
Latihan bola Minggu pagi ini tak seperti biasa. Kang Jamil mendadak harus mengantar sang ibu ke rumah kakaknya di kecamatan lain, saat subuh tadi.
Iparnya yang hamil tua kontraksi dan mengalami pecah ketuban serta pendarahan di luar waktu bersalin.
Ayah Kang Jamil tak dapat mengantar karena sakit diare dan lemas.
Jam enam pagi tadi Laras baru di telepon kang Jamil mengenai peristiwa itu. Lelaki itu minta maaf dan menyerahkan keputusan pada Laras, apa latihan dibatalkan atau lanjut.
Laras bertekad melanjutkan rencana latihan. Kompetisi makin dekat.
Laras berangkat menaiki motor ke lapangan bola. Dia membawa tiga sisir pisang ambon, hasil panen di belakang rumah beberapa hari lalu.
Beruntung orangtua Reno, yang rumahnya cukup dekat mau ambil keranjang bola di rumah kang Jamil serta membawa dua dus minuman buat pemain. Ayah Sofyan, sang kiper utama bersedia ikut membantu melatih anak-anak.
Gadis itu memimpin latihan atas instruksi melalui telpon dari pelatih utama. Sesi pertama latihan fisik. Lari keliling lapangan, senam untuk melenturkan tangan dan kaki. Juga **** up, berlari zig zag sambil menggiring bola.
Latihan mengeksekusi tendangan bebas dan pinalti terutama buat striker. Buat penjaga gawang ada latihan menangkap bola dari berbagai sudut gawang serta dari titik pinalti.
Setelah istirahat dan minum lanjut sesi kedua pertandingan dua tim. Dengan rombi hijau dan tanpa rompi.
Hari ini tak banyak penonton di sisi lapangan, seperti pekan lalu. Acara ultah pabrik kemarin siang hingga sore ternyata berlanjut hingga malam dengan pertunjukan musik dangdutan. Infonya pentas itu berlangsung hingga lebih dari tengah malam. Mungkin warga sekitar, banyak yang masih terlelap di pagi ini.
Diantara para penonton terselip Pandu di sana. Dari kejauhan dia mengamati kang Jamil tak hadir.
Pandu merasa kasihan pada Laras yang harus menghandle semua sendiri. Meski dengan semangat gadis itu berlari kesana sini, berteriak memberi instruksi serta meniup pluit buat agar pemain anak-anak itu memperhatikan arahannya.
Gaya penuh empatinya masih terlihat. Menepuk - nepuk punggung pemain, melakukan toss, atau sekedar mengusap usap kepala para bocah itu. Tertawa. Mengancungkan dua jempol, jika ada tindakan sportif para pemain. Juga sedikit merendahkan badan jika sedang bicara pada anak-anak, agar bisa kontak mata.
Sebagai wasit apalagi, Laras harus berlari ke sana kemari mengikuti arah bola, memperhatikan para pemain yang terkadang melakukan gerakan dan manuver tak sportif. Sungguh perlu energi dan fokus level tinggi.
Ingin rasanya Pandu membantu Laras. Namun gimana caranya?
Lelaki itu lalu mendatangi salah satu orangtua yang menunggui dus minuman serta tas-tas ransel atau bekal para pemain di belakang tiang gawang di sisi kanan lapangan. Berkenalan dengan seorang bapak serta ikut duduk disampingnya.
"Mbak Laras itu hebat ya, kuat dan mandiri," ujar pak Elan, ayah Reno sang striker cilik.
"Iya."
"Nak Pandu ini, temannya ya."
"Benar, pak."
" Kok bapak jarang lihat?"
"Saya baru di sini."
" Mbak Laras kok nggak pacaran saja dengan nak Jamil itu, kalau mau pasti jadi pasangan pelatih yang kompak. Kalau jodoh dan nikah, bakalan punya anak jadi pemain nasional deh. Ha, ha, ha!"
Deg. Pandu tercekat. Dia pura-pura ikut tertawa, padahal hatinya bergejolak mendengar perkataan sang bapak.
Apakah ada hal istimewa lain antara pelatih utama dengan sang asisten? Padahal sebelumnya Pandu telah mengesampingkan Jamil sebagai kompetitornya dalam merebut hati Laras.
Dua pemain mendatangi mereka buat minta minum. Pandu memberi dua gelas air mineral. Segera mereka meneguk isinya, lalu bergabung kembali ke tengah lapangan.
Dua gol tercipta saling berbalasan. Tensi pertandingan meningkat. Tampak seorang pemain jatuh tersungkur. Laras meniup peluit menghentikan sejenak pertandingan.
Pandu tak dapat menahan diri. Segera berlari ke tengah lapangan. Dia memeriksa kondisi sang pemain. Pucat dan lemas. Matanya terpejam. Di cobanya menepuk nepuk pipi bocah itu. Tak ada reaksi.
"Biar kubawa dia ke pinggir dulu, mencari tempat sejuk. "
"Iya, makasih."
"Istirahatkan dulu semua!"
Pandu memberi perintah pada Laras. Lalu lelaki itu menuntun pemain tadi yang sudah bisa membuka mata, duduk lantas berdiri perlahan serta berjalan tertatih ke pinggir lapangan.
Laras menghentikan pertandingan, meminta semua beristirahat dan minum. Dia juga memberi perintah agar tak mengerubungi temannya yang terjatuh barusan.
Gadis itu segera mengambil kotak obat seraya membawa dua gelas air mineral ke arah Pandu.
"Diminum dulu, Janu. Lalu ambil nafas panjang! ," ujar Laras.
__ADS_1
Pandu menyuruh Janu duduk dan meluruskan kedua kakinya. Lutut kanan pemain itu terluka kecil. Demikian pula ada lecet di tangan kanan.
Dokter itu berbincang dengan sang bocah. Menanyakan apa dia pusing, atau ada bagian lain dari badannya yang terasa sakit.
Janu menggeleng dan meringis menahan luka yang sedang dibersihkan dan diberi plester oleh sang dokter.
" Gimana kondisinya?" Laras bertanya pada Pandu.
"Baik. Hanya luka kecil dan lecet."
"Syukurlah."
"Tapi sepertinya juga dehidrasi."
"Tolong dijaga ya, mas. Aku lanjut sebentar lagi. Kompetisi udah dekat."
Pandu hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tekad Laras.
Pluit berbunyi. Para pemain berkumpul. Laras tampaknya memberi beberapa instruksi. Pertandingan lanjut hingga hampir setengah jam.
Ada skor tambahan. Perbandingan dua lawan satu buat tim berompi hijau.
Sinar mentari semakin menyengat. Pukul sepuluh lewat. Setelah semua minum dan makan pisang, Laras mengevaluasi latihan hari ini. Terakhir, mereka berdoa lalu bersih-bersih lapangan sejenak.
Lokasi latihan perlahan menyepi. Pak Elan dan Reno telah membawa keranjang bola dan mengantarkan kembali ke rumah pelatih utama.
Tersisa Laras dan Pandu, yang memilih beristirahat dan duduk bersisian di bawah pohon trembesi. Di kejauhan tampak ada seorang remaja yang sedang belajar naik motor, bersama sang ayah. Disisi lain beberapa bocah memainkan layang-layang.
"Makasih mas Pandu mau datang."
Pandu tersenyum.
Laras terlihat lelah. Kedua kakinya di selonjorkan. Wajahnya memerah kepanasan.
" Jangan terlalu memforsir diri, Laras. Kamu juga harus jaga stamina."
"Iya. Aku tahu kemampuan badanku, mas."
"Teori itu harus diaplikasikan dalam kondisi real, ya dengan pertandingan. "
Pandu terdiam. Laras cukup keras kepala juga.
Laras meneguk air mineral kembali. Mengibas-ibaskan topinya untuk mengurangi gerah. Lalu memijit betisnya sendiri secara bergantian.
Pandu sebenarnya ingin membantu. Tapi niat itu diurungkan. Lelaki itu tak mau Laras kembali marah, jika dia berusaha menyentuhnya.
"Apa kakinya sakit?"
"Sedikit. Sebentar juga baikan.
"Kamu kuat berlari, ya. Gimana cara menjaga ketahanan fisikmu?"
"Aku berlari mengelilingi empang tiga kali seminggu, minimal lima putaran. Selingannya senam sore hari, di belakang rumah."
Pandu salut. Laras tipikal atlet sejati. Pantas kelihatan sehat dan bugar. Dibanding dirinya yang jarang berolahraga, Pandu jadi sedikit malu.
"Mas Pandu, ini sudah siang. Aku mau pulang."
" Tadi naik motor ya?"
Laras menoleh ke arah Pandu, "Iya, aku mau istirahat seharian ini. Mas juga langsung pulang saja, ya. Makasih tadi bantuannya."
Pandu mengangguk. Laras memang butuh istirahat setelah aktivitas melelahkan melatih bola. Walau sesungguhnya Pandu masih ingin ngobrol dan berada di dekatnya.
Gadis itu tak sedikitpun membahas masalah kemarin. Ciuman itu.
Laras sudah tidak marah lagi soal itu. Pandu mensyukurinya.
Mereka berjalan ke arah parkir. Laras menaiki motornya terlebih dahulu. Pandu menungguinya hingga gadis itu siap meluncur. Setelah itu barulah dia menyusul pergi meninggalkan areal lapangan. Dia memutuskan akan singgah di toko depan pasar yang bakal dilewati untuk membeli beberapa kebutuhan pribadi.
Hari-hari berlalu. Sudah di hari keempat pekan ini. Pekerjaan di puskesmas masih rutin seperti biasa. Berjalan normal, dibawah kendali dengan baik. Hanya ada dua kasus rujukan ke RS kota. Rawat inap umum tak ada pasien. Demikian pula pasien melahirkan, hanya ada satu. Itupun sudah di handle dengan baik oleh para bidan. Walau sesekali sang dokter harus ikut mengecek kondisi.
__ADS_1
Pandu sempat menanyakan kabar keseharian pada Laras melalui pesan chat. Di jawab dengan kata-kata pendek. Tak seperti biasa.
Begitu pula jika Pandu mencoba menelponnya. Terkadang tak ada respon. Kalau pun pernah dijawab, Laras sepertinya tak lagi banyak cerita. Gadis itu sedikit berubah.
Pandu bertanya-tanya, apakah Laras masih marah dengan insiden ciuman pertama itu?
Tak tahan dengan kondisi ini, Pandu ingin menemui gadis itu di rumahnya. Sore selepas jam kantor.
Lelaki itu memacu mobilnya ke rumah sang gadis. Sesampainya di sana bik Jum menjawab kalau nenek dan Laras pergi keluar. Mereka ke rumah kerabat yang lusa nanti akan menikahkan anaknya. Jaraknya sepuluh kilometer dari rumah. Sudah sejak siang tadi.
Pandu ingin menunggu. Namun karena Laras tak bisa dihubungi sementara chat dan pesan belum deliv.
Bik Jum tak tahu mereka akan kembali pukul berapa. Nenek hanya pesan bahwa jika mereka belum kembali sampai pukul enam, bik Jum diminta menginap di rumah.
Sesungguhnya Pandu ingin menyampaikan pula bahwa besok di Jumat pagi dia akan pulang ke Jakarta hingga hari Minggu.
Sikap Laras beberapa hari ini sungguh menyiksanya. Kenapa gadis itu seperti menjaga jarak dengan. Tak antusias setiap dihubungi.
Hingga pukul sembilan malam Pandu tak dapat kabar.
Lelaki itu memutuskan untuk tidur dan beristirahat. Besok dia akan berangkat dengan pesawat pukul sembilan pagi. Perjalanan dari puskesmas ini ke bandara di kota propinsi sekitar dua jam lebih. Jadi jam enam pagi setidaknya dia harus sudah meluncur. Ijin satu hari di hari Jumat saja. Pak Leo bersedia mengantarnya. Memakai mobil pribadi Pandu. Sekalian sejawatnya itu menengok keluarganya yang sedang dirawat di RS kota propinsi.
Minggu malam dia akan naik travel dari kota propinsi kembali ke puskesmas ini.
Sementara itu Laras ingin mencurahkan waktu dan energi buat fokus pada kompetisi sepakbola anak-bola. Latihan dan diskusi menyusun strategi latihan dengan sang pelatih utama. Persiapan lain seperti menyiapkan seragam, rencana transportasi ke kota kabupaten hingga konsumsi. Pengelolaan dana operasional yang diberi dari kas desa serta pihak kecamatan. Juga sumbangan dari pabrik tentu harus efektif.
Juga rutinitas di TK. Rencana serta realisasi pembangunan fasilitas perpustakaan.
Di bulan April ini juga akan ada perayaan hari Kartini di alun-alun kecamatan. Ada berbagai lomba untuk anak-anak. Lomba mewarnai, menyanyi serta pawai. Tentu butuh persiapan dan latihan tambahan.
Kompetisi itu yang paling menyita energi. Empat murid TK ikut, sisanya adalah para murid sekolah dasar tempat Kang Jamil mengajar. Melibatkan banyak anak. Juga latihan yang intensif serta pengelolaan dana yang cukup besar. Ini pengalaman Laras ikut melatih juga mengelola segala sesuatunya.
Gadis itu ingin mengesampingkan dulu masalah pribadi. Soal perasaan pada Pandu. Laras tak ingin emosinya membajak rasionalitas dan realita.
Terhanyut dalam rasa yang masih menggantung, tergesa bereaksi atau pun larut dalam keyakinan tak pasti akan sangat menyita energi.
Bagi Laras lebih baik kini prioritasnya adalah menjalani kenyataan yang ada di depan mata.
Biar waktu menentukan ke mana arah rasa ini. Laras tak ingin mengulang cerita yang sama dengan catatan masa lalunya.
Usul Kang Jamil agar anak-anak berlatih di lokasi tempat kompetisi nanti disetujui. Hari Minggu siang mereka akan berlatih di stadion kota yang berjarak satu jam dari tempat tinggal mereka semua.
"Aku sudah dapat sewa mobil minibus berkapasitas dua belas orang. Sisanya kita pinjam mobil ayah Reno, bisa muat delapan awak, "lapor Kang Jamil, saat menelpon sang asisten.
"Baik Kang. Nanti aku urus konsumsi. "
"Anak-anak perlu tahu atmosfer stadion agar tak terlalu demam panggung."
"Benar, Kang."
"Kita dapat pakai stadion di jam tiga sore. Jadi berangkat setengah satu. Latihan Minggu pagi pindah ke sore."
"Siap, Kang."
" Semua orangtua anak-anak sudah kuhubungi soal rencana ini. Mereka antusias."
"Syukurlah, semoga anak-anak tambah semangat dan dapat berprestasi nanti."
Jumat pagi saat menunggu di bandara, Pandu mencoba mengirim chat pada Laras.
Pandu sampaikan bahwa ia dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Ketika itu pukul delapan pagi.
Lama tak ada jawaban. Pandu maklum, Laras sedang mengajar di jam segitu.
Pesan terjawab pukul setengah duabelas, dengan kalimat," Ok, hati-hati di jalan."
Pandu kecewa. Hanya itu. Padahal dia ingin Laras tanya berapa hari perginya, ada acara apa. Atau mungkin gadis itu akan kirim salam buat keluarga Pandu.
Pandu terlalu banyak berharap. Namun semua menguap. Ada rasa gamang di dalam hatinya kini.
"Benarkah Laras menganggap dirinya sebagai teman dekat?"
__ADS_1