Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 21. Di Stadion


__ADS_3

Hari yang ditunggu tiba. Minggu terakhir di bulan April. Kompetisi dimulai.


Sebelumnya beberapa hari ini sudah berjalan aturan yang dikatakan Pandu. Baru bangun pagi nge- chat met pagi. Siang tanya sudah makan atau belum. Malam hari video call cerita mengenai kisah hari ini hingga berucap met tidur. Mimpiin aku dalam tidurmu....


Laras mencoba terbiasa meski yang lebih sering menghubungi adalah sang pacar.


Rombongan tim coach Jamil dan coach Laras telah siap sejak pukul setengah tujuh di stadion kota kabupaten. Dua mobil SUV hasil pinjaman dari pabrik terparkir di luar. Pandu membawa sedan mungil miliknya sebagai tempat konsumsi dan perkengkapan pertolongan pertama. Meski ada tim medis resmi dari panitia, sang dokter itu juga tetap siap.


Dua bapak, orangtua anak-anak menumpang di mobilnya. Ayah Sofyan sang kiper dan papa Juna, anggota barusan tengah. Sementara Di tiap mobil pengantar ada satu coach yang menemani.


Coach Jamil dan asistennya tak henti menyemangati tim. Diskusi dan arahan untuk menerapkan pola dan taktik permainan. Namun sportiftivitas adalah hal utama.


Sambil menunggu, para pemain cilik latihan fisik ringan. Seragam kaos merah dan celana hitam membuat tim lebih menyolok terlihat dari balkon.


Hasil undian dua hari sebelumnya menyebut tim desa Kembangsari akan berlaga dengan tim desa Kajayan dari kecamatan tetangga setelah upacara pembukaan. Pukul tujuh pagi pak bupati telah membuka acara.


Setelah pidato dan aksi drumband pertandingan bola dimulai.


Sorak sorai penonton bergema sesaat peluit dibunyikan. Pandu dan ayah Juna serta ayah Sofyan memilih nonton dari sisi bawah kiri dekat gawang tim desa mereka. Selain offisial, memang dilarang sampai sisi pinggir lapangan.


Sejumlah krustasiun televisi daerah ikut mengambil gambar pembukaan acara dan beberapa bagian laga pertama.


Arah pandangan Pandu tak lepas dari gerak gerik Laras, tentunya. Memakai seragam sama dengan warna tim, hanya bertopi putih. Sepatu kets abu-abu.


Gadis itu terlihat sedikit tegang. Tetapi tetap beraksi penuh empati pada anak - anak. Sesekali dia ikut berteriak, malah lebih garang dari coach utama yang tampak lebih tenang.


"Ayo Reno, tahan bola, masuk dari dari tengah !", teriak Laras pada striker.


"Juna dan Edi tetap di posisi!" tambahnya ke anggota barusan pertahanan.


" Good, Sofyan, " coach perempuan itu bertepuk tangan ke arah kiper saat berhasil menahan tentangan bebas dari sudut kanan gawang.


Laras berdiri di sebelah Jamil yang hanya menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Lelaki itu hanya menoleh ke kanan dan ke kiri sesuai arah bola bergulir. Gayanya lebih cool.


Pertandingan berlangsung seru. Tim desa mereka di bawah tekanan lawan yang rerata berbadan lebih besar. Beberapa situasi genting terjadi di muka gawang.


"Hebat ya, pelatih cewek itu. Semangat sekali. Cantik lagi!" kata seseorang yang ngobrol di sebelah Pandu. Dua penonton laki-laki yang tak dikenalnya.


Pandu tersenyum mendengarnya seraya mengamati sang pacar yang seperti larut dalam irama permainan.


"Semangat, terus lari. Bobi bantu Reno!" kali ini coach utama yang berteriak.


Penonton bersorak. Tim membalik keadaan. Sangat cepat.


"Terus .....tembak! Gol...gooool!" Laras mengepalkan tangan.


Stadion bergemuruh, tepuk tangan panjang terdengar. Gol pertama di kompetisi tercipta.


Pemandangan serangan balik yang manis di tengah kelengahan lawan yang terus fokus menyerang.


Dua coach berhigh five. Reno berlari menghampiri kedua pelatih. Laras memeluknya sedang Jamil hanya menggosok kepala bocah itu. Beberapa anak lain mengikuti, mendatangi coach mereka. Laras menepuk punggung semua anak didiknya.


Pandu segera mengabadikan moment itu dari kamera ponselnya. Inilah salah satu bikin Pandu terpesona, Laras gadis yang unik. Langka, penuh empati dan spontan.


Laras sempat melempar pandangan ke arah Pandu dengan senyum lebar. Lelaki itu memberi jempol.


Babak pertama selesai. Istirahat di pinggir lapangan selama limabelas menit. Duduk santai, menselonjorkan kaki. Minum air putih , pisang dan makan kue. Coach Jamil memberi evaluasi dan arahan strategi untuk babak kedua.


Pluit sesi kedua berkumandang. Kali ini kedua tim bertukar tempat. Dua pemain baru bermain mengganti temannya yang kelelahan.


Semula Pandu ingin ikut pindah ke sisi yang sama. Berhubung sepertinya tempat itu penuh dan tak tempat duduk kosong, terpaksa dia diam di tempat. Kini dia hanya dapat melihat dari kejauhan.


Atmosfir pertandingan bukan mengendor. Sepertinya anak-anak tak kenal menyerah. Bombardir serangan lawan berhasil di tahan.


Laras terlihat masih berteriak memberi semangat. Berjalan hilir mudik hingga melewati batas daerah lawan untuk mengikuti alur bola. Sesekali mencuri pandang pada tribun dimana sang pacar duduk. Pandu melambaikan tangan ke arahnya, sebagai isyarat kalau mereka saling terkoneksi.


Dua lelaki di samping kirinya yang tadi membicarakan Laras menoleh pada Pandu. Lelaki itu balas mengangguk seraya tersenyum. Dua bapak di sisi kanan, orang tua pemain menggoda dirinya.


"Tuh, dok kasi semangat coach Laras!"


Wajah Laras sangat tegang. Ketika terjadi pelanggaran oleh tim lawan yang membuat pemain bek kiri tersungkur, wasit memberi isyarat break.


Teriakan " uhhh....terdengar dari penonton melihat kejadian tak sportif itu.


Laras berlari ke tengah lapangan. Bersama tim medis panitia. Memeriksa kondisi pemain yang terjatuh dan dikerubungi beberapa rekannya.


Setelah diperiksa, sang pemain di papah ke luar lapangan. Coach Jamil segera menyuruh satu pemain pengganti yang telah disiapkan untuk masuk. Tentu setelah dibisiki arahan apa yang harus dilakukan.


Beruntung pemain yang terjatuh tak terlalu parah kondisinya. Hanya berjalan sedikit pincang. Laras mengajak berjalan ke arah kubu mereka.


Pandu tetap mengarahkan pandangan pada sang pacar. Hatinya salut dengan kesigapan Laras.


" Ini yang tak pernah ku temui pada gadis lain. I love you very much," Pandu berbisik di hatinya.


Gadis itu kembali berteriak ketika tim lawan bolak balik menekan dengan keras seperti tak sportif.


"Tahan Edo, Juna !"


"Hei, curang!" telunjuk tangan kanan sang asisten coach menunjuk ke arah pemain yang nggak fair play.


Saking terlalu keras dan posisinya nyaris menjorok ke lapangan dan gaya emosionalnya, Laras sampai dapat peringatan dari panitia.


Salah seorang bapak mendekatinya juga satu anggota polisi yang ikut mengamankan pertandingan.


Pandu melihat dari kejauhan.


Laras, Laras. Terlalu larut hingga kadang tak mampu mengontrol diri.

__ADS_1


Polisi muda itu tampak berbincang lama. Terlihat tangannya menepuk pundak Laras. Kali ini mereka menjauh dari pinggir lapangan. Pandu masih mampu memandang kejadian itu.


"Ada apa?" bisik Pandu.


Pandu ingin mendekat. Dia tak tahan dan permisi pada kedua bapaknya buat menenangkan Laras.


"Hey, Laras. Tolong tahan diri,oke!"


Senyum wajah ganteng dan tubuh ideal polisi itu. Laras menyadari siapa dia, yang turut mengingatkan reaksinya tadi.


" Ehm, maaf barusan kebawa emosi !"


Laras jadi berdebar. Tubuhnya gemetar. Dito ternyata disini. Mereka berdua berbincang bersisian, dengan tubuh tetap mengarah ke dalam lapangan.


"Aku banyak dengar kabarmu dari teman-teman. Salut kamu bisa melatih bola."


"Oya?"


"Kamu banyak berubah. Tapi tetap cantik."


"Tugas disini sekarang?"


Setahu Laras, lelaki yang pernah punya tempat spesial di hatinya itu setelah pendidikan bertugas di Polda.


"Iya baru tiga bulan. Di polres."


"Kelihatan lebih kurusan!"


"Tetap cakep nggak aku ?"


Laras mencibir.


Lelaki itu tertawa. Senang, Laras berarti masih mengingatnya. Hampir dua tahun nggak ketemu. Terakhir bersua di reuni sekolah. Saat itu terdengar gosip, Dito punya pacar seorang polwan.


Laras masih spontan berteriak kala gawang timnya nyaris bobol. Kemelut di muka gawang. Nyaris mendekat bahkan melebihi garis batas lapangan.


Dito memegang tangan Laras, mengingatkan kalau responnya berlebihan. Tak lama dia melepas ketika Laras meminta maaf.


Pandu telah mendekat, " Laras, kendalikan diri."


Kali ini Pandu yang memegang lengan sang pacar mengajak menjauh pinggir lapangan.


"Ayo!"


"Mas Pandu kok kesini?"


"Please kaleman dikit, Laras."


"Iya, iya. Habis tim lawan nggak fair."


"Dito, aku kesana dulu!"


Gadis itu setengah berteriak dan menoleh. Polisi muda barusan tersenyum dan membuat gerakan tangan menghormat sekilas.


Demi mendengar nama Dito, Pandu terpengarah. Rekaman di otaknya berputar cepat. Dito. Polisi. Muda dan gagah. Dia menatap sekilas wajah sang petugas.


"Okey Laras, tolong tahan diri. Nanti cantikmu hilang jika terus emosi kayak tadi!"


Petugas berseragam itu beranjak menjauh dari mereka dan kembali ke dekat gawang lawan.


Sedang Pandu dan Laras berdiri dibawah tribun utama. Di belakang meja kayu dua panitia pengawas pertandingan yang sesekali mencatat sesuatu.


"Kamu kenal dia?"


"Oh, itu. Taman lama!"


"Siapa?"


"Sudahlah mas, aku mendekat ke timku dulu. Mas balik ke tempat tadi, ya."


"Hem...."


Belum selesai Pandu berkata sang pacar telah melesat meninggalkan dirinya.


"Dasar Laras. Tadi aku begitu mengagumi aksinya. Sekarang dibuat penasaran dengan tingkahnya," bisik Pandu.


Lelaki itu berjalan gontai menaiki tangga beton di ujung balkon. Duduk kembali di tempat semula, sap kedua di arah berlawanan dengan tim Laras.


Sorak sorai masih ada. Menjelang babak kedua usai. Tensi pertandingan menurun karena tenaga pemain terforsir di awal.


Teriakan pelatih tim lawan yang tertinggal satu gol kini mendominasi. Sesekali Laras masih berteriak buat mempertahankan posisi keunggulan tipis. Coach Jamil terus bertepuk tangan saat kiper dan barisan pertahanan jatuh bangun menahan bola agar gawang tak jebol. Tim lawan seperti frustasi hingga banyak melakukan kesalahan.


Tim Reno cs hanya bermain mengukur waktu. Bola- bola panjang, banyak mengocek bola mengopernya dari kaki satu pemain ke pemain lain satu tim di daerah pertahanan mereka.


Coach Jamil dan Laras memberi isyarat agar mereka keluar. Mulai membangun serangan. Maju menggiring bola ke daerah lawan.


Sementara itu, Pandu karena posisi duduknya dekat gawang lawan, sedang memikirkan hal lain. Petugas berseragam barusan tampak akrab dengan Laras. Mereka jelas terlihat beberapa kali kontak mata. Hatinya berdesir. Apakah dia itu, lelaki dari masa lalu Laras.


Ah.....ini bukan saat tepat merespon galau hati yang mulai melanda," batinnya.


Pluit tanda berakhirnya pertandingan telah berbunyi. Tepuk tangan penonton berkumandang. Kedua coach melakukan gerakan tos, demikian pula dengan pemain cadangan.


Tim Kembangsari menang tipis melawan Kejayan, yang lebih di favoritkan. Satu kosong. Anak-anak berselebrasi. Keliling lapangan. Tentu sebagai tim pertama yang menang mereka patut berbangga.


Sementara tim lawan melangkah gontai dan menunduk menuju pinggir lapangan.


Pengumuman berlangsung. Tim coach Jamil berhak masuk ke fase kedua. Sementara tim lawan langsung tersingkir karena ini kompetisi sistem gugur.

__ADS_1


Pertandingan berikutnya empat hari lagi. Lawan akan ditentukan nanti. Usai tim lain berlaga.


"Terimakasih anak-anak kalian semua hebat. Sportif dan punya daya juang tinggi!"


"Tetap semangat ya!" Laras menambahkan.


Coach Jamil memuji anak asuhnya saat semua telah berkumpul dan istirahat. Peluh menetes, wajah mereka memerah dan nafas masih tersengal. Beberapa terlentang lalu duduk dan memanjangkan kaki. Ada yang memijit kaki sendiri.


Sementara sang asisten membagikan konsumsi ringan.


Penonton belum beranjak semua karena ada satu pertandingan lagi sebelum siang. Meski begitu ada yang memilih mencari suasana lain atau membeli snack di luar stadion. Setengah jam lagi akan ada laga kedua.


Beruntung matahari tak bersinar terik. Pepohonan tua dan tinggi di beberapa sisi lapangan yang berlawanan dengan tribun, di dekat tembok stadion kanan dan kiri memberi sedikit kesejukan. Angin pun bertiup sepoi sepoi.


Tampak dari sudut lapangan, dua tim lain bersiap dengan melakukan gerakan pemanasan.


Sang petugas keamanan berseragam tadi mendatangi tim coach Jamil. Berbincang dengan kedua coach. Terlihat cukup akrab dan sesekali tertawa.


Setelah itu disepakati tim mereka akan menonton laga kedua, untuk mengintip pola permainan dan taktik lain. Siapa tahu akan jadi calon lawan berikutnya.


Semua anggota tim diajak kedua coach untuk naik ke arah tempat duduk Pandu dan dua orangtua pemain. Ada tiga orang yang permisi ke toilet yang berada di ruang bawah tribun.


Meski sedikit berdesakan, para anggota tim antusias ingin melihat laga tim lain.


"Selamat ya kalian hebat," ujar ayah Sofyan. Bapak itu sangat bangga pada sang putra. Sang kiper yang jadi bintang. Beberapa kali menahan tembakan bola. Jatuh bangun berjibaku dengan penyerang lawan yang agresif. Anak berumur sembilan tahun yang bertubuh bongsor itu memang top.


Tim mereka duduk dua sap. Pelatih utama duduk sejajar dua bapak yang ikut mengantar serta Pandu. Di sebelahnya para pemain depan. Sap kedua Laras dengan pemain barisan pertahanan. Posisi paling pojok. Gadis itu masih saja mengobrol tentang laga mereka tadi bersama anak-anak.


Pandu beranjak ke arah belakang. Dia ingin duduk sebelah sang pacar. Meski sedikit berdesakan dia tak peduli. Sisi kanan.


"Ssst, tidak lelah, Laras?, bisiknya seraya menyenggol badan sang pacar.


"Sedikit."


" Masih asyik saja."


"Kenapa?"


"Ini permen."


"Trims."


Laga kedua dimulai. Rombongan para pejabat tampaknya masih betah menonton di tribun utama. Tepuk tangan bergermuruh. Mata Laras tertuju ke depan.


Dua tim langsung menghentak. Saling menyerang bergantian. Menit-menit awal menjadi seru. Penonton bersuit-suit. Gol pertama tercipta dari tendangan jarak jauh. Baru lima menit.


Teriakan supporter penjebol gol lebih keras. Membawa bendera dan genderang kecil. Konon mereka tim favorit juara. Baju kaos biru tua dengan celana putih. Tim dari desa yang berbatasan dengan kota kabupaten. Makanya pendukungnya sangat banyak.


Coach Jamil langsung membahas pemandangan tadi. Pemain depan berdiskusi.


"Hebat, level tinggi," gumam Laras.


Gadis itu terus mengamati gerakan seorang striker cilik yang lincah. Berhasil mengecoh barisan pertahanan yang kedodoran. Berhadapan langsung dengan kiper. Melakukan gerakan manuver seperti menyerang ke kiri tetapi malah bola tertembak dari sudut kanan.


"Gooll. Gol!"


"Ye, ye,....ye.....!"


"Hidup Banyuasriiiii....." teraik penonton memberi applaus tim yang dibela.


Gol kedua tim baju biru. Penonton kembali bertepuk tangan. Tak terkecuali anggota tim coach Jamil. Tim lawan yang berbaju hijau muda, tertunduk lesu. Terlalu fokus menyerang hingga pertahanan kosong.


"Sepertinya kalah kelas," kembali Laras bergumam pada dirinya sendiri.


Setelah itu dia ngobrol sejenak dengan anak didiknya.


" Penendang tadi perlu di halangi dari luar kotak pinalti. Batasi ruang gerak. Tipe seperti itu harus di tempel ketat dua orang pemain belakang."


Dua bocah yang duduk di sisi kiri samping Laras mengangguk-angguk.


Pandu seperti tak diacuhkan. Tetapi dia mencoba menahan diri. Ini moment milik mereka.


Hingga pluit babak pertama usai, keadaan tetap bertahan. Dua lawan kosong bagi keunggulan tim biru.


Babak kedua tim yang kalah mengubah pola permainan. Memilih bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik sesekali.


Gol tercipta lagi karena seorang pemain belakang handball. Pinalti.


Penonton makin bergemuruh.


Tim berbaju hijau masih berusaha bertahan. Sesekali ada serangan balasan kejutan. Sebuah kesalahan dan kelengahan pemain tengah tim biru menyebabkan tendangan bebas. Keuntungan bagi tim hijau.


Penentang ternyata memiliki kaki ajaib. Gol balasan tercipta. Tetap ada tepuk tangan dari sejumlah kecil supporter. Tim coach Jamil pun memberi applaus. Paling tidak tim hijau tak mengalah total.


Akhir laga mencatat skor tiga lawan satu.


Pertandingan sangat melelahkan bagi dua tim yang bermain ngotot.


Penonton bubar perlahan. Begitu pula tim Kembangsari. Kembali pulang. Istirahat total. Sebelumnya disepakati akan latihan dua hari lagi. Di sore hari.


Posisi personil masih sama ketika berangkat.


Pandu sesungguhnya ingin Laras berada di mobilnya. Namun dalam kondisi ini dia dituntut tak egois.


Rombongan bubar di depan pabrik. Para penjemput tentu sangat senang, tim menang. Tak menyangka, itu sebagian besar komentar mereka.


Para keluarga tentu ingin menonton laga berikutnya. Coach mempersilahkan supporter mengkoordinir diri. Mereka hanya fokus ke pemain dulu.

__ADS_1


__ADS_2