
Pertunjukan paduan suara anak-anak untuk perayaan ulangtahun pabrik semakin dekat. Minggu depan, sabtu siang. Direncanakan anak-anak akan memakai pakaian berbagai daerah dari seluruh negeri ini. Anak anak senang, orangtua antusias. Setidaknya bakal ada kenangan dalam moment tumbuh kembang putra - putrinya. Pasti akan ada banyak potret menarik saat itu.
Latihan ditambah menjadi hari Selasa, Kamis dan Sabtu usai pulang sekolah. Agar anak anak fasih dan makin percaya diri.
Hari ini Bu Nur sudah hampir merampungkan rencana anggaran. Rupanya beliau bertekad cepat mengirimnya ke pak Kevin.
"Coba mbak Laras lihat juga siapa tahu ada tambahan saran atau masukan."
"Baik, Bu."
Laras membaca dan memperhatikan detail uraian rencana itu. Karena dia tak paham benar mengenai bangunan, dia percaya itu sudah maksimal.
Bu Nur lebih memiliki pengalaman karena konon sekolah TK ini pun, beliau dan suami serta tim dari pabrik yang ikut andil dari nol. Dulu senior Laras itu menjadi guru TK negeri yang jaraknya hampir sepuluh kilometer dari sini.
Perusahaan minta pengajuan ke dinas agar Bu Nur bisa mengajar dan menjadi kepala sekolah disini. Sebelum Laras, ada guru lain namanya Seruni. Karena suaminya yang anggota prajurit, pindah tugas ke pulau lain, jadilah Laras yang menggantikan.
"Ini sudah sempurna menurut saya, Bu. "
"Coba kita ajukan dulu ya, nanti toh ada koreksi sesuai bujet mereka."
"Benar, Bu."
"Besok pagi akan titipkan pada bapaknya anak-anak agar diberikan pada pak Kevin."
Setelah diskusi itu, Laras memacu motornya ke rumah. Sudah lebih jam dua siang. Perutnya meronta. Beruntung tadi sempat diganjal dengan kue bolu coklat pemberian Ningrum, muridnya. Kue ulangtahun nenek bocah itu.
Tiba di rumah Laras dikejutkan oleh kak Norman, sepupunya yang menjadi prajurit dan berdinas di kota propinsi. Ada seorang lelaki lain yang ikut bersamanya. Berpakaian dinas dengan lengan baju digulung sampai atas. Tangan dan lengan kekar mereka menyembul. Indikasi sehat dan bugar.
"Pantas, ada Jeep merah terparkir di luar," pikir Laras.
"Hallo, adik tomboyku. Tambah gosong saja kau....ha ha ha !"
Gaya khas lelaki itu yang blak blakan sudah Laras hafal betul.
"Kapan datang kau, kak?"
" Sudah sejak jam sepuluh tadi pagi."
"Hey, ibu guru ini kenalin. Teman se letting kakak. Namanya Alvin."
Lelaki jangkung dengan lesung pipit dan rambut cepak sebelah kak Norman menjabat tangan Laras. Saling menyebut nama. Genggaman tangannya yang keras nyaris membuat Laras terkejut.
"Sudah makan kau, kak?"
"Sudahlah. Tadi dengan nenek. Tuh, kau ditunggu nenek kita di dapur."
"Oke aku makan dulu, lapar berat."
Laras ngeloyor pergi ke dapur.
"Gimana, Vin? Manis kan, sepupu aku?"
"Boleh juga."
"Dia jago bola, lho."
"Oya?"
"Atlet futsal putri di kampusnya dulu."
"Aku suka itu ...ha ha ha....."
Dua lelaki atletis itu lalu pergi ke halaman. Panen jambu air. Suara berat keduanya bergurau terdengar hingga ke dalam rumah.
Setelah makan dan berganti pakaian, Laras diajak nenek menemui dua lelaki tadi. Mereka ngobrol di ruang tamu.
"Nek, apa Laras udah punya pacar?" kak Norman, straight to the point.
Nenek tertawa, "Sepertinya belum. Tapi tanya pada dia saja langsung."
"Gimana, Ras?"
Laras terdiam, hanya tersenyum.
"Kalau diam berarti belum. Nih kenalan aja lebih dekat dengan Alvin. Mau kan, Vin?"
Tawa mereka tergelak.
"Bolehlah. Gimana Laras?"
Duh, kenapa mereka membuat suasana begini. Bukannya tanya kabar aku, kegiatanku atau apalah, asal nggak masalah pacar.
"Kok diam aja dari tadi. Biasanya kau banyak omong juga, Ras. Salting dengan Alvin yang ganteng, ya? Ha ha ha......"
"Kak Norman gimana kabar bude dan pakde? Juga kak Herman di Jakarta?"
Laras mengalihkan pembicaraan.
" Kabar mereka baik. Semua sehat."
" Apa ibumu masih suka buat menu baru untuk warung makan ?", tanya nenek.
"Tentu, makanya warung kita laris nek. Banyak inovasi. Nih, si Alvin langganan di sana. Tapi sering minta gratisan...he he he..."
Tawa kedua lelaki itu kembali pecah dan menggelegar.
"Wah, kalau gratis terus bisa rugi, dong!" Laras berkata agak keras, bernada jutek.
"Bercanda tuh Norman," sahut Alvin.
"Ehm, kabarmu dengan Adelia, bagaimana?" nenek bertanya tentang pacar kak Norman.
"Doakan ya, nek. Tahun depan akan aku lamar dia."
" Amin, nenek ikut senang. Pengin bisa liat cicit."
"Nek, nenek yang sehat ya. Panjang umur, biar bisa lihat aku, Herman dan Laras menikah nanti. Sampai punya banyak cicit."
"Amin....." kata nenek.
"Eh, Laras balik soal tadi. Aku akan senang kalau kau mau jadi pacar Alvin. Iya kan,
Vin?"
Alvin senyum-senyum sendiri.
"Ini maksa atau gimana?" ujar Laras, sedikit cemberut.
"Jangan jutek dulu. Saling kenal, jadi teman, teman dekat, sangat dekat baru pacar.....terus....nikah. Bukan begitu, Vin?"
"Betul."
Laras hafal betul dengan sifat kak Norman. Suka memaksa, meski maksudnya baik. Beda jauh dengan sang adik, kak Herman yang lembut dan sangat cerdas. Kabar terakhir bahwa kak Herman di biayai untuk kuliah strata magister, oleh universitas tempatnya jadi dosen, tentu sangat membanggakan. Calon ahli ekonomi yang hebat.
"Ehm, cucu-cucu, tolong nenek di bantu panen pisang dari kebun belakang ya. Sekalian buat oleh-oleh ke kota nanti," kata nenek.
" Siap, komandan!" sahut kak Norman.
Mereka bertiga mengikuti langkah nenek menuju dapur yang menghubungkan ruang depan dengan halaman belakang.
Dulu ada kolam ikan disana. Sewaktu ketiga cucunya masih kecil suka bermain disekitar situ. Mancing dan panen ikan. Semenjak kakek meninggal tak ada yang mampu melanjutkan pemeliharaannya. Jadi nenek menimbun dan merubahnya jadi kebun pisang. Tak jauh dari sana ada beberapa tanaman ubi kayu.
Aneka jenis pohon pisang. Kepok, pisang ambon dan pisang mas.
Oleh-oleh khas rumah nenek adalah pisang-pisang itu.
Dua prajurit gagah itu, panen buah dan daun pisang dengan semangat. Dua tandan besar telah dipanen. Beberapa sudah ada yang mulai matang. Sisanya akan di simpan untuk diperam. Mungkin beberapa hari akan siap disantap.
Lanjut panen ubikayu. Ketika mencabutnya dari dalam tanah, cukup membuat tenaga kedua lelaki itu terkuras.
__ADS_1
Alvin mengambil insiatif lebih banyak sementara kak Norman hanya memerintah. Barangkali Alvin ingin membuat Laras terkesan.
Baju seragam mereka kini telah dibuka. Menyisakan kaos dalam berwarna hijau tua yang menempel di badan dengan ketat.
Tawa canda dan senda gurau terdengar tak henti. Peluh mulai bercucuran. Nenek membawakan ketiganya es jeruk manis.
Laras tampak kini berbaur akrab. Bergurau dan melempar canda. Sesekali tangan Norman mengacak acak rambut adik sepupunya itu.
Umbi umbi hasil panen ubi jalar dimasukkan ke dalam karung bekas tempat beras. Daun pisang ditumpuk dirapikan dan digulung. Sudah beres.
Nenek melihat dari kejauhan seraya tersenyum melihat keakraban mereka.
Setelah mencuci tangan dan membersihkan diri, mereka menikmati minuman dari nenek. Bik Jum ditugaskan mengukus beberapa batang umbi ubi kayu.
" Eh Laras, kudengar kau belajar menyetir mobil. Nenek bilang, kau belajar dengan Kang ...Kamil, ya."
"Iya, dengan Kang Jamil maksudnya, tetangga kita."
"Si Alvin tuh jago mengajari nyetir. Dia sabar dan tahu triknya. Sana coba belajar dengannya!" seru kak Norman.
"Ayo, kalau kau mau latihan," ajak Alvin.
"Terimakasih, kapan-kapanlah, " sahut Laras.
"Ayooo lah, di coba Ras!" kak Norman kembali sedikit memaksa.
" Nggak apa-apa Laras, mumpung ada yang mengajari," nenek memberi dukungan.
Laras mengiyakan walau sedikit terpaksa. Alvin tampak bersemangat. Dia mengajak gadis itu masuk ke mobil. Menjelaskan segala sesuatunya. Semula dia mengajari seraya menunjukkan contoh. Lalu dia minta Laras berpindah tempat dan mencoba kemudi. Beberapa putaran hingga sejauh satu kilometer dari rumah.
Alvin memuji Laras. Berani dan tegas. Tidak ragu-ragu merespon situasi. Berpapasan dengan beberapa motor, Laras mengemudi dengan tenang.
Konon cara menyetir mobil dari seseorang menunjukkan sedikit dari kepribadian yang bersangkutan.
Jalanan depan rumah nenek sedikit lebar dan sepi. Walau tak beraspal mulus tetapi cukup memadai jika di lintasi. Jalan yang menghubungkan dua desa.
Laras mencoba mengendalikan kemudi dengan kecepatan lebih tinggi. Baru masuk gigi alias kopling satu terus kedua.
Tiba-tiba mobil sedan Pandu muncul dari arah belokan. Berhenti dekat toko. Laras terkejut dan refleks menginjak rem. Nyaris saja. Kalau tangan Alvin tak ikut mengambil alih setir, pasti terjadi sedikit benturan diantara dua mobil tersebut.
Laras memejamkan mata. Jantungnya berdetak keras. Tangannya sampai bergetar. Beruntung Alvin memenangkan gadis itu.
"Tak apa, refleksmu cukup bagus. Aman, kok."
Tangan mereka berdua masih saling bersentuhan di atas kemudi.
Pandu segera turun. Berjalan ke arah jeep merah.
Lelaki itu sangat terkejut. Laras? Gadis itu berduaan dengan seorang lelaki. Posisi mereka berdekatan. Tangan keduanya saling menumpuk di atas setir. Pandu melihat dengan jelas semua itu karena kaca mobil terbuka lebar.
Laras segera sadar setelah menoleh ke arah Pandu. Menarik tangannya dari atas kemudi. Memejamkan mata dan menghela nafas panjang. Alvin tersenyum. Lelaki itu juga mengangguk ke arah Pandu. Dia tidak tahu bahwa Pandu dan Laras saling mengenal.
Norman segera mendatangi mereka semua.
" Ada apa ini?"
Alvin menjelaskan kronologisnya dengan tenang.
"Oh, maaf. Adik saya nyaris menabrak anda."
" Aduuuh, mas Pandu maafkan aku."
Selalu ada Pandu. Kenapa tiap sore dia kesini, batin Laras.
" Jadi kalian saling kenal?", tanya Norman.
" Iya," sahut Pandu.
Laras segera turun, begitu pula dengan Alvin.
Masih sedikit lemas dan bergetar, dia mengenalkan Pandu pada kedua prajurit itu. Mereka saling berjabat tangan.
Norman lalu mengajak mereka semua ke dalam rumah. Berjalan beriringan, tangan Norman merangkul Laras, seperti menenangkannya. Pandu dan Alvin berjalan di belakangnya.
Nenek menyambut mereka di depan teras.
"Eh, ada dokter Pandu lagi. Ayo semua masuk, duduk di dalam," ajak nenek.
Mereka mengobrol seraya menikmati rebusan ubikayu yang empuk. Nenek meninggalkan mereka berempat untuk ngobrol.
" Jadi anda bertugas di puskesmas sini?"
"Iya."
"Sudah lama?"
" Enam bulan ini."
" Anda dari mana?"
" Jakarta."
"Ehm, kalau tidak salah dulu ada dokter cewek cantik tugas di sana."
Pandu tahu yang dimaksud Norman.
" Iya, dia senior saya dan sekarang pindah ke kota."
"Anda sudah lama kenal dengan Laras?"
"Lumayan."
"Berarti dibawah enam bulan ini, kan? Itu namanya baru kenal !"
Ups....Pandu merasa berada di ruang interograsi.
Laras hanya terdiam. Masih syok dengan peristiwa tadi.
Alvin asyik makan ubi rebus. Sesekali melirik ke arah Laras. Pandu mengamati momen itu. Dadanya berdesir.
"Begini, dokter Pandu. Anda boleh main kesini, tapi tolong jangan coba-coba memainkan hati adikku."
Deg. Pandu terkejut mendengar perkataan kakak sepupu Laras itu.
" Eh, Vin kamu udah tukaran nomor ponsel dengan Laras, kan ?"
Kali Norman mencoba mengintimidasi Pandu. Laras jadi jengkel dengan sang kakak sepupu.
"Kak Norman, dokter Pandu ini teman dekat Laras."
Tiba-tiba keluar perkataan spontan dari mulut Laras melihat pemandangan tadi.
Pandu lebih terkejut lagi.
"Kakak tahu, kalian kan baru kenal. Baru juga enam bulan..."
Uuppss....andai saja kak Norman tahu sebenarnya Pandu dan Laras baru saling kenal, kurang dari tiga bulan belakangan.
Suasana jadi tak nyaman. Beruntung nenek datang. Titipan untuk oleh-oleh buat bude, ibu kak Norman sudah siap di teras. Suasana tadi teralihkan.
Nenek juga menjelaskan bahwa kedatangan Norman buat pamit. Minggu depan dia bersama Alvin serta satu pleton rekan lainnya bakal ditugaskan ke Papua selama satu tahun.
Menjelang sang surya tenggelam, Norman dan Alvin berpamitan.
Di teras depan, Norman masih sempat berbisik pada Laras, agar berhati-hati. Dia tak mau hati Laras hancur berkeping - keping lagi oleh janji lelaki. Cukup sekali.
Alvin adalah pilihan yang bisa Laras pertimbangkan. Norman mengenalnya lebih dari lima tahun. Tak mungkin dia akan menjerumuskan sang adik sepupu.
Laras hanya mengangguk. Sedikit banyak Pandu yang masih duduk di dalam mendengar apa yang dikatakan Norman. Suara berat prajurit itu masih jelas sampai ke telinga Pandu.
__ADS_1
Di akhir momen, Norman mohon doa dari sang nenek. Juga Laras. Mereka berdua dipeluk bergantian oleh Norman. Alvin menyalami keduanya.
Oleh - oleh dua karung berisi pisang dan ubi jalar telah dinaikkan Alvin ke dalam mobil. Sampai jeep merah itu berbelok di ujung jalan, nenek dan Laras masih memandangi mobil mereka.
Keduanya berbisik, semoga mereka selalu sehat dan selamat selama bertugas di Papua.
Sementara di ruang tamu, Pandu berada diantara dua rasa. Di satu sisi merasa sedikit marah dipojokkan oleh Norman tetapi begitu Laras bilang bahwa dia teman dekatnya, rasanya senang. Plong.
Laras kembali ke ruang tamu.
"Maafkan tadi ya, mas Pandu."
"Iya."
"Aku nggak menyangka semua ini."
" Sudahlah, Laras. "
"Jadi nggak enak banget dengan mas."
" Ehm, tapi aku suka saat kamu bilang bahwa aku teman dekatmu."
"Maafkan, sekali lagi."
"Tidak usah minta maaf lagi, ya. Aku kesini mau sampaikan bahwa aku ada tugas ke RS di kota, lusa . Apa Laras mau titip buat Gaby?"
"Oh, begitu. Kenapa nggak telpon saja."
" Aku ingin ketemu kamu ...."
"Sekarang kalau mau datang, bisa tidak kasi kabar terlebih dulu?"
"Nanti tak surprise lagi !"
Laras terdiam. Pandu seakan selalu punya jawaban untuk segala hal. Nyaris sama dengan.....dirinya sendiri.
Uppps....
"Untuk Gaby, besok aku ambilkan buku-buku di sekolah. Nanti ku antarkan ke puskesmas."
"Aku yang akan ambil ke sini besok sore. Sekalian mau mengajari kamu menyetir !"
" Lho?"
"Kenapa, mau tidak?"
"Kapan-kapan saja, ya mas."
" Mulai sekarang, aku yang akan mengajarimu sampai mahir. Bukan Kang Jamil atau Alvin itu!"
Laras paham arti perkataan Pandu yang
terdengar tegas, kali ini.
Gadis itu tahu, Pandu cemburu pada kedua lelaki yang tadi dia sebutkan.
Nenek datang, mengajak mereka makan malam. Laras pamit mandi dulu, karena tadi dia ikut panen di halaman belakang. Jadi perlu membersihkan diri. Celana kulot coklat dan kaos oblong berwarna kuning yang dipakainya tampak sedikit kotor.
Limabelas menit kemudian mereka bertiga telah menikmati makan malam. Soup ikan tuna, tempe goreng krispy serta sayur tumis sawi. Tentu sambal dan nasi putih. Nyaris sama seperti menu buat kakak sepupu Laras dan temannya, siang tadi.
Setelah makan dan selesai membereskan dapur, Laras dan Pandu melanjutkan kembali obrolan di ruang tamu.
"Besok ada latihan bola, ya."
"Iya."
"Tolong jangan memforsir diri. Kamu masih bulanan, kan?"
"Sudah hari terakhir, nggak apa-apa."
" Suplemennya sudah diminum?"
" Tentu."
Terdiam sejenak.
"Laras, boleh aku bertanya menurutmu apa beda teman dekat dengan pacar?"
Laras sedikit terkejut. Belum mampu menjawab.
"Maaf, gimana menurut mas Pandu sendiri?"
"Kalau aku nggak ada bedanya. Bagai telapak dan punggung tangan."
"Menurutku beda. Jelas ejaannya beda kok. Barangkali level komitmennya beda."
Pandu tersenyum. Cerdas.
" Kalau rasa suka dengan jatuh cinta?"
"Ini kok seperti kuis. Ujian. UTS atau UAS?"
Tawa keduanya pecah.
"Boleh aku jujur?"
"Silahkan."
"Sejujurnya aku suka kamu, aku ingin jadi pacarmu, aku jatuh cinta padamu..."
Laras terdiam lama..........
"Bagaimana Laras?"
"Apanya?"
"Tanggapanmu."
"Terimakasih, aku tersanjung."
"Boleh tahu perasaanmu sekarang?"
" Mas, kan sudah dengar tadi. Bahkan ada orang lain yang tahu. Mas Pandu adalah teman dekatku. Cukup itu dulu."
" Boleh aku garis bawahi bahwa kita sekarang sudah nyaris pacaran."
Aduh .....rumit banget. Semua di bahas detail. Seperti melihat dengan mikroskop.
Laras, membatin. Biar semua berproseslah.
"Sudah malam, mas Pandu harus istirahat. Pasti lelah memeriksa banyak pasien tadi."
"Aku masih memeriksa satu pasien istimewa."
"Pasien yang ini sudah sembuh."
"Baiklah, aku paham. Sudah diusir dengan halus."
" Maaf kalau mas Pandu jadi marah."
Ingin rasanya mencubit pipi Laras karena gemas.
Kali ini Pandu memberanikan diri mengacak-acak rambut Laras yang tergerai. Dia sudah siap mental kalau gadis itu marah.
Ternyata, tidak.
Laras hanya tertawa.
Pandu senang. Sekarang hubungan mereka naik level. Teman dekat. Pandu harus sabar agar bisa menaiki level yang lebih tinggi. Meski dalam mimpi level mereka berdua sudah jauh lebih tinggi.
__ADS_1
Ehm....