Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 36. Surprise


__ADS_3

Hari ke empat pekan ini dipenuhi oleh banyaknya pasien umum. Sejak pagi Pandu langsung menangani berbagai keluhan warga yang berobat. Dari yang ringan, seperti mual dan diare hingga gatal, demam alergi serta batuk dan flu. Para lansia dengan tekanan darah tinggi dan nyeri sendi.


Ada yang terluka karena jatuh akibat naik pohon kelapa. Beruntung hanya cidera ringan. Bukan ketiban buahnya, tentu.


Keluhan pencernaan juga ada. Dari pasien terakhir.


"Dok, kalau habis minum kopi langsung mual, mulas serta jantung berdebar lebih keras. Perih ini perut " ujar seorang pemuda.


Wajahnya merengut dan kesal. Mungkin kelamaan nunggu antrean.


"Kalau ketemu cewek cantik, debarannya lebih kencang mana?


Pandu ingin melempar canda, karena sang pemuda begitu tegang dan terlihat menahan sakit.


Semua akhirnya tertawa kecil, termasuk suster Anisa yang sudah berumur.


"Ya ....jelas dok, lebih kencang kalo ada cewek. Apalagi seksi, ha ha ha...masa dokter nggak berdebar juga?"


Suasana menjadi santai.


"Coba diperiksa dulu ya."


Pemuda itu berbaring. Pandu memeriksa bagian perut, sedikit menekannya.


"Aduh, sebelah sini sakit banget dok!"


"Ehm, suka telat makan?"


"Ya, keasyikan kerja di kebun."


"Makan pedas, asam atau yang mengandung alkohol?"


"Suka pedas, dok. Kadang malam sesekali minum bir."


"Minum kopi berapa kali sehari?"


"Dua sampai tiga cangkir,dok."


"Ehm, ini gejala infeksi lambung. Ada indikasi maag."


"Terus mesti gimana dok?"


"Tolong makan tepat waktu. Makan yang lunak sementara waktu ini ya. Dikurangi minum kopinya. Stop dulu makan pedas, asam dan minum bir benar - benar tak boleh. Perbanyak air putih, ya."


"Addduh. Gak bisa nongkrong lagi dong!"


"Lihat cewek cantik dari televisi aja dulu, ha ha ha..."


"Dokter ini lucu. Ehm, masih bujang juga ya dok?"


Pandu tersenyum dan mengangguk.


"Sama dong kita. Cewek sekarang suka jual mahal ya, dok. Jadi susah kita."


Pemuda itu terus saja curhat. Pandu terhibur. Ada aja.


Dokter itu lalu menulis resep buat sang pasien dan meminta dia menebus di depo obat dekat ruang admin.


"Ingat kurangi kopi dan stop alkohol, ya!"


"Baik dok, makasih banyak!"


Hingga pukul sebelas tiga puluh. Sang dokter istirahat di rumah dinasnya.


Pram terlihat di depan laptopnya. Duduk di ruang tamu.


"Pram ayo makan siang! Ngerjain apa lu?"


"Ini, periksa laporan keuangan klinik. Baru dua bulanan jalan udah bikin pusing. Coba ada Bella.."


Dua lelaki itu menuju meja makan. Menu istimewa. Capcay ayam dan fuyunghai. Dessert puding rasa melon.


"Si mbok enak juga masakannya."


Pram menyantap hidangan dengan lahap. Begitupun sang kakak.


Adik sang dokter itu bercerita tentang urusan klinik.


"Cari akunting satu. Jangan hanya admin umum. Regi jangan terlalu dipercaya. Hati-hati. Keuangan semua lu pegang dulu sementara ini.


"Nih lagi kita rencanakan. Mana poli gigi belum kelar!"


"Tuh, kerjaanmu banyak di Jakarta. Buruan balik."


"Lu ngusir gue nih?"


"Bukan begitu. Timbang di sini hanya raga lu tetapi pikiran ada di sana?"


"Iya sih. Tapi terus terang gue malas ketemu Sandra."


"Gini aja, tiap hari lu nempel ama Bella aja. Jadi Sandra kan nggak berani gangguin tiap saat."


"Sapa bilang? Gue kawatir malah gadis itu tambah nekad. Bella sih tipe nggak suka cari masalah. Sandra? Lu tahu, kan?Kebalikannya!"


"Ehm, terus rencana lu gimana?"


"Udah gue bilang, disini dulu. Sampe pekan depan. Kalau lu keberatan, gue sekalian pergi ke Singapura saja. Dekat dari sini, kan? Gue udah siapin semua!"


"Pram, jangan gila lu!"


"Makanya. Biar gue healing dulu di sini deh!"


"Apa perlu cari psikolog atau psikiater? Ada di RS kota."


"Uhhh, dasar lu! Gue belum gila."


"Bukan gila begitu maksudnya. Biar lu nggak terlanjur depresi."


"Apa gue udah ada tanda-tanda depresi atau gangguan mental ya?"


"Jangan mendiagnosis diri sendiri. Cari tahu dengan konsultasi sama ahlinya dong."


"Ehm, stress mungkin ya. Tapi depressi? Ih, amit-amit. Gue masih suka lihat cewek cantik! Masih bergetar dipuji ganteng dan masih bergairah ketemu perawat seksimu!"


" Pram! Udah cukup. Nggak lucu!"


"Ha, ha,ha ....."


Pandu bergegas meninggalkan sang adik. Dokter itu pergi ke kamarnya dan menutup pintu. Dia ingin rebahan sejenak. Ngomong dengan sang adik bikin bete.


Sampai sore usai jam kerja sang adik tak ada di rumah lagi. Pamit si mbok siang pukul dua tadi.


Pram bilang akan pergi keliling kecamatan dengan meminjam motor Handi.


Pandu memilih menyalakan televisi. Berita sore.


Pram muncul menjelang petang.


"Dari mana lu? Kenapa nggak pake mobil gue aja?"


"Lebih enak pake motor! Gue cari angel buat motret. Tadi ke bendungan dan persawahan di dekat sana.


" Jauh juga. Ehm, lengan dan sikunya udah nggak nyeri lagi?"


"Udah baikan, kok!"


"Ntar habis makan malam, gue ajak lu ke rumah Laras."

__ADS_1


"Bener nih?"


"Ya, buruan mandi. Terus kita makan dulu. Biar di sana lu gak minta makan!"


"Siap bos! Ehm boleh gue dandan rada ganteng, nggak?"


"Nggak usah aneh - aneh. Nenek dia galak!"


Pukul setengah tujuh, mereka sudah berada di ruang tamu rumah Laras. Nenek ikut berbincang sejenak. Lalu meninggalkan mereka bertiga karena ingin istirahat di kamarnya.


Pertemuan pertama dengan pacar sang kakak membuat Pram terkesan.


"Polos banget ya. Cantik. Pastinya masih virgin tuh."


Pram berbisik pada sang kakak saat Laras pamit membuat minum buat dua bersaudara itu.


Pandu menginjak kaki sang adik.


Malam itu Laras memakai rok kotak- kotak coklat dan sweater couple bertulis Girls. Sayang Pandu tak kompak. Tak memakai sweater yang sama dengan tulisan Boys. Riasan tipis dan rambut tergerai.


"Pram tolong jaga mulutmu."


"Serius amat. Jadi kalian kalau lagi berduaan hanya ngomong formal aja?"


Pandu mengernyitkan alis, " Menurut lu begitu?"


"Sepertinya iya."


Pandu membatin, " Naif lu, Pram. Masa pacaran bergaya serius. Ya intimlah. Belum tahu lu, Laras juga mahir berciuman. Bukan Bella atau Sandra aja yang agresif!"


"Ehm kenapa senyum - senyum sendiri?"


Pram menoleh sang kakak.


"Mau tahu aja, lu !"


Laras kembali dengan membawa tiga cangkir teh dan kue kastengel.


"Ayo diminum dulu."


"Pasti kue ini buatanmu."


Pram sok tahu.


Laras mengangguk.


Adik sang pacar membuka toples padahal belum dipersilahkan tuan rumah.


"Laras, sori sodara mas ini, sok tahu juga sok akrab!"


"Biasa aja, mas. Ayo kuenya di cicipi juga!"


"Makasih ya."


Pram melanjutkan aksinya. Mencomot dua potong kue.


"Enak banget. Kamu pintar masak juga?"


"Bisa sedikit."


"Laras ini jago bola. Juga bisa main badminton.Kemarin kita bertanding, dia bisa ngimbangi gue."


"Hebat. Badminton oke, bola juga. Jarang ada cewek main bola. Kata mama, kamu melatih anak-anak juga. Seksi tuh!"


Pandu menyenggol badan Pram. Tak suka kalimat terakhir meluncur dari mulut sang adik.


Laras tersenyum tipis.


"Iya, hanya bantu pelatih utama."


"Ehm, gimana acara perpisahan sekolahmu? Sabtu lusa kan?"


Gadis itu menceritakan persiapan mereka.


"Boleh ikut menyaksikan nggak acara itu? tanya Pandu.


"Boleh kok. Tapi mungkin gak kebagian kursi. Warga sekitar sekolah juga sering datang menonton. "


"Oya, kebetulan aku bawa kamera. Bisa jadi bantu jadi tim dokumentasi dong!"


Pram menyerobot perbincangan.


"Wah, kalau mau, bisa aja kok. Kita malah berterimakasih."


"Emang gak ada yang khusus, maksudku gak ada tukang foto yang datang memotret atau mendokumentasikan acara itu?" tanya Pandu, lebih lanjut.


"Enggak, hanya orangtua yang ambil foto aksi putra putrinya. Itupun tak ada yang khusus. Paling dari kamera ponsel."


"Gue mahir fotografi juga. Bisa bantu kamu nanti!"


Pram kembali menyombongkan diri.


Laras juga Pandu saling pandang, lantas tertawa.


"Wah terimakasih banget. Kita pasti senang kalau Pram bisa bantu."


"Pasti."


"Mas, tangannya gak pegal setelah badminton kemarin?"


"Sedikit. Tapi udah mas beri obat gosok."


"Nanti kalau tanding lagi, pemanasan perlu lebih lama. Biar lemas. Nggak kaku."


"Ehm, benar. Gimana Sabtu sore bisa nggak? Udah bilang pak Ali?"


"Jadwal full, sampai malam mas. Nggak bisa."


"Nggak apa-apa. Main di halaman belakang rumahmu saja, gimana?"


"Banyak ilalang mana bisa."


"Ehm, dekat empang. Di sana ada tempat sepertinya."


"Iya. Benar. Yang dekat pohon trembesi. Boleh. Jam tigaaan ya."


"Lho, acara perpisahan sekolah sampai jam berapa?"


"Paling pukul satu sudah kelar semua.


"Kamu nggak lelah nanti?


"Nggaklah....aku harus bisa ngalahin mas dengan skor telak. Ha ha ha..." Laras terbahak.


Pandu ikut tertawa.


"Eh, sepertinya mas juga perlu latihan lari bareng kamu di sekitaran empang. Dua kali seminggu kan?"


"Iya, ayo!"


"Minggu pagi melatih anak-anak lagi?"


"Ya... Kang Jamil mau tim meningkatkan intensitas latihan. Evaluasi kompetisi kemarin. Kita lemah di eksekusi bola-bola mati. Mas bisa nemani?"


"Tentu. Ntar Dito datang lagi ganggu kamu. Berabe dong!"


Kedua pasangan kekasih itu kembali tertawa.

__ADS_1


"Eh Minggu siang, kita panen pisang. Jadi kan?"


"Jadi mas. Suami bik Jum juga mau bantu."


Pram terdiam. Bengong. Kencan macam apa ini? Sederhana banget. Badminton? Lari dekat empang? Nemani latihan bola? Panen ? Ck.. ck,ck...


"Pandu, hidupmu di sini berubah. Seratus delapan puluh derajat."


Pram hanya membatin.


Bandingkan dengan dia dan Bella. Kencan? Dinnerlah, nongkrong di cafe, ke klub atau diskotik. Karaoke. Paling minimalis ke bioskop.


Sesekali ke villa atau jogging di Senayan, ngegym atau pergi golf. Lihat konser musik. Itu definisi kencan asyik menurut Pram.


Ehm dengan Sandra? Pastilah gadis itu minta ditemani ke diskotik hingga subuh.


Lha ini? Pandu dan Laras.....?


Pram tak habis pikir. Sungguh surprise baginya kehidupan sang kakak sekarang.


Seingatnya sewaktu pacaran dulu dengan Elena, Pandu kerap mengajak kekasihnya dinner, ke bioskop mungkin karaoke juga. Memang jarang ke diskotik karena mereka berdua pasangan sedikit konservatif. Kutu buku.


Kencan ala sang kakak sekarang, hemat waktu, hemat biaya juga terlalu biasa. Singkat dan terbatas durasi. Kapan dan dimana bisa bermesraan dong?


Pram penasaran. Nanti di rumah dia bakal mengintrogasi sang kakak menyangkut 'ideologi' kencan ala paket hemat begini.


Obrolan mereka bertiga beralih ke rutinitas harian masing-masing mereka.


Pukul setengah sembilan, kakak beradik itu pamit.


Pandu menyuruh sang adik masuk mobil duluan.


"Gue mau beritual!"


Pram maklum. Mengikuti perintah sang kakak. Sementara Pandu dan Laras masih melanjutkan obrolan sejenak, dekat pagar.


"Laras, kamu udah bisa menilai kan gimana adik mas?"


"Gak, apa mas. Biarin aja. Yang penting gak depresi."


"Itu juga yang mas pikir. Tapi dia tetap aja ngototan dan ke pedean di depan cewek."


Laras tersenyum," Tiap orang unik, mas."


"Begitulah. Maksud mas, dengan adanya masalah ini, dia biar bisa mengurangi kesombongannya itu!"


"Sabar, mas. Semua perlu waktu."


"Ehm, mas pamit dulu ya.Tolong sampaikan ke nenek."


"Iya. Hati-hati. Mas yang rukun ya dengan adiknya."


Pandu tersenyum dan mengelus rambut sang kekasih.


"Makasih Laras. Mas sayang kamu."


"Aku juga."


Pandu beranjak dan segera duduk di belakang kemudi. Klakson dibunyikan pelan sebagai tanda mobil bergerak menjauh. Laras melambaikan tangan.


"Gue kira lu bakal mencium pacar sebelum pulang."


"Ini di desa. Nggak sama kayak Jakarta."


"Ehm gimana tanggapan pacar lu tentang gue?"


"Hush, buat apa dia menilaimu?"


"Biasanya kan begitu."


"Mau tahu dia bilang apa?"


"Iya."


"Tapi jangan marah lu."


"Dia bilang apa emangnya."


"Gue cerita masalah lu padanya. Dia bilang lu itu bad boy!"


"Uhhh. Kenapa lu kasitau dia?"


"Waktu lu telpon cerita pertama ke gue, ehm hari Minggu lalu, gue lagi bareng dia. Otomatis dia tanya karena gue ikut emosi waktu lu cerita tentang Sandra!"


"Runtuh reputasi gue!"


"Buat apa image segala. Jadi apa adanya dengan jujur, itu lebih baik tahu!"


Pram terdiam. Begitu pula dengan sang kakak.


"Eh dia tadi pesan, kalau kita berdua harus rukun..."


"Nah itu! Lu, tolong jangan bully lagi adikmu ini! "


Pram memelas. Pandu menoleh dan tersenyum pada saudara kandungnya itu.


Sampai rumah dinasnya Pandu segera berganti piyama hendak tidur.


Pram menonton televisi. Sang adik mengajaknya ngobrol lagi.


"Di sini lu biasa tidur jam segini?"


"Ya. "


"Banyak tidur dong. Jam sembilan tidur. Bangun pagi jam enam?"


"Kadang ada pasien darurat ya gak tidur sampai subuh juga pernah."


"Ngerti. Ehm ketika belum punya pacar, ngapain aja lu setelah pulang kerja?"


"Paling nonton tv, sesekali ke kota terdekat buat belanja atau sekedar jalan."


"Pasti membosankan ya. Untung lu cepat dapat pacar."


"Benar. Laras membawa warna baru di hidup gue. "


"Sepertinya gadis lu itu, polos, unik dan apa adanya ya."


"Dia baik hati. Gue jatuh cinta pada sikap dan karakternya."


"Selamat, bro. Gadis seperti dia itu langka jaman sekarang. Pantas lu menolak Sandra dengan keras."


"Lha iyalah!" Eits nggak boleh iri lu!"


"Nggak lah. Gue ikut bahagia buat kakak gue!"


Pram mengerlingkan mata pada Pandu.


"Satu lagi. Boleh gue tanya cara kencan kalian yang unik itu. Ke lapangan bola, makan di rumah saja, main di empang, panen, apalagi itu? Paket hemat banget."


"Kencan itu nggak mesti mahal. Sederhana tapi berkesan. Yang utama kan menikmati waktu berdua secara berkualitas. Di sini biasa seperti itu. Jangan bandingin dengan life style elu!"


"Gue jadi paham kenapa lu kerasan di tempat ini. Cinta bersahaja yang membumi. Bagai puisi romantis yang praktis dan gratis."


"Ha ha ha......"


"Ya terserah lu, Pram. Gue ngantuk. Pengin tidur dan bermimpi tentang Laras."

__ADS_1


Pandu memasuki kamarnya. Pram hanya tersenyum. Lalu melanjutkan menonton berita malam di layar televisi.


__ADS_2