banget, aku ini."
Pandu tak henti membatin.
Empat puluh menit setelahnya sang dokter telah berada di ruang tamu pacarnya.
Laras berkisah tentang laga. Walau tim mereka kalah tetapi tetap ada kebanggaan. Kalah terhormat. Prestasi pun lebih baik dari tahun kemarin.
Laras juga meminta maaf membuat sang kekasih turut masuk dalam kesedihan ikhwal sang ayah.
Pandu memeluk Laras. Menguatkan dirinya karena mengalami guncangan emosi oleh trauma masa kecilnya. Kehilangan sosok ayah di usia masih sangat muda.
"Dulu ada kakek pengganti ayah. Peran beliau sungguh besar, membuat aku tak lama bersedih. Mungkin karena masih terlalu kecil ya, mas. Lagipula aku bersyukur mengenal sosok ayah. Ada temanku yang hingga kini, tak pernah tahu siapa bapaknya. Ibunya menutup rapat kisah sang bapak. Katanya sudah meninggal saat dia masih dalam kandungan."
"Ya, syukurlah. Apa sejak saat itu kamu dan ibu pindah dan tinggal di sini?"
"Iya, sebelumnya kami tinggal di dekat kecamatan. Rumah itu sekarang di pakai ipar ayahku. Malah konon dibalik nama atas nama pak Lik. Ibu hanya pasrah, padahal itu hasil jerih payah ayah dan ibu."
Pandu terdiam. Sungguh banyak kisah nelangsa yang dialami sang kekasih. Lagi-lagi diam-diam lelaki itu membandingkan dengan hidup dirinya. Relatif lancar tak ada masalah berat. Hanya tuntutan papa buat berprestasi maksimal.
"Ehm, ketangguhan Laras pastilah terbentuk dari banyak peristiwa pahit di hidupnya."
Pandu mengeratkan tubuh gadis itu. Kepala Laras yang rebah di bahu kirinya dia topang dengan tangan.
"Ehm, mas boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa itu?"
"Apa mas sering mengalami hari berat seperti sekarang? Maksudku pasien yang meninggal?"
Pandu menghela nafas.
"Ini yang ketiga. Pertama, waktu aku masih co ***. Ada seorang bayi sesak nafas dan membiru. Kejang. Terlambat dibawa ke fasilitas medis. Lalu seorang ibu muda yang mengalami proses melahirkan yang sangat sulit. Waktu di Aceh. Hari ini yang ketiga."
"Bagaimana perasaan mas sebagai dokter."
"Laras, kami di dunia medis harus siap mental mengalami hal seperti ini. Usaha maksimal tentu telah dilakukan untuk menolong. Terkadang ada suatu di luar kendali kita yang turut bekerja."
"Sering ada keajaiban juga nggak?"
"Ada beberapa kali. Sulit untuk diceritakan. Tapi ada satu peristiwa yang masih kuingat. Seorang ibu yang nyaris kehilangan bayinya. Saat itu sudah melahirkan. Bayi itu ada kelainan jantung bawaan dan telah nyaris terhenti detaknya. Tiba-tiba orangtua sang ibu datang dan berdoa khusuk. Menangislah mereka. Sang ibu si bayi meminta maaf karena sebelumnya begitu durhaka pada orangtuanya. Sesaat kemudian detak jantung si kecil kembali ke normal."
Laras takjub dengan cerita sang kekasih.
Antara percaya tak percaya.
Tetapi konon selalu ada miracle untuk sebuah ketulusan.
"Mas, aku bangga mas Pandu bekerja buat kemanusiaan."
"Setiap pekerjaan ada resikonya, ada tantangan dan juga punya kontribusi buat hidup kita. Jadi guru pun sebuah pengabdian yang indah."
"Makasih ya, mas. Saat kelabu seperti hari ini, kalau kita maknai ternyata ada kisah tersembunyi yang indah juga."
__ADS_1
Pandu mencium kening sang kekasih.
Mereka berdua hari ini mengalami saat berat dan menguras emosi. Tetapi menghadapinya berdua terasa lebih ringan.