
Keesokan harinya, seperti waktu libur lain adalah saat untuk berbenah. Laras berencana membersihkan lemari es mungil yang ada di dapur. Sejak kemarin malam dia memeriksa isinya. Nyaris kosong. Hanya tersisa beberapa telur ayam dan sayur kacang panjang dan sedikit bumbu dapur. Jadi pagi ini setelah sarapan, dia akan ke pasar desa buat berbelanja bahan seperti lauk, sayur dan buah.
" Nenek, setelah makan nanti Laras akan pasar. Ada titipan?" tanya gadis itu.
Suapan terakhir menu nasi goreng telur pagi ini telah usai. Segelas teh manis di depannya pun tinggal separuh.
" Iya, tolong belikan nenek jarum pentul satu kotak. Yang isi enam lusin. Juga benang rajut warna merah. Enam gulung ukuran sedang. Stok di toko habis."
" Hanya itu?"
Sang nenek tertawa.
" Oleh- oleh kue putu manis rasa pandan, kesukaan nenek, boleh juga. He he he...."
" Baik nek. Pasti. Laras juga suka yang itu."
Pukul setengah sembilan, setelah bik Jum datang segera gadis itu meluncur ke pasar dengan motor matic putihnya.
Hari itu pasar desa yang berjarak dua kilometer dari rumah Laras tampak sangat ramai. Kios bahan segar dan sembako di lantai satu penuh sesak. Demikian juga toko di lantai dua. Di bagian itu ada penjual bahan kain, pakaian dan aneka kebutuhan sandang. Ada beberapa toko untuk alat - alat dapur dari aneka plastik, aluminium dan lainnya.
Hingga satu jam kemudian telah kembali dengan dua goddie bag besar. Laras membunyikan klakson sebelum masuk ke pagar rumah yang terlihat setengah terbuka.
Di halaman rumah terdengar suara berisik. Sepertinya dari atas pohon jambu air. Laras memarkir motor lalu membawa dua tas itu masuk ke dalam menuju dapur.
" Laras, itu ada tamu di luar."
Sang nenek membantunya mengeluarkan isi dua tas besar tadi.
" Siapa?"
" Dua muridmu tadi beli pensil dan buku tulis. Lalu minta ijin meminta jambu yang mulai berbuah."
" Oya, biar saja nek."
Laras mengobrol dengan neneknya sambil meletakkan semua belanjaan di dekat meja dapur. Ada sayur bayam, sebungkus jagung manis dan dua ikat sawi hijau. Juga beberapa wortel dan kentang. Ada dua ekor ikan gurami berukuran sedang. Dada ayam sekitar seperempat kilogram serta dua iris tempe juga sebungkus tahu kuning yang berisi empat potong. Sebungkus bumbu dapur berisi bawang merah dan putih, cabe kecil dan tomat.
" Ini pesanan nenek."
Sebuah tas plastik putih berisi keperluan menjahit.
" Eh, iya. Ini dia kue putu ....."
Tiga bungkus kue putu dalam balutan daun pisang yang masih hangat. Laras segera mencuci tangan, mengambil piring serta membuka satu bungkusan. Ada sepuluh potongan berukuran jari kelingking di tiap bungkusnya.
" Ayo, nek kita coba."
" Hem ...enak!'
Sang nenek terdiam melihat Laras. Dalam hatinya senang sang cucu sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang manis. Sudah mandiri pula.
Ada satu pertanyaan yang kerap mengganjal. Di usianya kini yang lebih dari dua puluh empat tahun, belum juga pernah mengenalkan seorang kekasih pada sang nenek.
" Lho, nenek? Kok bengong saja, ini kue putu dicicipi dong."
Nenek mengambil sepotong, " Gurih dan manis ya."
" Belinya di abang langganan nenek di depan gerbang pasar."
" Ehm ....Laras itu ada dokter Pandu dengan anak anak di depan."
Mendengar satu nama yang disebut nenek, tak urung Laras dibuat terkejut.
" Siapa, nek?"
" Pak dokter Pandu ....."
" Lho, katanya tadi murid Laras....?"
" Semula iya, dua murid lelakimu. Lalu ada lagi yang datang menyusul. Mungkin sekarang mereka sedang naik ke pohon jambu."
" Apa......?"
Laras pamit keluar, meninggalkan sang nenek di dapur.
Gadis itu menatap ke atas pohon jambu di sisi kiri pagar rumahnya. Ternyata benar.....
Terdengar suara Kemal tertawa sambil makan buah jambu yang belum matang penuh. Budi dengan gaya percaya dirinya yang tinggi menggoda Pandu yang takut pada semut - semut yang berbaris di dahan. Tawa ketiga lelaki berbeda usia itu saling bersahutan.
" Ayo, anak - anak....segera turun."
Suara Bu guru membuat dua anak itu menatap ke bawah. Demikian pula Pandu yang berada paling bawah. Di sebuah dahan dan kayu yang paling besar. Setinggi lebih dari empat meter.
" Ayo, turun semua!"
Tak seberapa lama mereka bertiga telah berdiri di hadapan Bu guru.
" Maaf Bu, tadi kami sudah ijin nenek mau minta buah jambu," ujar Kemal.
" Iya, nenek Bu guru memberi ijin, kok. "
Budi tertunduk sambil menenteng sebuah kresek kecil berwarna putih berisi sekitar enam buah jambu air berwarna coklat. Jambu berukuran sedang dan masih muda.
Pandu tersenyum senyum melihat ulah anak - anak. Laras menoleh padanya.
" Benar, Bu guru. Nenek sudah kasi ijin. Sure."
Pandu berkata sambil memberi senyum simpulnya. Dokter itu lalu menggaruk lengan kanannya yang ternyata di gigit semut.
" Lha pak dokter sih, jangan berpegangan pada dahan kecil di sisi kanan. Disana banyak semut galak," kata Budi.
" Iya, bagian yang banyak ada bunganya itu pasti banyak semutnya" tambah Kemal, tak mau kalah.
" Ayo, ayo sekarang cuci tangan dan kaki kalian semua. Tunggu di teras ya, ibu ambil minuman ke dalam dulu. "
" Iya, Bu guru.....," sahut ketiganya, kompak.
Laras tersenyum dalam hati melihat pemandangan tadi. Apalagi mengingat tingkah Pandu.
Tak seberapa lama, Laras keluar membawa tiga gelas sirup jeruk. Dan sepiring kue putu serta sekotak tissu di nampan bundar.
Ketiga lelaki itu telah duduk di lantai teras.
" Ayo sambil di nikmati minuman dan kuenya."
" Makasih Bu guru .....'" sahut mereka
__ADS_1
nyaris berbarengan.
Kemal segera menyambar gelasnya. Meminum jus hingga tak tersisa. Sepertinya anak itu benar - benar haus.
Sementara Budi menyisakan separuh isi gelasnya, demikian pula Pandu.
Ketiganya lantas mencicipi sepotong kue putu berwarna hijau muda dengan lelehan gula merah dan taburan parutan kelapa.
" Gurih dan enak. Makasih ya, Bu guru," kata Budi sambil kembali mencomot sepotong kue lagi. Memasukkan ke mulutnya. Lalu tangan kanan bocah kecil itu berpindah mengambil sehelai tissu. Melap bibirnya serta tangan yang belepotan parutan kelapa.
Budi memang terkenal dengan style yang pede. Namun tetap sopan. Sang ayah yang menjadi kepala satuan pengamanan di pabrik, sedikit banyak memberi rasa kepercayaan diri yang tinggi pada putranya. Laras sangat mahfum akan hal itu.
Kemal mengikuti gaya sang teman. Sementara Pandu memilih meneguk jus jeruknya hingga habis.
" Ayooo, di habiskan hidangannya," ujar Laras.
" Sudah kenyang perut kami," sahut Budi.
Kedua murid Laras lantas pamit pulang. Menuju rumah Budi yang berjarak tiga ratus meter dari rumah sang guru. Kemal masih ingin main ke rumah temannya itu.
" Murid Bu guru, lucu - lucu, ya....." kata Pandu.
Dokter muda itu menatap kepergian dua bocah tadi hingga menghilang di balik pintu gerbang.
" Iya, maklum anak - anak."
" Hem, lenganmu masih gatal?" tanya Laras.
"Ah, tidak....."
Pandu mengalihkan pandangannya pada Laras. Gadis dihadapannya masih tampil sederhana. Kaos oblong kuning muda serta celana kain warna khaki. Kali ini rambut di cepol dengan karet rambut warna maroon.
"Kok tak berkabar dulu kalau mau mampir?"
" Biar surprise," ucap Pandu, ringan.
" Naik apa kesini?"
" Itu motor bebek....." Pandu menunjuk sebuah motor bebek berplat merah yang terparkir di sisi kanan toko.
"Ooo yang itu. Tadi aku kira motor milik
pengunjung toko."
" Kata nenek, tadi Laras ke pasar sendirian. Boleh aku antar sesekali?"
" Maksudnya?"
"Aku boleh tidak nanti, maksudku suatu saat....nanti ngantar Laras ke pasar. Kelihatan tadi belanjaannya banyak."
" Kok tahu?"
" Lho, aku melihat dari atas pohon."
" Oya, benar."
" Kok lama di pasar?"
" Lha.....kan tadi katanya lihat kalau belanjaanku banyak."
" Eh, Heem. Iya."
" Dok, kemarin sore kami, eh maksudnya Bu Nur, Bu Ina dan saya membesuk Gaby."
" Oya?"
" Kasihan sekali Gaby. Tubuhnya terlihat lebih kurus dan masih pucat."
" Memang kondisi pengidap leukimia umumnya seperti itu. Tapi seiring waktu dengan pengobatan yang tepat akan berangsur membaik."
" Masih sekecil Gaby harus menanggung rasa sakit yang akan membuat siapa saja menjadi bersimpati. Rasanya tak tega .."
Laras terdiam sejenak. Tatapannya berubah sendu.
Pandu memandangi wajah guru Gaby itu, yang terlihat masih bersedih.
" Iya. Tapi kita yakin Gaby anak yang kuat."
" Semoga, ya."
Pandu lalu menguraikan beberapa kisah sukses pengobatan penyakit itu, yang pernah dia tahu.
Dia berharap Laras mulai memahami dengan baik bahwa tingkat kesembuhan kasus seperti ini sangat tinggi. Lebih dari sembilan puluh persen.
" Kira- kira jika berhasil, kapan Gaby bisa beraktivitas normal kembali seperti pergi ke sekolah."
" Ehm, untuk stadium seperti itu mungkin bisa tiga bulanan."
" Lama juga, ya."
" Yang terpenting pasien benar benar beristirahat dan punya semangat tinggi. Dukungan keluarga harus kuat pula."
Laras berkisah pula tentang sang sahabat saat kuliah, yang ibunya mengidap kanker payudara. Stadium tiga dan sudah diangkat bagian dada kiri. Dengan kesungguhan penanganan sampai sekarang masih sehat. Ada remisi. Sudah hampir tiga tahun.
" Pasti beliau sangat semangat dan disiplin dalam pengobatan ya," kata Pandu menanggapi cerita Laras.
Tatapan lembut Pandu padanya membuat Laras membangun optimisme bahwa Gaby akan pulih.
" Benar. Harus taat beribadah pula, " ucap gadis itu.
" Yang itu juga faktor pendukung penting."
Hampir empat puluh menit mereka bercakap- cakap. Tak terasa hampir pukul sebelas siang.
Pandu berpamitan. Dia harus membawa mobil sedannya ke bengkel resmi untuk service rutin di kota. Sudah booking dan pukul dua belas tiga puluh harus telah siap disana.
" Terimakasih sudah mampir kesini.'
" Sama- sama. Thanks buat suguhannya."
Laras melanjutkan aktivitas hari libur dengan membantu sang nenek memasak menu makan siang serta malam.
Bik Jum bertugas menjaga toko. Seraya menjahit dua taplak meja tamu, berhias masing masing bunga mawar kecil, pesanan pelanggan.
Pepes gurami serta tumis sayur sawi hijau.
__ADS_1
" Ehm, aroma pepes pedas buatan nenek telah harum.'
Laras membuka tutup panci tempat pepes itu dikukus. Sementara sayur sawi hijau telah siap di meja. Pukul setengah satu mereka telah selesai bersantap siang. Setelah beres - beres di dapur giliran Laras menjaga toko. Nenek dan bik Jum berbincang sambil asyik menonton tv.
Laras duduk di kursi santai nenek di pojok toko. Dia meraih sebuah buku kecil berisi info jamu jamuan dan obat tradisional, milik sang nenek. Dibaca satu persatu halaman berwarna di dalamnya.
Sebuah pesan what app terkirim ke ponsel Laras. Nada dering notifikasinya berbunyi pelan.
Bu Nur berkirim pesan.
" Siang, mbak Laras."
" Mohon diingat untuk membawa beberapa potongan kecil pelepah daun pisang untuk prakarya besok."
" Baik, Bu."
" Oya, beberapa helai daun pisang yang kering juga. Untuk dipotong potong bahan kolase gambar rumah."
" Siap."
Laras memang nanti sore akan menyiapkan semua bahan tersebut. Dia akan memanen pelepah serta daun pisang di kebun belakang rumah.
Hal itu sesuai rencana ketika diskusi hari Jumat, seminggu kemarin.
Biasanya pak Yus yang akan menyiapkan semua. Berhubung besok adalah jadwal imunisasi putra bungsunya, jadi dia akan libur sehari. Jadilah Laras menggantikan tugas pak Yus.
Kembali terdengar notifikasi pesan.
Kali ini dari dokter Pandu.
" Siang, Bu guru." ( emotion senyum)
" Sedang apa?"
" Aku lagi di ruang tunggu bengkel. Bosan sendiri."
Laras, mengetik di layar ponselnya
" Sabar, dok. Kan bisa liat tv."
" Iya, nggak ada acara bagus "
" Biasanya jam segini ada siaran ulang bola"
" Ehm, ada anak kecil yang milih channel kartun "
" Ikut liat aja. Kan lucu..."
" Bisa aja. Btw lagi dimana,?"
" Di toko, bengong. Ehm, chatting dengan anda." ( emoticon tertaw lebar)
" Kalau kamu ada kamu disini, pasti asyik."
Laras terdiam. Lama tak menjawab chat.
Pikirannya melayang. Bagaimana dia bisa cepat akrab dengan dokter itu. Mereka barusan dua atau tiga mingguan ini saling kenal. Itupun karena peristiwa sakitnya Gaby ....
Tak ada pikiran berlebihan di benak Laras selain menganggap Pandu, teman baru yang cukup menyenangkan. Menurut
Laras, di tempat kerja, Pandu tegas dan berkesan serius. Namun di luar itu, dia cukup kocak. Asyik diajak ngobrol.
" Hallo, Laras."
"P...."
Ada seorang pembeli datang. Seorang anak lelaki remaja. Dia tampak melihat - lihat dan memilih barang di dua etalase toko bagian stasionary. Bertanya harga beberapa barang yang dipilih.
Akhirnya dia memborong tiga buku gambar berukuran besar dan tiga pensil. Serta sebuah crayon kecil. Membayar semua pilihannya lalu bergegas pergi menaiki motornya.
Tak sampai sepuluh menit.
Setelah itu Laras kembali melihat layar ponsel. Jemarinya kembali menulis kata, menjawab chat Pandu.
" Maaf, ada pembeli barusan."
" Oya. Aku yang minta maaf. Mengganggumu."
" Tak apa. "
" Ada info temanku yang kerja di RS, Gaby lusa mulai di kemo."
" Oya? Apa tidak ada cara lain?"
" Ada beberapa obat oral. Utk kemo pertama msh pake dosis rendah utk liat respon tubuh."
" Ehm, pasti juga berat. Kasihan Gaby."
Hening sejenak. Pandu yakin Laras kembali harus menata hatinya mendengar update ini.
" Berapa kali kemo yang harus dijalani?"
" Kemungkinan empat hingga enam kali. Stlh itu ada evaluasi."
" Seminggu berapa kali harus kemo?"
" Di tahap awal, sekali seminggu dulu."
" Thx, infonya. Maaf lagi ada yg beli.."
Bu Fatimah tetangga tiga rumah dari sini, mencari benang jahit hitam. Laras mengambilkannya di rak bagian atas.
Setelah itu, ibu itu asyik mengobrol dengan Laras. Lebih banyak tanya tentang pekerjaan gadis itu . Laras menjawab ramah. Balik bertanya kenapa rumah Bu Fat sering kosong.
Ibu itu bercerita banyak tentang dua anak lelakinya yang telah lulus sekolah kejuruan. Si sulung menjadi pekerja migran di Jepang. Bekerja di perkebunan sayur. Sudah dua tahun lebih. Si bungsu merantau ke kota bekerja jadi penjaga minimarket terkenal. Baru enam bulan belakangan.
Lebih dari setengah jam, ibu itu pamit karena harus segera menjahit kemeja sang suami yang sedikit sobek.
Laras kembali menatap layar ponsel. Masih chat dari Pandu.
" Silahkan layani dlu. Nti kita sambung."
( terkirim lebih dari tigapuluh menit lalu.)
Chat terakhir sekitar limabelas menit sebelum ini.
__ADS_1
"Ok, mobilku sudah selesai service. Jjs dlu. Bye. See you next...."
Laras mengirimkan double emotion Namaste, di akhir chatting mereka.