
Hari - hari di bulan Januari diselingi rinai dan derai hujan yang makin menderas. Jika datang di pagi hari, alhasil akan banyak anak absen.
Anak- anak yang rumahnya dekat biasanya akan tetap datang ke sekolah. Tidak demikian yang tempat tinggalnya jauh.
Walau hujan seakan tak berhenti, sebagian anak sudah terlihat di sekolah. Keceriaan khas bocah bocah cilik akan mengurangi hari - hari sepi di tengah perkebunan yang terbentang ribuan hektar, di belahan dalam pulau besar ini.
" Bu, hari ini apa Gaby masih tak bisa ke sekolah?" tanya Sari kepada Laras ketika kelas akan dimulai. Ia menghampiri sang ibu guru di depan ruang tamu sekolah.
Ini hari Selasa di pekan terakhir bulan Januari.
" Iya, Sari. Kemarin pak Joni supir keluarga mereka menitipkan surat pemberitahuan ke sekolah."
" Ada lima yang absen, Bu hari ini. Gaby, Ningrum, Kemal, Jovan dan Ani," gadis kecil itu melapor.
" Terimakasih, Sari. Ayo kita bersiap masuk kelas," Laras membimbing muridnya itu menuju ke arah aula samping yang beratap sederhana. Hujan masih menyapa hingga anak anak tak dapat bermain di halaman dengan leluasa seperti biasa. Tak seberapa lama kemudian bel tanda masuk berbunyi nyaring.
Teng, teng, teng .......
Hingga jam belajar usai masih saja gerimis dan mendung menggantung di langit. Anak anak lebih banyak menghabiskan waktu di kelas ketika istirahat berlangsung. Pak Yus akan dapat tambahan tugas menjaga mereka agar tetap tertib dan tak saling berebut mainan saat istirahat.
Beberapa anak akan bermain dan bercengkrama di aula kecil depan ruang guru yang beratap seng seluas enam dikali lima meter yang sekaligus berfungsi untuk parkir.
" Bagaimana kondisi kelasnya mbak Laras?" tanya Bu Nur, ketika dua ibu guru itu tengah berada di ruang guru setelah sekolah usai.
" Ya, baik Bu. Ada lima anak yang sakit dan tak masuk kelas. Tadi juga satu anak yang merasa tak enak badan. Jadi saya sarankan besok untuk beristirahat di rumah."
" Oya. Di kelas B malah lebih banyak lagi yang absen. Tujuh anak. Dua ijin karena rumah mereka jauh, tiga sakit flu dan batuk. Seorang lagi masih di rumah sakit menunggu ibunya melahirkan. Satu lagi belum ada kabarnya."
" Ehm, bagaimana kalau di musim penghujan seperti ini, pemberian makanan tambahan kita perbanyak Bu? Dua kali seminggu mungkin."
"Maksudnya, bagaimana?"
" Selama ini kita hanya memberi tambahan gizi di hari Sabtu, mungkin ditambah tiap Rabu. "
" Saya setuju, sih. Tetapi apa dananya cukup untuk itu?"
" Saya kira cukup, bu. Ada usulan dari beberapa orang tua juga. Malah ada yang mau menambah iuran untuk itu. Karena menurut mereka, anak anak akan lebih bersemangat makan bersama teman teman daripada di rumah."
" Iya juga mbak. Kegiatan outdoor dan lomba antar sekolah kan hampir tak ada sepanjang musim ini, dana bisa dialokasikan untuk tambahan ransum, ya."
Sebagai sekolah yang didirikan oleh pihak perusahaan, Taman Kanak-Kanak itu hanya memungut dana sumbangan pendidikan relatif kecil. Semua pendanaan dan fasilitas dibiayai perusahaan. Walau sebagian besar murid adalah putra putri karyawan, namun ada beberapa anak adalah mereka yang berasal dari desa sekitar.
" Saya coba diskusikan dengan Bu Ina sebagai ketua peguyuban orangtua, ya Bu."
" Ya, bagus mbak. Silakan."
Bu Ina adalah orangtua Fadli, ketua kelas TK B, yang kebetulan pula menjadi bidan desa tetangga.
Ini tahun kedua bagi beliau menjadi ketua. Banyak saran dan masukan beliau yang bagus untuk kesehatan anak anak. Imunisasi, cek jentik nyamuk, mengecek kotak obat tiap dua Minggu, pemberian vitamin serta makanan tambahan dan bergizi lengkap. Untuk penentuan menu tiap minggunya pun dikoordinir beliau bersama para orangtua lain secara bergiliran.
Walau sekolah berada di tempat terpencil, segala keperluan anak anak relatif terjamin. Itu karena solidaritas dan rasa tanggungjawab bersama. Tak ada yang mewah dan berlebihan, memang. Namun semua tercukupi.
Hari keempat di pekan ini telah dilewati. Gaby belum juga bersekolah. Laras dan Sari beserta ibunya berencana menengok ke rumah Gaby, usai jam sekolah. Kebetulan rumah dinas yang ditempati keluarga gadis kecil itu searah jalan pulang menuju rumah Sari dan gurunya itu.
" Permisi, selamat siang," seru mereka di depan pintu masuk rumah yang berjarak sekitar satu kilometer dari sekolah.
Bangunan luas berpilar tinggi dan di cat coklat cream, dikelilingi kebun aneka buah. Mangga, jambu biji dan pohon pisang berbaris rapi di sisi kiri.
" Siang...."
Terlihat seorang wanita berdaster berusia setengah baya, membuka pintu.
" Silahkan masuk...."
Laras tersenyum, dan menyapa "Bu, kami dari sekolah. Saya Bu Laras dan ini Sari, teman Gaby serta ibunya. Kami ingin menjenguk Gaby.'
__ADS_1
" Oo ya, ya. Mari silahkan duduk. Maaf nyonya sedang keluar. Gaby istirahat di kamarnya."
" Bagaimana kondisinya, Bu?"
" "Aduh, panggil saja mbok Nah....."
" Mbok, apa Gaby masih sakit?" kali ini Sari tak sabar bertanya.
" Iya, tiga hari ini sedikit demam, pucat lalu sesak juga. Kemarin dokter Pandu sudah dua kali memeriksa kesini."
"Sakit apa kata dokternya, mbok?" ibu Sari menimpali.
" Mbok belum tahu, tetapi sudah diberi obat. Jadi sepertinya mulai membaik. Nyonya meminta Gaby makan yang banyak. Coba mbok lihat ke kamarnya dulu ya," pamit mbok Nah.
Bu guru Laras mengedarkan pandangannya sejenak. Pigura besar dengan potret keluarga Gaby terpampang indah menyita perhatian. Papa, mama dan dua abangnya yang beranjak remaja. Gaby,si gadis kecil yang berdiri di tengah terlihat penuh senyum. Foto keluarga dengan seragam batik yang nampak mahal. Gadis kecil itu sepertinya mewarisi wajah cantik sang mama.
Laras masih ingat Gaby menyebut bahwa dua abangnya sekolah di kota ditemani kakek neneknya.
Sejurus kemudian, mbok Nah sudah terlihat membimbing Gaby keluar lalu menuju ruang tamu.
Mata Gaby berbinar begitu melihat siapa yang menengoknya. Meski masih pucat dan lemas, senyum lebar di wajah gadis kecil itu membuat siapa saja akan mengingatnya.
" Hallo Gaby," seru Laras.
" Gaby sudah baikan?" lanjut Sari.
" Iya. Sari dan Bu guru, besok Gaby mau sekolah. Sudah lelah hanya tidur saja di rumah," gadis kecil itu merajuk.
" Ehm, Gaby minta ijin papa mama dulu ya," Laras berkata, lembut.
" Pokoknya Gaby mau masuk. Ingin main ayunan lagi."
" Gaby rajin minum obat dan makan yang banyak, supaya cepat sehat," ibu Sari, menambahkan.
"Iya ....."
Percakapan berlangsung riang. Tawa Sari dan Gaby membuat suasana khas anak anak. Mbok Nah minta maaf sampai lupa mempersilahkan para tamu untuk minum air mineral yang berbaris rapi membentuk lingkaran kecil di atas meja tamu.
Hampir setengah jam berlalu, akhirnya mereka pamit. Gaby dan mbok Nah mengantar para tamu hingga depan pintu gerbang. Mereka masih berdiri dekat pintu sampai dua motor yang dikendarai tamu melewati pagar rumah yang dikelilingi pohon mawar yang terawat rapi.
Keesokan harinya, Gaby memang telah bersekolah. Diantar oleh sang papa dan supirnya.
Anak- anak segera mengerubungi begitu gadis kecil itu saat turun dari Jeep hitam. Mereka tampak gembira karena Gaby sudah pulih dan dapat bermain bersama lagi.
" Ibu guru, Gaby hidungnya keluar darah!" Kemal tergopoh - gopoh menuju ruang guru saat istirahat.
Bu Nur segera beranjak ke halaman. Beliau segera menghampiri Gaby yang menangis di bangku panjang terbuat dari kayu dekat aula samping.
" Ayo, anak- anak minggir dulu. Ibu ingin lihat Gaby," kata Bu Nur dengan sabar.
Empat orang teman yang bergerombol di depan gadis itu menepi.
Bu Nur, segera meminta Sari agar memberitahu Bu Laras untuk
membawa kotak obat ke tempat mereka. Ibu Laras tadi masih di kelas memeriksa hasil origami klas Tk A.
Segera ibu guru itu ikut melihat kondisi Gaby. Gadis kecil itu ditenangkan dan diminta duduk dengan tegak. Bu Nur mengambil kapas untuk menghentikan darah dan meniup lembut hidung Gaby. Kucuran darah terhenti. Tangis gadis itu telah usai. Bu Nur mengelap dengan tissu secara perlahan sisa sisa tetesan darah. Sementara Bu Laras menyiapkan kompres dingin dan segera menaruhnya di bagian leher dan tengkuk. Setelah agak tenang, Gaby diminta mengambil nafas panjang. Bu Nur memberi contoh dan ikut melakukan gerakan itu berulang.
Gadis kecil itu lalu di bimbing ke ruang guru. Hanya Sari, di beri ijin untuk menemani. Anak anak lain diminta melanjutkan bermain di halaman lagi.
Sampai bel tanda masuk berbunyi, Gaby masih berada di ruang guru. Terlihat sudah membaik. Wajahnya masih sedikit pucat, tapi mimisannya sudah terhenti total. Dia membolak balik majalah anak anak yang berjejer rapi di atas meja. Mengobrol bersama Sari. Sementara Bu Laras pamit sejenak ke kelas untuk memberi tugas anak - anak. Kali ini menghubungkan banyak titik yang berbentuk bunga besar dan dua helai daunnya lantas diwarnai. Pak Yus diminta mengawasi kelas, ketika Bu Laras kembali ke ruang guru.
" Gaby, diminum dulu air hangat ini, ya,"' kata Laras, setelah mengambil secangkir air dari dispenser di sudut ruang.
" Makasih, Bu."
__ADS_1
" Kata Gaby, kepalanya sakit," Sari menatap ibu gurunya.
"Oya?"
Laras memegang dahi Gaby. Sedikit demam.
" Sari tolong dijaga Gaby dulu ya. Ibu mau menemui Bu Nur."
" Baik, Bu....."
Laras segera mendiskusikan kondisi Gaby dengan seniornya. Kedua Bu guru tersebut sepakat menelpon papa Gaby, mengabarkan kondisinya. Mereka berharap papanya menjemput sang putri. Tak ada jawaban. Ini jam kantor. Barangkali masih sibuk. Lalu ponsel Laras mengirimkan sebuah pesan senada. Masih belum ada respon.
" Begini saja, mbak. Biar Gaby beristirahat dulu di ruang guru. Kita pantau kondisinya. Semoga membaik."
" Baik, Bu Nur."
Bu Laras kembali ke ruang guru. Nampak Gaby tertidur di pangkuan Sari. Dirabanya dahi gadis kecil itu. Sudah tak sehangat tadi. Kali ini Laras mengambilkan bantal kecil yang tersedia di atas rak buku untuk menyangga kepala Gaby. Sari berpindah duduk dari bangku panjang ke kursi kecil di sampingnya.
" Sari, biar Gaby istirahat dulu. Ditemani, ya. Ibu kembali ke kelas sebentar. Sari boleh lihat lihat majalah ini.'
" Iya, Bu Guru....."
Hingga jam sekolah usai dan anak- anak telah pulang semua, Gaby masih tertidur.
Saat itu tinggal Bu Nur, Laras dan pak Yus yang telah selesai bersih - bersih.
" Bu, kalau belum bisa dihubungi papanya Gaby, apa saya ke rumah mereka? Kebetulan mbok Nah, asisten rumah tangga mereka adalah tetangga saya," ujar Pak Yus.
" Bagaimana, Bu?" Laras meminta pendapat Bu Nur, sang kepala sekolah.
" Coba kita hubungi lagi telepon Pak Himawan, dulu."
" Baik, Bu."
Laras kembali menekan nomor ponsel papa Gaby. Tak ada respon. Begitu pula pesan tadi, belum deliv.
" Saya hubungi nomor kantor beliau saja sekarang."
Bu Nur, segera mengeluarkan ponselnya. Mencari nomor dimaksud. Tak lama terdengar seorang perempuan menjawab. Resepsionis kantor pusat di pabrik. Dia mengabarkan bahwa Pak Himawan, GM RD pergi ke kota bersama pak Dirut. Ada pertemuan penting dengan komisaris dari Jakarta. Jarak kota propinsi dengan areal kebun adalah dua jam perjalanan darat.
" Wah, sepertinya pak Yus harus ke rumah Gaby untuk memberitahu sang mama. Nanti setelah sampai disana, tolong kami ditelpon ya," pesan Bu Nur seraya memberi kunci motor bebek beliau untuk dipinjam Pak Yus.
" Baik, Bu."
" Mbak Laras, nanti kita harus meminta paling sedikit dua nomor kontak untuk tiap anak, untuk mengantisipasi keadaan seperti ini.
" Benar, Bu.''
Sepeninggal pak Yus, Laras dan Bu Nur memeriksa hasil pelajaran anak anak hari ini. Memberi tanda bintang di buku penilaian masing-masing anak untuk tiap jenis pelajaran. Lanjut dengan mempersiapkan bahan belajar mengajar untuk esok hari.
Duapuluh menit kemudian ponsel Bu Nur berdering. Pak Yus mengabarkan bahwa mama Gaby tak di rumah, beliau sedang ke supermarket terdekat yang berjarak satu jam dari rumah mereka. Lelaki itu juga memberitahukan nomor ponsel mama Gaby kepada ibu guru.
Segera Bu Nur menghubungi sang mama. Terdengar suara panik di seberang sana. Mama Gaby mengatakan akan menghubungi dokter langganan dan memintanya segera ke sekolah. Sementara dia akan menyusul.
Gaby terbangun dari tidurnya. Memanggil- manggil papanya, seperti mengigau. Laras berusaha menenangkan dan memeluknya.
Bu Nur menghampiri segera. Terlihat keringat dingin mengucur di dahi gadis kecil itu. Laras meraba dahi Gaby.
Panas.
" Bagaimana ini, Bu ?" tanya Laras dengan cemas.
Bu Nur ikut meraba dahi gadis kecil itu. ," Hem, sangat panas. Kita tunggu, dokter segera kemari."
Laras mengambil tissu dari atas rak buku lalu segera mengelap keringat di dahi dan leher Gaby. Dibukanya beberapa kancing seragam atas. Bu Nur meminta Laras memberi minum air putih pada Gaby. Kompres handuk kecil yang dibasahi air suhu netral disiapkan Bu Nur.
__ADS_1
Setengah jam kemudian sebuah mobil ambulan puskesmas telah berhenti di depan gerbang sekolah.