Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 19. Peresmian


__ADS_3

Latihan bola di Rabu sore masih seperti rutinitas terdahulu dengan beberapa tambahan. Kali ini sesi latihan menembak bola diperbanyak mengingat gol-gol yang tercipta saat latihan tanding hanya sedikit. Kalau bisa panen gol begitu.


"Coba eksekusi tembakan ke arah gawang dari segala sisi. Bukan hanya striker tapi untuk semua pemain selain kiper."


Kang Jamil memberi pengarahan. Pemain bek kiri , bek kanan dan bagian pertahanan juga diberi kesempatan.


"Untuk latihan memblok tendangan bebas lawan harus ditambah. "


"Kita coba beberapa pola permainan. Nanti simulasi di praktekkan saat coba tanding."


"Siap coach!"


Anak-anak kompak menjawab.


Pandu duduk di pinggir lapangan. Meski datang agak telat, tugasnya adalah menjaga konsumsi, tas anak-anak dan kotak obat. Kali ini ada tambahan kue dari salah seorang ibu pemain cilik. Kroket kentang berjumlah tiga puluh buah.


Ada dua orang orangtua pemain turut menemani Pandu dan duduk dekat perlengkapan tim. Sesekali mereka mengobrol.


Bahkan ada yang mengenalinya sebagai dokter di puskesmas.


Rumor pun berkembang, Pandu adalah pacar sang asisten pelatih.


Tentu suatu kebahagiaan tersendiri bagi Pandu kalau memang benar seperti itu. Hal yang menjadi harapan hatinya.


Laras terlihat sibuk melatih eksekusi finalti. Jika gol dia akan ber-high five. Tetapi kalau gagal dia akan menepuk punggung pemain.


Sang kiper pun dapat perlakuan sama. Tetapi dalam situasi kebalikannya, tentu.


Sementara di sisi lain kang Jamil melatih strategi menggiring bola dan mengatasi gangguan lawan.


Sesi kedua setelah istirahat diisi dengan coba tanding. Durasi diperpendek jadi dua kali duapuluh menit. Skor akhir masih berkisar satu dan dua gol untuk tiap tim.


Hingga latihan usai. Semua semangat. Mereka ber yel yel tambahan. Ternyata mencontek tim lain yang Minggu lalu sempat mereka tonton setelah di stadion kota.


Yesss, coach !"


Gol-gol gol for Kembangsari! Yes! Nama desa mereka di teriakkan dengan keras.


Sekarang mereka panggil pelatih dengan coach Jamil dan coach Laras.


Keren.


Pandu tersenyum. Meski di daerah pinggiran, semangat anak-anak tak surut. Di tengah kesederhanaan hidup mereka, tersirat sikap pantang menyerah.


Dari perbincangan dengan orangtua, bahkan konon karena tak semua bisa membeli sepatu bola baru, coach Jamil sampai meminjam ke beberapa kenalannya yang mengelola Sekolah Sepak Bola profesional di kota. Pelatih itu juga sempat merogoh kocek pribadi buat beli beberapa sepatu bekas.


Diam-diam Pandu salut pada lelaki itu.Totalitasnya sebagai pelatih perlu diberi jempol.


Memang kompetisi ini dibatasi buat anak-anak desa non SSB. Buat cari bibit unggul untuk PON yang mewakili kabupaten itu di tingkat propinsi. Siapa tahu ada talenta hingga ke tingkat nasional bahkan lebih.


Saat usai latihan dan semua beristirahat, ponsel Pandu berdering. Panggilan video call dari Sandra.


Gadis itu memaksa buat tahu Pandu sedang apa. Terpaksa dia memvideokan situasi lapangan. Lebih ke arah anak - anak dan coach Jamil yang macho. Wajah Laras hampir tak di sorot.


Pandu bilang dia jadi tim medis disana. Beruntung Sandra percaya.


Lega sejenak. Gadis itu sungguh pemaksa. Pandu tak mampu bayangkan gimana kalau dia jadi pacarnya. Ampun.


Sangat beda dengan Laras.....lagi -lagi lelaki itu membandingkan mereka berdua.


Sandra kemarin malam sudah chatting dan telpon. Pandu bertekad bakal mulai mengabaikan chat atau telpon Sandra. Alasan kesibukan adalah poin utama, sinyal lemah atau ada pasien gawat.


"Siapa mas, kok terlihat kesal?" tiba -btiba Laras menanyakan prilakunya barusan.


"Oh itu. Pram kepo. Biasa, suka gangguin."


Pandu terpaksa berbohong.


Laras hanya tertawa.


"Kangen, kali."


Pandu tersenyum kecut.


Lapangan mulai sepi. Hanya ada coach Jamil sedang ngobrol dengan orangtua dari anak didiknya.


"Ayo, kita pulang," ajak gadis itu.


Laras sudah ijin Jamil pulang duluan dan kali ini diantar Pandu.

__ADS_1


Sewaktu berangkat tadi dia pergi dengan coach itu.


Pandu turut pamit duluan. Lelaki itu ingin mengajak Laras mampir ke warung mie ayam dekat pasar. Semula Laras menolak karena kalau sekarang dia makan, nenek bakal memarahinya karena tak mampu menghabiskan jatah makan malam nanti.


Pukul lima lebih. Warung mie itu tak ada pembeli selain mereka berdua. Saat melihat daftar menu mereka sedikit berdebat.


"Ayolah Laras, kamu nggak kasihan sama aku nanti makan telur ceplok lagi."


"Makan di rumah saja.


"Aku malu terlalu sering minta makan di rumahmu.


"Oke aku temani saja. Nanti mas pesan mie, aku minum saja."


" Ya nggak enak tho, dilihat pemilik warung. Di kira pelitlah aku ini."


"Aduh, maksa banget. Padahal aku belum lapar."


" Pesan saja, kalau nggak habis nanti ku habiskan sisanya."


"Iya, iya. Aku mie ayam bakso ayam."


"Buk, satu mie ayam bakso, satu mie ayam jamur. Dua es jeruk!"


"Oke..! Silahkan ditunggu."


Mereka ngobrol sambil menunggu sajian yang sedang di siapkan.


"Mama bilang aku kurusan, jadi harus banyak makan sekarang."


"Oya?"


" Jadi sering-sering temani aku makan ya. Please," pinta Pandu, merajuk.


"Nanti aku yang malah tambah gemuk."


"Laras, Laras kamu itu sepertinya nggak akan bisa gemuk. Aku tahu tipe langsing sepertimu, apalagi kamu banyak gerak."


"Wah, pak dokter mulai kasi advise."


Tawa mereka pecah.


Dua perempuan memasuki warung.


"Ehm, sus Ida dan sus Wati. Beli mie ayam juga?"


"Iya."


"Sudah mau berangkat shift malam?"


"Ya, dok. Bu Ina minta kami bantu pasien melahirkan yang sudah kontraksi."


"Ehm, begitu."


"Dengan siapa, dok?"


Dua suster itu menatap Laras.


"Sama teman, ehm teman dekat."


"Pacar gitu lho,dok. Bilang makan dengan pacar saja kok malu sih, dok.?"


Laras terdiam dan terpaksa mengangguk, ketika dua suster itu mendekat dan kembali memandangnya.


Mereka berdua menyodorkan tangan ingin berkenalan.


Laras tentu nggak enak hati kalau menolak.


"Ini, Laras."


"Laras, ini sus Ida dan sus Wati."


"Ssst, pacarnya cantik, dok. Selamat ya..."


Beruntung pesanan datang. Pandu minta ijin akan menyantap mie mereka duluan.


Laras menganggukkan kepalanya ke arah dua suster itu. Tampaknya dua perawat itu bukan berasal dari desa yang sama dengannya. Hampir seluruh warga se desa tahu nama dan pekerjaannya.


Bisik-bisik para suster terdengar ke telinga Pandu.

__ADS_1


"Ssst, patah hati para gadis di puskesmas. Dokter kita sudah punya gandengan."


" Mereka kelihatan cocok."


Pandu dan Laras asyik menikmati sajian.


Akhirnya habis juga.


Sekarang giliran dua perawat tadi yang asyik bersantap.


Pandu dan Laras pamit duluan. Lelaki itu sekalian membayari tagihan kedua anak buahnya.


"Makasih dok. Selamat berkencan ya."


"Oke," ujar Pandu ketika masuk ke dalam mobilnya berdua Laras.


Gadis itu banyak terdiam. Pandu jadi salah tingkah. Tiba-tiba dia menghentikan mobil di pinggir jalanan yang agak sepi.


"Kenapa diam saja Laras? Kamu marah dengan perkataan mereka tadi ? Kalau begitu, aku minta maaf."


"Bukan salah mas Pandu."


"Begini.....bagaimana kalau hubungan kita ini ehm kita sebut pacaran saja. Menurutku nggak ada bedanya antara teman dekat dan pacar."


Laras tersentak.


Memang dia mengakui kalau dia yang duluan menyebut bahwa mereka berdua teman dekat. Di hadapan Bang Norman dan temannya. Itu spontanitas.


"Bagaimana kamu setuju kan? Kita pacaran saja, yuk," kata Pandu.


Pernyataan yang jelas.


Tidak demikian dengan Laras, pacaran adalah level yang lebih tinggi dari teman dekat. Komitmen pun perlu ditambah.


"Anggap saja mulai hari ini kita naik level. Jadi pacar!"


Ups...Laras merasa Pandu bisa membaca pikirannya.


Laras menoleh Pandu. Gadis itu terdiam lalu tersenyum.


Pandu lega dan menghela nafas panjang.


"Apa menurut mas, kita berdua sudah yakin dengan perasaan masing-masing?"


"Aku sangat, sangat yakin. Ku harap kamu juga menambah keyakinanmu. Beri kesempatan padaku menunjukkan cintaku padamu. Kamu dapat mempercayaiku. Aku pun percaya padamu."


Pandu menggenggam jemari kanan Laras.


Gadis itu mengangguk perlahan.


Yes, mereka sudah resmi jadian. Jadi pacar. Ingin rasanya Pandu berteriak karena begitu bahagia. Dia akan mencatat hari ini sebagai satu sejarah penting dalam hidupnya.


Lelaki itu sekuat tenaga menahan diri. Sejujurnya dia ingin mencium kening, wajah juga bibir Laras, buat melepas gejolak dalam dada.


Namun insiden ciuman pertama dulu yang sempat membuat Laras marah padanya tak ingin dia ulangi lagi. Pandu sadar Laras butuh waktu. Perlahan namun pasti. Biar semua berproses alami.


Kehebohan di puskesmas tak dapat dihindari. Fakta bahwa dua perawat melihat dia mengajak pacar makan mie, tak terbantahkan.


Hanya satu orang yang tak kaget. Bu Ina, sang bidan yang putra bungsunya masih sekolah TK di tempat Laras mengajar. Dia sejak dulu sudah melihat tanda-tanda itu.


"Selamat dok, saya ikut berbahagia. Bu guru Laras, gadis yang baik," ujar bidan senior itu.


"Makasih, Bu Ina. Makasih juga sudah memberi nomor kontak Laras pada saya, saat Gaby butuh transfusi darah dulu."


"Sama-sama, tolong jaga dia dengan baik pula," pesannya.


"Pasti, Bu. Mohon doanya selalu."


"Iya."


Gossip makin berkembang luas. Tak sampai dua hari seperti sebuah pengumuman. Dokter Pandu berpacaran dengan Bu guru Laras, yang dulu pernah menyumbangkan darah untuk muridnya.


Respon positif di kantornya membuat Pandu bekerja lebih semangat.


"Dok, akhirnya. Ada kejelasan. Jangan lupakan saya yang jadi saksi sejarah perkenalan pertama anda dengan Bu guru Laras," ucap pak Leo.


Pandu masih ingat mereka menjemput Gaby yang kala itu sakit di sekolah dan membawa serta Laras ke puskesmas.


"Iya, makasih deh pak Leo."

__ADS_1


"Ditunggu traktirannya dok!"


"Oke, siap nanti ya tunggu undangannya."


__ADS_2