Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 8. Sisi lain Laras


__ADS_3

Pekerjaan di puskesmas membuat Pandu tenggelam dalam rutinitas. Hari ini ada empat pasien di UGD.


Di pagi hari dua anak usia sekolah dasar mengalami diare cukup serius hingga harus di rawat inap dan diinfus.


Kisah lainnya seorang bapak yang mengidap sakit diabetes dan pembengkakan jantung harus dirujuk ke RS di kota. Terakhir seorang ibu setengah baya yang jatuh naik motor saat ke pasar dengan kaki luka gores serta tungkai terkilir.


Di poli umum ada beberapa kasus ringan seperti anak- anak yang menderita batuk, flu dan demam. Juga remaja putra yang mengalami radang tenggorokan cukup parah dan akhirnya ketahuan kalau dia baru belajar merokok. Ada saja..............


" Dokter, ada reaksi alergi dari pasien rawat inap. Mohon dievaluasi," lapor pak Jauri, perawat senior.


Pandu yang sedang memeriksa beberapa dokumen di meja kerjanya, bergegas dari mengikuti langkah sang perawat. Segera memeriksa pasien dimaksud.


" Tolong obat ini dihentikan dulu. Ganti yang lain. Kita handle reaksi gatal dan iritasi kulitnya. Nanti saya beri cacatan."


" Baik, dok."


Kedua para medis itu lalu berdiskusi terkait treatment untuk pasien. Setelahnya Pandu kembali ke ruang kerja.


Hingga menjelang pukul dua siang.


" Dok, ada kasus muntah darah dan pingsan. Pasien tak bisa datang kemari."


Laporan pak Leo adalah petunjuk bahwa dia harus pergi dengannya melihat kondisi pasien.


Maka meluncurlah mobil ambulans menuju lokasi. Perjalanan lebih dari dua puluh menit menuju kompleks perumahan karyawan pabrik pengolahan kelapa sawit.


Pandu dan pak Leo memasuki rumah kayu sederhana yang dituju. Di kamar belakang terbaring seorang pemuda di kasur tanpa dipan. Kondisinya tampak lemah dan pucat.


Sang dokter memeriksa bagian dada dan perut pasien, seraya mendengar ocehan ibunya. Membuka kelopak mata pemuda itu, mengukur denyut nadi yang melemah.


"Pak Leo, tolong di tensi dan diukur suhu badannya."


Pandu berbincang dengan sang ibu yang sejak tadi terus bicara kronologis sakit putranya. Mereka beranjak ke ruang tengah.


" Gimana nggak sakit dok.Tiap malam minum melulu bareng temannya. Hingga subuh..." ujar ibunya.


" Sudah berapa lama sakit? "


" Dua hari. Demam, saya kasi obat, beli di warung. Lalu tadi siang muntah berisi darah, mungkin ada dua kali. Lalu pingsan."


Pandu mendengar cerita ayahnya kali ini. Sang pemuda putus cinta lalu suka mabuk- mabukan. Sudah tiga bulan ini.


Selesai diukur tensi dan suhu badan, pak Leo melapor. Pandu mengamati sekali lagi pemuda itu. Memang seperti ada gangguan depresi. Kurus, kering, pucat. Wajah cekung dan badannya tak terawat.


" Bu, setelah saya periksa kondisi putra ibu masih terkendali. Ini saya beri dua jenis obat. Untuk tiga hari. Diminum tiga kali setelah makan. Obat dari warung dihentikan dulu, ya."


" Lha tidak mau makan, gimana dok?"


" Diusahakan, Bu. Di paksa sedikit. Makanan lembek dulu seperti bubur atau buah. Minum air putih diperbanyak. "


"Sakit apa tho sebenarnya, si Tio ini?" tanya ayahnya.


" Indikasi infeksi lambung. Saya khawatir jika terus mabuk, nanti livernya bisa kena.


Mohon diberitahu baik baik untuk berhenti minum minuman keras."


" Iya pak dokter ....."


" Nanti kalau obat habis dan masih sakit, mohon diajak kontrol ke puskesmas."


" Terimakasih, dok."


Hampir empat puluh menit. Pandu dan pak Leo permisi.


Dokter itu mengingatkan sang ibu untuk menjaga makan dan minum putranya.


Pukul lima lebih, saat Pandu beristirahat di kamar rumah dinasnya, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu ruang depan. Kala itu ia akan bersiap mandi.


" Dok, ada pasien anak yang terluka di depan. Cukup parah..." pak Edi, perawat yang tinggal di sebelah, melapor.


" Baik, sebentar saya ke depan. Ganti baju dulu."


Pandu yang semula bercelana pendek, segera menggantinya dengan celana jeans biru yang tergantung di belakang pintu kamar. Bergegas dia jalan menuju UGD.


Sejenak dokter itu terkejut melihat siapa yang datang. Laras, seorang lelaki muda dan anak kecil yang sepertinya pernah dia lihat.


Mereka berdiri di sisi bed menatap ke arah lelaki kecil yang terbaring meringis menahan sakit. Darah tampak menetes dari bagian kakinya.


Pandu segera mendekati mereka.

__ADS_1


" Sore, dok. Anak ini terluka di paha dan betis kiri. Tungkai memar," Bu Sita, perawat jaga melapor.


" Baik, saya periksa dulu."


Pandu menyapa Laras dan tersenyum ke arahnya, juga pada pemuda di sebelah gadis itu.


Perawat meminta dua orang dewasa itu menunggu di luar ruangan.


"Siapa namanya, dik?' tanya dokter itu menatap ke arah pasien.


" Budi..."


"Ehm, terluka karena....


" Jatuh, di tekel teman main bola."


Suara keras sang bocah yang bertubuh gempal dan bongsor itu, membuat Pandu melirik dan tersenyum padanya.


"Pasti si anak ini bocah yang tangguh, sudah luka tetapi masih semangat menjawab. Satu lagi, dia tak menangis, bisik sang dokter di dalam hatinya.


" Iya, pak dokter periksa dulu lukanya. Tahan sedikit, oke!'


"Aduuhh ....." Budi kembali meringis


Setelah dari bagian yang terluka, perhatian dokter itu juga dialihkan ke dada, perut, serta mata dan kepala Budi. Juga kedua tangan. Dokter Pandu mengamati bagian tubuh lain dari sang bocah sambil mengajaknya ngobrol.


Memeriksa semua kemungkinan terjadinya efek benturan di bagian lain karena terjatuh.


" Kepalanya sakit?"


" Tidak."


" Senang main bola ya."


"Iya."


" Tadi bertanding atau latihan biasa?"


" Latihan buat pertandingan dua bulan lagi. Kang Jamil dan Bu Laras yang jadi pelatihnya.


Demi mendengar ocehan Budi barusan, Pandu terkejut. Laras melatih anak- anak main bola?


" Ah, iyaa.....ya. Satu lagi temanmu siapa?"


" Kemal...."


" Tunggu sebentar ya, pak dokter bilang dulu ke perawat untuk mengobati lukamu."


Pandu beralih ke sisi lain. Memberi instruksi untuk pak Edi dan Sita untuk menghandle luka- luka Budi.


Sekejap kemudian mereka telah membersihkan semua luka, memberi obat serta membalutnya. Pandu melihat kerja mereka serta memperhatikan bocah kecil dihadapannya.


" Nah, Budi istirahat dulu di sini. Pak dokter mau bicara dengan pelatih dulu."


" Boleh minta minum, pak dokter?" tanya Budi, lebih kalem.


" Oh, tentu boleh."


Pandu meminta suster Sita mengambilkan minum bocah itu lalu pamit ke luar.


" Bagaimana kondisi Budi, dok?" Laras menyambutnya, dengan wajah sedikit cemas.


" Sudah ditangani dengan baik."


" Ehm, bisa melatih bola juga."


" Hanya asisten.....oh maaf ini Kang Jamil, pelatih utama," buru- buru gadis itu mengenalkan pemuda di sampingnya.


Kedua lelaki saling berjabat tangan dan menyebut nama masing-masing.


Tubuh jangkung dan atletis sang pelatih berbalut kaos merah seperti yang biasa dipakai pemain nasional. Celana olahraga biru tua dan sepatu khas pemain bola berwarna hitam membuatnya tampak gagah.


Sementara Laras dengan kaos lengan panjang coklat muda dan celana training senada. Sepatu kets putih.


" Budi mengalami beberapa luka di bagian kaki dan paha kiri. Tidak parah. Hanya setelah diperiksa ada kemungkinan retak di tulang kering kakinya."


" Maksudnya?"


Pandu mulai akrab dengan pertanyaan Laras yang kerap memakai kata " maksud".

__ADS_1


" Begini, perlu pemeriksaan lebih lanjut. Nampaknya perlu di rontgen untuk memastikan. Setelah itu baru kita tentukan prosedur medis dan treatmentnya."


" Aduh, bakal tak bisa main dong Budi nantinya. Padahal dia termasuk striker utama....," gumam Laras.


" Kan ada dua cadangan. Reno dan Bian. Nanti kamu latih lebih keras untuk tendangan bebas dan pinalti. Aku fokus melatih dua kipernya."


Kedua orang di depan Pandu tampak asyik membahas rencana mereka.


" Ehm... ehem....ehm."


Dokter itu mencoba mengingatkan kalau ada orang lain selain mereka berdua di koridor itu.


" Eh, maaf dok. Balik ke Budi. Kemungkinan nya harus istirahat lama ya?" tanya Laras lagi.


" Bisa jadi, apalagi kalau ada retak atau patah. Harus di gibs."


" Apa Budi harus opname, dok? " kali ini kang Jamil yang bertanya.


" Tidak, hanya tetap harus diperiksa lebih lanjut. Nanti saya berikan pengantar untuk rontgen serta ada obat untuk mencegah infeksi."


Dari arah luar koridor, tiba- tiba terlihat seorang bapak sedikit berlari ke arah mereka. Berseragam petugas satuan pengamanan.


Dengan nafas terengah dia bertanya mengenai kondisi Budi.


" Dok, ini pak Karno, bapaknya Budi," ucap Laras.


Dokter Pandu dengan sabar kemudian mengulang kembali penjelasannya tadi pada sang bapak.


Hampir satu setengah jam telah berlalu. Karena kondisi Budi telah membaik dan bisa dibawa pulang, mereka berpamitan.


Pandu mengantar hingga areal parkir.


Pak Karno membonceng Budi di bagian tengah serta Kang Jamil dengan motor matic berukuran besar. Sementara Laras mengendarai matic mungil miliknya yang tadi dipakai membawa Budi ke puskesmas tadi


" Hati- hati di jalan Laras. Hari sudah malam."


" Iya, dok. Pamit dulu. Terimakasih."


Pandu kembali ke rumah. Info kalau Laras jadi pelatih bola membuatnya surprise. Kenal kurang dari dua bulan, telah banyak hal tersingkap mengenai kepribadian gadis sederhana itu.


" Gadis istimewa," batin Pandu.


Pandu segera mandi dan setelah itu menikmati makan malamnya. Mbok Siti hari ini memasak soto daging dan tahu goreng. Sebelum pulang jam empat sore tadi, dia mengingatkan dokter itu agar menghangatkan soto menjelang disantap nanti. Perempuan yang sudah biasa bekerja di rumah dinas puskesmas itu juga menyampaikan bahwa dia telah menaruh semua pakaian yang di setrika di kamar belakang.


Pukul delapan malam, saat menonton tv Pandu ingin menghubungi Laras.


Sebuah pesan diketiknya.


" Sudah sampe rumah?"


Belum deliv. Hingga setengah jam berlalu.


Pandu mendengar notifikasi pesan.


" Baru sampe rumah. Tadi mampir ke rumah Budi dulu."


" Pulang dengan kang Jamil, ya."


"Benar."


Tiba-tiba Pandu membayangkan bahwa Laras harus berboncengan dengan pemuda tadi. Berdua. Malam hari, melewati kebun sawit. Ada rasa khawatir menyelinap di dada.


Khawatir atau cemburu.....?


Deg. Desir di dada dokter itu terasa berbeda.


" Istirahat segera. Besok mengajar, kan?"


" Iya."


" Btw, gimana keadaan mama dokter? Semoga udah sehat."


Pandu baru ingat, kemarin lusa ketika usai menengok Gaby, ada telpon sang adik tentang mamanya. Laras tahu berita tersebut. Ternyata gadis itu perhatian juga.


" Makasih, mama sudah baikan."


" Syukurlah. Maaf, aku makan dulu ya. Sudah lapar."


" Makan banyak, trus istirahat, ya. Bye."

__ADS_1


"Siap.....(emotion Namaste).


__ADS_2