Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 5. Kisah Gaby


__ADS_3

Hari Senin pagi sekolah memulai aktivitas seperti biasa. Anak - anak masih dengan tingkah polosnya mengisi hari hari Laras.


Kelas di awali dengan salam dan berdoa. Lalu bernyanyi lagu selamat pagi Bu guru dan teman- teman.


Sari sang ketua kelas juga memimpin doa tambahan buat teman mereka Gaby yang masih sakit.


" Ayo, kita lanjutan pelajaran minggu lalu. Kalian selesaikan tugas menebalkan angka enam sampai sepuluh ya. "


" Baik Bu guru ......"


" Belajar yang rapi dan tak boleh keluar dari arsiran."


" Iya, Bu.....!"


Sekejap kemudian suasana hening. Setelah mengeluarkan buku kotak berisi gambar angka berukuran besar dan pensil masing masing, segera mereka mulai menulis. Anak anak klas A fokus mengerjakan apa yang diperintahkan Bu guru.


Sesekali ada suara - suara kecil diantara mereka. Laras berjalan perlahan dari meja ke meja mengamati anak anak.


" Bu guru, pensil Toni tak runcing lagi. Tulisannya jadi jelek," lapor Budi.


" Coba ibu lihat dulu, ya "


Laras beralih ke meja sebelah. Dia berjongkok agar sejajar dengan Toni.


" Toni membawa pensil lain? " tanya Laras pada seorang bocah kurus dan berambut ikal yang duduk paling belakang. Pensil berwarna hijau tua miliknya tampak sudah pendek.


" Tidak, Bu guru. "


" Coba Toni meminjam pensil pada Budi ya."


Segera anak itu bergegas menghampiri meja Budi yang berada di sebelahnya.


" Budi, apa kamu punya pensil lain yang boleh aku pinjam?" bisik Toni.


" Iya, ini aku punya lagi satu. Tapi warna luar biru.


" Tak apa. Aku pinjam dulu ya?"


" Ehm iya."


" Terimakasih."


" Eits, nanti kembalikan kalau sudah selesai pakai."


" Baiklah, Budi. Terimakasih."


Toni kembali ke meja dan melanjutkan tugasnya.


Laras senang melihat kedua muridnya terlihat sopan dan rukun. Suatu kebahagiaan baginya melihat hal itu.


Ibu Guru itu teringat saat awal semester, enam bulan lalu. Suasana kelas masih berisik, ramai dan tak tertib. Satu semester berlalu, ternyata dengan ketelatenan dan kesabaran, anak anak dapat dididik dan dibina dengan baik.


Hampir empat puluh menit berlalu. Jam pertama usai. Anak anak mengumpulkan buku mereka di meja Bu guru.


Kelas bercerita di awal pekan dimulai. Tiap anak ke depan kelas untuk membagi kisah akhir pekan. Ada yang ke pasar bersama ibu, beribadah ke gereja, panen sayur di kebun kakek hingga pergi ke taman bermain di alun alun dekat pabrik. Semua seru dan penuh tawa.


Jam istirahat diisi dengan menikmati bekal masing masing. Tentu harus cuci tangan dulu. Setelah itu boleh bermain diluar.


Sebelum memeriksa tugas murid muridnya tadi, dia menyempatkan melihat ponsel yang disimpan di saku bawah blazer coklat mudanya. Tadi ada sebuah mode getar notifikasi pesan yang masuk.


Dari dokter Pandu.


" Pagi, Laras."


" Barusan Gaby dirujuk ke RS di kota."


" Akan ada cek lab. lengkap."


" Mhn doa, ya."


" Thx."


Pesan itu masuk lebih dari sejam lalu. Berarti Gaby telah sampai di RS yang dimaksud, batin Laras.

__ADS_1


" Thx infonya, dok."


" Kami selalu berdoa buat kesembuhan


Gaby."


Belum satu menit pesan terjawab.


" Gaby sudah diambil sampel darahnya. "


" Nanti akan ada MRI.


"Next aku info lagi."


Laras mengetik " Thanks."


Ibu guru itu mengabarkan kabar terbaru Gaby pada Bu Nur.


" Aduh, kalau sampai di MRI itu berarti ada indikasi parah lho," ucap sang guru senior.


" Semoga Gaby kuat ya."


" Mari kita terus doakan, mbak Laras."


Kegiatan terakhir hari ini adalah membentuk kolase gambar wajah seorang anak dari biji jagung dan kacang tanah serta kacang hijau. Semua perlengkapan telah siap. Hampir empat puluh menit semua murid klas A tenggelam di dalam aktivitas itu.


Hingga menjelang jam pulang. Semua telah kelar. Anak anak sangat puas melihat hasil karya masing masing.


Hari ketiga pekan ini direncanakan ada kegiatan pemberian makanan sehat. Menurut jadwal ibu Sari dan ibunya Budi mendapat giliran menyiapkan menu. Nasi soto ayam komplit dengan sebutir telur yang dipotong jadi dua bagian di tiap mangkoknya. Jus jeruk manis sebagai pelengkap.


Anak anak sangat gembira ketika makan bersama. Mereka terlihat lahap menikmati hidangan.


Untuk menu hari Sabtu nanti di jadwalkan Bu Ina sang ketua paguyuban yang dapat bagian. Dan kakek Kemal.


Di hari Kamis ada sebuah kabar yang membuat Laras sedih. Pagi sebelum berangkat ke sekolah, dokter Pandu menelponnya.


" Diagnosa dokter anak yang menangani, Gaby mengidap kanker darah. Leukimia tipe AML. "


" Apa?"


" Kita harus bersyukur mengetahui kondisinya masih di stadium awal. Ia akan dirujuk ke ahli onkologi."


Pandu terdengar berusaha menenangkan gejolak hati ibu guru Gaby itu.


Laras sangat paham situasinya. Vonis kanker selalu menakutkan. Pengobatan pasti dengan kemoterapi. Sebuah prosedur medis yang melelahkan, lama dan mahal pula. Dia pernah tahu bagaimana perjuangan ibu sahabatnya waktu kuliah dulu yang mengidap kanker payudara.


" Bagaimana reaksi mama dan papa Gaby, dok?"


" Tentu semula sangat syok. Tapi kemarin tim dokter telah memberi penjelasan secara detail untuk penanganan medisnya."


" Ehm ....kasihan banget Gaby ya, dok."


" Akan ada lanjutan pemeriksaan, termasuk tes genetik juga biopsi sumsum tulang."


" Gaby sendiri, kondisinya gimana?"


" Masih stabil, walau nafsu makannya belum baik. Tetap diinfus. Dalam pengawasan intensif tim dokter."


" Terimakasih informasinya, dok. "


" Sama- sama. Tetap doakan Gaby, ya."


" Tentu. Semoga Gaby tetap kuat. Cepat pulih dan ceria lagi."


" Amin....."


Dokter Pandu mengakhiri percakapan telepon dengan mengingatkan agar Laras juga menjaga stamina. Minum suplemen penambah darah dua hingga tiga kali seminggu. Laras mengiyakan dan berterimakasih atas perhatian dokter itu.


Sampai di sekolah Laras segera mengisahkan kembali perbincangannya tadi pagi dengan dokter Pandu.


Tentu Bu Nur sangat terkejut. Mereka semua baru mengenal Gaby sekitar dua minggu lebih. Semula Gaby menunjukkan kalau dia bocah yang ceria dan sehat. Siapa sangka secepat itu ada berita yang membuat sedih. Ternyata gadis sekecil itu harus menanggung sakit yang serius.


" Kita harus membuat rencana membesuk Gaby. Coba nanti diskusi dengan Bu Ina sebagai ketua paguyuban," ujar Bu Nur lebih lanjut.

__ADS_1


Dan benar, rencana disusun.


Sabtu sore Laras telah dijemput oleh Bu Nur dan Bu Ina untuk berangkat ke rumah sakit.


Bu Ina meminta bantuan sang keponakan yang masih kuliah di jurusan teknik elektro untuk menyetir dan mengantar mereka. Mengendarai sedan tua berwarna hitam milik sang suami, perjalanan selama sejam berlangsung lancar.


" Nah, kita sudah sampai. Evan istirahat dan tunggu di kantin saja ya. Tante dan dua ibu guru naik ke paviliun lantai tiga di poli anak, " perintah Bu Ina.


" Siap, Tante. Nanti telpon aja kalau sudah balik."


Sampai di ruangan yang di tuju. Sebuah kamar VIP untuk satu pasien. Terlihat hanya ada papa Gaby dan seorang remaja cowok yang duduk di sisi bed. Sepertinya kakak Gaby. Dari kejauhan nampak tubuh gadis kecil itu terlelap. Selang infus di sisi kiri tubuhnya masih terpasang.


" Selamat siang, Pak Himawan."


Bu Nur mengucapkan salam, setelah mengetuk dan membuka pintu ruangan.


" Siang ibu - ibu guru. Mari silahkan. Mari duduk dulu," sambut papa Gaby.


Lelaki itu mengajak para tamu duduk di kursi seberang bed pasien. Para ibu mengikutinya. Laras menaruh di meja tamu sebuah hampers buah di keranjang kecil. Aneka buah itu sebelumnya telah disiapkan Bu Nur.


" Bagaimana kondisi nak Gaby?" Bu Nur membuka percakapan kembali.


" Syukur tetap stabil. Minggu depan akan dimulai pengobatannya. Mohon doa selalu."


" Apa semua pengecekan laboratorium sudah selesai?" Bu Ina mengajukan tanya selanjutnya.


" Oh, maaf pak. Ini Bu Ina, ketua paguyuban orangtua murid. Beliau bidan, teman sejawat dokter Pandu di puskesmas," urai Bu Nur.


" Ehm, secara umum semua hasil lab. serta Rontgen dan MRI menunjukkan indikasi dan diagnosis leukimia."


" Setahu saya tingkat kesembuhan pasien cukup tinggi untuk kasus ini," ujar Bu Ina, membagi pengalaman dunia medis beliau.


" Betul, Bu. Semoga Gaby kuat dan sabar. Sekali lagi mohon di doakan."


Laras, menyahut, " Pasti, pak. Kami, para guru dan teman teman Gaby setiap pagi berdoa agar Gaby cepat pulih dan segera bisa sekolah kembali."


" Terimakasih banyak, Bu."


" Oooh, ya. Kami sekeluarga mengucapkan terimakasih pula Bu guru Laras berkenan membantu dengan mendonorkan darah, kemarin."


Tatapan papa Gaby teramat lekat ke arah Laras. Sejenak terdiam dengan pandangan sedikit aneh. Laras hanya membalas dengan anggukan kecil.


" Iya, pak."


" Omong- omong mama Gaby, kemana?" Bu Nur, bertanya seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


" Istri saya kemarin malam beristirahat di rumah. Hari ini akan kembali sekalian membawa keperluan Gaby dan yang lainnya."


" Ehm, iya."


Papa Gaby bercerita pula secara singkat tentang riwayat sakit si bungsu.


" Boleh kami melihat lebih dekat untuk mendoakan Gaby?" kata Bu Nur, berinisiatif.


" O ya, mari silahkan."


Para ibu mengikuti langkah papa Gaby menuju bed.


" Ini Anton, kakak Gaby. Putra kedua kami."


Remaja itu tersenyum serta mengangguk hormat. Lalu bangkit dari sisi bed dan menepi ke sudut ruang. Di sebelahnya ada buket bunga besar dengan tulisan "Semoga Lekas Sembuh". Dari perusahaan tempat papa Gaby bekerja.


Bu Nur dan Laras memperhatikan wajah sang murid. Gaby tertidur sangat lelap. Sejurus kemudian mereka mencakupkan kedua tangannya untuk berdoa. Sementara Bu Ina membentuk tanda salib di depan dadanya.


Papa Gaby memperhatikan doa khusuk para ibu. Tatapannya terutama tertuju pada Laras. Ada sesuatu aura berbeda. Sebelumnya mereka pernah bertemu sekitar tiga kali di sekolah Gaby. Saat kenal lebih dekat dan memperhatikan raut wajah guru itu, apa perasaan tak asing baginya.


"Ah, mungkin hanya karena kebaikan hati Bu guru itu telah menjadi donor buat Gaby," batin lelaki berusia hampir setengah abad itu.


Para tamu pamit pulang ketika petang mulai tiba. Pak Himawan sangat berterimakasih untuk perhatian dan doa para ibu.


" Mohon sampaikan salam kami untuk mama Gaby, pak!"


Bu Nur menitip pesan sebelum mereka bertiga berjalan ke luar ruangan.

__ADS_1


" Terimakasih, Bu.'"


__ADS_2