
Latihan Selasa sore telah berlangsung selama satu jam. Latihan cardio ringan. sesi latih tanding hanya setengah putaran. Memantapkan tangkapan bola oleh sang kiper dan tendangan bebas atau pinalti.
Pandu tak bisa menemani Laras. Ada pasien gawat di puskesmas yang mesti dia pantau ketat. Lansia pria terjatuh di sawah yang tak sadarkan diri. Pertolongan pertama sudah dilakukan. Persiapan rujukan ke RS kota. Indikasi serangan stroke.
Sebuah pesan pukul setengah empat sore tadi masuk ke ponsel Laras.
Gadis itu mengetik pesan balasan.
"Silahkan lanjut mas. Moga dapat ditangani dg baik."
"Thx pengertianmu. I (emotion love) you."
Jawaban Laras hanya emotion Namaste, dua buah.
Setelah makan malam, sekitar jam tujuh, sebuah panggilan telpon dari Pandu, mengatakan dia baru kembali mengawal pasien tadi dari RS kota. Bersama rekan perawat serta supir ambulans.
Pandu juga menyempatkan besuk Gaby di paviliun VIP anak. Kondisinya membaik meski saat itu si kecil sedang tidur setelah kemo terakhir. Konon rambutnya menipis dan sekarang dipotong sangat pendek. Tetapi dia telah merespon makan dengan baik.
Laras mendengar dengan seksama kisahnya. Kisah Gaby dan pasien lansia itu.
Pandu berusaha tegar. Perjuangan mendampingi pasien anffal haruslah terfokus. Tugas paramedis sungguh berat. Tak dapat diprediksi, berpacu dengan waktu dan menyangkut nyawa.
Mengingat cerita Pandu, diam-diam dalam hati Laras salut pada sang pacar. Kepedulian pada pasien lama seperti Gaby juga menyiratkan perhatian dan empati diri sang kekasih.
Laras merasa Pandu lelaki istimewa. Seorang lelaki yang lahir dan besar di kota besar bersedia mengabdi di daerah pinggiran. Jauh dari lingkungan mapan yan penuh fasiltas terbaik.
"Sudah makan, mas?"
"Belum, tadi kita ganjal pake roti dan air mineral. Ini bakal mandi dulu setelah istirahat. Masih ngangetin soto daging."
Laras kembali membayangkan sang pacar yang tinggal sendiri. Lelah dan sepi. Mungkin saja lelaki dewasa dan dari keluarga berada seperti Pandu bisa memilih tugas di tempat lebih baik. Tapi panggilan hati nuraninya menghantar dia pergi jauh buat menguji kemandirian diri.
"Api kompor dikecilkan mas, nanti ditinggal mandi biar tak gosong."
"Coba kamu ada di sini, pasti aku bahagia banget."
"Ehm,..... mandi dulu supaya gantengnya nggak luntur. Makan dan istirahat, ya. I love you."
"Lha begitu aku senang. Tumben bilang kata itu. I love you too."
Lelaki itu bergegas mandi dan lanjut makan. Setelah itu meminta panggilan video call dengan sang pacar.
"Nah sekarang udah cakep belum?"
"Iya, iya...."
"Sedang apa?"
"Santai dan memandang wajahmu....."
"Ssst bentar aku ke teras dulu. Ada nenek di sebelah lagi nonton drama favorit."
"Bentar ya, nek. Mas Pandu telpon."
Nenek sebelumnya sudah Laras beritahu bahwa dia dan Pandu mulai berpacaran. Nenek berpesan agar Laras bisa menjaga diri dan tak merepotkan Pandu.
Terdengar gadis itu pamit pada neneknya, lalu berjalan ke teras. Berdiri dan menyandar di pojok.
Sesekali tersenyum melihat gaya Pandu yang tiduran diatas pembaringan. Lelaki itu ngobrol intim. Ingin dipeluk dan di ninabonokan sang pacar, setelah kelelahan seharian bekerja.
"Manja, ah. Sudah istirahat dengan baik."
" Sekarang aku ingin memandang wajahmu sebelum tidur malam."
"Gombal terus. Istirahat ya, sayang. Besok pasien lain telah menunggumu."
"Udah bisa berkata romantis sekarang gadisku... aku suka kamu memanggilku sayang."
" Siapa dulu yang ngajarin?"
"Ehm, aku dong. Laras, cium aku dari jauh. "
Lelaki itu memonyongkan bibirnya. Laras tertawa padahal dia paling benci liat gerakan begitu.
Laras hanya memberi isyarat memberi kecupan dengan dengan menempelkan lima jarinya di bibir dan memindahkan ke layar ponsel.
" Ya, lumayan deh. Aku tidur duluan.
Bye. I always love you."
" Me, too."
VC diakhiri. Pandu, Pandu. Di balik sikap tegas ketika bertugas ternyata lelaki itu menyimpan sifat manja, merajuk dan lucu. Sisi 'gelap' seorang lelaki normal.
Ehm.....
Hari yang ditunggu. Tim bola desa mereka bakal tampil di babak kedua. Calon lawan adalah peringkat ketiga tahun lalu , dari desa kecamatan lain. Walau begitu, pemain dan coach pantang berciut nyali. Kemenangan pertama rupanya sangat mempengaruhi percaya diri mereka.
Kedua coach masih sempat mengajar di pagi hari. Laras di TK sedang Jamil guru olahraga SD negeri di desa itu. Laga berlangsung setengah empat sore.
Tim berangkat dengan pinjaman bis kecil berkapasitas tigapuluh orang. Pabrik memberi bantuan penuh. Tim sangat bersyukur untuk itu. Beberapa orangtua ikut serta. Para ibu dan bapak, karena masih bis masih punya sisa tempat duduk. Alhasil konsumsi pun tambah banyak, sumbangan orangtua. Aneka kue, pisang serta minuman pengganti elektrolit tubuh.
Jam tiga kurang lima belas menit, rombongan telah tiba dan segera bersiap di pinggir lapangan. Penonton di tribun terlihat tak terlalu ramai karena ini hari kerja. Kamis sore yang terik. Hanya ada satu laga sore ini.
"Ayo, tim latihan fisik dulu.Lari lari kecil, melemaskan otot serta melatih tendangan bebas."
Coach Jamil berseru. Lalu mengajak pemain mencoba gawang. Calon lawan belum terlihat.
Sementara itu Pandu masih di kota propins, sekitar perjalanan satu jam lebih dari stadion. Memenuhi undangan rapat dinas karena puskesmas yang dipimpin masuk sepuluh besar tersukses pencapaian imunisasi anak balita.
Hingga laga dimulai. Calon tim lawan nyaris terlambat datang karena halangan di jalan. Karena itu mereka tak sempat pemanasan. Panitia memang disiplin.
"Anak-anak main lepas, jaga sportivitas dan tetap semangat!" pesan coach utama.
Di atas kertas memang tim lawan diunggulkan. Tetapi permainan si kulit bundar bukanlah perhitungan matematika belaka. Ada faktor lain bekerja.
"Kerjasama tim ya. Ingat bola-bola pendek dulu. Gimana reaksi lawan. Kalau mainnya ketat, ganti ke bola-bola panjang," Asisten coach menambahkan.
"Yesss, coach!"
Teriakan mereka penuh antusiasme.
Tepuk tangan terdengar dari penonton. Hanya setengah terisi di tribun atas. Sekitar dua ratusan orang. Panitia dan petugas keamanan sudah siap siaga.
Kali ini supporter Kembangsari membawa spanduk kecil.
"Tim Si Merah Kembangsari. YES! YES!
Itu adalah ide ayah Sofyan, sang kiper cilik yang bekerja sebagai supervisor produksi di pabrik.
__ADS_1
Ketika pluit dimulai, coach dan pemain cadangan duduk bersila di pinggir lapangan. Kubu lawan menempati sisi kiri.
Dua petugas berseragam mendekat ke tim Kembangsari. Berbincang akrab dengan dua coach.
"Hey Jamil. Hey Laras. Selamat tim maju laga kedua. Nggak nyangka aku."
" Bola selalu penuh kejutan," ujar Jamil.
Laras menimpali, "Semangat dan tim work bisa ngalahin apapun!"
Obrolan berlanjut hingga laga mulai berlangsung. Kedua coach merasa nggak nyaman karena bisa tak fokus ke lapangan mengamati jalannya laga.
"Sori, kita ngamati arah bola dan permainan tim dulu. Nanti ngobrol lagi, okey," Laras tak tahan dan berucap seperti itu pada petugas itu. Dito, lelaki dari masa lalunya.
Pandu dengan tergesa memasuki areal parkir stadion. Jas putih telah dibuka. Berkemeja biru muda yang dimaksudkan ke celana kain hitam. Tentu sepatu formal. Rapi. Tadi dia telah berkirim pesan pada Laras, menyampaikan bahwa mungkin dia akan terlambat datang.
Lawan yang berseragam kuning dan celana hijau langsung menekan. Tim Kembangsari memilih bertahan.
Kedua coach kini telah berdiri. Jamil tetap di tempat sementara Laras mendekati sudut gawang kubunya.
"Sofyan tetap fokus. Pandangan ke arah bola."
Beberapa momen ketegangan terjadi. Tendangan sudut pertama. Cukup keras.
Membentur tiang gawang.
Berganti serangan ke tim lawan. Bola - bola panjang. Sebuah kelengahan tim lawan menyebabkan si cilik Reno menggiring bola sendiri dan berhasil menjebol gawang karena kiper salah mengantisipasi manuvernya.
Gol pertama tercipta untuk tim Kembangsari. Suporter yang tak seberapa berteriak kegirangan, tak terkecuali Pandu. Lelaki itu telah bergabung dengan para bapak dan ibu pendukung tim merah. Separuh babak pertama tim merah balik menekan.
Lelaki itu mengamati sang kekasih sudah nggak seemosional saat laga pertama. Hanya keaktifannya yang mengikuti arah bola belum berubah.
Tampaknya tim lawan dendam. Serangan balasan terjadi penuh kejutan. Anak-anak kewalahan di akhir babak. Jantung Laras berdebar kencang. Gadis itu berjalan kesana sini seraya bergumam sendiri di sekitar pinggir lapangan.
"Tahan, Edi. Fokus Sofyan!"
Coach utama tetap cool. Tapi siapa yang tahu dalam hatinya. Apa jantungnya jedag jedug juga. Hanya reaksi di luar berusaha tenang.
Tenyata pemain tengah lawan berhasil menembak di sudut kirim yang sempit. Tak sempat di halangi pemain belakang kita yang fokus berada tengah karena pergerakan striker lebih banyak di situ tadi.
Kedudukan satu sama hingga turun minum.
Pandu mengamati Laras dari kursi ketiga diatas bangkon. Masih jelas melihat gaya sang gadis menghandle timnya. Perhatian dan penuh empati.
Coach utama memberi arahan. Anak-anak duduk memanjangkan kakinya seraya menikmati minum dan makan pisang.
Laras terlihat memijit betis Sofyan yang sedikit kram karena berbagai gerakan menyelamatkan gawangnya. Canda tawa terdengar. Dua pemain lain meregangkan kaki dan melemaskan tungkai dibantu Laras.
Diam-diam Pandu mengabadikan momen itu.
Pluit tanda babak kedua dimulai. Laga kembali menegang. Lawan mengubah strategi dengan pola beda. Menutup penuh daerah pertahanan. Beberapa pemain depan tim merah jadi frustasi.
Karena kedua tim bertukar tempat, kini Pandu tak leluasa lagi mengamati hingga detail kecil tingkah sang pacar.
Seorang petugas keamanan kembali mendatangi Laras ketika gadis itu beberapa kali ikut memunguti bola yang keluar. Itu karena Laras memakai kesempatan itu untuk berbisik di telinga pemain.
Ada saja.
Sebuah tendangan bebas buat tim merah. Dua pemain belakang lawan melakukan pelanggaran. Cukup fatal tetapi tak sampai menyebabkan cidera. Tim lawan protes. Terjadi perdebatan malah melibatkan pelatihnya. Hingga wasit memberi kartu merah menyuruh pemain pelanggar keluar.
Akhirnya gol terjadi lagi. Bian mengeksekusi dengan manis, bola melengkung dan jatuh di sudut kanan gawang.
Sorak sorai terdengar. Tim merah dan supporternya sangat senang. Kedua coach terus bertepuk tangan dan tersenyum lebar.
Tim merah desa Kembangsari maju ke babak perempat final.
Seorang petugas keamanan berbadan tegap mendatangi kedua coach dan menyalami silih berganti. Mengobrol lalu tertawa bersama. Pandu mengamati dari kejauhan. Petugas tadi malah menepuk-nepuk punggung Laras.
Uh, siapa dia.
Jangan-jangan....
Setelah beristirahat dan minum, serta makan kue semua pemain berjalan keluar lapangan. Menuju aula dekat parkir. Para orangtua menyerbu putra - putranya.
Percakapan pun berlangsung seru diantara mereka.
"Lawan drop semangatnya setelah pemain dapat kartu merah."
"Untung Sofyan bermain bagus dan konsisten!"
"Pemain belakang kita hebat. Tetap tenang diserang habis - habisan."
"Taktik coach kita cukup mumpuni."
"Puji Tuhan kita menang !"
Rombongan sepakat langsung pulang. Anak-anak bermain lepas tanpa beban sebelumnya namun tetap all out hingga terlihat sangat kelelahan.
Laga berikutnya hari Sabtu, sembilan hari lagi. Jadi ada waktu sedikit panjang untuk latihan. Lawan ditentukan nanti setelah beberapa pertandingan beberapa tim lain.
Laras meminta ijin coach utama untuk pulang bersama Pandu.
" Kita makan dulu yuk!"
Pandu mengajak sang pacar ngobrol ketika mereka telah masuk mobil.
"Kemana mas?"
"Ada restoran favoritku kalau sedang tugas ke kota ini."
"Dulu mas bilang warung aneka ikan itu favoritmu. Sekarang yang yang mana?"
"Lihat saja nanti. Kamu harus makan setelah laga tadi yang melelahkan. Aku juga lapar."
" Aduh, apa nggak bau keringat nih aku. Habis dari stadion ke restoran."
Pandu meminggirkan dan memarkir mobil di sisi kiri. Laras menolehnya. lelaki itu tersenyum. Mengambil goddie bag hitam dari jok belakang. Lalu menyerahkan
"Ini buat ganti. Nanti pakai di toilet restoran."
"Apa ini mas?"
"Buka saja dan lihat sendiri."
Sebuah hoodie dari katun berwarna ivory white. Bertulis coach.
Laras tersenyum," Thanks ya mas. Ini bagus banget."
"Hadiah buatmu karena sudah bisa panggil aku dengan kata sayang."
__ADS_1
"Iya ....sayang!"
Pandu mengacak rambut Laras. Gemas. Ingin menciumnya. Tapi urung karena di pinggir jalan itu sangat ramai di sore hari ini.
Laras menganggap hadiah Pandu itu sebagai imbalan bagi kemenangan tim mereka tadi.
Sebuah restoran steak yang terkenal. Jaringan franchise. Meski kota ini relatif kecil namun fasilitas umum lumayan memadai karena banyak ada industri. Pabrik minyak goreng, pabrik kertas dan pabrik gula. Juga ada pertambangan minyak bumi dari perusahaan asing di arah utara daerah dekat pantai.
"Aku pilih beef steak dengan saos barbeque dan keju. Minumku orange juice. Kamu apa?"
Pandu bertanya pada Laras ketika berdua mereka mengamati daftar menu. Saat itu mereka memilih tempat di pojok dekat taman kecil. Suara lagu-lagu barat romantis menemani dari The Corrs. Suasana sepi karena belum waktu makan. Pukul setengah enam petang.
"Ehm, chicken steak dengan mayonaise dan saus tomat saja. Minum lycee tea."
Sembari menunggu, Laras minta ijin mengganti kaosnya di toilet. Memakai baju baru. Terlihat lebih segar karena dia juga membasuh muka dan mengoleskan sedikit bedak serta lipstik tipis yang tersimpan di ransel kecil yang dibawanya.
"Nah lebih cantik dan segar."
"Makasih, mas."
Mereka ngobrol tentang pertandingan tadi. Binar di mata sang pacar membuat Pandu makin memaham passion Laras.
Demikian pula Pandu yang berkisah ikhwal meeting. Bakal ada program baru lain untuk gerakan kesehatan masyarakat.
Setelah ini Laras meminta Pandu mengantarnya membesuk Gaby. Mumpung masih di kota yang sama. Pandu mengiyakan. Laras menelpon nenek untuk minta ijin pulang agak telat. Gadis itu berencana menengok muridnya. Nenek mengerti.
Hidangan datang. Pandu meminta Laras mencicipi menunya. Sepotong daging di garpu di sodorkan ke rah bibir Laras.
"Hem makasih. Ini lezat."
Gantian Laras melakukan hal yang sama. Sepotong daging ayam, potongan wortel dan buncis. Dia menyuapi Pandu.
"Kok besar amat?"
"Biar mas cepat berisi badannya. Ingat pesan mama."
Pandu tertawa. Laras masih menyebut hal itu.
"Lagi....Hap!"
Tawa pecah. Kedua kekasih itu larut dalam romantisme.
Pandu sungguh senang. Hari-harinya jadi berwarna setelah kehadiran Laras.
Setelah bersantap mereka melanjutkan perjalanan ke RS.
Kondisi Gaby sedikit membaik. Meski rambut tebalnya yang dulu kini menjadi pendek dan menipis.
Gadis kecil itu sangat senang, ibu guru menengoknya. Mereka berbincang tentang teman-teman Gaby. Juga tentang pawai. Laras minta maaf karena tak membawakan buku untuknya. Ibu guru bercerita, kalau tadi spontan ingin besuk setelah dari stadion.
Si kecil mengerti dan bertekad ingin cepat sekolah. Dalam dua pekan ke depan dia berharap sudah keluar dari RS.
Kedua orangtua Gaby sangat berterimakasih atas kunjungan ibu guru dan pak dokter.
Pandu menyempatkan menengok sang pasien lansia yang ditunjuknya kemarin lusa. Masih terbaring di ICU. Tetapi kondisi cukup stabil, kata sang anak sulung yang setia menunggui dari luar ruangan. Lelaki paruh baya itu berterimakasih atas bantuan dan perhatian dokter Pandu.
Sudah pukul tujuh lebih, perjalanan pulang segera dimulai. Mobil meluncur meninggalkan kota menuju kecamatan terdekat. Jangan tampak lengang.
Dua insan itu asyik mengobrol sepanjang jalan.
"Aku sudah cerita Pram tentang dirimu, Laras...."
"Oya?"
"Dia mendukungku. Mengirim salam buatmu. Serta berterimakasih kalau kamu bilang dia lebih ganteng dariku. He he he..."
"Aduh, jangan disampaikan bagian itu dong."
"It's okey. Memang itu sebuah kejujuran. Semua aku ceritakan padanya. Kau melatih bola hingga mengajar anak TK. Sepertinya dia naksir juga padamu karena tipikal dia gadis sportif sepertimu. Ha ha ha ..."
"Mas Pandu jangan terlalu, ah!"
"Aku mengatakan hal sesungguhnya."
"Ehm, maaf aku belum cerita banyak ke mama papa."
"Tak apa mas, pelan-pelan saja."
"Makasih pengertianmu. Kalau boleh tahu siapa saja yang sudah tahu hubungan kita?"
"Tentu nenek, bik Jum, Bu Ina, Bu Nur, kang Jamil dan keluarga bude. Mungkin tetangga aku, karena mas sering ke rumah."
"Jadi Norman udah tahu. Bagus. Biar Alvin, temannya patah hati."
Pandu tersenyum riang menoleh Laras.
Laras tertawa kecil.
"Sudah lupakan yang dulu, mas. Itu hanya gimmik bang Norman.
"Tolong katakan....lupakan saja sayaang!"
Laras mencubit lengan Pandu. Tawa kembali pecah.
Tiba-tiba Pandu menghentikan mobil di pinggir jalan kecamatan. Setelah puskesmas dari lintasan trans Sumatra. Menjelang jalanan menuju desa tempat tinggal Laras.
"Ada apa mas?"
Terdiam.
Pandu menoleh dan tak dapat menahan diri. Kedua tangannya memegang wajah sang pacar. Sebuah kecupan di pipi kanan.
Sang gadis tersenyum indah.
Lalu berlanjut memagut lembut bibir Laras, setelah gadis itu terpejam.
Debaran jantung, desiran di dada dan gelora jiwa keduanya menyatu.
Laras membalas dan menikmatinya.
"Thanks, Laras sayang. Kamu menerima."
Pandu melepaskan kecupan dengan menatap langsung pada kedua bola mata sang kekasih. Ada kelembutan di sana.
Laras berkata lirih," Makasih juga sayang..."
Malam itu berlaku penuh kenangan. Dalam tidur makanya Pandu melanjutkan aksinya. Mencium lagi bibir ranum sang kekasih. Penuh gairah. Meraba kedua dadanya serta mencium leher jenjang Laras. Nyaris lebih jauh.
Ah, hanya mimpi belaka.
__ADS_1
"Ini hadiah untukmu, mas," kata Laras dalam mimpinya.
Gadis itu balik mencium wajah, leher dan telinga Pandu dengan cinta dan kelembutan.